"Sambil menunggu kereta diperbaiki, maukah kau duduk bersamaku di kayu itu?" tunjuk Marc pada sebatang pohon tumbang yang berada di samping jalan.
Daerah itu masih diapit hutan lebat. Naeva pernah mendatangi hutan itu bersama Marc untuk mencari jamur.
Naeva mengangguk dan mengikuti langkah Abellard.
Tiba-tiba sebuah ide berkelebat di dalam kepala gadis itu. Ia akan memenuhi janjinya untuk membawa Abellard ke suatu tempat yang lebih indah dari hutan di belakang kastil.
Di dalam hutan ini lah tempatnya. Naeva akan menjadikan kebersamaan mereka nanti sebagai kenangan terindah sebelum takdir memisahkan.
"Abellard, aku akan memenuhi janjiku waktu itu. Apa ... kau bersedia ikut?" tanya Naeva dengan jantung yang tiba-tiba berdetak kencang.
Langkah Abellard terhenti. Wajahnya yang rupawan langsung menoleh pada gadis itu dengan raut senang.
"Kau sungguh-sungguh?"
"Ya," Naeva mengangguk.
"Tapi kita harus pergi diam-diam." Abellard melihat ke belakang, pada para utusan dan pengawalnya. Sementara Marc sedang sibuk membantu melepaskan kuda dari kereta yang patah.
"Diam-diam?" Nafas Naeva seakan tertahan, membayangkan dirinya pergi diam-diam ke dalam hutan bersama bangsawan yang memiliki ketampanan melebihi seorang pangeran dari negeri dongeng itu.
"Ya, mereka tak akan membiarkan kita pergi hanya berdua jika tau. Aku akan mengambilkan obor untuk penerangan kita nanti," jawab Abellard.
"Tidak perlu, kita hanya membutuhkan satu toples kaca."
"Toples kaca?"
"Ya, aku akan memberitahu maksudku nanti."
"Baiklah aku akan mencarinya di dalam kereta!" ujar Abellard dengan raut penuh semangat.
**
Begitu tak ada yang melihat, Naeva dan Abellard segera berlari ke dalam hutan.
Tangan kiri Abellard memegang sebuah toples kaca, sementara tangan yang satunya lagi meraih tangan Naeva dan menggenggamnya erat.
Naeva terkejut merasakan kokohnya tangan Abellard saat bertautan dengan telapak tangan dan jemarinya. Sentuhan yang membuat hatinya bergetar. Terasa begitu melindungi dan menghadirkan rasa candu yang mendebarkan.
Setelah berlari jauh sembari menyibak semak-semak yang menghadang di tengah jalan, akhirnya Naeva mengurangi kecepatannya dengan nafas tersengal.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Abellard.
"Belum, sebentar lagi. Tapi kita harus cepat, agar bisa sampai sebelum gelap."
Setelah beristirahat sejenak, kaki Naeva kembali terayun untuk berlari dengan tangan kiri tetap dalam genggaman Abellard.
Lima belas menit kemudian, suasana di sekitar mereka mulai gelap, hanya terlihat remang-remang diterangi cahaya bulan yang menerobos dedaunan. Tapi Naeva cukup merasa yakin untuk tidak tersesat.
"Kita sudah sampai!" seru Naeva dengan nada gembira.
Dalam remang cahaya, Abellard bisa melihat senyuman manis gadis itu. Mata biru tuanya menatap sendu.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan di sini? Apa kau ingin...."
"Jangan berpikir macam-macam dan jangan melihatku. Lihatlah ke depan!" tukas Naeva dengan pipi memerah.
Mata Abellard menatap ke depan seperti permintaan Naeva. Dan laki-laki seketika berdecak kagum.
"Wah, bagaimana ada taman bunga di tengah hutan lebat seperti ini?!" serunya takjub saat melihat sebidang tanah berumput yang di penuhi pohon bunga-bunga cantik. Seperti disoroti cahaya dari langit, taman itu diterangi cahaya bulan tanpa terhalang rimbunnya pepohonan.
"Mungkin karena di sini tak terlalu banyak pohon besar, jadi bunga-bunga ini mendapatkan sinar matahari yang cukup, hingga berkembang biak dengan subur," jelas Naeva.
"Ini pasti akan lebih indah di siang hari."
"Tidak juga. Kau akan melihat keindahannya sebentar lagi. Seperti sebuah keajaiban!" bantah Naeva misterius.
Abellard menatapnya penasaran, namun kemudian ia tersenyum. "Baiklah, aku akan sabar menunggunya. Seperti halnya aku bersabar menunggu pernyataan cintamu untukku."
Naeva tersipu dan memalingkan wajahnya, walau ia tahu pipinya yang memerah tak akan nampak di keremangan.
Abellard melangkah ke arah kanan, menuju potongan batang-batang pohon.
"Apa di hutan ini banyak penebangan liar?"
"Aku tak tahu. Belum pernah berjumpa dengan penebang kayu selama aku mendatangi hutan ini," jawab Naeva sembari mengikuti langkah Abellard.
"Bersama Marc?" tanya Abellard dengan nada cemburu.
"Ya," jawab Naeva singkat. Ia paling tak suka jika Abellard mulai menunjukkan persaingan terhadap Marc.
Baginya kedua laki-laki itu sama-sama penting, tapi dalam bagian hati yang berbeda.
"Kau juga akan berduaan dengannya dalam suasana gelap seperti ini?" kali ini nada suara Abellard terdengar sinis.
Langkah Naeva seketika terhenti. Ia berdiri di hadapan laki-laki yang telah duduk di atas batang pohon itu dengan raut tersinggung. Lalu berbalik dan membelakangi Abellard.
"Ma-maaf, aku telah menyinggung perasaanmu, aku ... hanya cemburu," suara Abellard terdengar panik.
Tapi Naeva tak ingin langsung berbalik kembali.
"Apa kau tak suka aku cemburu pada Marc?"
"Ya, bagiku Marc memang penting, tapi tak seperti yang kau pikirkan."
"Baiklah maafkan aku. Duduklah di sini. Kita akan menunggu keajaiban yang ingin kau tunjukkan," jawab Abellard sambil menepuk-nepuk batang kayu di sampingnya, seperti sedang menenangkan anak kecil yang sedang merajuk.
Dan benar saja, Naeva berbalik kembali dengan bibir manyun seperti bocah.
"Ah, kau sangat menggemaskan. Semoga saja keajaiban itu cepat muncul, sebelum pertahanan ku goyah.
Naeva kembali memalingkan wajahnya yang terasa panas akibat kata-kata Abellard. Laki-laki ini terlalu terbuka dan dengan mudah mengungkapkan perasaannya.
Tidak seperti dirinya, yang paling susah mengungkapkan isi hati. Apapun yang dirasakan, Naeva lebih suka memendamnya sendiri. Mungkin karena dirinya telah terbiasa memendam rasa kesal, marah, kecewa dan juga cintanya terhadap ayahnya, yang meninggalkannya demi menghabiskan waktu di meja judi.
"Aku ... ingin mengungkapkan sesuatu. Mungkin kau akan membenciku setelah mendengarnya," ucap Naeva pelan.
"Aku tak akan pernah membencimu," tukas Abellard.
"Ini masalah namamu. Aku telah berbohong padamu dengan menamakan mu Richard, aku ... memanfaatkan mu."
"Aku tau! Tapi seandainya pun aku tak kehilangan ingatan, aku pasti tetap akan menyukai nama pemberian mu. Dan aku sangat bersyukur Tuhan mentakdirkan aku hilang ingatan di saat kau temukan. Mungkin, jika kepalaku tak terbentur, aku masih seorang Abellard perayu wanita, dan kau pasti akan membenciku," jawab Abellard.
Naeva menghela nafas lega. Ternyata tanggapan Abellard tak menakutkan seperti bayangannya.
"Apa ... kau tak ingin tahu alasanku membohongimu?"
"Alasanmu? Tentu saja, jika kau berkenan."
Naeva menelan salivanya, tiba-tiba ia merasa gugup. Walau Abellard tak keberatan dibohongi, tapi bagaimana tanggapan laki-laki itu jika tahu dirinya adalah seorang gadis taruhan judi yang ingin melepaskan diri dengan memanfaatkan keadaan Abellard yang amnesia?
Naeva menarik nafas dalam-dalam dan berusaha memberanikan diri. "Sebenarnya aku ini ...."
"Lihat! I-itu apa?" Tiba-tiba Abellard bangkit dengan raut takjub menunjuk ke depannya.
Naeva mengangkat wajahnya dan tersenyum.
"Itu lah keajaibannya. Apa kau tak pernah melihat kunang-kunang?"
"Entah lah ... mungkin pernah, tapi aku hanya ingat namanya saja, karena sepertinya yang pernah ku lihat tidak bercahaya kuning seperti ini."
Kening Abellard tampak mengernyit dalam beberapa menit, hingga kemudian laki-laki itu berseru antusias. "Ya, ya! Aku ingat sekarang! Aku melihatnya di selembar foto. Makanya aku tak tahu jika warna lampunya itu kuning."
Naeva langsung menoleh kaget, "kau ingat?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Bzaa
photo yg dibawa2 ayahnya naeva kyknya
2023-11-19
0
💞 RAP💞
aku jg deg~degan nunggu nya
2023-02-19
0