Keesokan harinya.
Ray telah bersiap untuk pergi meninjau lokasi pembuatan Villa.
"Need, apa kau sudah mempersiapkan semuanya?" ucap Ray sembari menutup laptop.
"Sudah, Bos. Saya sudah mempersiapkan segala hal untuk kita meninjau lokasi." sahut Need sopan, jika di jam kerja Need akan bersikap sopan bak Bos dan bawahan.
"Baiklah, kalau begitu kita akan pergi sekarang. Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku." Ray beranjak dari kursi kerjanya.
Mereka berdua bersama-sama keluar dari kantor.
Sesampainya di parkiran, Ray dan Need menaiki mobil Alphard berwarna putih milik Ray.
Need menstater mobil tetapi tidak menyala.
"Ada apa Need?" tanya Ray dari tempat duduk belakang dengan heran.
"Gak tau nih, kak. Kayak nya nih mobil mogok deh." Need mencoba berulang kali menstater mobil tetapi hasilnya tetap nihil.
Sebuah mobil berhenti tak jauh dari mobil Ray.
"Itu sepertinya Mico." ucap Ray ketika melihat siapa yang turun dari mobil.
Need melihat keluar mobil. "Iya, tumben dia ke kantor ini?"
"Entahlah, ayo kita turun." Ray keluar dari mobil lalu kemudian di susul oleh Need.
"Mico!" seru Ray berjalan ke arah Mico.
Mico yang kala itu ingin melangkahkan kaki langsung menoleh.
"Selamat siang, Tuan Raymond." sapa Mico dengan sopan.
"Ya, siang. Ada apa kau datang kemari? Tumben kau datang sendirian." ucap Ray sembari menatap ke mobil Mico.
"Saya diperintahkan oleh Nona Meysa untuk memberikan ini kepada Tuan." Mico memberikan amplop berwarna cokelat kepada Ray.
Ray menerima dan melirik Mico. "Apa ini?"
"Nona Mey mengatakan bahwa isi amplop itu adalah berbagai macam contoh model undangan pernikahan, Tuan."
"Kenapa tidak Mey saja yang memilihnya?"
"Saya tidak tau, Tuan. Sebaiknya Tuan tanya saja sendiri kepada Nona Mey, saya permisi.." Mico membalikkan tubuh.
"Mico tunggu!" Ray mengentikan langkah Mico.
"Ya, Tuan. Ada apa lagi?" sahut Mico sopan.
"Apa saya bisa minta tolong?"
Mico mengangguk.
"Kebetulan mobil saya mogok dan saya sekarang ini ada tugas penting untuk meninjau lokasi pembuatan Villa. Berhubung ada kau, saya ingin meminjam mobilmu untuk pergi ke desa itu."
"Baik, Pak. Bapak boleh memakai mobil saya, nanti saya akan pulang naik taksi saja."
"Eh, jangan! Kau naik mobil perusahaan saja, aku akan memerintahkan kepada Melati untuk memberikan kunci mobilnya." ucap Raymond.
Melati adalah Manager di perusahaan Ray.
"Baik, Pak." Mico mengangguk paham.
"Need, ayo kita berangkat!" Ray berjalan duluan menuju mobil Mico kemudian di susul oleh Need.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan tak lama kemudian mobil pergi melaju meninggalkan kantor.
Setelah mobil melaju, Mico tersenyum sinis.
Di dalam perjalanan.
"Kak, kenapa kita tidak naik mobil sendiri saja? Misal mobil perusahaan gitu." ucap Need dengan fokus menyetir.
"Kau tau'kan bagaimana laju mobil perusahaan. Aku tidak ingin terlambat hanya karena mobil yang laju nya sangat lemot seperti keong." ucap Ray sembari bermain ponsel.
"Entah mengapa aku tidak menyukai pria itu." celetuk Need tiba-tiba dengan suara yang pelan.
"Kau bicara apa Need?" Ray mendongakkan kepala menatap Need yang tengah menyetir.
"Tidak, aku tidak berbicara apapun. Mungkin kau salah dengar kak, makanya jangan fokus ke ponsel terus." Need melirik sang kakak sepupu dari kaca spion.
"Aku sedang mencari lokasi yang pas untuk liburan." Ray berbicara sembari terus menatap ponselnya.
"Liburan? Jadi kakak benar ingin liburan bersama dengan Mey?"
"Ck! Jaga bicaramu, Need. Dia itu akan menjadi kakak ipar mu, panggil lah dirinya dengan panggilan yang sopan." ucap Raymond tidak terima.
"Ya ya ya.. Baiklah, maafkan aku." Need pasrah.
"Ya, aku memang sudah memutuskan untuk pergi liburan bersama dengan Mey.." Ray mengulas senyum.
"Aku ikut!" Need langsung membalas ucapan Ray dengan cepat.
"Kau akan menjadi pengganggu di hari liburan kami nanti, sebaiknya kau di rumah saja dan jika kau ingin berlibur maka pergilah bersama dengan Amel." Ray tersenyum geli sementara Need memasang wajah kesal.
"Aku sudah tidak ingin lagi pergi liburan bersama dengan Amel. Adikmu itu sangat menyebalkan kak, dia mengaku sebagai istriku ketika aku mencoba mendekati seorang gadis. Huft! Menyebalkan." decak Need kesal ketika membayangkan dirinya dan Amelia yang waktu itu pergi berlibur bersama ke pantai.
Ray terkekeh geli. "Kau baru tau jika dia itu menyebalkan? Sudah lama dirinya mempunyai sifat itu tetapi kau baru menyadarinya."
"Kau juga mengakui bahwa adikmu menyebalkan kak?" tanya Need antusias.
Ray mengangguk. "Bahkan sangat menyebalkan.."
Mereka tertawa bersamaan mengingat sang adik bungsu. Usia Need dan Amel terpaut (5tahun), sementara usia Ray dan Need terpaut (3tahun).
Need saat ini berusia 27 tahun sementara Amel berusia 23 tahun. Amel sebentar lagi akan lulus dari kuliah tata busana, dia tidak ingin menjalankan bisnis kantor seperti kakak dan sang Ayah. Jika bertemu, Need dan Amel akan terus bertengkar seperti tom & jerry.
•
•
•
Di sebuah rumah yang begitu megah nan besar.
"Mama!!!!" seorang gadis cantik berteriak kencang sembari masuk ke dalam ruang tamu.
"Sayang.. Kau ini apa-apaan? Anak gadis tidak boleh berteriak seperti itu," ucap sang Mama yang baru saja turun menuruni anak tangga.
"Ma.." gadis itu berlari kecil menaiki anak tangga.
"Ada apa hayo? Mama sudah tau pasti kau ada maunya jika sudah berperilaku seperti ini." sang Mama sudah bisa menebak.
Gadis itu nyengir kuda. "Mam, tadi Mel lihat ada promo mobil keluaran terbaru."
"Lalu?"
Mereka berdua duduk di sofa besar yang ada di ruang tamu.
"Mam, Mel mau mobil itu.. Mama tau gak, mobil itu limited edition jadi pasti akan langka nantinya." ucap Amelia kepada sang Mama.
"Berapa memang harga mobil itu?" tanya sang Mama sembari membuka majalah fashion.
"500juta." sahut Amel santai.
"Apa!" Mama terkejut mendengar harga mobil yang sang putri inginkan. "Apa Mama tidak salah dengar? 500juta! Kau jangan mengada-ngada Amel." lanjutnya.
"Mam, Mel serius.. Beliin ya? Please.." Amel memasang puppy eyes.
"Enggak!"
Seketika wajah Amel berubah menjadi murung.
"Mama pelit ih. Mam itu berhubung promo, kalau enggak pasti harganya udah milyaran." Amel terus membujuk sang Mama.
"Terus?" Mama melirik Amel sekilas.
"Ya beliin Mel mobil itu, ya ya Ma?" Amel memeluk lengan sang Mama.
"Sekali enggak tetap enggak Amelia William.. Apa kau tidak mendengarkan ucapan Mama?"
"Ck! Mama bener pelit ih, pelit pelit pelit.." Amel beranjak dari duduknya.
"Kau mau kemana, nak?" Mama mendongak menatap Amelia.
"Mel mau pergi, mau minta beliin sama kakak." sahut Amel cuek dan langsung keluar dari rumah.
Mama menggeleng melihat kelakuan sang Putri, jika dirinya tidak memberikan apa yang Amel mau, maka Raymond atau sang Papa lah yang memberikan Amel segalanya. Kedua pria beda usia itu selalu saja mengabulkan apa yang Amel minta, karena Amel anak bungsu perempuan satu-satunya keluarga William.
•
**Raymond William
•
•
TBC
HAPPY READING
SEE YOU NEXT PART
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SERTA DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
lupa🎃
orang kaya mah bebas, beli mobil kayak mau beli kacang rebus😁
2022-10-24
0
☘️BILAA☘️
kayaknya ada yang gak beres dengan mobilnya mico
2022-10-12
1
💞🍀ᴮᵁᴺᴰᴬRiyura🌾🏘⃝Aⁿᵘ
penasaran dgn mico
2022-10-10
0