Beberapa hari kemudian.
"Apa sudah ada kabar dari Ray?" Mey saat ini telah berada di kediaman William dan dia bertanya kepada Need.
"Belum." sahut Need dengan singkat.
"Mengapa kalian sangat lelet sekali mencari keberadaan Ray?" bentak Mey dengan suara meninggi.
Rara yang mendengar teriakan calon menantunya langsung turun ke lantai bawah. "Meysa sayang.." seru Rara ketika sudah berada di dekat Mey.
Meysa menoleh dan menghampiri Rara. "Tante.."
Mereka berdua berpelukan.
"Saya permisi." ujar Need dan langsung pergi keluar dari rumah. "Huft, dasar! Aku sangat tidak suka dengan wanita itu, dia sombong dan juga angkuh." gumam Need sembari terus berjalan ke arah mobil.
Need menyandarkan tubuhnya di kursi mobil. "Dimana kau kak? Aku lelah karena kau telah membebankan semua tugas kantor padaku, aku harus terus mencari mu agar aku bisa segera liburan. Rambut ku akan cepat putih dan kulit ku akan cepat keriput jika setiap hari harus memantau kertas-kertas serta Map yang ada di kantor." Need menstater mobil dan pergi menuju kantor.
Di dalam rumah.
"Tante, bagaimana ini? Mengapa belum ada tanda-tanda dari Ray? Aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu, aku merindukannya Tante.." Mey menitikkan air mata.
"Mey, sabar nak.. Om kamu juga sedang mencari keberadaan Ray, dia mengerahkan banyak anggota agar Ray cepat ketemu." Rara mengelus lembut punggung Meysa.
•
•
•
Ray tengah bekerja dengan menjadi kuli bangunan, hanya melihat serta belajar beberapa kali saja sudah membuat Ray paham bagaimana caranya menjadi kuli.
"Mit, lihat deh tuh cowok.. Ganteng banget 'kan?" salah satu gadis berbicara pada teman sebelahnya ketika mereka lewat dari tempat kerja Ray.
"Iya, di desa ini gak ada cowok yang gantengnya kayak tuh Mas-mas.." ucap Mita gadis berusia sembilan belas tahun.
"Permisi.." ucap Mita dan Nana bersamaan ketika mereka sudah berada di dekat Ray.
Ray menghentikan aktivitas mengaduk semennya dan langsung mendongak.
"Mas nya yang orang baru itu ya?" ujar Mita berbasa-basi.
Ray mengangguk.
"Perkenalkan Mas, nama saya Mita." Mita mengulurkan sebelah tangannya.
"Fildan," sahut Ray dengan suara yang bariton dan menjabat tangan Mita.
"Astaga, Mit... Suara aduhai banget," bisik Nana di telinga Mita.
"Sst!" Mita memberikan kode agar Nana tidak bersikap seperti itu.
Jabatan tangan pun terurai.
"Oh ya, Mas Fildan. Ini teman saya, namanya Nana." Mita menunjuk Nana.
"Nana," Nana tersenyum manis dan berjabat tangan dengan Fildan.
Ray pun membalas senyuman manis Nana dengan senyum tipisnya. Bukan hanya gadis-gadis desa yang tertarik pada Ray, tetapi Ibu-ibu desa juga selalu menggosipkan tentang Ray hingga suami mereka terkadang marah karena sang istri malah mengagumi lelaki lain.
"Mas!" Kiara berseru ketika dia sudah melihat Ray yang sedang mengobrol dengan Mita dan Nana sembari bekerja.
"Kia," Ray tersenyum manis ketika melihat Kia, dan itu mampu membuat Mita juga Nana sangat-sangat ingin mencium Ray dengan gemas.
"Eh, neng Mita dan Nana ada disini?" ujar Kia kala sudah berada di dekat Ray.
"Iya, Mbak. Tadi kami gak sengaja lewat dan melihat Mas ini, jadi kami berhenti sekaligus ingin kenalan." ucap Mita dengan senyum.
Kia hanya mengangguk. "Mas Fildan capek ya?" Kia memandang wajah Ray yang dipenuhi dengan keringat.
"Namanya juga kerja Ki, ya pasti capek lah.." Ray menggeleng dan terkekeh pelan.
"Oh, iya ya.." Kiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Entah keberanian darimana, Kiara mengulurkan tangan dan mengusap peluh yang ada di dahi Raymond.
Mita dan Nana hanya saling berbisik lalu pergi dari tempat itu tanpa berpamitan.
Manik mata kecoklatan milik Ray bersitubruk dengan manik mata hitam bening milik Kiara. Kiara yang sadar akan apa yang dia lakukan langsung menurunkan tangannya dengan cepat.
"Maaf, Mas." ucap Kia tidak enak hati.
"Tidak pa-pa," Ray menunduk malu. "Oh ya, kamu ngapain datang kesini?"
"Aku mau kasih ini untuk kamu," Kia menyodorkan rantang.
"Makan siang?"
Kiara mengangguk.
"Tapi disini kami di jatah kalau makan siang, Kia. Jadi harusnya kamu gak perlu repot-repot bawa makanan kayak begini." ucap Ray yang merasa selalu merepotkan Kiara.
"Gak repot koi, Mas. Dan aku juga sekalian mau kasih ini," Kiara menyodorkan sebuah kertas.
Ray membaca kertas tersebut yang bertuliskan HAPPY WEDDING JAKA PRATAMA DAN KIARA PUTRI.
"Undangan pernikahan?" itu adalah undangan pernikahan Jaka dan Kia yang akan dilaksanakan satu minggu lagi.
Kiara mengangguk.
"Bukankah kamu bilang satu bulan lagi kalian akan menikah?"
"Aku juga gak tau, Mas. Mas Jaka mempercepat pernikahan dan aku hanya bisa setuju." ucap Kia lesu.
"Apa ada masalah?"
Kiara hanya terdiam.
"Baiklah, terima kasih untuk makan siangnya dan aku lanjut kerja dulu. Nanti malam aku akan datang ke rumah mu,"
Kiara mengangguk dan pamit lalu pergi dari tempat kerja Ray.
•
•
•
TBC
**KIARA PUTRI
•
•
HAPPY READING
SEE YOU NEXT PART DAN JANGAN LUPA BERIKAN DUKUNGAN SERTA TINGGALKAN JEJAK MANISNYA. TERIMAKASIH 🙏🏻❤**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
💞🍀ᴮᵁᴺᴰᴬRiyura🌾🏘⃝Aⁿᵘ
ada apa dgn kia dan jaka...kenapa dipercepat
2022-10-20
1
🦚⃟•×ajengfelix࿐
Kiara ke tempat kerjanya. ehem ehem
2022-10-08
0
༄༅⃟𝐐Vita Shafira𝆯⃟ ଓε💞🌏
kasihan Ray orang kaya jadi kuli bangunan,, semangat Ray kerja nya
2022-10-01
1