Part 7

Austin kembali ke kantornya dengan senyum yang tiada henti,semua karyawan heran melihat hal itu.dalam pikiran mereka ada angin Apa?sehingga sang bos bisa senyum semanis itu.

"Aku akan kembali ke kantor ku," pamit Austin meski Dia Masi ingin berada di sana.

"Terimakasih sudah menolong dan mentraktir ku hari ini," ujar Nesya sambil tersenyum manis.

Senyuman Nesya menghantui pikiran Austin, senyuman manis dan sosok Nesya yang mungil selalu terbayang oleh Austin.sehingga membuat Austin melamun dengan sesekali tersenyum sendiri.

"Ada apa lagi ini gusti,ini bos ku kesambet apa?kenpa dia senyum senyum sendiri?" tanya lirih Febri yang sedang memperhatikan Bos nya dari kejauhan.

"Menurut gue Bos seperti pemuda yang baru kasmaran," tebak Lola membuat febri langsung menoleh ke arahnya.

"Ah masa.setau ku tidak ada wanita di kehidupan bos,jangan Ngadi Ngadi kamu." Febri membatah ucapan Lola.

"Ingat insting seorang wanita lebih kuat dari pada pria,gue tebak tahun ini atau tahun depan pasti si Bos bakal nikah.fiks no debat," kekeh Lola sangat yakin dengan ucapan nya.

"Sok tahu Lo,kayak peramal aja bisa tahu apa yang akan terjadi pada Bos.asal Lo tahu gue lebih dekat dengan bos dari pada Elo.jadi gue yakin semua yang Lo pikirkan itu salah," bantah Febri memulai perdebatan.

"Siang bolong gini,Lo bilang bos kita jatuh cinta,cuih." ejek nya membuat Lola geram dengan pria bermulut wanita itu.

"kok Lo marah marah sih,seperti cemburu saja.apa jangan jangan Lo suka ya dengan bos?astaghfirullah jadi Lo ... " Lola syok sambil menutup mulutnya dengan satu tangan nya.

"Apaansih Lo,gue yang gagah,putih,macho,kaya seperti ini Lo bilang homo.gila Lo," bantah nya membuat Lola menatap nya dengan padangan berbeda.

"Fisik tidak menjamin seseorang normal atau tidak,termasuk Lo!" terang Lola membuat febri langsung memicingkan mata.

"Serah Lo mau percaya apa enggak," ujarnya sedikit kesal dan mulai merajuk.

"Eleh mode ngambek mulai terlihat,Cemen Lo jadi lakik.dikit dikit ngambek dikit dikit ngambek.muak aku lihatnya tahu gak," ejek Lola dengan kesal nya.

"Itu ada beberapa berkas di ruangan gue,Lo kerjakan saat ini juga dan harus selesai hari ini juga." Lola terbelalak hingga biji mata nya ingin copot dari tempatnya.

"Loh kok gitu sih,kebiasaan kalau ngambek ngerjain gue.mentang mentang Lo atasan gue dengan sesuka hati nya kamu memberatkan beban pekerjaan ku,dasar Cemen Lo." Lola tak terima dengan tindakan sewenang-wenang Febri.

"Mulai lagi lebay nya,jika gue gak kasi kerja ke Lo jadi Lo mau ngapain Hem.kagak usah kerja dimari jika mau duduk manis aja," omel Febri sambil melipat kedua tangan nya.

"Dasar bujang lapuk!" umpat nya,Febri diam saja meski dia mendengar Lola mengatai nya.

Lola pergi keruangan kerja Febri sambil menghentakkan kaki.sampai disana dia terkejut bahwa berkas di atas meja hanya satu,rasanya Lola sangat senang hingga melompat lompat.

"Ambil berkas lainnya di laci meja ku," pinta Febri yang baru datang.

Lola segera membuka laci yang di maksud Febri,saat laci terbuka mulut Lola ternganga karena ada tumpukan berkas di tangan nya.ingin rasanya dia mengoceh dan protes pada pria di depannya itu,namun niat tersebut dia urungkan karena dia tahu,semakin dia berdebat dengan Febri maka tumpukan berkas akan semakin menggunung.

"Ini terlalu banyak,hiks hiks." Lola mengeluh sambil melangkah membawa berkas itu.

"Apa kamu tidak membantuku,dimana hati nurani mu?" tanya Lola agar Febri simpati pada nya.

"Pergilah,semakin lama kamu mengerjakan berkas itu.semakin lama pekerjaan mu selesai." Febri mengusir Lola.

Lola segera menutup pintu dan meninggalkan ruangan itu,dia berjalan menuju ruangan nya.di perjalanan dia bertemu Austin.

"Lol aku ingin keluar ada urusan,jika ada meeting undur saja." titah Austin.

"Kenapa pak bos selalu memanggil ku lol sih, padahal sudah ribuan kali aku mengingat kan Dia,bahwa nama ku Lola bukan lol.Apa susahnya sih menyebut empat huruf itu?" dumel nya.

"Baik pak." Lola menunduk hormat.

Austin kembali meninggalkan kantornya,dia segera memasuki mobil dan menyetir mobil sendiri,sepanjang dia menyetir dia kembali tersenyum.hingga mobilnya berhenti di toko bunga.

"Bunga seperti biasa ya Pak?" pinta Austin tanpa turun dari mobil.

"Baik den," ujar pria paruh baya yang selalu melayani Austin.

Pria paruh baya itu pergi beberapa menit dan kembali dengan keranjang bunga yang di inginkan Austin.

"Ini den bunganya." Pria itu menyerahkan bunga pesanan Austin.

"Ini ... ambil saja kembalian nya." Austin menyerahkan beberapa uang merah pada penjual itu.

"Terimakasih den.kembalilah di lain waktu," balas Pria itu seiring Austin menghidupkan mobilnya.

Austin kembali menjalankan mobilnya,sampai di tempat tujuan Austin segera memarkirkan mobilnya.

"Assalamu'alaikum,Nin.Aku datang untuk bercerita padamu dan menghadiahkan surah Yasin untuk mu,semoga kamu senang." Austin membuka surah Yasin dan mulai membacanya.

Austin membaca surah Yasin dengan khusyuk,setelah selesai Dia langsung menaburkan bunga mawar di atas makam Nino.

"Nin ... jujur Aku merasa berbeda saat mengunjungi mu hari ini,entah mengapa perasaan ku biasa saja,tidak ada kesedihan lagi di hatiku!apa mungkin aku sudah bisa mengiklaskan kepergian mu?" Austin menatap batu nisan itu seolah olah Nino duduk disana.

"Nin ... jika aku mengatakan bahwa aku sekarang jatuh cinta lagi,apa kamu akan marah?" tanya Austin.

"Entah mengapa aku bisa suka sama wanita secepat ini,padahal aku hanya melihatnya beberapa kali dan parahnya aku tidak tahu namanya,aneh kan."

"Apa ini namanya cinta pada pandangan pertama?cinta itu sangat konyol dengan mudah nya dia membuat ku jatuh cinta dan sedikit demi sedikit melupakan mu.kamu tahu Nin ... hati ku berdebar kencang setiap kali membayangkan senyuman wanita itu,gila bukan." Austin menyentuh dadanya untuk merasakan getaran itu.

"Kamu pasti bertanya siapa wanita itu?baik akan ku beri tahu.Nama nya Nena Nesya,Dia wanita berhijab.sejauh ini aku melihat kepribadian dia baik dan unik,Dia itu sangat polos dan suka ceplas-ceplos." Austin tertawa kecil mengingat kekonyolan Nesya.

"Pasti kamu berpikir jangan sampai kepolosan dia ternodai dengan sifat abstrut ku,hahaha ... Nino kamu sangat tahu tentang ku." Austin kembali tertawa.

"Tapi kita tidak di takdir kan berjodoh,semoga kamu di pertemukan dengan jodoh mu di syurga.doakan Aku agar bisa mendapatkan wanita itu," pinta Austin.

"Aku pulang dulu,kamu yang tenang di sana.Assalamualaikum." Austin beranjak pergi menjauh dari makam Nino.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!