Bab 10

Abellard dan Marc saling menatap tajam, berperang dengan tatapan.

Naeva hanya bisa menghela nafas melihatnya.

"Ma Sœur (saudara perempuan ku), aku membawakan topi jerami cantik yang akan melindungi wajahmu dari sengatan matahari." Abellard mendahului sembari mengulurkan sebuah topi jerami dengan lingkaran pita putih.

"M'mselle, saya membelikan anda topi untuk musim dingin. Saya harap anda menyukainya," sela Marc. Tatapannya begitu bersungguh-sungguh, berharap sang Nona menerima hadiahnya terlebih dahulu.

"Topi musim dingin? Apa kau tak tahu ini sudah memasuki musim semi?" sinis Abellard.

"M'mselle bisa memakainya sekarang, cuacanya masih dingin. Anda membelikannya topi jerami, sementara Mademoiselle memiliki banyak topi jerami di lemarinya," balas Marc tak mau kalah.

Naeva terlihat mendesah.

"Apa kau lihat itu Edward? Di rumahku tak ada lelaki yang benar-benar telah dewasa."

Edward tersenyum mendengarnya.

"Saya akan menjadi lelaki dewasa untuk anda, Ma Sœur," jawab Edward seraya membusungkan dadanya.

"Tak boleh!" sergah Abellard dan Marc bersamaan.

Edward menahan tawanya melihat tingkah kedua pria dewasa di hadapannya.

"Richard, bagaimana kau bisa mendapatkan topi ini? Padahal kau tak punya uang?" Naeva tiba-tiba duduk tegak begitu teringat hal itu.

Abellard tersenyum jumawa.

"Pria tampan sepertiku tak perlu mengeluarkan uang untuk mendapatkan sesuatu. Wanita pemilik toko memberikannya secara percuma. Dia mengatakan wajahku ini seperti wajah seorang pangeran."

"Wanita tua pemilik toko yang kau masuki tadi?" tanya Naeva sembari menahan tawa. Begitu juga dengan Marc dan Edward.

Menyadari dirinya ditertawakan, Abellard seketika panik.

"Bukan! Naksudku wanita tua itu menyukai wajahku bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk putrinya yang belum menikah, tentunya!" jelasnya membela diri.

"Baiklah, baiklah.... Aku bisa membayangkan bagaimana wajah seorang pangeran yang menjadi selera wanita jaman dulu," goda Naeva dengan senyuman sembari menopang dagu dengan kedua tangannya.

"Dari jaman apapun, seorang pangeran tetap lah tampan," kilah Abellard.

"Ya sudah, kita pulang sekarang. Terimakasih untuk hadiah yang kalian berikan," ujar Naeva sembari meraih topi dari tangan kedua pria itu dan bangkit dari kursinya.

**

Mengingat jitunya lemparan sampah yang dilakukan Edward kemarin, Naeva berniat untuk mengajak bocah itu berburu.

Sudah seminggu semenjak ia mengajak Edward pulang ke kastilnya, dan anak laki-laki itu disambut dengan hangat oleh Adam, Emma dan Anne.

"Terimakasih, kalau kalian juga setuju Edward tinggal di sini dan membantuku mendidiknya," ucap Naeva saat itu.

"Tak perlu berterimakasih, M'mselle. Ini kastil anda. Kami akan mendukung apapun yang anda putuskan," tutur Emma tulus.

"Ya, aku juga senang sekali bisa memiliki adik. Walau yang perempuan lebih menyenangkan," jawab Anne ceplos seperti biasa.

Dan seperti yang dikatakan Anne, 'adik perempuan lebih menyenangkan'. Jadi semenjak seminggu lalu Anne selalu mengajak Edward merawat bunga di taman. Gadis itu membuat Edward menemaninya melakukan pekerjaan rumah, bahkan merajut juga.

Edward pun selalu menurutinya dengan senang hati. Sepertinya, memiliki keluarga yang selalu bersikap hangat benar-benar membuat Edward bahagia.

Tampilan bocah itu sekarang juga bersih dan rapi. Membuat wajahnya yang innocent semakin menyenangkan dipandang mata.

"Edward," panggil Naeva.

"Ya, Ma Sœur!" jawab Edward sembari bangkit dari berjongkok di tanah, meninggalkan bunga yang baru saja ditanamnya.

"Kau mau ikut berburu?"

"Berburu?" Mata Edward seketika membulat excited.

"Ya, berburu kijang di hutan sana," tunjuk Naeva ke arah belakang kastil.

"Aku mau!" sambutnya semangat.

"Tapi kau bisa memanah, bukan?"

"Bisa, tak ada anak desa yang tak bisa memanah," sahut Edward yakin.

"Baiklah kalau begitu, kita akan berburu kijang!" Wajah cantik Naeva pun tak kalah bersemangat.

"Apa kita akan berangkat sekarang?" Sebuah suara berat yang khas dan enak di dengar tiba-tiba menyela dari belakang Naeva. Suara Abellard.

"Aku hanya mengajak Edward," ujar Naeva singkat.

Entah kenapa, ia masih sering bersikap ketus dan dingin pada laki-laki itu. Sikap yang sebenarnya bertolak belakang dengan hasrat hatinya yang terus mengharapkan pria itu berada di dekatnya, mengajaknya bicara, dan kalau boleh Naeva ingin Abellard menatapnya dalam-dalam dengan netra yang biru sebiru samudera itu.

Namun egonya merasa gengsi menerima pria yang telah sengaja menyebabkan ayahnya kalah di meja judi, hingga ayahnya menderita karena penyesalan dan dirinya pun terjebak dalam sebuah kebohongan besar seperti ini.

"Tapi aku yakin kau ingin aku ikut untuk memanah kijang dengan tepat seperti seminggu yang lalu," kilah Abellard percaya diri.

Naeva mendengus. Keangkuhan Abellard selalu berhasil membuatnya kesal. Sifat kebangsawanan benar-benar mendominasi kepribadian lelaki ini.

"Terserah kau saja!" ketus Naeva seperti biasa.

Naeva melangkah paling depan kali ini. Kakinya menjejak pasti, menerobos rumput hijau yang tumbuh subur selututnya. Sore itu Naeva memakai gaun berbahan katun semata kaki dengan warna krem lembut. Gadis itu terlihat begitu manis dan anggun.

Ia Memimpin jalan untuk tiga orang laki-laki yang setia mengikuti langkahnya. Edward, Abellard dan Marc tentunya.

"Saya belum sempat menanyakan sesuatu yang membuat penasaran sampai sekarang." Edward mensejajarkan langkahnya dengan sang kakak angkat yang selalu akan ia anggap sebagai malaikat.

"Menanyakan apa?"

"Tuan Richard kenapa memakai rambut dan kumis palsu saat pertama kali saya melihatnya minggu lalu?"

"Oh, itu karena dia memang aneh," jawab Naeva tanpa harus pikir panjang.

"Tapi, saya seperti pernah melihat sketsa wajahnya. Kalau tak salah saat para Prajurit menggeledah pasar untuk mencari pria dalam sketsa itu. Wajah pria yang dicari itu benar-benar mirip Tuan Richard."

"Yang dicari para prajurit biasanya adalah kriminal atau buronan. Dan wajah Richard memang mirip dengan wajah setiap kriminal," jawab Naeva semakin asal-asalan.

Edward hanya diam mendengar jawaban Naeva. Walau sebenarnya ia selalu bingung melihat reaksi sang kakak angkat terhadap sepupunya itu.

"Itu dia!" Tiba-tiba bocah itu berseru sembari menunjuk ke arah Utara.

Naeva segera menghentikan langkahnya. Dan melihat ke arah yang ditunjuk Edward. Memang benar, ada kijang yang sedang membelakangi mereka. Mata Edward benar-benar jeli seperti yang diduganya.

"Eits, tunggu!" cegah Naeva saat semuanya bersiap mengambil busur.

"Kenapa?" bisik Abellard tak sabar.

"Kijang itu sedang mengandung," jawabnya.

"Lantas?" tanya Abellard lagi.

Naeva langsung menoleh dengan tatapan tajam.

"Apa kau tak punya hati?! Kita memburu untuk memenuhi kebutuhan pangan, bukan memusnahkan populasinya. Kijang itu sedang mengandung generasi penerusnya! Dulu, Nabiku mempertaruhkan dirinya pada pemburu disaat ia meminta seekor kijang yang sedang menyusui di lepaskan. Begitu pengasihnya hati beliau. Namun demi kasih terhadap Nabi, kijang itu kembali setelah menyusui anaknya. Semoga semua orang bisa memiliki hati yang pengasih," sindir Naeva sembari melanjutkan langkahnya.

Abellard terpaku sesaat. Ia merasa perempuan ini benar-benar sentimen terhadapnya.

"Kau sudah tinggal di kastil ini sejak kecil, bukan?" tanya Abellard pada Marc yang berjalan dua langkah di belakangnya.

"Ya," jawab Marc singkat.

"Apa saat pertama aku datang ke kastil ini Naeva tidak menginginkanku?"

"Ya, M'mselle bahkan merasa takut dengan kedatangan anda," Marc berterus terang.

"Takut?"

"Ssstt..." Naeva memberikan kode saat melihat seekor kijang. Membuat Abellard berhenti bertanya dan memperhatikannya.

Naeva menunjuk ke arah selatan.

Semuanya mengikuti arah jari telunjuk gadis itu. Lalu mengendap-endap ke belakang semak belukar.

"Posisi kijang itu terlalu dekat dengan jurang," bisik Marc.

"Ya. Kita harus hati-hati. Dan kali ini, biar Edward yang memanah," jawab Naeva dengan berbisik pula.

"Bocah liar ini?" tanya Abellard dengan nada protes.

"Ya, aku menduga fokus Edward sangat jitu. Kita akan membuktikannya sekarang," jawab Naeva. "Edward, majulah sedikit ke depan!" instruksi Naeva pada si bocah.

Edward mengangguk senang lalu mengendap-endap beberapa langkah ke depan. Menyiapkan busur dan mulai membidik.

SAT!

Sebatang panah melesat cepat dan tepat mengenai sasaran.

Kijang itu refleks berlari dengan terhuyung ke arah jurang.

Edward yang melihat buruannya hendak melarikan diri, segera mengejar.

"Oh, tidak! Dia berlari ke arah jurang!" seru Marc.

"Edward tunggu! Jangan di kejar!" teriak Naeva sembari bangkit dan mengejar Edward.

Edward sekarang berada satu meter di tepi jurang. Naeva benar-benar kalut. Hingga ia mengejar tanpa memperhatikan lagi jalan yang ia tempuh.

BUK!

Kaki Naeva tersandung. Tubuhnya terlempar kuat ke dalam jurang.

Gadis itu belum menyadari posisinya yang berada di mulut maut. Tubuhnya serasa melayang dengan cepat.

"M'mselle!!" Sayup ia mendengar teriakan Marc di dekatnya.

Hingga satu detik kemudian, sebuah rengkuhan ia rasakan menangkap tubuhnya. Memeluk erat dan melindungi kepalanya. Naeva hanya bisa mencium aroma mint dari tubuh tegap yang mendekapnya.

Hingga kemudian tubuh tegap itu terhempas di tanah dengan tubuh Naeva berada di atasnya. Tanpa dapat dihentikan, keduanya berguling-guling di dinding jurang.

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

seruuu bangettt

2023-11-19

0

Dewi Ratnawati

Dewi Ratnawati

Momen romantis abellerd naeva

2022-10-19

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!