Saat makan siang, Abellard tak lagi menanyakan pisau dan garpu. Ia langsung menyendok makanan di atas meja dan menyuapnya ke dalam mulut. Sepertinya ia sangat penasaran dengan sayuran hasil potongannya sendiri.
Matanya kemudian terpejam dan meresapi rasa dari potongan wortel di dalam mulutnya.
"Hmm ... Ini sangat manis," gumamnya.
Naeva, Emma dan suaminya Adam seketika tersenyum geli melihatnya. Sementara Marc dan Anne yang tak melihat kejadian di dapur menatap bangsawan itu dengan raut bingung.
Bahkan Anne sampai tak jadi menyuap sup di dalam sendoknya.
"Apakah tidak ada sayuran seperti ini di istana ... aww!" Tiba-tiba Anne berteriak kaget sebelum pertanyaannya selesai.
Gadis berambut pirang keriting itu langsung melihat ke bawah meja. Ternyata Marc yang menginjak kakinya. Ia mendongak kesal pada saudaranya itu, namun begitu melihat kode dari Marc ia sontak menutup mulut.
Anne memang tipe gadis yang mudah keceplosan dan tak pernah berpikir panjang.
Naeva merapikan piring-piring kotor setelah semua selesai makan, membantu Emma dan Anne. Ia suka mengerjakan semua pekerjaan rumah bersama keluarga pelayannya, karena hanya dengan begitu ia akan merasa hidup dalam sebuah keluarga.
"Aku ingin makan daging kijang, Marc. Bagaimana kalau kita memburu kijang nanti sore?"
Mata abu-abu Marc langsung berbinar. Ia sangat suka berburu bersama nona-nya. Terutama saat melihat sang nona menarik tali busurnya dan membidik sasaran. Sangat menawan dan Marc mengaguminya.
"Baik M'mselle! Saya akan mempersiapkan peralatannya," jawabnya penuh semangat.
"Memburu kijang? Di hutan belakang sana?" tanya Abellard.
"Ya, kau ingin ikut?" Naeva bertanya sambil lalu. Ia tahu, bangsawan yang memiliki segalanya seperti laki-laki itu mana mungkin mau masuk hutan hanya demi mendapatkan daging. Mereka tinggal mengeluarkan uang untuk mendapatkan daging terbaik.
"Apa dulu aku pintar berburu?"
"Tidak seberapa ...."
"Kalau begitu aku ikut. Agar aku mahir berburu!" sahut Abellard dengan kilatan optimisme di matanya.
Naeva menoleh. Tak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu. Ternyata laki-laki itu tipe penakluk yang tak akan berhenti sebelum mencapai kesempurnaan.
"Baiklah. Kau bantu Marc mengemas perlengkapan," jawabnya.
"Jangan lupa kau bawa pulang kayu bakar, Marc!" pesan Emma pada putranya.
Saat itu sudah memasuki musim semi, tapi udara masih terasa dingin di kawasan kastilnya. Hingga saat malam hari, Emma masih akan menyuruh Anne untuk menyalakan api di perapian.
***
Hutan belantara yang mereka masuki tidaklah terlalu lebat. Masih banyak sinar matahari yang masuk melalui celah kerimbunan pohon-pohon yang menjulang ke langit.
Naeva menghirup udara segar itu dalam-dalam. Ia paling suka musim semi. Di mana bunga-bunga akan tumbuh dan mekar dengan indah. Hari itu saja Naeva bisa melihat mawar hutan yang merambat di antara semak belukar mulai mengembang.
Dengan gaun katun sederhana yang berwarna coklat muda Naeva melangkah di tengah Abellard yang maju ke depan dan Marc yang menjaga di belakang.
Rambut coklat tuanya dikepang dengan ikat rambut berhias bunga Aster. Sementara busur panah terselempang di punggungnya.
Naeva terlihat anggun sekaligus tangguh.
"Di arah Utara biasanya ada kijang yang sedang merumput," ujarnya. Lebih kepada Abellard yang masih belum paham kondisi hutan.
Mendengar itu langkah Abellard langsung ke arah Utara.
Namun setelah beberapa langkah, tubuhnya seperti tertarik ke belakang. Abellard langsung menoleh dan melihat tangan putih Naeva yang menarik bajunya.
"Tunggu dulu. Kita akan menunggu di sini. Sampai ada kijang yang keluar dari semak-semak itu," tunjuk Naeva ke arah semak belukar yang lumayan rimbun di arah Utara.
"Menunggu?" tanya Abellard dengan raut tak sabar.
"Ya."
Naeva berjalan ke belakang pohon besar. Menyembunyikan tubuh mungilnya dari sorot Utara. Begitu juga dengan Marc yang langsung bergerak ke pohon lain.
Abellard ingin membantah. Ia paling tak suka menunggu. Tapi akhirnya terpaksa ikut mencari pohon besar sebagai tempat pengintaian.
Lima belas menit berlalu. Tak ada pergerakan apapun di balik semak di arah Utara itu.
Abellard telah kehilangan kesabarannya. Ia yakin belum tentu di balik semak itu ada kijang. Mereka hanya membuang waktu dengan menunggu.
Kaki panjangnya kemudian melangkah keluar dari balik pohon dan berjalan ke arah semak.
"Richard!" tegur Naeva dengan suara berbisik.
Namun laki-laki itu tetap melangkah.
Srak!
Ia menyeruak semak-semak yang tinggi merambat melibihi kepalanya.
Sepasang kijang yang sedang merumput di balik sana seketika tersentak. Lalu berlari kabur dengan sangat gesit dan menghilang di balik semak lainnya.
Abellard terpaku. Ternyata memang benar seperti yang dikatakan Naeva. Di balik semak memang ada kijang.
"Kenapa kau sangat keras kepala? Sekarang kau membuat kijang itu kabur!" protes Naeva kesal.
"Aku minta maaf. Aku benar-benar lupa caranya berburu. Aku hilang ingatan, apa kau lupa?" Abellard membela diri.
Naeva mendengus. Apa yang bisa diingat laki-laki seperti dia? Kehidupannya hanya penuh dengan wanita dan harta!
"Kau pulang saja. Biar aku dan Marc yang lanjut berburu!" ketusnya.
"Tidak! Aku tak akan pulang sebelum menebus kesalahanku!" sergah Abellard bersikukuh.
Naeva memutar bola matanya menghadapi kerasnya kemauan laki-laki itu.
"Terserah kau saja!" Naeva melangkahkan kakinya dengan hati kesal. Diikuti Marc yang tak memberi argumen apapun.
Sekitar 20 meter dari tempat mereka sekarang, ada tanah dengan rumput yang subur. Dimana hewan-hewan pemakan rumput mencari makan. Ke sanalah Naeva akan mencoba peruntungan sekali lagi.
Kali ini, Naeva melihat Abellard tak lagi bertanya. Laki-laki itu mengikuti langkahnya dan ikut mencari tempat pengintaian saat ia dan Marc telah berdiri di balik pohon besar.
Seekor kijang muncul dan mondar-mandir di hadapan mereka. Mengendus semak-semak untuk mencari pucuk daun. Naeva menarik busurnya perlahan. Menepatkan sasaran dalam bidikannya.
Sementara itu Marc dan Abellard tampak terdiam, melihat Naeva dengan mata berbinar. Gadis itu cantik sekali, dan semakin mempesona saat mengangkat panah. Seperti Wonder Woman dengan panahannya.
Sat!
Anak panah Naeva melesat cepat ke arah kijang. Nyaris tepat sasaran, sampai bulu di tengkuk hewan itu tersibak ujung anak panah.
Kijang itu terkejut. Lalu berlari menjauh.
Marc langsung keluar dari persembunyiannya. Namun saat ia hendak membidik, sesuatu melesat di samping bahunya.
Sat!
Sebatang anak panah melesat cepat dari belakang Marc dan...
Buk!
Kijang itu terjatuh.
Naeva dan Marc langsung menoleh ke arah asal anak panah itu. Ternyata Abellard yang berhasil menembaknya. Laki-laki itu tersenyum puas. Bibirnya yang terukir dengan bentuk yang menarik itu tersenyum sedikit miring, membuat Naeva menilai ada kesombongan di sana.
Gadis itu tak memuji keberhasilan Abellard. Ia bahkan merasa marah karena Abellard hampir memanah Marc. Ia langsung mengajak Marc untuk memeriksa kijangnya.
Dengan ujung matanya ia dapat melihat kekecewaan di wajah Comte dari Marseille itu.
"Aku sudah mendapatkan kijangnya, kenapa kau masih marah?"
Abellard mengimbangi langkah Naeva yang berjalan mengikuti Marc yang memanggul kijang berukuran sedang itu sendirian.
Naeva menghentikan langkahnya dan menatap mata biru tua milik Abellard dengan hati kesal.
Namun saat netra mereka bertemu, Naeva bisa merasakan sesuatu yang membuatnya tak bisa mengalihkan tatapan. Mata laki-laki itu menatapnya dalam, bahkan teramat dalam hingga membuat hatinya merasakan sakit yang aneh. Rasa sakit itu kemudian berubah menjadi kebahagiaan yang meluap. Kebahagiaan yang menghadirkan bunga-bunga.
Naeva berusaha melepaskan hatinya dan cepat-cepat berpaling.
"Ini bukan soal mendapatkan kijang. Tapi soal menghargai sesama, berjuang bersama, dan mementingkan nyawa orang lain daripada ego." Kaki Naeva kembali melangkah.
TAP!
Abellard menangkap tangannya dan menarik gadis itu agar menghadapnya.
"Kenapa Marc sangat penting untukmu?" tatapan Abellard menghujam netra coklat terang Naeva. Wajah cantik dengan hidung mancung dan bibir merah muda itu membuatnya terpana.
Abellard tak sadar menelan salivanya.
"Apa benar kita sepupu?" tanya laki-laki itu kemudian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Una_awa
baca novel ini kebayang nonton film nya ala² Robin hood🤭
suka banget 👍😁
2022-10-08
4
Ariu
kita bukan sepupu...
tapii....
S E H A T I 😋
2022-10-01
1