Bab 14

Seperti yang dikatakan Anne, rombongan prajurit beserta utusan dari Marseille mendatangi kastilnya. Naeva memantau mereka melalui menara tua kastil yang tak pernah dinaikinya lagi selama ini.

Abellard sengaja diajak bersembunyi di atas sana.

Sementara Marc dan Edward menghadang di depan gerbang untuk menanyakan maksud kedatangan rombongan itu.

Naeva melihat Marc bersikukuh tak memberikan izin masuk walau seorang utusan bersetelan mewah tampak menjelaskan sesuatu panjang lebar.

"Sebenarnya siapa mereka itu? Apa mereka musuh kita?" Suara berat di sampingnya mengejutkan Naeva yang sedang tegang.

Matanya melirik Abellard sekilas. Apa yang harus ia katakan?

"Bukan ...." jawabnya kemudian.

"Lantas kenapa kita harus bersembunyi?" tanya Abellard lagi.

"Kita bukan bersembunyi. Tapi memantau apa tujuan mereka."

"Mereka sepertinya memaksa masuk!" seru Abellard saat melihat seorang Prajurit mendorong bahu Marc agar memberi mereka jalan.

"Ya, Marc akan menahan mereka." Walau berkata seperti itu, Naeva sebenarnya merasa cemas dan tau Marc tak akan bisa menghentikan mereka.

"Tidak! Marc tak akan bisa menahan mereka. Aku harus membantunya!" seru Abellard sembari bergegas turun.

"Richard! Tunggu dulu!" teriak Naeva panik.

Namun bukan Abellard namanya jika langsung mendengarkan larangan orang lain.

Langkah kakinya bergerak cepat menuruni tangga menara. Hingga saat Naeva mencapai pintu, laki-laki itu telah menghilang di bagian kelokan tangga.

"CK!" Naeva berdecak kesal dan cepat-cepat menyusul dengan sebelah tangan mengangkat gaunnya.

Sesampainya di bawah, Anne langsung menyerocos dengan kepanikannya.

"M'mselle! Monsieur Richard telah berlari keluar. Dia pasti telah ketahuan!"

Jantung Naeva yang berdetak kencang karena baru saja berlari semakin berdentum karena rasa takut. Apa yang akan dipikirkan Abellard setelah mengetahui semuanya?

Kaki Naeva melangkah gontai ke arah pintu.

Dilihatnya seorang laki-laki berpakaian megah seperti yang dikatakan Anne menghampiri Abellard dengan bibir tersenyum. Lalu membungkuk hormat.

"Bonjour, Monsieur Comte ...."

"Comte?" tanya Abellard dengan nada bingung.

Naeva terpaku di ambang pintu dengan nafas tertahan. Sementara keringat dingin mulai bermunculan di dahinya. Hatinya benar-benar takut.

"Ya, anda Monsieur," jawab utusan bertubuh gemuk itu.

"Hahaha!" Tiba-tiba Abellard tergelak di hadapan para utusan. Naeva sampai terkejut mendengarnya. Abellard kemudian menoleh ke belakang, pada Naeva.

"Apa kita mendapatkan kejutan? Sepertinya keluarga yang yang telah mengusir kita, kini datang memberikan gelar itu kembali?"

Naeva tak menjawab.

Sebelumnya ia telah menceritakan kepada Abellard sejarah keluarganya yang didepak dari keluarga bangsawan.

'Jadi sebenarnya keluarga besar kita

masih ada? Aku tak akan memaafkan mereka yang telah menelantarkan kita!' murka Abellard kala itu.

Dan sekarang, sepertinya Abellard mengira utusan itu datang dari keluarga Naeva.

"Pardon Monsieur, kami tak membutuhkan gelar itu! Kami bisa hidup bahagia tanpa embel-embel gelar!" tolak Abellard dengan nada tegas.

Utusan itu mengernyit bingung.

"Monsieur Comte, apa maksud anda dengan mengusir? Anda menghilang lima bulan yang lalu. Dan kami telah mencari anda kemana-mana selama ini. Entah kenapa, kastil ini luput dari penggeledahan. Tapi syukurlah, akhirnya kami menemukan anda."

"Anda salah mengenal orang, Monsieur!" jawab Abellard.

Orang itu terdiam sejenak, lalu berkata dengan yakin, "tidak, saya tak mungkin salah dalam mengingat wajah anda, walau ini sudah berjalan lima bulan lamanya sejak anda menghilang. Anda lah Monsieur Comte Abellard Marseille! Apa anda melupakan saya, Monsieur?"

"Saya ... Comte Abellard Marseille?" Abellard mengeja nama itu kembali setengah berbisik.

"Ya, anda menghilang sejak lima bulan yang lalu. Saya Dupon, ditugaskan ibu anda, Comtesse, untuk mencari dan membawa anda kembali ke Marseille."

"Marseille? Saya berasal dari Marseille?"

Laki-laki bertubuh tambun itu tak langsung menjawab. Matanya menelisik Abellard untuk beberapa saat, seperti sedang mencari tahu kenapa tuannya menjadi linglung seperti itu.

"Ya, anda lahir dan besar di kastil Marseille, Monsieur! Apa anda telah melupakan semuanya?"

"Ya ... saya kehilangan ingatan...." Jawaban Abellard terdengar begitu pelan, seperti sedang mencerna kondisi membingungkan yang dihadapinya saat ini.

"Oh mon Dieu!" laki-laki bernama Dupon itu terperanjat hingga mulutnya terbuka lebar.

Setelah meredakan keterkejutannya, Dupon melirik Naeva, juga Marc dan Edwar dengan raut curiga.

"Nama anda Comte Abellard Marseille, Monsieur! Apa anda mendapatkan nama lain di sini?"

"Tidak, anda keliru." Abellard menggelengkan kepalanya. "Nama saya Richard, Richard de Gaulle!" tegasnya masih menolak.

Dupon menghela nafas.

"Itu bukan nama anda yang sebenarnya. Anda kehilangan ingatan sejak lima bulan yang lalu, wajar sekali kalau anda sudah mulai meyakini nama anda yang sekarang."

"Tidak, anda semakin keliru, Monsieur Dupon! Saya sudah meyakini nama itu sejak pertama kali sepupu saya Naeva memberitahu."

Dupon kali ini menatap Naeva lurus-lurus dan tajam.

Naeva merasa tungkainya benar-benar melemah, bukan karena tatapan tajam utusan bernama Dupon itu. Tapi karena ketakutannya selama ini telah terjadi.

Ia harus memberitahukan Abellard yang sebenarnya. Apapun tanggapan laki-laki itu setelahnya.

Perlahan Naeva menghampiri Abellard dan berdiri di sampingnya.

"Pardon Monsieur Dupon, saya meminta waktu untuk menjelaskan semuanya. Anda tak perlu khawatir saya akan mengatakan yang lain selain kebenaran padanya."

Dupon mempertimbangkan permintaan Naeva sejenak. Baru kemudian mengangguk dengan sebuah peringatan tajam, "saya akan memegang kata-kata anda, M'mselle!"

"Menjelaskan apa?" tanya Abellard.

"Masuklah dulu. Aku akan menjelaskannya di dalam."

**

Abellard duduk di hadapan Naeva dengan raut bingung. Sementara Naeva duduk dengan wajah pucat serta pasrah.

Mereka hanya berdua di ruang duduk itu, Naeva ingin menjelaskan semuanya dari hati ke hati. Ia memang telah memprediksi hari ini akan terjadi, yang mana Abellard akan mengetahui semuanya. Tapi sungguh, Naeva tak ingin laki-laki itu membencinya.

"Apa yang ingin kau sampaikan? Kau mengenal laki-laki tadi?"

"Tidak, aku juga baru melihatnya hari ini. Kau lah yang mengenalnya, hanya saja semua telah hilang dari ingatan mu."

"Jadi ... yang dikatakan laki-laki itu benar? Aku ... aku bukanlah Richard?"

"Ya, seperti kata laki-laki itu, kau adalah Monsieur Comte Abellard dari Marseille."

Abellard terdiam dalam waktu yang lama. Naeva pun tak melanjutkan kata-katanya, takut Abellard tertekan dengan kenyataan ini.

"Jadi kita bukan saudara?" tanya Abellard kemudian.

Dan raut wajah pria itu saat ini benar-benar diluar dugaan. Abellard terlihat antusias dengan mata yang berbinar.

"Ya, kita bukan saudara, aku hanya menemukanmu saat terluka. Sebenarnya kau adalah pemenang taruhan ...."

Belum selesai perkataan Naeva, tiba-tiba Abellard berseru penuh semangat sembari bangkit dari duduknya.

"Syukurlah! Ini ... ini benar-benar keajaiban! Aku tau, semua ini terjadi karena cintaku yang tulus padamu! Tuhan memberikan kita keajaiban!" sambungnya dengan raut takjub.

Naeva terdiam. Hatinya bergetar mendengar kata-kata Abellard. Baginya, reaksi Abellard lah yang bagaikan keajaiban.

"Aku akan pulang, Sayangku. Aku akan memberitahu keluargaku di sana! Bahwa aku akan menikah dengan gadis yang telah menyelamatkan nyawaku dan menawan hatiku!"

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

ternyata abellard benar an suka

2023-11-19

0

💞 RAP💞

💞 RAP💞

Wkwkwk mulai bucin ni

2023-02-19

0

momy ida

momy ida

daebakkkkkkkkkkk😆......akankah richad tetap mencintai naeva setelah dia tau kebenarannya nanti.........???

2022-10-29

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!