Bab 20

Anne dan Edward menunggu di luar gerbang dalam gelap malam karena tak di izinkan masuk.

Hati Naeva merasa terenyuh membayangkan kedua saudaranya itu berdiri di luar seperti orang buangan. Ia sudah berusaha membujuk penjaga gerbang, namun mereka sama sekali tak luluh.

Karena sudah menjadi peraturan, dimana tak sembarang orang bisa masuk kastil.

Gadis itu segera menemui Maria bersama Marc. Untunglah di sekitar aula ia melihat wanita ramah itu.

"Maria, maukah anda menolong saya?"

Maria menatap wajah cemas Naeva dengan raut bingung.

"Apa terjadi sesuatu, M'mselle?"

"Ya, di luar sana ada saudara dan saudari saya, Maria. Mereka menyusul kami karena sesuatu, bolehkah saya meminta mereka di izinkan masuk?" Naeva meraih kedua tangan Maria. "Tolong jangan berpikir bahwa kami sengaja berbondong-bondong datang untuk tinggal di sini." Naeva merapatkan kedua tangan di depan dadanya dengan raut cemas.

"Saya tidak akan berpikir seperti itu, M'mselle. Anda tak perlu cemas. Mari kita jemput mereka!"

Jawaban Maria benar-benar membuat Naeva lega. Bersama Marc ia mengikuti langkah wanita baik hati itu.

Seperti yang dibayangkan Naeva, Anne terlihat begitu panik di luar sana. Naeva benar-benar tak tahan melihatnya, ia langsung berlari dan memeluk gadis yang telah tumbuh besar bersamanya itu untuk menenangkan.

Anne tak pernah bepergian sejauh ini, apalagi tanpa Marc seperti ini. Naeva dapat merasakan ketakutan gadis itu dari tubuhnya yang menegang.

"Ada apa sebenarnya Anne? Kenapa kalian menyusul?" tanya Naeva setelah melepaskan pelukannya.

"Kami ingin mengantarkan perhiasan anda, M'mselle. Saya melupakannya karena terlalu panik dan buru-buru. Maafkan saya," jawab Anne dengan pipi yang basah.

"Ya Tuhan, Anne ... kenapa harus mengorbankan diri hanya demi perhiasan?" desah Naeva.

"Anda pasti akan memerlukannya di sini, M'mselle. Mère meminta kami mengantarkannya."

"Oh, Emma ..." lirih Naeva membayangkan wanita tua yang telah merawatnya sejak kecil itu. Sedih, terharu, rindu, tak berdaya, perasaan itulah yang berkecamuk dalam dadanya saat ini.

"Anne selalu mengeluh dan menangis cemas sepanjang perjalanan. Aku benar-benar tak tahu bagaimana menghiburnya," ujar Edward.

Naeva tersenyum bangga pada bocah tanggung dari pasar yang ia angkat menjadi adik itu.

"Tak apa, Edward. Kau sangat hebat dan bertanggung jawab. Aku sangat bangga padamu," puji Naeva sembari mengusap-usap kepala Edward yang sama tinggi dengannya.

Bocah tanggung itu tersenyum senang. Lalu Marc maju dan merangkul pundak Edward sembari menepuk-nepuk pelan.

"Mari kita masuk," ajak Marc.

Maria menatap muda-mudi itu terharu. Ia tak tahu bagaimana ikatan persaudaraan mereka. Tapi di matanya, mereka adalah orang-orang yang yang hangat dan penuh kasih sayang. Semoga mereka bisa bertahan dalam kerasnya kehidupan di kastil ini yang sarat dengan persaingan.

**

"Anne, kau mau membantuku?" tanya Naeva begitu mereka berada berdua di dalam kamar. Sedangkan Marc dan Edward berada di luar.

"Tentu, M'mselle. Apa yang harus saya lakukan?" sahut Anne sigap.

"Aku harus mengerjakan shalat sekarang. Bisakah kau menjaga pintu agar tak ada yang masuk?"

"Oh, tentu M'mselle! Saya akan berjaga di depan pintu!" Anne beranjak keluar, namun kemudian ia menoleh kembali, "apa air untuk berwudhu ada, M'mselle?" tanya gadis itu. Ia tahu tata cara ibadah nona-nya walau berbeda keyakinan.

"Tidak ada, Anne. Aku akan bertayamum. Ini cara pengganti yang diijinkan jika tidak adanya air yang cukup untuk wudhu atau mandi. Tidak mampu menggunakan air, seperti orang lemah, orang yang di penjara, atau takut binatang buas. Sakit atau memperlambat sembuh dari sakit bila menggunakan air. Keadaanku sama dengan orang yang takut binatang buas, atau sama dengan takut nyawaku terancam. Saat ini kita masih dalam pantauan, aku tak mau bertindak gegabah," jawab Naeva.

Anne mengangguk sedih dan menutup pintu.

Naeva menghela nafas. Sepertinya esok ia harus mencari tempat berwudhu yang aman. Orang-orang di sini pasti tak akan mentolerir ibadahnya. Agama Islam masih dikecam di tanah Eropa ini, Naeva harus sangat berhati-hati.

Gadis itu segera melafalkan niat dalam hati, "Aku berniat tayamum agar diperbolehkan sholat karena Allah ...."

Kemudian menempelkan kedua telapak tangannya dengan jemari yang merapat ke dinding batu kastil untuk mendapatkan debu yang suci. Kemudian disapukannya ke seluruh wajah. Setelah itu ditepuknya sekali lagi telapak tangan di dinding, lalu diusapkan dari tangan sampai ke siku.

Naeva bergegas mengambil peralatan shalatnya yang tak lupa dimasukkan Anne. Selembar sajadah dari beldu warisan ibunya dan juga kain putih yang panjang menutup seluruh tubuhnya, kecuali wajah.

Ia masih ingat saat bertanya pada ibunya dulu, "Mère, kenapa dagu juga harus ditutup? Bukankah itu bagian dari wajah?"

Wanita cantik yang memiliki mata persis seperti matanya itu tersenyum lembut, Naeva masih ingat bagaimana cantiknya belah dagu di bawah bibir merah ibunya yang juga diwarisi Naeva.

"Kita bukan menutup dagunya, Ma Cherie (panggilan sayang). Tapi bagian bawah dagu yang tidak termasuk wajah, jadi kainnya harus menutup sampai ke tulang dagu, mengerti Ma Cherie?"

Mengingat kenangan indah itu tanpa sadar Naeva mengangguk sembari menutup sebagian dagunya. Lalu mulai mengumandangkan kebesaran Allah SWT.

**

"Kalian jangan kembali malam ini, aku tak akan membiarkannya!" tegas Abellard pada Anne dan Edward.

Lalu matanya beralih pada Naeva. Hangat dan sendu.

"Aku telah meminta pada ibuku untuk mengijinkan kau dan Marc tinggal, tapi ibuku belum mengatakan apa-apa. Kalau ia tak memperbolehkan, maka aku akan pergi bersama kalian kemanapun itu sampai pembunuh bayarannya tertangkap," ujarnya penuh keyakinan.

Keempat muda-mudi dari Kastil Wisteria berkumpul di ruang duduk dengan wajah tegang namun saling mendukung.

Maria memperhatikan mereka dengan bibir tersenyum. Hatinya benar-benar lega, anak yang diasuhnya sejak kecil itu kini menemukan kedamaian dan kehangatan. Maria selalu menanamkan kelembutan di hati Abellard sejak kecil, namun ajaran Comtesse yang ingin putranya tumbuh menjadi penguasa yang hebat membuat kelembutan di hati Abellard tenggelam.

Dan kini, kelembutan itu mencuat kembali, kala bertemu dengan orang-orang yang penuh kehangatan.

Maria merasa harus bertindak kali ini. Demi tuannya, Abellard. Ia harus membuat Comtesse mengijinkan Naeva de Gaulle untuk tinggal!

"Di mana Abellard?" tanya Mme Aamber begitu melihat Maria masuk ke kamarnya.

"Monsieur Comte sedang berbincang dengan keluarga dari Kastil Wisteria, Ma'am."

Rahang Mme Aamber langsung mengeras mendengarnya.

"Keluarga katamu?! Mereka lintah darat! Mereka akan memeras putraku! Aku harus mengusir mereka malam ini juga!"

"Rasanya itu akan menjadi langkah yang keliru, Ma'am!" bantah Maria. Di Kastil itu hanya Maria lah yang berani membantah Mme Aamber. Dan yang akan didengarkan pendapatnya oleh sang Comtesse.

Kening Mme Aamber langsung mengernyit.

"Kenapa keliru?!"

"Karena saya mendengar Monsieur Comte akan ikut bersama mereka jika anda mengusir mereka."

"Aku akan menahannya! Kalau perlu, aku akan mengurungnya. Abellard tak boleh kemana-mana sampai ingatannya kembali!"

"Itu akan membuat Monsieur Comte tertekan, Ma'am!" sergah Maria tak percaya. "Otaknya akan terganggu dan ingatannya akan semakin kacau. Bisa-bisa anda akan dibencinya jika berlaku keras, karena keluarga Wisteria selalu bersikap hangat. "

Wajah cantik Mme Aamber tampak mengencang dengan raut tak senang.

"Aku bersikap keras karena ingin yang terbaik untuk putraku. Sedangkan mereka bersikap manis untuk menjeratnya!"

"Saya tahu itu Ma'am, anda sangat mencintai Monsieur Comte. Tapi anda juga harus bersikap manis untuk mengikat hatinya. Dia telah mau kembali ke kastil ini, yang berarti dia mau menerima identitas aslinya. Anda hanya perlu menerima gadis itu agar Monsieur Comte tak kabur dari sini."

"Putraku akan semakin berbeda walau dia bersamaku di sini! Gadis itu pasti akan terus meracuni otak Abellard dan menjeratnya!"

"Kalau begitu, anda bisa mengajukan syarat padanya. Monsieur Comte harus kembali pada jati diri Comte Abellard yang sebenarnya. Dan anda tentu bisa mengatur jarak diantara mereka."

Mme Aamber terdiam dalam waktu yang lama. Wajahnya tampak sedang berpikir keras dengan kening mengernyit dalam.

"Baiklah, aku akan melakukannya!"

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

Maria....

2023-11-19

0

💞 RAP💞

💞 RAP💞

lanjut thorrr

2023-02-19

0

Dewi Ratnawati

Dewi Ratnawati

Typho ini thor…harusnya anne,aamber kan ibunya abellard

2022-10-19

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!