Ray terus menatap Ibu hamil yang ada di depannya. "Untuk apa saya harus mengelus perut Ibu?"
"Karena saya ingin jika nanti anak saya lahir, gantengnya akan seperti Mas Fildan." Ibu itu tersenyum sendiri.
'Astaga, demi apa.. Ibu ini ada-ada aja,' batin Ray menggerutu.
"Apa tidak akan jadi masalah, Bu? Saya tidak ingin warga nanti jadi curiga atau berpikiran jelek tentang saya."
"Tidak akan terjadi apapun, Mas Fildan. Saya yang jamin, Mas Fildan jangan takut. Ayo Mas, hanya sebentar saja.."
Dengan rasa ragu, Ray mulai mengulurkan tangannya perlahan seraya melihat kesekeliling lalu mulailah Raymond mengelus perut Ibu itu, beberapa detik kemudian Ray langsung menurunkan tangannya kembali.
"Sudah ya, Bu? Saya ada janji lagi sama teman." ucap Ray tetap sopan agar ibu itu tidak tersinggung.
"Iya, Mas. Sudah cukup kok, terima kasih banyak ya? Semoga gantengnya Mas Fildan nanti bisa nular ke anak saya," Ibu itu tersenyum tipis lalu langsung pamit pergi.
Ray hanya menggeleng melihat kelakuan Ibu itu, dia kembali berjalan ke rumah Kiara.
Menit kemudian.
Tok tok tok!
Ray mengetuk pintu rumah Kiara.
Ceklek!
Pintu terbuka dan terlihatlah Kiara yang hanya memakai piyama panjang dengan gambar buah jeruk.
"Mas Fildan, saya pikir gak jadi datang." Kiara membuka lebar pintu rumahnya.
"Aku gak mungkin mengingkari janji." ucap Ray dengan senyum tipis.
"Ayo masuk, Mas." Kiara mempersilahkan Ray masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum.." ucap Ray ketika melangkah masuk.
"Waalaikumsalam," sahut Kiara.
Ray duduk di kursi yang terbuat dari bahan rotan.
"Mas Fildan mau minum apa? Biar saya buat'kan."
"Gak usah repot-repot, Kiara. Aku datang kesini juga tidak membawa apapun,"
"Lalu masalahnya apa? Saya akan buat'kan Mas Fildan teh hangat, tunggu sebentar ya." Kiara berjalan melangkah ke dapur.
"Benar-benar gadis yang baik, Mas Jaka pasti beruntung sekali mendapatkan calon istri seperti Kiara." gumam Ray yang mengangumi Kiara.
Beberapa saat kemudian, Kiara telah kembali dengan membawa nampan yang berisi satu gelas teh manis hangat dan juga bolu kukus buatannya.
"Ini, Mas. Silahkan dinikmati," Kiara tersenyum tipis sembari meletakkan gelas dan piring di atas meja.
"Terima kasih, Kiara." Ray mulai mencomot bolu yang sudah Kiara potong-potong.
"Gimana rasanya, Mas? Enak atau enggak?" Kiara menatap wajah tampan Raymond yang tengah mengunyah bolu buatannya.
"Em.. Enak, kamu buat sendiri atau beli?" Ray melahap habis bolu yang ada ditangannya.
"Saya buat sendiri, Mas. Itu juga masih tahap belajar." Kiara merendah.
"Masih belajar tapi udah seenak ini, lembut di dalam dan krispi diluar. Manis nya juga pas," Ray tersenyum manis.
"Oh ya, bagaimana kabar nenek kamu?"
"Ya seperti itulah, Mas. Alhamdulillah keadaannya membaik meskipun belum terlalu pulih,"
"Ki, aku boleh bertanya sesuatu?" Ray langsung bertanya apa yang ingin dia ketahui.
Kiara menatap Ray. "Katakan,"
"Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dalam pernikahanmu yang akan berlangsung dengan Mas Jaka?"
Kiara menunduk.
"Bicaralah, Ki. Aku akan mendengarkan ceritamu." Ray menatap Kiara dengan lembut. "Apa ada yang memaksamu agar menikah dengan Mas Jaka?"
"Kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu, Mas?"
"Karena terlihat tadi siang saat kamu memberikan aku undangan, raut wajah mu sangat lesu dan gak ada gembira-gembiranya sedikitpun." Ray memang melihat bagaimana ekspresi Kiara ketika memberikan undangan.
"Aku akan menceritakan semuanya." Kiara mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan. "Sebenarnya aku sangat mencintai Mas Jaka."
'Ternyata perkiraan ku salah,' batin Ray malu.
"Lalu apa yang membuatmu tidak bersemangat ketika pernikahan kalian akan dipercepat?"
"Karena kedua orang tua Mas Jaka. Mereka tidak menyukai aku karena aku adalah orang miskin, sementara mereka mempunyai segalanya. Status kami sangat jauh berbeda, Mas! Bagaikan langit dan bumi."
Ray mengangguk paham. "Jadi karena itu kamu sangat lesu memikirkan pernikahan mu dan Mas Jaka?"
Kiara mengangguk. "Aku takut ketika menikah nanti kedua orang tua Mas Jaka tidak akan memperbolehkan aku tinggal disini, lalu bagaimana nasib nenek?"
Ray menghembuskan nafas pelan, dia juga bingung harus mengatakan apalagi. Tujuannya datang ke rumah Kiara sudah terjawab. ' Ternyata itu alasan Kiara seperti tidak bersemangat dalam menyambut pernikahannya dan Jaka.' batin Ray .
"Boleh aku bertemu dengan nenek?"
Kia menatap Ray yang juga tengah menatapnya dengan tulus, Kiara mengangguk dan mereka berdua masuk ke dalam kamar nenek.
•
•
•
**TBC
HAPPY READING DAN SAMPAI JUMPA ❤
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH BANYAK 🙏🏻**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
💞🍀ᴮᵁᴺᴰᴬRiyura🌾🏘⃝Aⁿᵘ
lagi2 krn harta...dan nama baik
2022-11-11
3
🦚⃟•×ajengfelix࿐
Ray sudah tahu alasan Kiara tidak semangat dengan pernikahannya
2022-10-08
0
༄༅⃟𝐐Vita Shafira𝆯⃟ ଓε💞🌏
orang kaya kalau dapat menantu orang miskin pasti GK setuju,,mintanya sama sama kaya..sabar Kiara kalau Jaka cinta sama kamu pasti dia akan melindungi mu❤️❤️
2022-10-01
0