BUK!
Kaki Naeva tersandung. Tubuhnya terlempar kuat ke dalam jurang.
Gadis itu belum menyadari posisinya yang berada di mulut maut. Tubuhnya serasa melayang dengan cepat.
"M'mselle!!" Sayup ia mendengar teriakan Marc di dekatnya.
Hingga satu detik kemudian, sebuah rengkuhan ia rasakan menangkap tubuhnya. Memeluk erat dan melindungi kepalanya. Naeva hanya bisa mencium aroma mint dari tubuh tegap yang mendekapnya.
Naeva memejamkan matanya. Ia merasa tubuhnya berguling di lereng tanah yang keras. Terkadang ada batu berukuran sedang yang mengganjal di bawah punggungnya. Membuat punggungnya sakit luar biasa.
Naeva tak tahu ia telah berguling seberapa lama dan seberapa jauh.
Hingga kemudian...
BUK!
Telinganya menangkap suara benturan keras di atas kepalanya. Dan tubuhnya berhenti berguling.
Perlahan Naeva membuka mata. Dan melihat dada yang bidang di depan wajahnya.
Gadis itu tersentak melihat pakaian orang yang menyelamatkannya. Itu ... kemeja Abellard.
Naeva segera mendongak, mencari wajah tampan yang selalu membuatnya candu untuk memandang. Namun mata Abellard terpejam. Laki-laki itu sama sekali tak bergerak.
Hati Naeva seketika was-was. Jangan-jangan suara benturan tadi adalah suara benturan kepala Abellard dengan batu besar yang menahan tubuh mereka jatuh ke dasar jurang.
"Richard..." paniknya sembari menggoyang pundak lebar Abellard.
Tapi laki-laki itu sama sekali tak membuka matanya.
Dengan hati cemas luar biasa, Naeva memeriksa nafas dari hidung Abellard dengan jari telunjuknya. Syukurlah, Abellard masih hidup. Ia tak dapat membayangkan jika jari telunjuknya tak merasakan nafas hangat itu.
Tangan Naeva kemudian meraba ke belakang kepala Abellard yang berambut tebal.
Ia merasakan jemarinya basah. Detak jantungnya sontak berlomba karena rasa takut yang mendera. Naeva menarik kembali tangannya.
Dan ia melihat telapak tangannya telah bernoda darah.
"Tidak! Richard! Tolong buka matamu! A-aku tak ingin kau kenapa-kenapa..." Naeva kembali menggoyang pundak Abellard panik. "Kau tak boleh kenapa-napa!" lirihnya dengan tangis yang hendak pecah.
Hatinya begitu sakit. Tak pernah ia merasa takut kehilangan seseorang seperti ketakutan yang menderanya saat ini.
"M'mselle!!!" Terdengar teriakan Marc dari atas sana.
Naeva tak ingat untuk menjawab. Yang ada di pikirannya saat ini adalah menolong Abellard terlebih dahulu. Jangan sampai Abellard kehilangan banyak darah dari kepalanya yang terluka.
Gadis itu segera merobek rok dari gaun nya yang telah sobek di beberapa bagian karena tertarik semak berduri.
Dengan cekatan, Naeva mengikat kepala Abellard. Naeva tak tahu seberapa dalam luka yang dialami pria itu, ia hanya berusaha menutup lukanya agar tak lagi mengeluarkan darah.
"Ma Sœur!!!" Kali ini suara Edward yang terdengar berteriak memanggilnya.
Naeva mendongak.
"Ya! Kami di sini!" jawabnya dengan teriakan pula.
"Syukurlah! Anda tidak kenapa-kenapa, bukan?"
"Ya, aku baik-baik saja! Tapi Richard pingsan, kepalanya terbentur batu!!"
"Ya, Tuhan! Bersabarlah Ma Sœur! Monsieur Marc sedang mengambil tali untuk menolong kalian!!" teriak Edward.
Naeva kembali menoleh pada Abellard. Ia ingin sekali meletakkan kepala pria itu di pangkuannya, namun ia takut membuat luka yang telah ditutupnya kembali terbuka karena geseran.
"Kenapa kau menyelamatkan ku?" bisiknya lirih.
**
Naeva menyadari dirinya yang tak bisa menjauh sedikitpun dari Abellard. Ia ingin terus berada di sisi pria itu. Dan kalau bisa ia ingin menanggung luka itu agar Abellard membuka matanya.
Namun kemudian, tabib memaksanya meninggalkan Abellard untuk segera ditangani.
Gadis itu mondar-mandir di ruang duduk dengan wajah pias.
"Duduklah M'mselle, Monsieur Richard akan baik-baik saja," lembut suara Adam menghiburnya.
Semua penghuni Kastil Wisteria berkumpul di ruang duduk dengan raut cemas.
Saat penyelamatan tadi, Abellard dipanggul oleh Marc. Kemudian ditarik oleh Edward, Adam, Emma dan Anne. Mereka benar-benar kewalahan saat menariknya. Terkadang Marc berusaha memanjat sendiri sedikit demi sedikit.
Naeva benar-benar terharu mengingat kekompakan keluarga besarnya. Keluarga yang berkumpul bukan karena persamaan darah. Tapi memiliki ikatan yang lebih dari yang dimiliki keluarga yang sebenarnya.
"Terimakasih, atas bantuan kalian untukku dan Richard," lirih Naeva.
"Anda tak perlu berterimakasih, M'mselle... Itu memang tuntutan hati kami sendiri yang tak mungkin bisa membiarkan anggota keluarga dalam bahaya," jawab Adam.
"Nyawa anda lebih penting dari nyawa kami sendiri. Itulah yang kami rasakan, M'mselle..." sahut Emma yang kembali menangis. Wanita tua itu sejak di hutan memang tak berhenti menangis mengetahui kecelakaan yang dialami Sang Nona yang ia asuh sejak kecil.
"Tapi M'mselle... Bagaimana kalau ingatan Monsieur itu kembali?" cetus Anne tiba-tiba.
"Ma Fille!" tegur Emma pada anak gadisnya yang tak peka dengan keadaan berkabung ini.
Anne langsung menunduk dengan perasaan bersalah.
"Pardon Ma Mère... Seperti itulah yang kudengar tentang orang yang hilang ingatan saat kepalanya terbentur kembali," ujarnya pelan.
Naeva hanya diam. Hatinya saat ini lebih takut Abellard kenapa-kenapa daripada Abellard kembali ingatannya.
Beribu doa terus ia desahkan dalam hati. Doa yang biasa dipanjatkan ibunya saat ia sakit dulu. Begitu sering ibunya mengucapkan doa itu hingga Naeva bisa menghafal setiap katanya sampai sekarang.
Allāhumma rabban nāsi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syāfi. Lā syāfiya illā anta syifā’an lā yughādiru saqaman.
Artinya, “Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri,”
Setengah jam kemudian.
Tabib keluar dengan wajah lega. Membuat semua yang menunggu, tak sabar untuk mendengarkan kabar Abellard dari mulutnya.
"Monsieur Richard baru saja sadar. Lukanya tidak terlalu parah. Namun kepalanya terbentur dengan keras. Jika nanti Monsieur mengeluh pusing-pusing, ataupun ada masalah dengan ingatannya, anda bisa memanggil saya kembali, M'mselle..."
"Baik Monsieur, kami sangat berterimakasih atas bantuan anda," jawab Naeva sembari menyerahkan uang untuk jasa pria itu.
"Terimakasih kembali M'mselle, sudah menjadi kewajiban saya."
Setelah tabib pergi, Naeva segera masuk ke kamar Abellard untuk memeriksanya. Sementara yang lain menunggu di luar.
Laki-laki itu tertidur dengan mata terpejam. Naeva menatapnya dengan kening mengernyit, bukannya tabib tadi mengatakan Abellard telah siuman?
Gadis itu kemudian menghela nafas panjang. Sepertinya keadaan Abellard terlalu lemah karena banyak kehilangan darah, hingga kini dia tertidur.
Naeva menutup pintunya kembali dengan perlahan. Lalu menghampiri dengan langkah yang perlahan pula.
Ia kemudian berdiri di samping ranjang besi berukir yang dulu ditempati ayahnya. Menatap lekat-lekat wajah tampan yang terlihat pucat itu.
Menurutnya, Abellard memiliki kulit yang sangat bersih. Alisnya tebal berwarna coklat tua dengan bentuk tegas bagaikan sayap elang. Hidungnya mancung dengan tulang yang lurus dan ukurannya pas untuk wajahnya. Bibirnya tidak tipis, namun juga tidak terlalu tebal. Bibir yang terbentuk dengan lekukan yang sempurna.
Naeva merasa wajahnya panas saat menatap bibir itu. Ia cepat-cepat mengangkat kepala dan berpaling ke arah jendela.
"Aku ingin berterimakasih atas bantuan mu. Aku juga hendak meminta maaf karena sikapku yang tak ramah selama ini," tuturnya tulus.
Hatinya benar-benar merasa bersalah, jika mengingat bagaimana nekadnya Abellard melompat ke dalam jurang demi menyelamatkan dirinya. Memeluknya erat untuk melindungi tanpa memperdulikan keselamatannya sendiri. Pengorbanan laki-laki itu telah membuat kebenciannya hilang, seperti air yang menguap ke udara dan menghilang tanpa bekas.
"Apa kau berjanji akan bersikap baik padaku mulai saat ini?"
"Ya, aku akan selalu bersikap baik..." jawab Naeva spontan tanpa menyadari orang yang dikiranya tidur ternyata hanya pura-pura memejamkan mata.
Naeva langsung menoleh dengan mata melotot pada laki-laki yang terbaring di hadapannya. Wajahnya seketika memerah karena malu yang mendera. Ia tak berniat untuk meminta maaf secara langsung. Naeva hanya berencana akan menunjukkan penyesalannya dengan mengubah sikapnya terhadap Abellard. Ia mengungkapkan maaf hanya karena berpikir Abellard sedang tidur.
"Kenapa kau memelototiku? Apa kau belum puas menatap wajahku? Atau jangan-jangan tadi kau memperhatikan dadaku yang terbuka?" goda Abellard sambil berpura-pura cepat-cepat menutup dadanya dengan selimut.
"Kau lagi-lagi membuatku kesal, jangan salahkan aku jika bersikap ketus kembali. Apa kau tak malu menggoda sepupumu sendiri seperti itu?" Omel Naeva dengan tampang cemberut.
Abellard memperhatikannya sedemikian rupa. Matanya seolah berbicara bahwa ia sangat menyukai apapun sikap Naeva di depannya.
"Tapi bagiku, kau adalah seorang wanita. Benar-benar hanya wanita," Suara beratnya mendesah dengan nada yang teramat dalam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Bzaa
kayaknya ingatan Richard udah kembali
2023-11-19
0
💞 RAP💞
Bagus thorrrr cerita nya
2023-02-19
0
yolan and radit
cerita nya bagus..
2022-10-18
1