Satu bulan kemudian.
Setelah menyelesaikan pekerjaan serta melaksanakan liburan bersama, hari ini adalah hari kebahagiaan Raymond dan Meysa.
Bagaimana tidak, tepat saat ini juga Ray dan Mey akan melaksanakan acara ijab kabul di gedung mewah dan elegan pilihan Meysa sendiri.
"Kau sangat cantik sayang, Ray pasti tidak sabar untuk membawamu pulang ke rumahnya." ucap Mama Meysa sembari memegang dagu Mey dengan lembut.
"Tentu, Ma. Mey memang cantik sedari dulu." sahut Meysa dengan percaya diri sebab dia memanglah sangat cantik bak boneka india.
Meysa Robert, anak tunggal dari pasangan Abraham Robert dan Inka Marissa Robert. Abraham adalah pemilik perusahaan WO terbesar di seluruh Asia.
Terlihat sudah banyak tamu yang datang untuk menyaksikan acara ijab kabul Ray dan Mey, tak hanya kerabat tapi juga para pejabat serta rekan-rekan bisnis Ray dan Abraham.
Dua perusahaan akan bersatu dalam pernikahan anak-anak mereka, bisa dibayangkan bagaimana meriahnya pesta itu.
-------------------------
Semetara di kediaman Raymond.
Pria tampan dengan sejuta pesona itu telah bersiap untuk pergi menemui sang calon istri.
"Ray, satu mobil dengan Papa dan Mama aja ya? Biar Amel dan Need naik mobil satu lagi bersama dengan sopir." ucap Mama Ray yang berada di samping mobil.
"Ray naik mobil sama sopir aja, Ma. Mama, Papa, Amel dan Need naik mobil satu lagi." entah mengapa Ray sangat ingin sekali pergii menuju ke gedung dengan menggunakan mobil sendiri tanpa ada Papa dan Mama nya atau siapapun.
"Tapi, nak—" Mama ingin mengungkapkan keberatannya tetapi Papa dengan cepat menyela.
"Sudahlah, Ma. Kita kawal mobil Ray dari belakang" keputusan yang Papa ambil.
Mama Ray tidak bisa berkata apapun lagi, dia hanya menurut saja dengan apa yang suaminya katakan.
Mereka masuk ke mobil masing-masing.
"Sekali lagi selamat ya, Tuan. Akhirnya hari bahagia yang di tunggu-tunggu akan segera tiba." ucap pak Sopir ketika mobil mulai melaju membelah jalan raya.
"Terimakasih, Pak." Ray tersenyum tipis.
Drtt drtt..
Ponsel Ray yang berada di kantong celana bergetar.
Ray langsung menjawab panggilan dari nomor tidak dikenal itu.
"Halo," sapa Ray ketika panggilan sudah tersambung.
📲"Halo, Tuan Raymond. Selamat untuk hari kebahagiaan mu, tetapi kau jangan terlalu bahagia karena sebelum kau bertemu dengan calon istrimu, kau akan bertemu lebih dahulu dengan ajal mu." ucap sang penelepon dengan nada seram.
"Ajal? Dasar tidak waras! Kau ingin bermain-main denganku ya?" geram Ray emosi.
📲"Ck ck! Mengapa anda harus marah seperti itu, Tuan Ray. Saya mengatakan hal yang benar dan anda pasti akan percaya jika mobil yang saat ini anda kendarai meledak." pria diseberang sana tertawa jahat.
"Meledak? Apa maks—" ucapan Ray terpotong karena mendengar suara sesuatu seperti jarum jam.
Ray mencari asal suara dengan ponsel yang masih tersambung oleh sang penelpon.
"****! Sial, ternyata ucapan pria itu benar. Bagaimana ini?" Ray menjadi bingung tetapi sebisa mungkin dia merileks'kan dirinya.
📲"Bagaimana, Tuan Ray? Apa anda percaya dengan ucapan saya?"
"Kau siapa? Dasar gila! Aku tidak pernah punya masalah dengan siapapun." teriak Ray marah.
Sontak sopir menoleh dan mengerut heran melihat sang bos yang marah-marah, sebagai bawahan dia tidak berani menanyakan apapun kepada bosnya itu.
📲"30detik lagi bom akan meledak, jika kau menurunkan laju kecepatan mobil mu maka tidak dalam waktu tiga puluh menit bom itu akan meledak."
Ray hanya diam saja sembari berpikir bagaimana caranya agar bisa turun dari mobil tanpa menghentikan lajunya.
"Tuan, ada apa?" sopir memberanikan diri untuk bertanya ketika memperhatikan wajah sang bos yang terlihat pucat.
"Mobil ini ada bomnya!" pekik Ray khawatir tanpa mematikan ponselnya.
"Apa!" teriak sopir tak kalah panik.
"Kau harus fokus menyetir, jangan sampai kecepatan laju mobil ini menurun hingga 50km."
"B—baik, Tuan. Tapi bagaimana jika bom itu meledak nanti?"
"Kau tidak perlu khawatir, bom tidak akan meledak jika kau melajukan mobil ini di atas 50km. Aku akan mencari cara agar kita bisa keluar dari mobil ini tanpa menghentikan lajunya." Ray masih sibuk berpikir dan melihat ke sekeliling melalui jendela mobil.
Di mobol lain, kedua orang tua Ray, Amel dan Need heran karena melihat mobil yang Raymond kendarai melaju begitu cepat tanpa memperdulikan keadaan jalan raya.
"Pa, kenapa mobil Ray melaju sangat kencang? Apa sopir tidak melihat keadaan jalan!"Mama Ray menjadi kesal.
"Entahlah, Papa juga tidak tahu." Papa Ray ikut khawatir melihat laju mobil yang sang Putra kendarai.
Setiba di jalan tol yang di kelilingi oleh jurang, mobil Ray melaju lambat ketika melewati tikungan tajam.
BOM!
•
•
**Raymond William
•
•
TBC
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘😘**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
Yati Maryati
wow visual nya keren
2023-09-11
0
Lina Wati
serem
2023-01-02
1
lupa🎃
ini pasti ulah si miko yg masang bom
2022-10-29
0