Bab 3

Bab 3

"Apa anda yakin, M'mselle? Anda mengatakan bahwa dia adalah sepupu anda. Itu berarti dia masih akan tinggal di sini?" tanya Emma setelah mereka meninggalkan Abellard untuk beristirahat.

"Ya, Emma. Sejujurnya, aku tak tega membiarkan laki-laki itu pergi keluar dengan keadaan sakit seperti itu. Orang-orang yang sedang memburunya pasti masih tak jauh dari sini, laki-laki itu bisa dengan mudah ditemukan dan dibunuh. Kalau kita membiarkannya mati setelah pergi, buat apa kita repot-repot menyelamatkannya tadi?"

Jawaban Naeva membuat Emma mengangguk-angguk. Ia tahu betul karakter gadis belia yang telah tumbuh bersamanya sejak kecil itu. Tak pernah ragu untuk membantu.

"Tapi M'mselle, laki-laki itu adalah seorang Comte (Bangsawan yang kedudukannya setingkat dengan Earl/Pangeran), Comte dari Marseille. Keluarganya yang hebat pasti akan mencari ke setiap daerah," Adam memperingatkan dengan nada bijak.

"Aku tau, Adam," lirih Naeva. "Itu pasti akan terjadi."

Tatapan Naeva kemudian beralih pada Marc.

"Marc, esok pagi temani aku ke pasar. Aku akan membeli beberapa pakaian untuknya. Bajumu sepertinya tak akan muat jika kita pinjamkan untuknya."

"Baik, M'mselle," jawab Marc tanpa bantahan. Selalu dan akan selalu, keputusan nona-nya adalah keputusan yang tepat menurutnya.

"Seharusnya, kalian sudah pergi hari ini. Kastil ini bukan lagi milik kita. Dan aku juga sudah tak sanggup menggaji kalian. Entah apa yang akan terjadi setelah malam ini. Tapi, aku akan bertahan di kastil ini sampai takdir menentukan," lirih Naeva. Kemudian bibirnya memaksakan sebuah senyuman, walau matanya tak bisa menutupi kesedihannya. "Aku tak mengapa, jika kalian ingin pergi. Kalian juga harus mencari kehidupan yang lebih baik."

"M'mselle! Tolong jangan berkata seperti itu," sela Emma dengan mata yang berkaca-kaca. "Kami tak akan meninggalkan anda. Tak akan pernah! Kami akan menanti apa yang akan ditakdirkan Tuhan bersama anda!"

"Ya, jangan pikirkan tentang uang. Kami akan bekerja di kebun untuk memenuhi kebutuhan kita," timpal Marc.

Naeva menggigit bibir bawahnya, hatinya benar-benar perih dan nelangsa. Ia menengadah, menatap langit-langit kastil tuanya agar air mata yang telah menggenang tak luruh di pipi.

 

Kisah seperti apa yang akan ditakdirkan Tuhan untuknya setelah ini?

***

Subuh menjelang. Naeva menunaikan ibadah sucinya yang berbeda dari orang lain di seantero jagad Perancis itu. Ibadah yang ia dapatkan dari ibunya yang berasal dari negara muslim, Maroko.

Almarhumah ibunya adalah salah seorang tawanan dari bangsa jajahan Perancis. Ia dibawa paksa untuk menjadi budak di Negara penjajah nya.

Namun ternyata, kecantikannya membuat seorang pemuda dari kalangan bangsawan jatuh cinta dan menikahinya. Karena itu, sang bangsawan didepak dari keluarga besar yang tentu saja menentang pernikahan dengan budak.

Bangsawan muda yang tak lain adalah ayah Naeva itu hanya mendapatkan sebuah kastil tua dan beberapa aset pribadi milik neneknya.

Wajah Naeva menoleh ke kanan dan ke kiri sembari mengucapkan salam.

Namun matanya seketika membesar saat melihat ke arah pintu.

Abellard berdiri di sana dengan raut bingung.

"Apa yang kau lakukan disini?!" gusar Naeva.

Ya Tuhan, kenapa seorang bangsawan ternama bisa masuk ke kamar orang lain seenak jidat?

Mungkinkah dulu laki-laki ini sering menyalahgunakan kekuasaannya untuk masuk ke kamar wanita manapun yang dia inginkan?

Naeva baru menyadari, walaupun Abellard hilang ingatan, tapi kebiasaan hidupnya tetap terbawa.

Gadis itu segera melipat kain putih yang baru dipakainya untuk menutup aurat saat mengerjakan shalat.

Lalu berdiri tegak dengan mata menatap tajam. Naeva merasa pria dewasa di hadapannya itu harus diajari tata krama!

"Apa yang kau lakukan?" tanya Abellard sebelum Naeva sempat menegur.

"Ini ibadahku!" ketusnya. "Kenapa kau masuk sembarangan ke kamar wanita tanpa izin dan ketuk pintu terlebih dahulu?!"

"Apa memang seharusnya minta izin dahulu?"

Naeva mendengus. Ternyata memang benar dugaannya. Pria ini pasti sudah sering masuk sesuka hati ke dalam kamar wanita.

"Ya, kau tak bisa masuk sembarangan ke kamar orang lain apapun alasannya! Jika kau memang orang beradab."

Abellard terdiam. Seperti sedang mencerna kata-kata pedas yang dilontarkan Naeva. Setelah beberapa saat, kakinya perlahan melangkah mundur dan menutup pintu kamar Naeva kembali tanpa berkata apa-apa.

Kini giliran Naeva yang terpaku. Ia bingung melihat ekspresi Abellard yang datar. Mungkinkah laki-laki itu kini menjadi linglung?

Saat sarapan tiba, Naeva sengaja memperhatikan gerak-gerik Abellard. Begitu pun dengan Marc, Anne, Adam dan Emma yang ikut sarapan di meja yang sama.

"Apa tak ada pisau dan garpu?" tanya Abellard, tanpa merasa canggung ditatap orang-orang di sekelilingnya.

"Tidak. Kita semua makan memakai tangan kosong. Apa kau lupa?" Naeva langsung memperagakan caranya makan dengan tangan.

Tampak Abellard melihat gadis itu makan dengan tatapan jijik. Tapi ia tak punya pilihan lain. Sepertinya memang tidak ada pisau dan garpu. Mungkin ia juga lupa, bahwa dulu dirinya pun makan langsung dengan tangan.

Perlahan tangan kanannya terjulur ke arah makanan dan menyuapnya dengan perasaan tak menentu.

***

"Hua ha ha!" Naeva tergelak di atas kereta kuda yang di bawa Marc menuju pasar.

Ia teringat dengan raut jijik Abellard saat makan dengan tangan.

"Apa kau tak merasa geli, Marc? Seorang bangsawan pemilik pabrik sutra terbesar di Eropa makan tanpa pisau dan garpu nya? Orangtuanya pasti akan syok jika melihat pewarisnya makan seperti budak!" serunya di sela tawa.

Marc tersenyum simpul melihat tingkah nona-nya. Benar-benar menggemaskan.

Naeva mengusap air mata yang keluar di ujung matanya setelah puas tertawa.

"Nanti, kita akan membelikannya pakaian biasa Marc. Bukannya jahat, tapi dia harus kita ajarkan untuk tak mementingkan harta dan kasta," ujarnya penuh semangat.

"Baik, M'mselle," jawab Marc.

**

Naeva menatap kantung yang telah berisi beberapa potong baju di tangan Marc dengan tatapan puas.

"Kita pulang sekarang, M'mselle?"

"Tunggu dulu, aku akan memilihkan baju untukmu juga."

Tatapan Naeva tertuju pada satu setel pakaian yang terlihat paling bagus di toko itu. "Kemari lah, Marc! Coba baju ini!" panggilnya.

"Tapi, M'mselle ... sebaiknya anda jangan boros untuk hal yang tidak penting," tegur Marc ragu, karena ini pertama kalinya ia menegur nona-nya.

"Bagiku ini penting. Aku tak tahu entah sampai kapan aku masih bisa melihatmu. Jadi selagi kau masih di sini, aku ingin merasa bahagia dengan memberikanmu hadiah."

Marc terpaku. Matanya menatap sang Nona dengan hati yang terasa penuh. Penuh dengan rasa terharu, bahagia dan ... entahlah.

Marc tak berani terbawa perasaan. Ia tak berani lancang mencintai gadis baik hati yang telah menganggap dirinya dan keluarganya saudara, bukan pelayan.

Perlahan kakinya menghampiri Naeva yang telah merentangkan baju itu dengan senyuman lebar ke hadapannya.

"Ini bagus sekali. Aku yakin sangat pas untuk ukuran mu."

Marc hanya bisa diam tak berkutik. Ia membiarkan saja Naeva mencocokkan baju itu di pundaknya. Namun hatinya begitu takut, debar jantungnya akan terdengar oleh sang Nona.

Selesai belanja, Naeva keluar dari toko itu diikuti Marc di belakangnya.

BUK!!

"Aw!" kaget Naeva sembari memegang lengan kanannya yang membentur sesuatu.

Seseorang tiba-tiba lewat dengan tergesa dan menabraknya.

"M'mselle! Anda tidak apa-apa?" sigap Marc menghampiri nona-nya.

"Kenapa berjalan sembarangan?!!" bentak seorang laki-laki muda berseragam prajurit yang menubruk Naeva.

"Anda yang menabrak saya!" bantah Naeva kesal. Jelas-jelas laki-laki itu yang tergesa dan sembarangan.

"Sudah, sudah! Kita harus menemukan Monsieur Comte Abellard sekarang!"

Seorang prajurit lain datang melerai perdebatan kecil itu.

Naeva dan Marc seketika terpaku.

Tuan Abellard?

Benar seperti yang dikatakan Adam. Laki-laki itu sudah mulai dicari. Naeva tak mengira akan secepat ini. Karena jarak antara Marseille dengan desanya harus ditempuh dua hari dua malam lamanya.

Tentu keluarga Abellard yang hebat itu akan menggunakan jasa prajurit yang bertugas menarik upeti di daerah sini.

"Coba kau ambil sketsa wajah Monsieur Comte, mungkin mereka pernah melihatnya," ujar prajurit yang melerai, pada temannya.

Naeva segera memberikan kode untuk mengajak Marc pergi. Keduanya langsung berbalik dan buru-buru menjauh.

"Hey! Tunggu dulu!" panggil sang Prajurit.

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

Mac kykny suka sama nonany

2023-11-19

0

Rose_Ni

Rose_Ni

dan....cinta mungkin

2022-10-18

0

Dianti Rahayu

Dianti Rahayu

seru...

2022-10-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!