Kiara mulai menarik nafas dan menghembuskan nya pelan, lalu kemudian Kia mulai menyanyikan lagu India yang dibawakan oleh penyanyi favoritnya yaitu Fildan.
Kyunki tum hi ho, Ab tum hi ho
Karena hanya kamu, sekarang hanya kamu
Zindagi ab tum hi ho
Kehidupanku kini hanya kamu seorang
Chain bhi, mera dard bhi
Ketenanganku juga rasa sakitku
Meri aashiqui ab tum hi ho
Cintaku sekarang adalah dirimu seorang
Itulah lagu yang Kiara nyanyikan.
"Wah, ternyata suaramu sangat bagus ya? Aku rasa kamu cocok mengikuti audisi sebagai penyanyi dangdut," ucap Ray dengan tersenyum tipis.
Kia jadi tersipu. "Mas Fildan, kamu jangan membuatku malu.."
"Mas Fildan, jangan memujinya karena aku takut hidungnya akan panjang hingga menembus kaca mobilku," gurau Jaka dengan tertawa pelan.
Senyum Kiara yang tadinya terpatri, perlahan luntur karena ucapan Jaka. "Mas Jaka mah jahat," Kia mengerucut kan bibirnya.
"Tadi kamu sangat cantik jika tersipu, tetapi ketika mengerucut seperti ini kamu malah semakin imut."
"Hei hei.. Jangan berani menggoda calon istriku," Jaka melirik Ray sejenak dari kaca spion atas.
"Kalian akan menikah?"
Kiara mengangguk. "Beberapa bulan lagi,"
"Wow.. Selamat ya, aku berharap kalian berbahagia selalu dan tidak ada halangan apapun hingga hari H nanti."
"Terima kasih," ucap Kiara.
Jaka hanya tersenyum lebar sembari menggenggam tangan Kiara menggunakan tangan sebelah kiri nya.
------Selamat datang di Desa Mulia Makmur-----
Tugu masuk ke dalam desa sudah mereka lewati.
"Apa ini desa kalian?" Raymond membuka kaca mobil dan melihat keluar.
"Hm.." Kiara mengangguk.
Ray menghirup udara dalam-dalam sembari memejamkan mata. "Ternyata udara nya sangat segar ya? Pemandangan hijau juga sangat banyak,"
"Tentu saja, ini desa yang jauh dari kota jadi tidak ada populasi udara. Di desa ini juga kebanyakan pekerjaannya sebagai pemetik daun teh sepertiku, maka dari itu pemandangannya hijau dan luas terbentang." Kiara juga membuka jendela mobil sembari memandang keluar.
Mereka bertiga mengobrol ringan, Ray banyak bertanya tentang rutinitas sehari-hari, gaji, dan pekerjaan untuk dirinya nanti apa.
Tak terasa waktu dengan cepat berjalan hingga mereka sudah sampai di sebuah rumah kontrakan yang sangat kecil.
"Apa ini yang akan jadi tempat tinggal ku?" Ray langsung menelusuri rumah itu ketika sudah turun dari mobil.
"Ya, lumayan'kan daripada kamu tidur di pos ronda." gurau Kiara dengan tersenyum lebar.
Raymond hanya mengangguk.
"Kia!" Jaka mendekat ke arah Kiara.
Kiara menoleh dan tersenyum. "Ada apa, Mas?"
"Mama tadi baru aja kirim pesan, aku harus segera ke toko karena ada barang yang ingin diantarkan ke pelanggan."
"Ya sudah, terima kasih karena kamu sudah mau menemani aku untuk menjemput Mas Fildan. Kamu hati-hati ya, Mas?"
Jaka mengangguk. "Sama-sama, ya udah aku permisi. Mas Fildan, saya permisi dulu."
Setelah saling mengucapkan salam, Jaka langsung masuk ke dalam mobil dan mobil pun melaju pergi meninggalkan Kiara juga Ray.
"Apa dia anak orang kaya?" pertanyaan konyol yang keluar dari mulut Ray.
Kiara melirik Ray sekilas dan mengangguk. "Ya, Ibunya adalah seorang pemilik toko Emas murni, dan Ayahnya adalah pemilik kebun teh di tempat ku bekerja."
Kiara berjalan mendahului Raymond.
"Oh, pantas saja gaya pakaian Mas Jaka berbeda dengan orang desa pada umumnya"
"Tapi dia juga orang desa sini, Mas. Rumahnya tidak terlalu jauh dari kontrakan ini,"
Tok!tok!
Kiara mulai mengetuk pintu.
Kriet!
Pintu terbuka.
"Assalamualaikum, Mas Pur.."
"Walaikumsalam.. Eh, ada neng Kia" Pur tersenyum tipis.
"Mas Pur, perkenalkan ini Mas Fildan."
Raymond dan Pur saling berjabat tangan.
"Wah, neng Kia.. Saya rasa Mas ini berasal dari keluarga kaya mungkin ya? Telapak tangan nya lembut bener," ucap Pur dengan logat sunda.
"Em.." Kiara melirik Ray sejenak. "Mas Pur, apa boleh Mas Fildan tinggal disini untuk sementara waktu sebelum dia tahu siapa keluarganya?"
Pur mengerutkan dahi. "Maksudnya neng bagaimana ini? Apa Mas ini tidak ingat keluarganya?"
"Ceritanya panjang, Mas. Nanti akan saya beritahu Mas Pur, jadi apa boleh Mas Fildan tinggal disini?"
"Tentu boleh atuh, neng.. Saya juga mah tinggal disini gak ada temennya," sahut Pur.
Purwanto atau sering disapa Pur adalah pria berusia dua puluh enam tahun yang bekerja di desa sebagai tukang bangunan, Pur juga berasal dari keluarga keturunan sunda.
"Sok masuk atuh, Mas.." Pur mempersilahkan Raymond masuk.
"Terima kasih," sahut Ray sembari masuk ke dalam rumah.
"Neng Kia, apa laki-laki itu lupa ingatan?" ucap Pur dengan sedikit berbisik.
Kiara mengangguk. "Saya harap Mas Pur atau yang lainnya jangan memaksa Mas Fildan untuk mengingat siapa namanya atau asal usulnya, Dokter bilang itu semua bisa menjadi masalah untuk keadaan Mas Fildan." jelas Kia.
"Oh, ya ya.. Saya paham," Pur mengangguk.
"Apa Mas Pur tidak mencari pekerja lagi? Sebagai kuli mungkin, jika Mas Pur masih butuh anggota lebih baik Mas ajak aja Mas Fildan."
"Ya sudah, nanti akan saya ajak dia untuk bekerja." sahut Pur.
"Terima kasih banyak ya, Mas? Semoga kebaikan Mas Pur dibalas Oleh Allah,"
"Amin, sama-sama neng Kia. Sebagai sesama manusia memang harus saling membantu." ucap Pur
"Kalau begitu saya permisi ya, Mas? Titip Mas Fildan, assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam,"
Setelah mendapatkan jawaban salam, Kia langsung pergi dari rumah kontrakan milik Purwanto . Jarak antara rumah Kia dan Kontrakan sebenarnya tidak begitu jauh, hanya berjarak 50meter saja.
•
•
•
**TBC
HAPPY READING
SEE YOU NEXT PART
JANHAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
Yati Maryati
maaf ya Thor orang Sunda biasa memanggil lelaki mang bukan mas ,maaf ya
2023-09-11
0
💞🍀ᴮᵁᴺᴰᴬRiyura🌾🏘⃝Aⁿᵘ
lah...si ray mau jadi kuli😄😄😄
2022-10-16
0
🍭ͪ ͩ📴🍀⃟🐍
tetap semangat Ray.. sampai kamu mengingat siapa kamu sebenarnya..
2022-10-10
1