Bik Tutik yang baru datang terheran melihat kedua orang itu,mereka seperti baru ada sesuatu yang buruk terjadi.saat ini Nesya seperti menjadi korban pelecehan dan Austin jelas menjadi tersangka.
"Loh,ini kenapa?" tanya bik Tutik setelah menghampiri mereka.
"Buk ... dia jahat.dia mau memperosa aku." Bukannya takut Austin justru tertawa mendengar aduan itu.
"Memperkosa bukan memperosa." ralat Austin.
"Yah,pokoknya itu.dia jahat hiks ... hiks ... " adu Nesya menangis seperti anak kecil.
"Non,mau bibi apakan dia?agar tidak jahat lagi dengan,Non." Austin segera berdiri dari duduk nya mendengar tawaran bik Tutik.
"Aku mau dia di sunat lagi,bik.biar gak punya burung." Dengan refleks Austin menutup senjatanya dengan kedua tangan nya.
"Nanti kita sunat diam diam ya!sekarang kita masak aja di dapur gak usah ladenin di,." ajak bik Tutik membawa Nesya ke dapur dan meninggalkan Austin seorang diri.
"Mampus lo Austin,Nesya pasti merajuk dan gue pasti di anggap seperti nun sukun,ada tapi tak dianggap," gerutu Austin pada dirinya.
***
"Beneran loh,bu.itu si Austin beneran ingin memperosa aku,untung nya aku nangis jika tidak tamatlah sudah riwayat ku." Bik Tutik menahan senyum mendengar Nesya kembali salah menyebut kata itu.
"Memperkosa,non.bukan memperosa." bik Tutik membenarkan ucapan Nesya.
"Pokonya itu bik," ujar Nesya sambil membersihkan cabe.
"Coba deh non bilang mem-per-kosa." Bik Tutik sengaja mengeja agar Nesya dapat mengucapkan kalimat itu dengan benar.
"Memperosa," ujar Nesya membuat bik Tutik tertawa.
"Non,memang gak bisa ya?" tanya bik Tutik pada akhirnya.
"Memang gak bisa,apalagi ngomong ijajah sekolah.aduh susahnya minta ampun,udah pernah aku coba berulang kali tetap aja gak bisa.lidah aku sampai hampir keseleo karena terus mengulang kata itu." Nesya sedikit cerita tentang kekurangan nya.
"Oh ya,padahal itu mudah,non.ijazah bukan ijajah." terang bik Tutik karena dia tak menyangka kalimat semudah itu,ada juga orang tak mampu mengucapkan nya.
"Pokonya itulah,bik." balas Nesya.
"Em ... sepertinya ibu dekat ya,dengan Austin?" tanya Nesya mulai mempersiapkan bumbu masakan nya.
"Memang bibi dekat,bibi udah lama kerja disini.bisa di bilang hampir puluhan tahun,jadi bibi gak terlalu segan dengan den Austin." Cerita bik Tutik.
"Emangnya umur bibi sekarang berapa tahun?" tanya Nena penasaran.
"lima puluh tahun." Nesya kaget mendengar nya.
"Beneran,bik.tapi bibi kok Masi muda banget.aku kira umur bibi Masi tiga puluhan loh." puji Nesya terkagum kagum dengan sosok awet muda di depan nya.
"Ah,non bisa aja.mungkin karena bibi suka minum jamu dan hidup sehat makanya kelihatan muda.padahal bibi udah punya empat cucu dan satu cicit loh,hehe!" jelas bik Tutik sambil terkekeh kecil.
***
"Bang Austin kemana ya?kenapa jarang lagi mengunjungi kita?" tanya Bari dengan es kocok di tangannya.
"Mungkin dia sibuk ada proyek,jadi gak bisa ngumpul di sini," sahut Bani.
"Padahal kita udah lama gak makan ayam tepung lagi,biasanya jika dia ada disini.dia selalu membawakan kita ayam itu," jelas Bari membuat Tegar tak suka mendengarkan nya.
"Kamu gak boleh berpikir seperti itu,jika kamu mau makanan itu seharusnya kamu nabung untuk membelinya,bukan mengharapkan traktiran terus dari bang Austin!" celetuk Tegar dengan kesal.
"Gaya mu ngomong sok bijak.padahal jika Abang Austin bawa ayam itu,kamu yang paling rakus ngabisin nya.jujur aja,kamu pasti rindu dengan rasa nikmat ayam tepung itu." Tuding Bari membuat Tegar mendadak emosi.
"Mulut mu di jaga kalau ngomong!" pekik Tegar tak terima namun Bari hanya tertawa mengejek.
"Udah ... udah.kenapa kalian malah ribut,sih?mana yang kalian ributin cuma karena makanan,kayak gak ada bahan perkelahian aja." Bani menengahi keduanya.
"Kelahi jangan tanggung tanggung,jika perlu bawa aja parang.sekalian untuk menyembelih ayam tetangga." Bara mengompori.
"Nanti kalau ayam nya dah mati,baru kita buat ayam tepung sendiri." Bani ikut menimpali perkataan Bara.
"Bang aku punya ide cemerlang," ujar Bari tiba tiba.
"Ide apa?" sahut Bani.
"Gimana jika selain ngamen kita jualan.ayam geprek kek,ayam bakar,ayam goreng.yang penting kita jualan untuk cari tambahan." Bari mengungkapkan ide yang ia miliki.
"Belum ada laku udah dagangan nya habis,karena yang kita jual itu makanan kesukaan kita semua.bukan nya untung malah tekor Karena dagangan nya di comot terus," ucap Tegar tidak setuju.
"Yah,gak usah di comot lah bang.biar kita untung!" seru Bari.
"Jangan mikir keuntungan nya aja,Bari.kita itu perlu modal untuk membuka usaha,modalnya pun di atas rata rata.gadaikan ginjal Lo dulu sana,biar kita segera jualan." Omel Tegar agar bari berpikir panjang.
"Oh,masalah modal toh.tenang kita kan bisa pinjam dengan Abang Austin.abang Austin pasti ada cuan,dengan hanya menjual kaca spion mobilnya saja.sudah dapat membantu kita untuk menyewa ruko plus dengan membeli bahan makanan," Saran Bari membuat Abang abangnya menggeleng tak percaya.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Bara buka suara.
"Karena aku mengetahui harga spion itu dari Mbah Google,harganya sangat mahal terlalu banyak angka sehingga aku tidak bisa membaca angka depan nya,entah ratusan juta atau hanya jutaan saja," terang Bari yang memiliki jiwa ke ingin tahuan tinggi.
"Ternyata Abang kita memang sultan." Bara baru menyadari nya.
***
"Neng,udah Mateng belum?aku udah gak sabar nih nyicipin masakan mu!" tanya Austin.sedari tadi dia menanyakan ini dan itu namun Nesya tidak menghiraukan nya.
"Masih marah ya?aku minta maaf,jangan diemin aku dong,cantik." Bujuk Austin agar Nesya tidak merajuk terus menerus padanya.
"Makanya den,jangan nakal sama anak perawan.lebih susah meluluhkan hati anak gadis yang merajuk dari pada memanjat pohon kelapa." Nasehat bik Tutik membuat Austin mengelus hidung mancungnya.
"Kan aku gak tahu,bik.bibi juga telat ngasi info.coba bibi ngomongnya sedari dulu pasti aku berpikir panjang untuk bercanda dengan anak gadis." Bik Tutik langsung memukul Austin dengan sapu tangan karena menyalah kan nya.
"Itu salah mu sendiri tidak bertanya," ucap bik tutik.nesya diam diam menahan senyum dan itu tidak luput dari perhatian Austin.
"Senyum aja neng jangan di tahan.kata Dodit nih,ya?"bulu hidung mu ito Lo goyang goyang,seakan akan berkata ... Nesya tersenyum lah,Nesya tersenyumlah ... " Seketika Nesya tersenyum,bagaimana tidak? Austin mengatakan hal itu dengan wajah lucunya yang mampu menggoyahkan pertahanan Nesya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments