Naeva tak bisa menahan rasa penasarannya untuk melihat sang Comtesse, hingga ia memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya. Mencari tahu seperti apa sosok ibu dari pria setampan Abellard.
Di hadapannya berdiri seorang wanita berusia sekitar 45 tahun. Tubuhnya tinggi seperti Abellard. Begitu elegan dengan gaun sutra indah yang mencekik di perut dan mengembang di pinggulnya, ditambah kalung mutiara mahal yang melingkar di lehernya.
Wajahnya memang cantik seperti dugaan Naeva. Namun terkesan tegas dan angkuh, matanya yang berwarna biru keabu-abuan menatap Naeva penuh selidik.
"Siapa perempuan ini?!"
Pertanyaan itu ditujukannya pada Dupon, namun matanya masih tetap menelisik Naeva.
Tentu saja tatapan itu membuat Naeva kikuk dan menundukkan wajahnya kembali.
"Dia lah pemilik kastil tua yang selama ini menjadi tempat tinggal, Monsieur Comte," jawab Dupon.
"Oh, Mlle Gaulle! Apa tujuannya datang kemari?" selidik wanita itu lagi.
Namun kemudian tanpa menunggu jawaban Naeva, ujung bibir kanannya tertarik sinis dan menuding gadis itu dengan kata-kata pedas, "ah, tentu saja dia menuntut imbalan. Maria, cepat ambilkan 10.000 France untuk perempuan ini!" perintahnya.
Abellard langsung meraih tangan Naeva dan menggenggamnya, membuat Mme Aamber melotot murka.
"Mère, Naeva tak pernah menginginkan imbalan. Aku yang mengajaknya kemari."
Naeva menoleh pada pria yang menggenggam tangannya.
Dari tatapan Abellard, Naeva bisa merasakan kalau laki-laki itu tidak merasa asing dengan ibunya. Mungkinkah otaknya tak melupakan sosok sang ibu?
"Ma Fils (putraku)! Lepaskan tanganmu sekarang!" sentak Mme Aamber marah. "Aku tak bisa melihat itu, tak bisa!" Wanita itu mengibas-ngibaskan tangannya sembari berpaling.
"Maria! Cepat bawakan uangnya, agar wanita itu pergi!" teriaknya lagi.
"Mère, Naeva tak akan pergi dari sini. Dia akan tinggal bersama kita di kastil ini!" tegas Abellard semakin mengencangkan genggaman tangannya, saking takut ibunya akan memaksa mereka berpisah.
Mme Aamber kembali menatap putranya, matanya tampak menyipit.
"Ma Fils ... apa kau tak tahu? Wanita ini bukan dari kalangan orang baik! Ayahnya adalah pria miskin yang merasa dirinya mampu menghamburkan uang di meja judi. Dan laki-laki itu masih memiliki hutang terhadapmu. Ibu tak tahu apa saja hartanya yang seharusnya menjadi milikmu, tapi ku rasa semua hartanya. Sepatutnya wanita ini tak perlu kita berikan imbalan apapun!"
Abellard tampak terhenyak. Ia tak menyangka, ternyata pernah mengenal ayah Naeva dan bahkan memiliki masalah hutang piutang.
Perlahan kepalanya menggeleng, "aku tak mengingatnya, Mère. Tapi apapun masalahku dengan ayahnya, tak ada hubungannya dengan Naeva."
Wajah cantik Mme Aamber tampak menegang, matanya mendelik marah.
"Perempuan ini telah mencuci otakmu, ma Fils! Sehingga kau melupakan semuanya! Kau melupakan ibumu sampai tak pulang berbulan-bulan!"
Matanya beralih pada Naeva.
"Kau!" tunjuknya kasar. "Kau pasti ingin menguasai putraku agar bisa tinggal di kastil ini! Kau telah berniat buruk dan mencuri kesempatan saat pertama kali menolongnya!"
Mendengar itu, tubuh Naeva seketika membeku. Dengan nafas tertahan, ia menggenggam tangan Abellard lebih erat. Dirinya belum pernah dibentak dan dicaci semacam itu.
Merasakan ketegangan dari genggaman gadis yang dicintainya, Abellard sungguh ingin membawa gadis itu pergi dan menenangkannya dalam pelukan. Tapi mereka harus menghadapi ini. Terutama dirinya, ia harus membuat ibunya menerima Naeva.
"Pardon, Comtesse!" Tiba-tiba Dupon menyela.
Mme Aamber langsung menatapnya tak suka. Membuat pria gemuk itu menundukkan kepalanya.
"Monsieur Comte telah mengalami amnesia sejak pertama kali menghilang," ujarnya dengan kepala tertunduk.
Mme Aamber terpaku mendengarnya. Ia menatap wajah Abellard dengan kening mengernyit dalam.
"Kau ... hilang ingatan?"
"Ya, Mère. Tapi saat tadi melihat Mère, aku tau hatiku tak pernah lupa. Aku merindukan Mère," jawab Abellard jujur.
Wajah keras Mme Aamber perlahan berubah lembut. Mata yang tadinya menyorot tajam kini menatap dengan penuh kasih sayang.
Beberapa menit kemudian, tangannya terangkat. Memberikan kode pada pelayannya untuk mengosongkan ruangan luas itu hanya untuk dirinya dan putranya.
"Aku ingin berbicara hanya dengan putraku!" tegasnya sembari melirik Naeva sinis.
Maria langsung menghampiri Naeva dan mengembangkan senyumannya.
"Mari, M'mselle. Saya akan menunjukkan ruangan untuk anda beristirahat," ajaknya ramah.
Naeva mengangguk tanpa mampu membalas senyuman ramah wanita itu. Wajahnya pucat dan tubuhnya terasa kaku. Perlahan ia melepaskan tangannya, walau Abellard tampak enggan melepaskannya. Ia butuh istirahat saat ini. Hatinya benar-benar syok.
"Aku akan menemuimu nanti," bisik laki-laki itu dengan tatapan hangat.
Naeva kembali hanya mengangguk, lalu berbalik mengikuti langkah Maria.
***
"Comtesse memang sangat posesif terhadap putranya, bahkan bisa dibilang terobsesi untuk menjaga putranya," ujar Maria saat mereka telah berada dalam sebuah kamar. Kamar yang sangat luas, namun sedikit gelap karena tak ada lilin yang dinyalakan.
Naeva masih terdiam. Memang jelas terlihat ikatan yang teramat dekat antara Abellard dan ibunya. Membuat perasaannya tak menentu. Di satu sisi, ia lega Abellard telah bersatu kembali dengan keluarganya, tapi di sisi lain hatinya takut Abellard akan menyerah dan tunduk pada perintah ibunya untuk berpisah.
"Nama saya Maria, anda bisa memberitahu saya jika butuh sesuatu." Wanita paruh baya yang ramah itu mengeluarkan selimut dari dalam lemari dan meletakkannya di atas tempat tidur mewah yang berukuran besar.
"Sebentar lagi listrik akan dinyalakan. Kamar ini juga memiliki lampu," ujar Maria lagi.
Naeva masih berdiri tak jauh dari pintu kamar dengan wajah pucat.
"Beristirahatlah dulu, M'mselle. Saya akan memanggil seorang pelayan untuk menemani dan menunggu perintah anda."
Maria memperhatikan wajah cantik Naeva sesaat. Ia tau gadis belia ini tak mungkin berniat buruk terhadap putra majikannya. Bahkan Comtesse sendiri juga tahu setelah menggertak dan mencacinya. Gadis muda ini benar-benar pucat ketakutan, ekspresi yang tak mungkin terlihat dari seseorang yang telah lama berencana ingin menguasai Pangeran dari kastil ini.
"Merci (terimakasih)," lirih Naeva.
Maria menatapnya prihatin, ingin menemani gadis itu sebentar, namun Comtesse pasti akan langsung memanggilnya setelah obrolan dengan Comte Abellard selesai.
"De rien (sama-sama), M'mselle ...." Maria mengangguk dengan senyuman, lalu berbalik dan melangkah keluar.
Tak lama kemudian, masuk seorang gadis berpakaian sederhana yang diduga Naeva adalah pelayan yang dipanggilkan Maria.
Gadis itu membungkuk hormat, namun gerak-geriknya terlihat begitu tak acuh dan matanya pun melirik remeh. Naeva meneguk salivanya. Ia dapat langsung merasakan penolakan dari penghuni kastil ini.
Setelah beberapa saat, keduanya masih terdiam dan tak saling bicara.
"Kau ... sudah lama bekerja di sini?" tanya Naeva mencoba mencairkan suasana.
Gadis itu melirik sekilas, lalu menganggukkan kepalanya.
Namun tiba-tiba lampu di atap kamar menyala. Naeva tersentak kaget karena tak terbiasa. Untung pelayan itu tak melihatnya, kalau tidak mungkin dia akan ditertawakan.
Naeva menengadah.
Oh ... begitu terang.
Naeva pernah melihat cahaya lampu saat di ajak ayahnya ke Paris. Ia suka terang benderang begini, tapi sepertinya lebih nyaman dengan hangatnya cahaya lilin di Kastil Wisteria.
Tiba-tiba Naeva merasa sangat haus, suhu udara di Marseille ternyata jauh lebih panas dari suhu di desanya. Apalagi dirinya baru mengalami situasi yang penuh penekanan, membuat kerongkongannya kering sekali.
Tapi melihat reaksi pelayan itu, Naeva mengurungkan niatnya meminta tolong dibawakan air.
2 jam kemudian.
Tok tok
Terdengar suara ketukan di pintu kamar. Naeva yang baru saja merebahkan tubuhnya di kasur yang mewah itu sontak membuka mata.
Apa itu Abellard? Mungkin dia telah selesai berbicara dengan ibunya.
Gadis pelayan yang sedari tadi duduk di kursi menemaninya, langsung beranjak untuk membuka pintu tanpa meminta persetujuan Naeva terlebih dahulu.
Pintu terbuka. Dan ternyata yang berdiri di luar adalah Marc.
"Marc!" seru Naeva sembari bergegas turun dari tempat tidur.
"Maaf M'mselle, saya mengganggu istirahat Anda," ujar Marc.
"Tidak Marc, aku membutuhkanmu."
Tatapan Naeva kemudian beralih pada pelayan, "kau boleh kembali, terimakasih telah menemaniku ...."
Gadis pelayan mengangguk, namun ekor matanya kembali melirik sinis pada Naeva dan Marc secara bergantian. Seolah mencurigai kebersamaan kedua tamu majikannya itu.
"Mereka sama sekali tak menghargai Anda M'mselle. Apa seharusnya kita pulang saja?"
"Entahlah, kalau Comtesse mengijinkan kita untuk tinggal, aku akan bertahan. Kita di sini agar aman dari pembunuh bayaran itu, aku tak masalah jika semua orang di sini bersikap tak ramah," jawab Naeva. Ia tidak berani mengatakan bahwa alasannya bertahan sebenarnya adalah Abellard.
"Ah, iya M'mselle! Saya ingin menyampaikan sesuatu. Anne dan Edward ada di luar!"
"Apa?!" seru Naeva tak percaya.
Anne dan Edward ada di luar? Berarti, mereka mengikuti dari Kastil Wisteria setelah lima atau empat jam rombongannya berangkat. Ada apa sebenarnya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
💞 RAP💞
pokoknya top cerita nya thor
2023-02-19
0
yolan and radit
candu thor bacanya
2022-10-18
0
Una_awa
gak bisa komen,, keasyikan baca,suka banget ceritanya 🤗
2022-10-09
1