"Menurut papa,Austin sengaja membeli kalung emas karena wanita yang dia sukai itu dari kalangan rendah." Tina langsung melotot mendengar penuturan Bimo.
"Maksud Papa apa ngomong gitu?jangan merusak mood mama dong." Tina melempar bantal dengan kasar ke arah suaminya karena kesal.
"Coba mama pikir,emas adalah perhiasan yang mampu di beli dari kalangan rendah.dimata mereka mas itu adalah hal mewah,sedang kan Dimata kita yang mewah itu adalah berlian," Bimo menghindar saat bantal melayang ke arahnya.
"Pa jelasin nya langsung ke intinya." Tina memotong ucapan Bimo.
"Intinya Austin sengaja membelikan emas. karena jika dia membeli kalung berlian akan membahayakan kekasihnya..."
"Bukan kekasihnya tapi gadis incaran nya." ralat Tina.
"Ia cewe pdkt nya,ma.jika dia menyukai gadis kalangan atas pasti kalung emas itu akan di tolak mentah mentah.tapi kalau dari kalangan rendah pasti akan diterima.kalangan atas pasti gengsi,ma pakai emas.contohnya saja mama." Tanpa Bimo sadari dia tengah memercikan api untuk membakar dirinya sendiri.
"Loh kok ujungnya ke mama,sih.kenapa mama di bawa bawa?kan mama gak ada hubungan dengan gadis incaran Austin," protes Tina sedangkan Bimo mengelus tengkuk nya karena dia baru menyadari bahwa dia salah bicara.
"Papa cuma kasi perumpamaan,ma!" jelas Bimo dengan melihat wajah marah sang istri.
"Alah alasan aja.bilang aja papa kesal karena mama belakang ini suka shopping ngabisin uang papa.papa gak ikhlas uang papa mama habisin,kan?" tuding Tina berdiri dari duduknya dan kini berdiri di hadapan suaminya.
"Loh kok jadi bahas papa,sih.bukan nya sekarang kita lagi membahas wanita misterius itu,ma?" Bimo mencoba mengalihkan topik pembicaraan.namun,sayang sang istri telanjur marah.
"Jangan mengalihkan topik pembicaraan,pa.mama ngerti kok sebenarnya tadi papa nyindir mama,kan.karena mama lebih suka belanja berlian yang harganya melangit itu dari pada emas." Bimo menggeleng kepala.Dia berpikir,kenapa pengeledahan mereka berakhir dengan pertengkaran yang tidak jelas ujung nya?
"Baiklah,besok besok mama akan beli emas.nanti jika teman mama ataupun papa nanya,bilang saja suamiku sudah tua.tenaga nya tak bisa lagi memberikan fasilitas mewah seperti dulu lagi!" omel Tina berlalu pergi dan membanting pintu kamar Austin.
"Astaga mulut ku kebablasan." Bimo duduk tak berdaya karena baru saja mendapat Omelan dari sang istri.
***
"Telpon,enggak,telpon,enggak,telpon." Nesya menghitung jari tangan nya untuk memutuskan sebaiknya ia menelpon Austin atau tidak.
"Aduh kok telpon sih,tapi cuma dia yang bisa bantu aku.dilihat dari penampilan nya pasti dia punya uang satu juta di sakunya,aku yakin pasti dia punya." Pikir Nesya.
"Emangnya apa urusan mu Nena,jika dia punya uang atau tidak?jadi cewe jangan kelihatan matre.Lo aja baru kenal dia belum ada satu bulan udah mau pinjam duet aja,mau di taruh mana muka Lo!" omel nya pada dirinya sendiri.
"Tapi aku harus bagaimana?pilih malu karena pinjam duet atau udah menyetujui pesanan tapi gak gue tepati.lebih baik minjam duet,kan." Imbuhnya masi berdebat dengan dirinya sendiri.
"Gue gak peduli,gue udah ambil keputusan.mari kita telpon," ujar Nena mulai mengetik tombol hp tua itu,jemari Nena yang awalnya semangat menekan tombol kini perlahan melambat.
"Tapi gue bingung ngomongnya seperti,apa?" ujarnya kebingungan sendiri.
Nesya berdiri dari rebahan,kini dia melihat pantulan dirinya sendiri dari pantulan cermin.
"Hallo Austin,apakah aku boleh berhutang padamu?" ujarnya sambil melihat tingkahnya sendiri di pantulan cermin.
"Tapi kedengarannya aku seperti terdesak saja,tanpa menunggu balasan nya aku langsung berhutang." Mengomentari ucapan nya sendiri.
"Hallo ... Austin,bagaimana kabarmu?lalu aku langsung ke tujuan awal ku.Austin aku ingin berhutang padamu,aku mau minjam sejuta saja?"
"Tidak,tidak,tidak.itu terdengar seperti aku sedang sekarat keuangan dan mengemis ngemis uang padanya."
"Baiklah ... sekali lagi kita ulangi.ayo,Nesya konsentrasi.ehm ... ehm ... " Nesya berdehem beberapa kali untuk menyiapkan kata yang tepat.
"Austin ... " ketika dia baru memulai.handphone jadulnya berbunyi,Nesya yang kesal langsung mengangkat panggilan dengan suara yang tak bersahabat.
" YA HALLO." Mengangkat panggilan dengan suara juteknya tanpa melihat siapa yang menelpon?
"Apa benar ini Nesya?." tanya seorang pria yang suaranya tak asing di telinga Nesya.
"Ap ... apa ini Austin?" tanya Nesya sedikit gugup.
"Ah,rupanya kamu masi ingat dengan ku."
"Astaga kenapa aku tadi mengangkat panggilan dengan suara seperti itu?bisa bisa dia marah dan tidak mau meminjamkan aku cuan." menepuk jidat pelan.
"Maaf tadi aku sedang kesal,jadi tanpa sengaja membentak mu," ujar Nesya mencari jalur aman.
"Ya tidak apa apa.aku baru kali itu mendengar suara marah mu.sampai sampai tadi aku kira aku salah nomor karena tidak menyangka itu suara mu."
"Benar benar memalukan!" gerutu Nesya sambil menggigit bibir bawahnya.
"Hehe,apa suara marah ku menyeramkan?apa kamu takut mendengar nya?" tanya Nesya sambil mendudukkan diri di bangku meja riasnya.
" Aku bukan takut tapi sedikit terkejut saja,karena tiba tiba suara mu berubah ketika marah."
"Kamu orang yang sejuta kali nya mengatakan hal itu." balas Nena tersenyum malu,karena dia bukan kali pertama mendengar pembenaran suaranya berubah ketika marah.
"Benarkah.padahal aku ingin menjadi yang pertama kali mengetahui hal itu." Austin tersenyum senang tanpa sadar mengigit pulpen di tangan nya.
"Padahal,aku tadi bingung ingin ngomong apa ketika panggilan terhubung?tapi tidak disangka bahan obrolan itu mengalir sendirinya tanpa harus di rencanakan."
"Oh ya,tapi sayang Anda terlambat." ledek nya
"Sangat di sayangkan." Dengan nada menyesal.
"Apakah ini waktu yang tepat,untuk aku berhutang padanya?ayo segera katakan Nesya! ingat kesempatan tidak datang dua kali."
"Austin ... boleh tidak aku meminjam uang pada mu?" Hati Nesya berdebar kencang setelah mengatakan hal itu,jujur ini kali pertama dia berhutang kepada seseorang.
"Boleh .... Apa kamu sedang tertimpa musibah?cerita saja padaku aku senang bisa membantu mu."
"Sebenarnya aku meminjam uang padamu untuk dagangan ku,tadi pagi ada pelanggan yang memesan 500 bungkus nasi jualan ku.aku perlu modal lebih untuk membeli bahan makanan,jadi aku membutuhkan pinjaman dari mu," jelas Nena sedikit malu.
"Wah,kabar baik.kamu ingin minjam berapa?katakan saja.sekalian beri tahu juga no rekening mu?"
"Aku ingin meminjam sejuta saja,tapi bisa tidak uang nya kas aja,soalnya aku tak punya rekening." Setelah mengatakan hal itu Nena menelungkup wajah nya di meja karena malu untuk sekian kalinya.
"*Tidak masalah,aku akan menemui mu.aku segera kerumah mu,tunggu aku di gang melati, ya."
Austin lalu memutuskan Panggilan tanpa menunggu balasan dari Nesya*.
"Tidak usah kesini.Aku yang akan menemui mu ... hallo Austi ... yah,mati." ucap Nesya sambil melihat hp jadul miliknya.
"Yes .... yes ... yes.akhirnya ketemu nengelis lagi." Austin membereskan meja kerja nya dengan penuh semangat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments