Naeva segera memberikan kode untuk mengajak Marc pergi. Keduanya langsung berbalik dan buru-buru menjauh.
"Hey! Tunggu dulu!" panggil sang Prajurit.
Naeva dan Marc sama sekali tak menoleh.
"Ah, sudahlah! Kau telah membuat mereka marah," kesal laki-laki itu pada temannya.
Naeva terus melangkah bersama Marc. Kali ini Marc tak mengikuti dari belakang, ia ingin berada di sisi Naeva jika sampai terjadi sesuatu.
Ternyata, beberapa orang prajurit lain juga tampak sedang menyisir setiap sudut pasar.
Naeva langsung menarik Marc ke dalam sebuah gerai minuman dan makanan ringan. Kebetulan juga ia dan Marc butuh energi untuk menempuh perjalanan pulang yang lumayan jauh.
Aroma roti panggang dan kayu manis langsung tercium begitu mereka memasuki gerai.
"M'mselle, anda ingin makan apa? Biar saya yang pesankan," tanya Marc gentle.
"Aku ingin roti dengan taburan kayu manisnya, Marc. Aku akan menunggumu di meja sudut kanan sana," tunjuknya ke arah meja yang tak bertuan.
"Baik, M'mselle."
Begitu mencapai meja kosong itu, Naeva langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kursi. Lelah rasa tubuhnya setelah berbelanja.
"Apa kalian tahu? Dua Minggu yang lalu, aku menyaksikan sebuah pertaruhan judi yang paling dahsyat!" Seorang pelanggan berpakaian rapi yang sepertinya sedang mabuk tiba-tiba menyerocos dengan suara keras.
Naeva hanya menengok sesaat, lalu kembali melihat Marc yang sedang berjalan menghampirinya.
"Para bangsawan ternama berkumpul untuk mengadu keberuntungan. Aku paling suka melihat Tuan Muda itu! Tuan Abellard!! Dia mengalahkan semua bangsawan," racau pria itu lagi.
Tubuh Naeva kembali menegang mendengar nama itu. Kenapa semua orang harus membicarakan laki-laki tak penting itu?
Sementara Marc, langsung duduk di hadapan Naeva dengan raut khawatir.
"Bahkan malam itu dia memenangkan seorang gadis cantik. Hahaha... Beruntung sekali Tuan Muda itu. Aku sendiri melihat fotonya. Gadis itu cantik sekali. Dan aku tahu persis, dua hari yang lalu dia pergi menjemput harta karunnya itu."
Sekarang tubuh Naeva benar-benar membeku. Pria mabuk bertubuh tambun itu ternyata mengetahui peristiwa judi ayahnya dengan Abellard.
"Excusez moi mesdames et messieurs!" (Permisi Tuan-tuan dan Nyonya)
Kata-kata pria mabuk itu seketika terhenti, saat sebuah suara yang keras dan juga tegas menyentak setiap pelanggan gerai.
Di ambang pintu gerai berdiri beberapa orang prajurit dengan tatapan tajam menyisir seluruh ruangan.
"Kami meminta waktu anda semua untuk menjawab pertanyaan kami mengenai seorang Comte yang sedang hilang!"
Jantung Naeva seketika berhenti berdetak!
"Gawat!!" bisiknya pada Marc.
Wajah Naeva tampak pucat pasi. Bagaimana kalau sampai pria mabuk itu diintrogasi?
"Semuanya jangan berpindah dari tempat duduk anda. Agar setiap orang bisa kami tanyakan!" Suara lantang prajurit itu kembali terdengar.
"Sebenarnya ada apa?"
"Bangsawan yang mana?"
"Hilang kenapa? Diculik kah?"
Berbagai pertanyaan terdengar dari bisik-bisik pelanggan gerai.
3 orang prajurit itu mulai bertanya pada pelanggan yang duduk di kursi paling depan. Sementara laki-laki mabuk itu duduk di bagian tengah dan Naeva bersama Marc di sudut belakang.
"Apakah yang menemukannya akan mendapatkan uang?" tanya laki-laki yang sedang diintrogasi.
"Apa di dalam otak orang kecil seperti kalian hanya ada uang?!" Salah satu prajurit balas bertanya dengan nada membentak. "Untuk saat ini tak ada imbalan apapun. Tapi kalau sampai kalian diketahui sengaja menculik Tuan Abellard, maka hukuman mati akan langsung kalian dapatkan!!" tegasnya.
Naeva tercekat mendengar ancaman itu.
Ah, nasib malang ternyata masih mengintainya. Tak ada angin tak ada hujan, laki-laki itu datang sendiri ke kastilnya. Dan sekarang kalau sampai ketahuan laki-laki itu ada di kastil nya, tentu ia akan dituduh menyekap Abellard dengan sengaja. Apalagi laki-laki itu telah ia berikan nama palsu.
"Sepertinya umurku tidak panjang," keluhnya dalam hati.
Prajurit itu mulai bergerak ke meja bagian tengah.
Jantung Naeva semakin berdetak kencang. Nafasnya tertahan dengan mata terus memperhatikan ketiga orang berseragam itu. Tinggal dua pelanggan lagi, maka laki-laki mabuk akan mendapatkan giliran.
"Mademoiselle," bisik Marc.
Naeva beralih menatap Marc.
"Kita harus membawa laki-laki itu keluar dari sini!"
Gadis itu langsung mengangguk setuju.
Keduanya kemudian bangkit menghampiri meja laki-laki bertubuh tambun yang masih terus menenggak minumannya.
Mereka harus mengeluarkan banyak tenaga untuk menyeret tubuh besar itu keluar.
"Bonjour, Oncle! (Paman) Sudah cukup minumnya. Di sini sedang ada interogasi serius. Kami akan mengantarkan anda pulang," ujar Naeva sengaja mengencangkan suaranya.
Ketiga Prajurit itu menoleh pada Naeva.
"Merci, Monsieur... Paman ini sudah mabuk berat. Kami khawatir dia akan mengacaukan proses interogasi ini, jadi biarkan kami membawanya keluar," ujarnya harap-harap cemas.
Prajurit berkumis memperhatikan Naeva dan pria mabuk sesaat. Matanya menatap tajam penuh selidik. Seolah ingin mencari kejanggalan pada wanita cantik yang tiba-tiba menawarkan diri untuk membantu.
"Baiklah. Cepat bawa keluar laki-laki itu dan kembalilah kemari!" sahut prajurit yang kurus.
"Baik, Monsieur!" Naeva cepat mengangguk.
Marc segera menggamit lengan bulat pria mabuk dan mengangkatnya.
PLAK!
Tangan Marc ditepis dengan keras.
Namun pria muda berwajah tampan dengan mata abu-abu itu tak mengaduh ataupun mengeluh. Ia kembali mengangkat tangan itu demi menyelamatkan nona-nya.
Naeva sendiri ikut mengangkat tangan yang sebelah lagi ke atas bahunya. Bau alkohol seketika menguar dari wajah bundar pria itu.
Sampai di pintu keluar gerai minuman itu, Naeva mulai terengah-engah. Tapi ia harus tetap kuat sampai bisa menyingkirkan pria mabuk dari interogasi prajurit.
"Biar saya yang mengangkatnya sendiri, M'mselle. Anda mengikuti saja," ucap Marc melihat Naeva kepayahan.
"Tidak, Marc. Aku masih kuat."
Langkah kaki mereka terus menyusuri jalan berdebu yang diapit barisan gerai.
Hingga kemudian mereka menemukan sebuah gerai tua yang sepertinya tak lagi dipakai sebagai lapak berdagang oleh pemiliknya.
"Kita bawa masuk ke dalam gerai itu saja, Marc!"
Marc mengangguk setuju.
Pemuda itu membuka pintu gerai dengan sebelah tangannya. Lalu mendudukkan tubuh gemuk si pria mabuk di atas bangku usang di dekat dinding gerai.
"Ya, Tuhan! Bahuku serasa patah..." desis Naeva setelah beban tangan besar itu terlepas dari pundaknya. Ia memijat-mijat bahunya yang menjadi mati rasa.
"Mari kita pergi, Marc! Laki-laki ini akan keluar sendiri setelah sadar."
Marc mengangguk.
"Kita lebih baik segera pulang, M'mselle," usul Marc dengan wajah khawatir.
"Iya, kita langsung pulang."
Gadis itu menarik nafasnya dalam-dalam. Oksigen di dalam paru-parunya serasa terkuras habis karena kelelahan dan rasa tegang.
Tubuh rampingnya kemudian berbalik untuk keluar.
TAP!
Tiba-tiba tangan Naeva terasa ditarik seseorang.
Gadis itu sontak menoleh. Ternyata tangannya ditarik pria mabuk. Kepala pria itu tak lagi terkulai di dinding batu gerai. Ia menatap Naeva dengan matanya yang merah.
"Aku tau perempuan ini! Wajah cantik yang menarik. Bola mata yang berbinar dan pintar ... ya, bola mata inilah yang dikagumi Monsieur Comte Abellard! Aku memperhatikannya," ujar laki-laki itu dengan suara yang mendayu akibat mabuk. "Aku selalu memperhatikannya," ulangnya lagi.
Naeva langsung menundukkan wajahnya dan menepis tangan yang memegang lengannya.
"Tunggu dulu, jangan terburu-buru..." cegat pria itu. "Apa kalian tahu, hm? Pria tua itu ... tak sengaja meletakkan foto putrinya di antara tumpukan uang di atas meja taruhan." Senyuman sinis tampak terlihat di bibir tipisnya.
"Melihat foto itu, Monsieur Abellard langsung ikut bermain. Padahal selama ini ia tak akan bermain dengan uang taruhan yang sedikit, apalagi dengan seorang bangsawan tua yang terbuang, hahaha ...." Pria itu tertawa meremehkan.
Sementara Naeva terpaku dengan tangan terkepal dan bibir terkatup rapat. Wajahnya kini terangkat menantang, dengan mata menghujam tajam pada wajah laki-laki tambun itu.
Tapi sepertinya pria mabuk itu masih ingin melanjutkan ceritanya.
"Monsieur Abellard memiliki banyak wanita simpanan yang cantik-cantik, badan aduhai dengan perhiasan yang memenuhi tubuh molek mereka. Tapi sepertinya dia menemukan barang mainan baru ...."
Buk!
Sebuah pukulan keras dilayangkan Marc ke wajah pria itu. Hingga kepalanya kembali terkulai dan tak sadarkan diri.
Pipinya yang gemuk tampak berbekas merah akibat bogem mentah dari Marc.
Naeva menyentak tangan gemuk itu dari lengannya.
Ingatannya kini tertuju pada laki-laki yang telah ditolongnya semalam. Comte Abellard yang digelar Casanova oleh orang-orang, ternyata juga seorang pria berotak licik.
Hari Naeva benar-benar panas mendengarnya. Berani sekali orang-orang kotor itu menginginkan dirinya sebagai mainan.
Naeva tahu betul bagaimana kehidupan para bangsawan di kota besar Marseille. Para lelaki yang telah menikah masih tetap memiliki wanita lain sebagai pemuas hasratnya. Begitu pun dengan para istri mereka. Bergaun anggun dengan perhiasan yang memenuhi tubuh, mereka terlihat seperti wanita terhormat dan suci. Tapi diam-diam semua berebut memiliki affair dengan laki-laki muda dan tampan.
Naeva merapatkan rahangnya dengan hati geram, hingga giginya bergemeletukan.
"M'mselle," panggil Marc pelan. "Mari kita ...." perkataan Marc terpotong saat telinganya mendengar sesuatu.
Tap tap tap.
Suara langkah kaki seseorang yang melangkah pelan di depan gerai itu.
Naeva dan Marc terpaku dan bergeming.
Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu.
Jantung Naeva seolah berhenti berdetak. Matanya membulat ke arah pintu yang berjarak 4 langkah dari mereka dan tak terkunci.
Bagaimana kalau Prajurit menemukan mereka di dalam gerai bersama pria mabuk yang telah pingsan ini? Apalagi bekas pukulan Marc terlihat ketara di wajah laki-laki itu.
Ceklek!
Pintu itu terbuka, dan seseorang mendorongnya dari luar secara perlahan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Bzaa
degdegan aku....
2023-11-19
0
Dianti Rahayu
seperti melihat film...ikut tegang...
terimakasih thor utk novelnya.
2022-10-16
1
shafrilla
iya kak, semangat🎉😊🥰
2022-10-16
1