Bab 2

Naeva menutup mulutnya yang spontan terbuka lebar.

Bagaimana bisa ia menolong orang yang ternyata ingin dihindarinya sampai mati?

"Ada apa, M'mselle?" tanya Marc seraya menghampiri dengan wajah khawatir. "Kalau anda takut, biar saya yang membersihkannya."

"Di-dia, Marc!" jawab Naeva terbata.

"Dia kenapa, M'mselle?"

"Dia ... ternyata dia ... laki-laki yang telah membeli ku!"

"Maksud anda?" Marc menatap tak percaya.

Laki-laki yang dibopong nya tadi adalah orang yang akan membawa nona-nya pergi?

"Dia orang yang telah memenangkan taruhan dengan ayahku, Marc."

Keduanya terdiam membeku. Kenapa takdir membuat mereka membawa masuk orang ini? Padahal sebelumnya mereka sangat ingin menutup gerbang untuk pria ini.

Anne yang sempat mendengar penuturan Naeva bahkan sampai menjatuhkan kain bersih dari tangannya dengan raut terkejut.

"Bagaimana ini, M'mselle? Kenapa kita malah menolong orang ini? Ya Tuhan ... Apa yang akan terjadi setelah Tuan ini sadarkan diri? Apa dia akan langsung membawa M'mselle-kami pergi?" racau Anne setengah meratap. Gadis itu mengibas-ngibaskan tangannya dengan raut panik.

"Aku akan melemparkannya kembali keluar!" ujar Marc sembari menyingsingkan lengan bajunya sampai ke siku.

Namun baru saja ia hendak mengangkat tubuh pria itu. Suara Adam, ayahnya, terdengar dari pintu masuk.

"Saya sudah membawakan tabibnya, M'mselle!" seru Adam dengan berjalan tergopoh-gopoh.

Di belakangnya ikut Emma beserta seorang laki-laki paruh baya yang membawa sebuah tas kulit berukuran lebar.

Marc langsung melepaskan tangannya dari tubuh pria itu. Matanya kemudian melirik Naeva yang berdiri kaku dengan wajah tegang.

"Cepatlah Tabib! Tolong orang ini!" pinta Emma tak sabar.

"Ya, saya akan memeriksanya terlebih dahulu," jawab Tabib. "Mademoiselle, boleh saya ditinggal bersama pasien sebentar?"

Naeva menoleh kaget, lalu mengangguk ragu.

"Ah, i-iya." Kakinya mundur perlahan untuk memberi ruang.

**

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" desah Naeva sembari mondar-mandir gelisah.

Tangan kiri terlipat di depan dada, sementara yang kanan digigiti kukunya.

"Saya akan menyuruh tabibnya pergi sekarang, kalau anda mengizinkan," jawab Marc yakin, ia tak bisa melihat nona-nya ketakutan seperti itu.

"Tidak, tidak. Itu akan memancing kecurigaan Tabib, dia bahkan bisa berpikir kalau kita yang menyebabkan laki-laki itu celaka," tolak Naeva.

"Sebenarnya ada apa?" tanya Adam dan Emma hampir bersamaan. Mereka tak mengerti kenapa keberadaan sang tabib yang susah payah mereka cari sekarang malah ingin disuruh keluar?

"Père, Mère, (ayah, ibu) laki-laki yang terluka itu ternyata adalah orang yang akan menjemput M'mselle pergi!" jelas Marc pada kedua orangtuanya.

"Oh, mon Dieu! (ya Tuhan)" kaget Emma sembari menutup mulutnya.

"Ini ... takdir yang aneh. Kenapa kita dibiarkan menjemput orang yang ingin kita jauhi?" desah Adam dengan bahu kuyu.

Semuanya terdiam. Ruangan besar tempat mereka biasanya bercengkerama di malam hari sembari menunggu kantuk tiba, kini terasa senyap dan membeku dalam ketegangan. Sementara lilin putih di atas meja bundar itu terus meleleh sedikit demi sedikit dibakar api.

"Mademoiselle! Mademoiselle!"

Panggilan panik Anne membuat semuanya menoleh kaget.

Emma sampai terlonjak dan mendekap dadanya.

"Ma Fille! (anakku, untuk anak perempuan) Tak bisakah kau menjaga jantung ibumu sekali saja?! Selalu berteriak panik dan membuat orang terkejut!" tegur Emma kesal.

"Pardon, Mère (maaf, Ibu). Tabib telah selesai memeriksa laki-laki itu. Dia akan segera sadar!" jawab Anne sama sekali tak meredam kepanikannya.

"Tak apa. Saya akan membawa laki-laki itu pergi jauh dari sini setelah Tabib itu pulang!" ujar Marc berusaha menenangkan semua orang, terutama nona-nya.

Semua terdiam. Tak ada yang menjawab setuju, namun tak ada pula yang melarangnya. Mereka tenggelam dalam ketegangan.

Kemudian Naeva melangkah lebih dulu ke arah ruangan yang berada di bagian kiri kastil, di mana pria itu diobati. Pria yang diberitahu almarhum ayahnya bernama Abellard.

Abellard Marseille. Pewaris tunggal dari bangsawan paling ternama di wilayah Marseille. Bangsawan yang memiliki pabrik sutra terbesar di Eropa.

"Tuan ini akan sadar sebentar lagi. Saya juga sudah mengeluarkan pelurunya," jelas sang Tabib.

"Peluru? Apa orang ini tertembak di kepala?" tanya Naeva, mengingat banyaknya darah yang keluar dari kepala.

"Tidak. Tuan ini tertembak di bahunya Kepalanya berdarah bukan karena tembakan peluru. Tapi terkena sabetan senjata tajam. Di bagian belakang kepala ada lebam besar, sepertinya baru terbentur dengan keras. Namun tak ada retakan di tempurung kepalanya."

Naeva menghela nafasnya. Ia lega, tak ada nyawa yang perlu melayang secara tragis di dalam kastilnya. Tapi hatinya juga risau memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini.

Membayangkan Marc membawa laki-laki ini keluar dalam keadaan belum pulih, sementara masih ada ancaman bahaya dari orang-orang yang sedang memburunya, membuat jiwa kemanusiaan Naeva merasa tak tega.

"Merci, Monsieur (terimakasih, Tuan)." Naeva mengucapkan terimakasih sembari menganggukkan kepalanya.

"De rien, (sama-sama) Mademoiselle. Sebaiknya anda melaporkan kasus ini. Karena Tuan sepertinya baru mengalami penganiayaan yang brutal," saran Tabib sembari menjinjing tas kulitnya.

"Baik," jawab Naeva.

Sepuluh menit telah berlalu setelah Tabib pergi.

Kelima penghuni kastil tua di tepi hutan itu berdiri mengelilingi satu sosok tubuh yang masih terbaring dengan mata terpejam.

Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing yang bergumul dalam kecemasan.

"Saya akan membawa laki-laki ini sekarang. Kita tak bisa membiarkan pria ini tersadar di sini!" Raut Marc terlihat tak sabar.

Namun Marc tak mungkin bertindak sebelum ada lampu hijau dari Naeva. Tapi gadis cantik berwajah Maroko bercampur Perancis itu masih bergeming sembari menggigit ujung kukunya.

Tiba-tiba jari telunjuk Abellard bergerak. Begitu pun dengan kelopak matanya.

Oh, tidak!

Semua melihatnya. Semua membeku dalam waktu yang sama. Was-was menatap kelopak mata yang mereka takutkan akan terbuka.

"Saya harus membawanya pergi, M'mselle! Saya tak bisa membiarkan orang ini melihat anda!" seru Marc seraya menghampiri Abellard.

Namun, begitu tangan Marc terulur, mata itu pun terbuka!

Sedikit demi sedikit Naeva bisa melihat netra biru tua yang begitu memikat.

Setelah terbuka sempurna. Mata itu mulai menjelajah ke sekeliling. Menatap satu persatu orang yang mengelilinginya.

Dengan gerakan cepat, Marc bergeser dan berdiri tepat di hadapan Naeva untuk menutupi sang Nona dari pandangan Abellard.

"Maaf, M'mselle," bisiknya.

Perlahan kening Abellard mengernyit bingung.

"Kalian siapa?" tanya pria itu kemudian. Suaranya tebal dan gentle.

"Kami orang yang telah menolong anda dari kejaran sekelompok orang yang ingin membunuh Anda," jawab Marc.

"Membunuh?"

"Ya. Sekarang anda bisa pulang ke tempat tinggal anda sendiri. Saya bisa mengantarkan. Dengan syarat anda harus menutup mata, karena kami tak ingin anda kembali kemari dan membawa masalah untuk kami," ujar Marc. Ia tak ingin Abellard sadar sedang berada di kastil yang memang menjadi tujuannya.

Abellard terdiam dalam waktu yang lama. Hingga Marc kembali mengajaknya.

"Mari Monsieur (Tuan), saya akan mengantarkan anda!"

"Tapi ... saya tak tahu kemana harus pulang. Saya tidak ingat apa-apa."

"Maksud anda?"

"Entahlah, saya benar-benar tidak ingat apapun."

Marc terdiam.

Dari belakang tubuh tegap Marc, muncul wajah cantik Naeva. Gadis itu menatap was-was pria yang sedang berusaha untuk bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi dipan kayu itu.

"Anda tak ingat siapa anda sebenarnya?" Naeva bertanya dengan nada hati-hati.

Abellard mengernyit sembari memegang kepalanya yang telah terbalut perban. Ia merasa pusing saat kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri.

Matanya kemudian bergerak ke arah orang yang barusan bertanya. Netra biru tuanya bertemu dengan netra coklat terang milik Naeva.

Abellard terpaku sesaat.

"Tidak. Saya tidak mengingatnya," jawabnya kemudian.

Mata indah Naeva seketika membulat mendengar jawaban Abellard. Wajah cantiknya tampak sedang memikirkan sesuatu.

Menit kemudian, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.

Dengan mata berbinar, ia menghampiri laki-laki yang telah kehilangan ingatannya itu.

"Kamu adalah Richard. Satu-satunya sepupuku!" serunya penuh semangat.

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

hadirrrr... semangat tor 💪😘

2023-11-19

0

Nyonya Gunawan

Nyonya Gunawan

Ru nemu saat ngsh komentar di novel sebelah..

2022-10-18

0

Rose_Ni

Rose_Ni

yah dibilang sepupu,kukira "kamu adalah pelayanku"😂

2022-10-18

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!