Setelah 3 hari berlalu, Abellard sama sekali tak mengeluh pusing-pusing atau bermasalah dengan ingatannya. Ia masih berpikir dirinya adalah Richard, pemuda biasa yang tinggal di kastil tua sepupunya.
Naeva pun kini selalu bersikap baik seperti janjinya.
Hal itu ternyata malah membuat hatinya lega. Karena sebenarnya, sulit sekali bagi Naeva untuk bertahan dalam tekadnya membenci Abellard. Sosok Abellard seolah memiliki magnet yang menarik hati dan pikirannya.
Gemericik air dari perairan kecil yang mengalir di belakang Kastil Wisteria, terdengar seperti melodi indah yang mengiringi lamunannya.
Naeva membersihkan sekop kebun yang belepotan tanah di air yang mengalir itu dengan bibir yang senantiasa tersenyum.
"Kau sedang memikirkan ku?" Sebuah suara berat membuyarkan lamunannya.
Naeva mendongak. Ah, ternyata lamunan itu berubah menjadi kenyataan.
"Ya, aku memikirkan mu. Kau pasti cocok memegang sekop ini di depan liang kubur," Naeva mengatakannya dengan tersenyum simpul.
"Kau mau mengatakan aku ini cocok menjadi penjaga kuburan?" Pria itu melipat kedua lengan berototnya di depan dada.
"Aku ini lebih cocok menjadi penjaga hatimu," sambungnya sembari menaikkan sebelah alis dengan raut menggoda.
Naeva terdiam. Entah bagaimana jadinya jika ia benar-benar jatuh cinta pada Abellard. Perasaannya pasti tak akan berjalan dengan baik.
Jika Abellard terus menjadi Richard, Naeva hanya berani menjadi sepupunya. Dan jika Abellard telah kembali pada jati dirinya sendiri, Naeva hanya akan menjadi wanita simpanan laki-laki itu.
Seperti buah simalakama.
Melihat Naeva hanya terdiam, Abellard ikut berjongkok di sampingnya.
"Apakah tak boleh, aku menjaga hatimu untukku?" tanya pria itu perlahan.
Namun kata yang perlahan itu mampu mengguncang hati Naeva. Gadis itu merasakan nafasnya tertahan. Pipinya terasa panas.
Ada lonjakan perasaan yang tak menentu di dalam dadanya. Bahagia namun sakit. Di satu sisi hatinya, ia ingin Abellard meneruskan rayuannya. Namun di bagian hatinya yang lain, ia ingin Abellard berhenti bersikap manis agar ia tak serba salah seperti ini.
"M'mselle!!" Panggilan panik Anne menyentak keduanya.
"Ada apa Anne?!" tanya Naeva kaget.
"Tabib datang mbawa kabar buruk. Wajahnya pucat sekali!"
Naeva dan Abellard spontan saling bertatapan.
"Kabar buruk apa?" Naeva menghampiri Anne.
"Kami tak diberitahukan, M'mselle. Dia menunggu anda dan Monsieur Richard."
"Baiklah, mari kita menemuinya!"
Tabib yang telah dua kali merawat Abellard itu duduk di atas sofa beludru merah dengan raut gelisah. Pria itu langsung berdiri saat Naeva dan Abellard datang.
"Ada apa Monsieur? Anda ingin menyampaikan sesuatu?" tanya Naeva.
"Ya, M'mselle. Ada kabar buruk!"
"Kabar buruk apa?" Naeva seketika tegang mendengar perkataan sang Tabib.
"Sebelumnya saya hendak minta maaf. Saya benar-benar tak berdaya hingga terpaksa membiarkan Anda dalam bahaya."
Kening Abellard mengernyit was-was. Tubuh tegapnya refleks berdiri maju sedikit di depan Naeva. Siaga memberikan perlindungan saat mendengar kata bahaya yang ditujukan untuk gadis itu.
"Bahaya apa?" tanya pria itu kemudian.
"Segerombolan orang bersenjata api mendengarkan saya membicarakan anda, Monsieur Richard, pada seorang teman sejawat. Mereka kemudian tahu bahwa sekitar 2 minggu lalu saya merawat pasien yang terluka parah di Kastil ini." Sang Tabib berhenti sesaat untuk menarik nafasnya. Berbicara dalam keadaan tegang membuatnya cepat kehabisan nafas. Matanya sampai melotot saking tegang.
"Lalu mereka memaksa saya dengan ancaman senjata api agar membawa mereka kemari. Saat itu barulah saya tahu bahwa mereka adalah orang yang telah menyakiti anda. Dan sekarang, mereka sudah berada di gerbang!"
Naeva refleks menarik lengan Abellard.
"Kau harus pergi dari sini. Aku akan bersamamu!"
Marc yang berdiri tak jauh dari mereka langsung mendekat.
"Tidak M'mselle. Biar aku saja yang membantu Monsieur Richard kabur!" sanggahnya.
"Marc, hanya kau dan aku yang tahu seluk-beluk hutan. Sementara di sini, keluarga kita membutuhkan seorang laki-laki dewasa yang bisa melindungi. Biar aku saja yang pergi membawa Richard!"
"Baiklah, M'mselle." patuh Marc.
Naeva segera berlari ke dalam kamarnya. Mengambil senjata api milik ayahnya yang tak pernah digunakannya selama ini.
"Ini, pakai senjata ini untuk berjaga-jaga. Tapi aku yakin, mereka tak akan berani menyakiti pemilik rumah secara terang-terangan," serah Naeva pada Marc.
Marc mendorong tangan Naeva untuk menolak.
"Tidak, M'mselle. Anda lebih membutuhkannya. Seperti kata anda, mereka tak akan berani menyakiti kami."
"Jangan membantah, Marc! Simpan senjata ini. Aku akan kembali setelah matahari terbenam nanti!" tegas Naeva.
Tanpa memperpanjang perundingan, Naeva dan Abellard mulai berlari keluar melalui pintu belakang kastil.
Kemudian sekuat tenaga berlari kencang menyeberangi tanah lapang yang berumput pendek di belakang kastil dan menghilang di dalam hutan.
**
Abellard mengikuti langkah Naeva dari belakang. Ingin rasanya ia menggenggam tangan gadis itu dan berjalan di sampingnya, seandainya ia juga tahu arah yang mereka tuju.
"Kita sudah berjalan 300 meter dari kastil. Tapi ini masih belum aman jika mereka menyusul ke hutan," jelas Naeva tanpa melihat ke belakang.
"Kau tidak lelah?" tanya Abellard.
"Tidak. Kita baru beberapa menit berjalan."
Abellard tersenyum kagum. Naeva adalah gadis mandiri. Gadis itu selalu terlihat kuat dan tak pernah menyerah saat sedang bersikap peduli pada orang lain.
Abellard tak tahu bagaimana dengan sikap wanita yang lain. Ia melupakan semuanya. Tapi kalaupun ia ingat kembali, dirinya yakin akan tetap mengagumi Naeva.
Setengah jam berlalu, mereka akhirnya mencapai sungai kecil yang melintang di tengah perjalanan. Sungai yang mengalir dengan air yang sangat jernih. Bunga mawar hutan yang berwarna-warni tumbuh subur di sekitar sungai. Anyelir merah muda diantara semak dan anggrek putih di dahan pohon.
Kicauan burung dan suara tupai yang melompat di dahan-dahan, terdengar bagaikan lirik lagu ditengah suara aliran sungai yang mengiringinya.
Langkah Naeva berhenti.
"Kita beristirahat di sini," ujarnya.
Abellard ikut berhenti. Matanya menatap ke sekeliling dengan perasaan takjub. Pemandangannya benar-benar indah. Abellard merasa tak pernah melihat pemandangan hijau dan berwarna-warni seperti ini.
Dan memang sebenarnya Abellard belum pernah melihat hutan dan keindahannya, karena kastilnya di Marseille berada di tepi laut.
"Ini sangat indah," gumamnya dengan wajah terpukau.
Naeva menoleh. Lalu tersenyum melihat ekspresi laki-laki itu.
"Kau sama sekali tak terlihat khawatir tentang orang-orang yang sedang mengejar mu."
"Untuk apa aku khawatir jika sedang bersamamu?"
Mata Abellard beralih menatap Naeva dengan tatapan penuh cinta.
Namun Naeva cepat-cepat berpaling. Ia tak mau larut dalam tatapan mata dan rayuan yang menghanyutkan itu. Walau dalam hati ia sangat suka. Bahkan mendamba.
"Sepertinya karakter penggoda itu memang ada dalam jiwamu." Sekilas Naeva melirik dengan ujung mata.
Tampak kening Abellard mengernyit mendengar kata-katanya.
"Menggoda? Aku tak pernah bermaksud menggoda. Semua kata yang aku ucapkan merupakan ungkapan hati. Aku tau ini memang gila, tapi sepertinya aku tipe laki-laki yang tak bisa memungkiri perasaan."
Naeva mendengarkan perkataan Abellard dengan hati yang berdebar. Perasaan yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya kembali mendera. Rasa ingin terus dirayu dan didekati.
Ia ingin menjadi milik Abellard, dan Abellard menjadi miliknya.
Oh ... apa yang telah dilakukan laki-laki ini pada hatinya?
Ia tak boleh larut. Sungguh ia tak boleh.
Naeva segara mengalihkan pikirannya pada tupai yang berkejar-kejaran dengan pasangannya dan saling melompat. Suasana di sini terlalu syahdu dan mudah sekali memancing percikan romantisme. Ia tak boleh kehilangan akal sehat.
Namun apa daya, jantungnya semakin berdebar-debar saat ujung mata kembali ingin melirik dan melihat Abellard melangkah ke arahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Bzaa
cantik, tegar, mandiri dan putri bangsawan, wajar kl abellard terpesona 😉
2023-11-19
0
💞 RAP💞
😍😍😍🤩🤩🤩
2023-02-19
0
Dianti Rahayu
mereka yg jatuh cinta..kenapa aku ikut baper 🥰
2022-10-16
1