Kiara terus berjalan dengan menuruni tangga yang akan membawanya ke sungai.
"Hah, akhirnya sampai juga." Kia bersiap mengeluarkan pakaian kotor yang tadi dia bawa dari rumah.
Kia mulai mencuci pakaian itu dengan cepat sebelum fajar menjelang, karena dia harus membantu nenek lagi untuk mandi.
Beberapa saat kemudian Kia telah selesai mencuci pakaian itu. "Untung pakaian kotornya cuma sedikit, jadi gak begitu lama selesainya." gumam Kia sembari beranjak dari berjongkok nya.
Dengan menggendong cuciannya Kia memutarkan badan untuk kembali menaiki anak tangga, namun belum sempat berbalik sepenuhnya, dahi Kia mengerut ketika melihat hal aneh yang ada di tepi sungai.
"Apa itu?" mata Kia memicing sembari memperhatikan apa yang ada di tepi sungai tersebut.
Karena rasa penasaran Kia berjalan menghampiri sesuatu aneh itu. Mulut Kia sukses terbuka sempurna kala dia melihat dengan jelas sesuatu yang membuatnya penasaran.
"M—mayat!!!" pekik Kiara terkejut.
Kiara berlari menuju anak tangga dan segera menaiki anak tangga itu dengan gusar.
"Tolong!" Kiara menjerit.
Bapak-bapak yang ada di pos ronda menghentikan langkah Kia.
"Kia, ada apa nak?" ketiga Bapak-bapak itu beranjak dari tempat duduk.
"Pak!" Kia mengatur nafasnya yang memburu. "Di sungai ada mayat!" ucap Kia langsung.
"Apa? Mayat?" pekik ketiga Bapak itu dengan tidak percaya.
"Mana mungkin Kia, kamu salah lihat kali." ucap Bapak yang bernama Doko.
"Bohong gimana maksud pak Doko?Saya tadi melihat dengan mata kepala saya sendiri kalau itu beneran manusia dan terbaring lemah di tepi sungai." ucap Kia mengotot.
"Ya udah, ayo tunjukan pada kami dimana kamu melihat mayat itu."
Mereka semua pergi ke sungai.
"Itu, pak." Kia menunjuk ke suatu arah.
Ketiga Bapak-bapak itu mengikuti arah jari telunjuk Kia sembari memicingkan mata.
"Ayo kita lihat dari dekat." Pak Doko berjalan terlebih dahulu di depan Kia dan kedua Bapak-bapak lainnya.
"Masya'allah, iya beneran itu manusia!". teriak Pak Supri dengan kencang.
Pak Doko berjongkok di samping seorang pria yang terdampar itu.
Pak Doko mulai memegang pergelangan tangan pria tersebut. "Denyut nadi nya masih ada, berarti dia masih hidup." Pak Doko menatap ke arah kedua teman nya dan Kia.
"Ya sudah, ayo cepat kita bawa ke rumah sakit." mereka bertiga mengangkat tubuh Raymond sementara Kia mengikuti dari belakang.
'Ya Allah, semoga laki-laki itu bisa diselamatkan.' Kia berdoa dalam hati. Ada rasa lega di hati Kia sebab pria yang tadi dia lihat bukanlah mayat melainkan orang hanyut dan masih hidup.
☸
☸
☸
Di tempat kecelakaan mobil Raymond.
Mey turun dari mobil dengan tergesa-gesa, saat ini dirinya masih memakai pakaian pengantin.
"Om!" teriak Mey kala melihat Papa Raymond yang bernama Bimo.
Bimo menoleh. "Meysa, kenapa kamu berada disini nak?"
"Om, aku ingin melihat Raymond, dimana Ray Om dimana???" Meysa menangis sesegukan.
"RAYMOND!!!" teriak Meysa dengan tubuh yang luruh ke tanah.
"Mey, sabar nak. Kita berdoa saja semoga ada keajaiban dari Tuhan dan Ray bisa selamat dari tragedi maut ini.." Bimo mencoba menenangkan calon menantunya itu.
"Permisi, mohon maaf Tuan Bimo." ketua tim SAR datang menghampiri Bimo dan Meysa.
"Ya, Pak. Bagaimana?" Bimo membantu Meysa berdiri.
"Kami belum menemukan jejak atau mayat Tuan Raymond, saat ini yang kami temukan barulah mayat pak sopir."
"Bagaimana bisa?" Bimo mengerutkan dahi heran.
"Kami sudah menyelidik, bahwa ada seseorang yang sengaja memasang Bom di mobil Tuan Raymond. Saya dan anggota akan melanjutkan pencarian esok hari karena kami yakin pasti Tuan Raymond terbawa arus sungai berhubung di bawah jurang itu ada sungai yang mengalir entah kemana arahnya." ucap ketua tim SAR menjelaskan.
"Saya minta kalian harus cari keberadaan anak saya sampai dapat! Dan jangan lupa terus selidiki siapa yang sudah memasang Bom itu di mobil anak saya!" Bimo berbicara dengan tegas.
"Kami pasti akan menyelidiki semuanya, Tuan Bimo. Anda tidak perlu khawatir, secepatnya saya akan berikan informasi kepada anda."
"Hm, saya tunggu kabarnya."
Ketua Tim SAR pergi dari hadapan Bimo dan Meysa.
"Mey, Om minta kamu pulang ke rumah saja ya? Nanti jika Om sudah mendapat kabar tentang Raymond pasti Om akan mengabari kamu segera." bujuk Bimo.
"Tapi, Om—" ucapan Meysa terpotong.
"Sudah, tidak ada tapi-tapian. Om pasti akan mengabari kamu nanti," ucap Bimo dengan lembut agar Meysa tidak terlalu terpuruk.
Meysa mengangguk dan pergi menuju ke mobilnya.
"Lihat saja jika aku tau siapa yang sudah sengaja mencelakai anakku." geram Bimo dengan dendam yang mendalam.
•
KIARA ❤
•
**TBC
HAPPY READING
SAMPAI JUMPA
JANGAN LUPA DUKUNGAN DAN JEJAKNYA 😘 terima kasih ❤**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
💞🍀ᴮᵁᴺᴰᴬRiyura🌾🏘⃝Aⁿᵘ
aku juga masih suka nyuci di sungai....
walau ada air dlm rumah tapi disungai terasa lebih bersih apalagi sungai dekat rumahku masih bersih krn masih dihulunya
2022-11-11
3
Srimurni Nurjanah Sitorus
polisi periksa ponsel Raymond yg telpon terakhir
2022-10-16
0
🍁ɴᷠɪͥʟͤᴜᷝᴅͣ❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
untung ada kia yg selametin ray
2022-10-13
0