Abellard menatapnya dalam-dalam. Seolah ada magnet di wajah gadis itu yang membuatnya tak bisa berpaling.
Menyadari tatapan itu, mata Naeva spontan membalas tatapan mata biru tua milik Abellard.
Ada getar yang tak Naeva mengerti, saat tangannya menyentuh kulit di bagian atas bibir Abellard. Sebuah rasa yang menuntut untuk sentuhan yang lebih. Yang membuat Naeva merasa sakit dalam bara yang menggebu.
Apalagi tatapan Abellard yang begitu mendalam seolah memasuki dirinya, memancing gelora yang membuat Naeva merasa malu.
Gadis itu segera memalingkan wajahnya, dan cepat-cepat menarik tangannya dari wajah laki-laki itu.
**
Di Marseille.
"Apa tak ada sama sekali kabar mengenai Comte Abellard yang bisa kau dapatkan?" Seorang wanita paruh baya yang memakai perhiasan gemilang dengan batu-batu mulia bernilai tinggi, berkata anggun namun penuh penekanan pada pria gemuk yang baru saja membungkuk hormat di hadapannya.
"Tidak, Ma'am, (Nyonya)" jawab pria itu dengan wajah tegang. "Kabar mengenai Monsieur Comte benar-benar seperti menghilang. Tak ada yang menjawab pernah melihatnya di manapun."
Wanita yang masih terpancar kecantikannya di usia yang tak muda lagi itu mengangkat dagunya dan menekan lawan bicaranya dengan tatapan mendominasi.
"Berarti, sudah waktunya posisimu digantikan, Monsieur. Gaji terakhirmu akan kau terima dari asistenku," titahnya tak terbantahkan.
Pria itu langsung mendongak takut. Pamornya sebagai detektif pasti akan merosot, dan itu akan mengancam pekerjaannya.
"Saya mohon, Ma'am! Beri saya kesempatan sekali lagi, saya akan membawakan kabar tentang Monsieur Comte dengan segera!"
Wanita itu, Mme Aamber, tersenyum sinis dengan sedikit mendengus.
"Sudah tiga hari putraku menghilang. Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Dan tak ada toleransi untuk kegagalan!" tegasnya.
Dengan wajah kuyu, si pria membungkuk hormat sebelum kemudian melangkah mundur dari hadapan wanita paling terpandang di Marseille itu.
"Maria! Berikan dia upah yang setimpal!" perintah Mme Aamber pada wanita yang setia berdiri di sampingnya.
"Baik, Ma'am," jawab Maria, wanita Rusia yang telah mengabdi pada Mme Aamber sejak usianya masih muda. Karakter Maria yang pintar namun lembut mampu meng-cover karakter Mme Aamber yang keras dan angkuh. Sehingga ia tetap dipercaya sang Nyonya sampai sekarang.
"Tolong ikuti saya, Monsieur Dupon," ajak Maria prihatin.
"Tak bisakah anda membujuk Comtesse (nama gelar untuk istri/ibu dari seorang Comte) untuk memberi saya kesempatan? Saya telah bekerja di sini sejak lama," pinta pria yang dipanggil Dupon itu setelah mereka sedikit menjauh.
"Maafkan saya, Monsieur. Tapi anda juga tahu, Comtesse tak akan merubah keputusannya." lirih Maria.
Namun wanita itu kemudian berbalik, menatap Dupon penuh harap, "kecuali jika anda benar-benar bisa membawa Comte Abellard pulang, aku menjamin Comtesse akan memberikan anda kesempatan."
**
Hari itu, tak ada Prajurit yang berkeliaran mencari Abellard. Mungkin mereka telah berpindah ke wilayah lain. Tapi Naeva tetap was-was jika sampai ada yang mengenali wajah Abellard.
Di gerai minuman, Naeva duduk sendiri. Kedua pria yang pergi bersamanya itu tiba-tiba sama-sama memiliki kepentingan. Marc bahkan telah menghilang di salah satu gerai.
Sementara Abellard sedang mencuci mata di gerai pakaian dan topi. Kenapa Naeva mengatakannya hanya mencuci mata? Karena Abellard sama sekali tak ia bekali uang.
Naeva mendesah sembari menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Hingga kemudian matanya menangkap sosok bocah tanggung yang kemarin ditolongnya.
Bocah itu sedang mengutip sampah, kemudian melemparkannya dengan sangat jitu ke dalam tong sampah yang berjarak cukup jauh darinya.
Tiba-tiba seorang laki-laki bertubuh kurus datang dan menoyor kepala bocah tanggung itu dengan tampang kesal.
"Apa kau kira ini main-main?! Kau hanya pengganggu yang merebut pekerjaanku hingga mengurangi gajiku! Tapi sama sekali tak membantu!"
Naeva memperhatikan itu dengan hati bertanya, apa si bocah tak lagi bekerja di toko roti?
"Apa anda mencurigai bocah laki-laki itu?" Suara pemilik gerai minuman mengejutkan Naeva. Perempuan bertubuh tinggi itu meletakkan cemilan di atas meja Naeva."Dia tak lagi mencuri, anak malang itu bekerja sebagai pengutip sampah."
"Apa dia tak lagi bekerja di toko roti?"
"Mana ada orang yang dengan mudah mempercayai mantan maling?" Wanita itu mendesah berat, "bocah itu sebenarnya terpaksa mencuri, dia hidup bersama ayah tiri yang terus memaksanya mendapatkan uang," ujarnya.
Hati Naeva terenyuh mendengar cerita wanita itu. Malang sekali nasib si bocah.
Naeva bangkit dari kursinya dan menghampiri bocah tanggung yang melanjutkan pekerjaannya setelah menerima caci-maki dari laki-laki kurus tadi.
"Apa aku akan menggangu pekerjaan mu jika kita bicara sebentar?"
Bocah itu mengangkat wajahnya yang semakin kumel dari waktu kemarin dan menatap Naeva. Sebenarnya tubuh remaja tanggung itu cukup tinggi, bahkan bahunya dengan Naeva mungkin setara. Hanya saja terlalu kurus karena kurang gizi.
"Kalau anda ingin menolong saya mendapatkan pekerjaan lain, saya akan menolak dan berterimakasih atas niat baik anda," ujarnya bijak.
Naeva membulatkan matanya, merasa lucu mendengar jawaban remaja itu. Lalu bibirnya tersenyum lebar.
"Aku tidak menawarkanmu pekerjaan, tapi keluarga."
"Maksud anda?"
"Apa kau merasa aku benar-benar berniat baik kemarin?"
Bocah itu tampak bingung, namun kemudian mengangguk pelan.
"Apa kau tak berniat membalasnya?"
"Saya tidak punya apa-apa untuk membalasnya."
"Kau bisa membalasnya dengan mudah."
"Dengan apa?"
"Tenagamu pastinya. Aku membutuhkan tenaga seorang laki-laki di rumahku, karena aku tak punya adik laki-laki. Kau akan tinggal di rumahku dan akan mendapatkan makanan seberapa pun yang kau mau. Bagaimana?"
"Apa anda akan mengangkat saya sebagai pelayan?"
"Bukan, tapi aku akan menjadikan mu adikku," jawab Naeva semangat.
Mata bocah itu tampak berbinar mendengarnya.
"Tapi bagaimana dengan orangtua anda? Apa mereka akan setuju?"
"Aku sudah yatim piatu, sama seperti dirimu. Kita bisa menjadi kakak-beradik yang saling membantu."
Bocah itu terpaku. Plastik sampah di tangannya nyaris terjatuh di tanah. Perlahan matanya tampak berkaca-kaca. Namun cepat-cepat ia mengucek matanya yang bernetra abu-abu itu, menghilangkan air mata yang menggenang.
"Baiklah, aku akan berusaha menjadi adik yang baik!" serunya.
Naeva kembali tersenyum. Matanya pun ikut berbinar mendengar jawaban bocah kecil itu. Ada rasa lega di dalam hatinya telah menyelamatkan seorang anak dari hidupnya yang kelam.
"Namaku Naeva, kau bisa memanggilku, Sœur (saudara perempuan). Aku belum tahu namamu," Naeva mengulurkan tangannya.
Bocah itu tersenyum, senyum yang sangat lebar dan penuh luapan kebahagiaan. Hatinya penuh pengharapan, semoga ia benar-benar akan terlepas dari cambuk dan kayu ayah tirinya yang selalu mendera tubuh saat tak mendapatkan uang. Dan semoga ia benar-benar akan dibawa pergi oleh malaikat cantik di hadapannya itu menuju cahaya.
"Edward," jawabnya sembari menyambut uluran tangan Naeva.
"Kau orang Inggris?" tanya Naeva surprise.
"Ya, tepatnya ayahku yang orang Inggris."
"Wah, berarti kau fasih berbahasa Inggris?"
"Tentu," jawab Edward bangga.
"Baiklah, ayo ikut aku ke gerai minuman itu! Kita akan berbincang di sana sebelum pulang," ajak Naeva.
Tak berapa lama kemudian, Abellard dan Marc kembali bersamaan. Keduanya tampak heran melihat seorang bocah tanggung duduk bersama Naeva.
"Bukannya dia bocah yang kemarin?" tanya Marc.
"Ya, dan mulai sekarang dia akan menjadi anggota keluarga kita," jawab Naeva.
"Anggota keluarga? Kau mengutip anak liar untuk dibawa pulang?" tanya Abellard tak rela.
Naeva langsung menatap laki-laki itu tajam.
"Dia bukan anak liar, dia anak yang baik dan telah menjadi anggota keluarga kita."
Abellard menghembuskan nafas panjang dengan wajah pasrah.
"Ya baiklah, baiklah. Lagipula, pelayan pun kau anggap keluarga," jawabnya sembari melirik Marc sinis.
"Anda mempunyai dua orang laki-laki dewasa di dalam keluarga anda. Anda tak benar-benar membutuhkan bantuan saya," ujar Edward, menyadari Naeva tak benar-benar membutuhkan bantuan tenaganya.
Namun sebelum Naeva menanggapi ucapan bocah itu, Abellard lebih dulu menyela.
"Ah iya, aku lupa. Aku punya sesuatu untukmu," seru pria itu sembari melirik Naeva malu-malu.
Naeva menatap pria tampan itu bingung.
"M'mselle, saya ingin memberikan sesuatu untuk anda," potong Marc cepat. Membuat tatapan Naeva beralih padanya.
"Aku yang lebih dulu berbicara, kenapa kau sama sekali tak sopan memotongnya?!" tegur Abellard. Hatinya gusar mendengar Marc yang juga hendak memberikan sesuatu.
Keduanya saling menatap tajam. Berperang dengan tatapan.
Naeva hanya bisa menghela nafas melihatnya.
"Naeva, aku membawakan topi jerami cantik yang akan melindungi wajahmu dari sengatan matahari." Abellard mendahului sembari mengulurkan sebuah topi jerami dengan lingkaran pita putih.
"M'mselle, saya membelikan anda topi untuk musim dingin. Saya harap anda menyukainya," sela Marc. Tatapannya begitu bersungguh-sungguh, berharap sang Nona menerima hadiahnya terlebih dahulu.
"Topi musim dingin? Apa kau tak tahu ini sudah memasuki musim semi?" sinis Abellard.
"M'mselle bisa memakainya sekarang, cuacanya masih dingin. Anda membelikannya topi jerami, sementara Mademoiselle memiliki banyak topi jerami di lemarinya," balas Marc tak mau kalah.
Naeva terlihat mendesah.
"Apa kau lihat itu Edward? Di rumahku tak ada lelaki yang benar-benar telah dewasa."
Edward tersenyum mendengarnya.
"Saya akan menjadi lelaki dewasa untuk anda, Ma Sœur," jawab Edward seraya membusungkan dadanya.
"Tak boleh!" sergah Abellard dan Marc bersamaan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Bzaa
wow.... indahnya persaudaraan
2023-11-19
0
Mom Dee🥰🥰
votw utkmu thor 🤗
2022-12-23
0
Purwati Ningsih
Othorr.. aq mampir di novelmu ini. Sebenarx karyamu ini bagus, aq suka ceritax. Tapi kenapa sedikit yg membaca. Ap mungkin promox yg kurang sehingga banyak org yg tdk tahu dgn karyamu ini.
Tp gpp, jgn patah semangat, hrs ttp optimis, suatu waktu pasti akan banyak yg mengenal karyamu. Semoga sukses 💪❤😘
2022-10-26
1