Bab 15

Abellard memasuki kamarnya. Membuka lemari dan mencari uang simpanannya. Selama lima bulan ini ia sering ikut Marc mencari jamur untuk dijual. Sebenarnya dirinya bukan tipe orang yang suka menabung. Uang dicari untuk dihabiskan, itu lah motto hidupnya. Tapi gadis yang ia cintai selalu menganjurkan dirinya untuk menyisihkan sebagian untuk simpanan. Naeva bahkan sampai mengomelinya jika tak bisa berhemat.

Uang simpanan itu akan ia pakai membeli cincin untuk Naeva. Melamarnya dan menanyakan perasaan gadis itu yang sebenarnya. Karena sampai saat ini Naeva belum pernah menyatakan cinta padanya.

"Marc, aku akan memakai kuda sebentar!" serunya penuh semangat saat bertemu Marc di istal kuda.

"Anda akan pulang ke Marseille sekarang?"

"Tidak, aku akan pergi ke pasar untuk membeli sesuatu," jawab Abellard dengan wajah sumringah.

"Baiklah, aku akan memasang keretanya sebentar."

"Tak perlu, aku akan memakai kudanya saja," tolak Abellard sembari mengusap surai kuda lembut.

Naeva menatap laki-laki itu dari jendela kastilnya. Sepertinya Abellard sangat bahagia bisa kembali ke Marseille dan mengetahui mereka tidak bersaudara. Karena Abellard tak tahu, setelah dia kembali mereka akan terpisah selamanya.

Tak mungkin keluarga Abellard yang hebat itu mau menerima dirinya yang hanya seorang gadis keturunan bangsawan miskin sebagai menantu.

Di aula, sekitar lima orang utusan duduk menunggu, sementara para prajurit bersiaga di luar.

"Mereka sangat tampan dan megah, M'mselle," bisik Anne yang berdiri di dekatnya sembari terus merapikan rambut dan menunduk malu-malu.

Naeva menghela nafas berat dan beralih menatap Anne.

"Kau juga sangat cantik, Anne ...." pujinya.

Tampak pipi Anne merona merah.

"Tapi saya tak akan pantas disukai orang-orang seperti mereka," desah Anne.

Hati Naeva serasa dicubit mendengarnya. Yang dikatakan Anne juga sama dengan keadaannya sekarang. Dirinya tak pantas bersanding dengan Abellard.

"Walau tak pantas, tapi kita harus menghargai diri sendiri," hiburnya, lebih untuk dirinya sendiri.

**

Abellard memacu kudanya penuh semangat. Seperti baru menemukan jalan yang terbuka lebar, dan ia tak ingin menyia-nyiakan jalan itu.

Sebuah toko perhiasan dan manik-manik milik seorang wanita tua yang berpenampilan gipsi, telah menjadi perhatian Abellard selama ini. Perhiasan di sana sangat berwarna-warni, cocok jika dijadikan hadiah untuk wanita penolong dan penuh warna seperti Naeva. Dan sekarang, waktunya ia masuk ke sana untuk mencari sebuah cincin yang terindah.

"Bonjour, Ma'am," sapa Abellard.

Wanita tua berpenampilan gipsi itu tersenyum ramah.

"Bonjour, Monsieur. Saya sudah menduga, suatu saat anda akan mengunjungi toko saya."

Abellard membalas senyuman itu, ia tak lagi heran kenapa wanita itu bisa menduga kedatangannya, karena Naeva pernah mengatakan bahwa wanita gipsi memang suka meramalkan masa depan dan nasib seseorang.

"Ya, akhirnya keajaiban membawa saya ke toko ini," jawab Abellard.

"Apa yang anda cari, Monsieur?"

"Sebuah cincin yang terindah." Mata biru tua Abellard mengedar ke sekelilingnya. Ada empat buah rak yang tersandar di dinding. Semuanya penuh dengan perhiasan wanita.

"Hanya satu yang terindah, Monsieur. Dan sepertinya cincin ini menunggu anda."

Gipsi itu berjalan ke sebuah rak. Dan Abellard mengikutinya.

Tangan keriput wanita itu meraih sebuah kotak kecil berisi kain satin putih. Di tengah kain itu di letakkan sebuah cincin cantik bentuk bunga aster, dengan posisi yang sangat menarik perhatian.

Cincin itu begitu manis.

"Oh..." Tanpa sadar Abellard mendesah takjub.

"Bagaimana anda bisa menempa cincin seindah ini, Ma'am?"

Wanita itu tersenyum.

"Saya tidak menempanya sendiri, Monsieur. Tentu saja saya sudah tidak sanggup, walau cincin ini telah dibuat dua tahun yang lalu. Saya hanya membuatkan sketsa desainnya."

"Kenapa cincin sebagus ini belum ada yang membeli? Padahal keindahannya melebihi perhiasan lain."

Telunjuk Abellard menyentuh bunga aster yang terlihat begitu asli itu dengan sangat hati-hati, seolah-olah kelopaknya akan mudah gugur.

"Itulah yang saya maksudkan, Monsieur. Cincin ini menanti anda."

Abellard terpaku sesaat mengetahui kenyataan yang ajaib itu.

"Berapa harganya?" tanya pria itu kemudian.

"Berikan saja berapa yang anda niatkan. Karena berapapun harga yang saya berikan, cincin ini akan menjadi milik tuannya."

Abellard merogoh saku blazer, dan menyerahkan semua uangnya.

"Jangan berikan untuk saya semuanya, Monsieur. Bawalah sebagian untuk bekal anda mampir di gerai minuman sebelum pulang."

Wanita itu mengembalikan uang yang diterimanya pada anak muda yang masih terpesona pada cincin di tangannya.

"Apa anda tau, Ma'am? Wanita yang akan memakai cincin ini memang sangat menyukai bunga aster."

"Takdir memang tak pernah meleset, Monsieur. Anda harus yakin itu. Kalau anda menganggap gadis itu takdir anda, maka anda harus menetapkan hati."

"Ya Ma'am, saya akan mengingatnya. Terimakasih atas kemurahan hati anda," ucap Abellard sembari melangkah ke arah pintu.

"Satu hal lagi, Monsieur!"

Abellard menoleh kembali dengan raut bertanya.

"Jangan lupa mampir ke gerai minuman sebelum pulang."

Walau merasa bingung dengan pesan yang diulang lagi oleh wanita itu, namun Abellard mengiyakannya dengan menganggukkan kepala.

Langkah kakinya berjalan ke arah gerai minuman. Sementara kudanya ia biarkan tertambat di samping toko si wanita gipsi.

Setelah memesan minuman, Abellard memilih tempat duduk di sudut kanan gerai. Tanpa melepaskan topinya laki-laki itu menunduk untuk kembali menatap cincin di pangkuannya dengan bibir tersenyum. Terbayang sudah di matanya, bagaimana cantiknya jari manis Naeva saat memakai cincin itu.

Sesaat kemudian, terdengar suara sepatu beberapa orang memasuki gerai dengan bersamaan. Begitu menyentak dan garang.

Abellard sama sekali tak tertarik untuk melihat siapa yang datang. Matanya masih terpikat pada benda berbentuk bundar di tangannya.

"Kita benar-benar terpedaya! Ternyata Comte Abellard selama ini memang tinggal di kastil tua itu! Kalau saja saat itu aku tak gentar dengan tuduhan gadis bangsawan yang terlihat pintar itu, pasti kita sudah menemukannya!"

Seketika itu juga, Abellard duduk tegak dan siaga, sementara kepalanya tetap ia tundukkan dengan topi koboi yang di tarik menutupi sebagian wajahnya.

Itu pasti kelompok pembunuh bayaran yang masih mengincar nyawanya.

"Aku yakin, gadis yang telah menolongnya itu menjadi orang yang sangat penting baginya. Kita tak bisa menyentuh Comte Abellard dalam penjagaan pengawalnya. Tapi ..."

Perkataan orang itu tergantung sejenak, membuat Abellard merasakan tubuhnya panas dingin. Pasalnya orang-orang berbahaya itu membicarakan gadis yang dicintainya.

"Kita bisa menculik gadis itu untuk mendapatkan Abellard. Lalu kita akan lenyapkan keduanya!"

Jantung Abellard seolah berhenti berdetak. Membayangkan Naeva disakiti, dan itu karena dirinya.

Dengan gerakan yang dibuat setenang mungkin agar tak menarik perhatian, Abellard bangkit dari tempat duduknya. Lalu melangkah keluar di antara pelanggan lain yang juga berniat meninggalkan gerai.

Beberapa saat kemudian, laki-laki itu telah memacu kudanya secepat mungkin ke arah jalan pulang.

Ia harus membawa Naeva pergi bersamanya ke Marseille. Harus!

Terpopuler

Comments

💞 RAP💞

💞 RAP💞

🤗🤗 mulai tegang cerita nya thor

2023-02-19

0

yolan and radit

yolan and radit

estafet baca nya thor

2022-10-18

1

Dianti Rahayu

Dianti Rahayu

mamtap ceritanya thor...meski setingnya lampau..tapi aku menikmatinya..👍

2022-10-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!