Bab 18

"Apa kau tak pernah melihat kunang-kunang?" tanya Naeva.

"Entah lah ... mungkin pernah, tapi aku hanya ingat namanya saja, karena sepertinya yang pernah ku lihat tidak bercahaya kuning seperti ini." Kening Abellard tampak mengernyit dalam beberapa menit, hingga kemudian laki-laki itu berseru antusias, "ya, ya! Aku ingat sekarang! Aku melihatnya di selembar foto. Makanya aku tak tahu jika warna lampunya itu kuning."

Naeva langsung menoleh kaget, "kau ingat?"

"Ya, aku ingat saat seseorang menunjukkan foto itu padaku," jawab Abellard senang.

"Apa mungkin ... ingatanmu mulai kembali?

"Sepertinya begitu ...."

Keduanya terdiam.

Bedanya, Naeva terdiam dalam kecemasan, sedangkan Abellard terpesona oleh hewan cantik yang ajaib itu.

Semakin lama, semakin banyak kunang-kunang keluar dari persembunyiannya, menghampiri bunga-bunga dan mendarat di rumput yang basah.

"Ini benar-benar menakjubkan, aku sangat menyukainya. Bagaimana kalau kita kembali saat musim dingin? Kunang-kunang itu pasti akan terlihat indah di atas salju!" Abellard berseru penuh semangat.

"Kunang-kunang tidak keluar di musim dingin, mereka ber-hibernasi"

"Oh ya? Jadi kita hanya bisa melihatnya di musim panas?"

"Begitu lah, antara ujung musim semi dengan musim panas."

"Setelah musim panas ini mereka akan hibernasi kembali?"

"Bukan. Mereka ... akan mati."

Abellard langsung menoleh kaget.

"Maksudmu?"

Naeva menarik nafas berat, dari matanya terlihat kesedihan. Jiwa penolong dan penyayang nya merasa getir mengingat mirisnya takdir hewan indah itu.

"Kunang-kunang hanya mampu bertahan hidup kurang dari satu bulan. Karena itu mereka memanfaatkan kesempatan hidupnya untuk berkembang biak. Sebelum mati mereka akan meninggalkan keturunan yang berupa larva. Larva itulah yang akan menjadi kunang-kunang di tahun depan."

"Jadi proses larva itu berubah menjadi hewan yang seindah ini butuh waktu sampai setahun?"

"Ya," jawab Naeva lirih.

Kunang-kunang mengingatkan gadis itu pada nasibnya. Sekian lama memendam rasa pada laki-laki yang sedang duduk di sampingnya, namun begitu mereka memiliki kesempatan untuk bersatu, perasaan itu sudah harus mati.

"Aku tak ingin seperti kunang-kunang!" gusar Abellard tiba-tiba. Seolah hati mereka sedang merasakan hal yang sama.

Laki-laki itu melangkah ke hadapan Naeva dan menatapnya dalam. "Aku tak mau kita berpisah setelah sekian lama menahan perasaanku!"

Naeva membuang muka ke arah lain.

"Kita mungkin akan seperti kunang-kunang. Kau dan aku berbeda kasta."

"Cukup! Kau yang mengajariku untuk tidak memandang kasta!" ketus Abellard penuh penekanan.

"Ya, tapi ini menyangkut keluargamu. Yang tak bisa dipungkiri akan memilih calon menantu dari kalangan bangsawan atas yang setara dengan kedudukan keluargamu," sergah Naeva getir. Hatinya terasa perih. Dada pun terasa sesak. Namun Naeta tak terbiasa menangis. Hingga rasa sesak itu semakin mendera dan membuatnya tersengal.

Abellard merunduk dan menyentuh lengan halus Naeva. Mengajak gadis itu berdiri menghadapnya. Lalu tangannya turun untuk menggenggam kedua tangan Naeva.

"Aku tak akan membiarkan kasta itu menjauhkan mu dariku. Aku tak ingin mengumbar janji dan membuat mu menilai diriku perayu. Tapi kau tahu, aku tipe orang yang akan memperjuangkan keinginanku. Bagaimana mungkin aku tak akan memperjuangkan cintaku?"

Naeva menundukkan wajahnya. Jantungnya kembali berdebar-debar, Naeva takut pipinya akan kembali memerah.

Abellard begitu dekat dengannya saat ini. Mata laki-laki itu mungkin dapat melihat dengan jelas helai manik matanya yang lentik.

Untuk beberapa saat laki-laki itu terus menggenggam tangannya dan menatapnya dalam.

Naeva hanya mampu menahan nafas. Merasakan tatapan Abellard yang tak berpindah sedikit pun dari wajahnya.

"Biar ku tebak. Toples ini untuk mengisi beberapa kunang-kunang yang akan menerangi jalan kita pulang, bukan?" tanya Abellard tiba-tiba.

Tanpa sadar Naeva menghembuskan nafas lega. Lalu mengangguk.

"Mari, kita ambil beberapa!"

Abellard melepaskan tangan halus itu dan mengambil toplesnya.

"Aku ... baru saja ingin mencium mu. Tapi, kau pasti tak akan mengijinkan, bukan?" tanya Abellard sembari berjalan ke rumpun bunga.

Kaki Naeva urung melangkah mendengarnya. Jantungnya kembali berdebar-debar. "I-iya," jawabnya terbata.

"Aku bisa saja mencuri ciuman darimu, karena aku sangat menginginkannya. Tapi Emma pernah bercerita, bahwa agamamu sangat suci dan melarang sentuhan antara pria dan wanita sebelum pernikahan. Larangan itu membuat cinta semakin sakral, dan aku sangat menyetujuinya."

Naeva menatap punggung lebar Abellard dengan perasaan yang membuncah dan bercampur aduk. Cinta, haru dan syukur yang tiada tara,

Bibirnya kemudian tersenyum. Ia sangat bersyukur, Tuhan mentakdirkan Abellard hilang ingatan dan tinggal bersamanya selama lima bulan ini. Sehingga bisa mengenal pribadi Abellard yang sebenarnya, bukan Abellard yang penuh kuasa dan kejam.

***

Hari kedua perjalanan mereka.

Langit mulai berwarna jingga oleh cahaya senja. Kusir mengatakan, bahwa mereka akan segera sampai.

Naeva memeluk toples kaca yang sejak kemarin malam ia bawa ke dalam keretanya. Tak ada lagi kunang-kunang di dalamnya. Bersama Abellard ia melepaskan hewan ajaib itu, ketika Marc beserta beberapa utusan menemukan keduanya dengan obor mereka.

Jantung Naeva berdegup keras saat ini. Membayangkan bagaimana reaksi sang Comtesse melihat kedatangannya.

Dua jam kemudian.

Naeva bisa mendengar suara ombak di kejauhan. Angin pun sepertinya berhembus kencang, terlihat dari penutup kereta yang kembang kempis.

Gadis itu membuka penutup di di depannya, dan seketika itu angin kencang menyapa wajahnya. Hangat dan berbau garam.

Naeva menyipitkan matanya.

Di depan sana berdiri dengan megah sebuah kastil dengan beberapa menara yang tinggi dan benteng yang kokoh.

Kastil itu dibangun tepat di tepi laut. Namun karena daratannya cukup tinggi dan berjarak sekitar 20 meter dari permukaan laut, membuat kastil itu terlihat seperti berada di ujung tebing.

Naeva menyentuh dadanya. Kastil itu membuatnya takjub. Kastil yang dibangun dengan batu Perancis yang berwarna putih khas itu terlihat kontras di tengah birunya air laut yang melintang di belakangnya. Cahaya Senja yang memantul di air laut, menciptakan kilau yang membuat kastil seolah berlatarkan berlian yang berkilauan.

Tak lama kemudian, kereta memasuki gerbang yang besar. Lajunya mulai melambat, namun terasa cepat bagi Naeva yang semakin merasa tegang.

Gadis itu menghela nafas ditengah rasa gugupnya. Lalu menutup kembali bagian depan kereta.

Oh ....

Akhirnya ia telah sampai. Benar-benar berada di kastil milik Abellard. Yang seharusnya ia datangi enam bulan yang lalu dengan status sebagai budak ataupun wanita simpanan.

"Kita sudah sampai, M'mselle!" seru Marc saat roda kereta telah berhenti berputar.

"Ya, Marc. Aku akan segera turun," jawab Naeva dengan jantung yang berdetak kencang.

Jemarinya yang tiba-tiba terasa membeku terus saling meremas dengan gugup.

Naeva tak beranjak dari tempat duduknya untuk beberapa saat, hingga kemudian penutup keretanya dibuka dari luar.

Ternyata Abellard yang membuka. Mata biru tuanya menatap hangat, seolah ingin menyelimuti gadis itu dengan perlindungannya.

"Turunlah, mereka akan membawa barang-barang mu."

Naeva melihat beberapa orang pelayan datang menyambut dan segera mengambil barang-barang.

Perlahan, ia menjulurkan kakinya ke pijakan tangga kereta.

"Abellard ... kastilmu ... sangat menakjubkan!" desahnya.

Abellard melirik bangunan itu sekilas. Namun kembali fokus pada Naeva.

"Ya, mungkin memang seperti itu. Apa kau masih cemas?"

Naeva menatap laki-laki itu sejenak, lalu menghela nafasnya.

"Ya, maafkan aku. Aku ... benar-benar cemas."

"Aku akan selalu di dekatmu apapun yang terjadi."

Naeva mendengar nada bicara Abellard yang penuh keyakinan, dan kata-katanya membuat hati gadis itu lega. Lalu ia merasakan tangan kirinya diraih oleh tangan kokoh Abellard, yang kemudian menggenggamnya lembut.

Gadis itu melangkahkan kakinya di atas lantai marmer dengan detak jantung yang semakin bertalu. Kepalanya menunduk tanpa berani melihat ke sekeliling. Namun ia dapat merasakan tatapan orang-orang yang mereka lewati saat memasuki bangunan megah itu.

Naeva sengaja mengganti pakaian dengan gaun terbaiknya beberapa saat sebelum mereka sampai. Namun ia sadar, gaun itu tetap tak layak untuk wanita yang digandeng oleh seorang Comte Abellard.

Dupon melangkah di depan sebagai penunjuk jalan, sementara Marc mengikuti di belakang mereka.

"Bonjour, Mme Comtesse! Saya telah membawa pulang Monsieur Comte ke hadapan anda!" seru Dupon tegas namun penuh hormat.

Langkah Naeva seketika terhenti, begitu pun dengan Abellard.

Spontan Naeva melepaskan tangannya dari genggaman Abellard.

Takut, rasa itulah yang menguasainya saat ini. Comtesse pasti tak akan suka melihat seorang gadis miskin menyentuh putra semata wayangnya.

Namun ia tak bisa menahan rasa penasarannya untuk melihat sang Comtesse, hingga Naeva memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya.

Terpopuler

Comments

Putri Abdurachman

Putri Abdurachman

baca smp bab ini ga prnah ggal ,kereeenn dah

2025-02-01

0

Bzaa

Bzaa

jdi seolah nonton film little missy

2023-11-19

0

💞 RAP💞

💞 RAP💞

pokoknya kerenn thorrrt

2023-02-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!