Jaka terkejut sebab pintu kamar hotel terbuka dengan sangat kencang.
"Mama!" seru Jaka ternganga karena melihat Mama nya yang sudah berada di ambang pintu dengan berkacak pinggang.
Tak hanya itu, Jaka semakin terkejut karena melihat Mama Sintia yang berada di samping Mama nya.
"Hiks.." Sintia berpura-pura menangis dan memegangi selimut yang menutupi tubuhnya.
"Jaka!" bentak Mama Sintia- Mala yang melihat sang Putri menangis ketakutan.
Mala berjalan ke arah ranjang dan menatap tajam ke arah Jaka.
"Kamu apa'kan anak saya?" teriak Mala dengan nada tinggi.
"T—tante.. Ini semua—" ucapan Jaka terpotong karena Sarmila menamparnya.
"Dasar anak kurang ajar! Kamu mengatakan bahwa kamu tidak mencintai Sintia, tetapi mengapa kamu berbuat seperti ini padanya?"
Jaka hanya terdiam ketika sang Mama memarahinya.
"Mama tunggu kalian di rumah. Cepat pakai baju kalian dan segera pulang!" perintah dari Sarmila.
Sarmila keluar dari kamar hotel.
"Sayang, kamu segera pakai baju dan Mama tunggu di rumah Tante Mila ya? Kamu jangan takut dengan apapun, karena orang yang salah pasti akan dihukum atau bertanggungjawab." setelah mengatakan itu, Mala langsung pergi dari kamar hotel.
Jaka menatap Sintia dengan tajam dan dia mencengkram dagu Sintia dengan kasar. "Dengar Sintia! Jika semua ini terbukti hanya akal busuk mu, maka aku tidak akan pernah memaafkan mu." Jaka segera turun dari ranjang dan segera memakai pakaiannya.
Sintia hanya terus menangis di atas ranjang. "Mengapa kamu terus menyalahkan ku, Mas? Aku memang sangat mencintaimu, tetapi aku tidak bodoh sehingga rela mengorbankan harta berharga ku untuk mu."
"Cinta itu buta, Sintia. Jika kita sudah sangat mencintai seseorang, bahkan nyawa sekalipun pasti akan diberikan." Jaka langsung pergi meninggalkan Sintia yang terisak.
Sintia menghapus air mata buayanya ketika Jaka sudah keluar dari kamar. "Hah, capek juga ya bersandiwara gini. Tapi gak pa-pa, akhirnya rencana ku berhasil dan aku yakin mau tidak mau Mas Jaka pasti akan menikahi aku." Sintia tersenyum jahat dan mulai memakai pakaiannya.
Sintia sengaja menyiramkan pewarna merah di atas ranjang dan itu seolah-olah adalah darah keperawanannya yang sudah ditembus oleh Jaka, padahal sebenarnya Jaka dan Sintia tidak melakukan apapun.
Flashback on.
Kiara menutup mulutnya ketika Tono sudah selesai berbicara. "Benarkah? A—apa benar yang kau katakan, Mas?"
"Saya tidak bohong, Kiara. Sekarang Mas Jaka dan keluarganya akan pindah ke luar kota sekaligus ingin menikahkan Mas Jaka dengan wanita bernama Sintia."
Buliran bening jatuh di pipi mulus Kiara, takdir apa yang sudah Allah berikan padanya? Mengapa dia harus mengalami hal buruk seperti ini? Itulah yang Kia pikirkan.
Nenek sendiri menangis dan memegangi dadanya yang terasa sesak.
Brugh!
Tubuh Nenek terjatuh ke lantai.
"Nenek!" teriak Kiara dengan kencang dan berlari menghampiri Nenek nya.
"Nenek bangun Nek.. Nek!" Kiara berjongkok sembari menggoyangkan tubuh Nenek nya dengan perlahan.
Para tetangga datang ke kamar dan terkejut ketika melihat Nenek yang tergeletak di atas lantai.
"Ada apa, Bu?" Ray yang baru saja datang heran karena melihat para ibu-ibu tengah berkerumun di depan pintu kamar Kiara.
Tanpa menunggu jawaban dari ibu-ibu itu, Ray langsung menerobos masuk ke dalam kamar. "Nenek!" teriaknya terkejut setelah berhasil masuk ke dalam kamar milik Kiara.
"Mas! Mas Fildan tolong bantu saya bawa Nenek ke rumah sakit, Mas." air mata semakin deras jatuh ke pipi Kiara.
Ray segera membopong tubuh Nenek dan membawanya keluar dari kamar diikuti oleh Kiara dari belakang.
"Apa mobilnya sudah ada?" ucap Ray ketika sudah berada di teras rumah.
"Belum. Mas Tono sedang mencarinya," ucap Kiara khawatir.
Tak lama kemudian suara deru mobil terdengar mendekat ke rumah Kiara.
"Nah itu mobilnya, ayo cepetan Mas."
"Mbak! Terus gimana ini acara pernikahannya?" Ibu belakang rumah Kiara bertanya dengan nada bingung.
"Pernikahan dibatalkan. Ibu-ibu bisa pulang dan bawa makanan yang sudah Ibu-ibu masak, terima kasih." Kiara langsung pergi menuju mobil dengan Ray yang berada di depannya dengan membopong sang Nenek.
Di dalam mobil.
"Ki, maksud ucapan kamu tadi apa? Pernikahan dibatalkan? Mengapa, apa terjadi sesuatu?" Ray langsung bertanya karena bingung.
"Saya akan menjelaskannya nanti, Mas.'' lirih Kiara dengan lemah.
Raymond hanya mampu terdiam tanpa ingin bertanya sesuatu apapun, dia hanya menatap Kiara yang terus menangis seraya menggenggam tangan sang Nenek.
'Ya Allah, mengapa cobaan yang Engkau berikan sangat bertubi-tubi? Apa salah hamba? Mengapa semua ini terjadi pada hamba? Hamba mohon tolong selamatkan Nenek Ya Allah, hamba sudah kehilangan cinta hamba dan saat ini hamba juga tidak ingin kehilangan Nenek..' air mata semakin deras jatuh ke pipi Kayla.
Kiara terus menangis hingga sesegukan. Sementara Ray, dia memalingkan wajahnya ke jendela, entah mengapa dada Ray terasa sesak ketika melihat Kiara menangis seperti ini.
•
•
Me
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
Lina Wati
nikah aja sama rey
2023-01-02
1
💞🍀ᴮᵁᴺᴰᴬRiyura🌾🏘⃝Aⁿᵘ
wanita busuk...kau takkan pernah bahagia
2022-10-25
0
💞🍀ᴮᵁᴺᴰᴬRiyura🌾🏘⃝Aⁿᵘ
kamu memang tdk bodoh tapi liciik
2022-10-25
0