Bab 5

Pintu gerai terbuka, seorang bocah tanggung masuk dengan kepala masih pelangak-pelongok keluar. Seperti memastikan tak ada orang yang melihatnya masuk ke gerai tua.

Lalu tangannya cepat-cepat menutup kembali pintunya tanpa melihat sama sekali ke dalam.

Namun begitu berbalik, wajah tirusnya yang bernoda debu bercampur keringat itu seketika terperanjat dan refleks berteriak.

"Aaaa!" Tubuhnya terlonjak ke belakang sampai menabrak pintu.

"Si-siapa kalian?!" Suara yang pecah dan serak itu tergagap panik. "Saya ... saya akan mengembalikan uangnya, tapi tolong jangan laporkan saya!!" serunya ketakutan.

"Sst!" Naeva meletakkan jari telunjuknya didepan bibir. "Tolong jangan berisik, kau tak perlu takut," ujarnya pelan.

"Kami tak akan melaporkan kecuali jika kau terlalu berisik," ancam Marc.

"Baik, baik. Saya akan diam," jawabnya sembari mengatur nafas. Matanya kemudian melirik jeli ke arah pria mabuk yang telah pingsan di bangku kayu. "Dan ... dan saya akan keluar sekarang," ucapnya sambil buru-buru berbalik.

"Tidak! Kau tak boleh keluar dulu. Atau aku akan melaporkan perbuatanmu pada Prajurit di luar sana," cegah Marc. Pencuri kecil seperti bocah ini pasti banyak akalnya. Marc tak ingin bocah itu keluar dan melaporkan keadaan pria mabuk itu demi menutupi perbuatan jahatnya sendiri.

Anak itu memperhatikan pria mabuk dengan matanya yang jeli sekali lagi.

"Anda tak akan melaporkan saya setelah membuat pingsan dan menyekap orang itu!"

Marc tersenyum kecut. Dugaannya memang benar. Bocah itu banyak akalnya.

"Laki-laki ini tidak pingsan, dia sedang mabuk."

"Saya bisa melihat bekas pukulan di wajahnya," sanggah bocah tanggung itu.

"Ya, aku memang memukulnya karena pria mabuk ini menyusahkan. Dan satu hal lagi, kami tidak mungkin menyekap seseorang di tempat umum seperti ini," jawab Marc. Pria tampan itu kemudian mengangkat sebelah alisnya dengan wajah mengancam, "apa kau akan terus berisik agar aku melaporkan mu ke luar?"

Wajah pucat yang kucel itu menggeleng cepat.

"Tidak, saya tidak akan bicara lagi!"

Naeva memperhatikan tangan si bocah yang menggenggam sesuatu.

"Uang siapa yang kau curi?"

Tangan yang menggenggam sesuatu itu langsung disembunyikan ke belakang tubuhnya.

"Pe-pedagang roti di kedai ujung barisan kanan."

"Kau harus mengembalikannya. Pedagang roti itu mengorbankan tenaga, waktu, dan modalnya untuk mendapatkan uang itu. Tak adil jika kau yang tak melakukan apa-apa menikmati jerih payahnya," nasihat Naeva.

"Aku butuh uang untuk makan!" Suara bocah itu terdengar ketus sekarang.

"Maka kau harus bekerja untuk mendapatkan uang."

"Tak ada yang mau mempekerjakan seorang pencuri."

"Kau harus memperbaiki dirimu dan menunjukkan pada semua orang perubahan mu itu."

Bocah itu terdiam. "Itu tak semudah mengatakannya," lirihnya kemudian.

"Aku akan membantumu!"

"Tidak perlu! Anda bisa mengembalikan uang ini!" Bocah itu melemparkan kantung kain berisi uang koin di tangannya.

Naeva menyambut kantung itu, lalu tersenyum.

"Tapi aku akan memaksa untuk membantumu. Atau aku terpaksa melaporkanmu agar tak ada lagi pedagang yang kehilangan Penny (mata uang) untuk kedepannya."

Bocah itu terpaku, tak tahu bagaimana menghindar lagi.

Naeva kemudian menoleh pada Marc. "Kita akan pulang setelah menyelesaikan masalah bocah ini," ujarnya.

Marc mengangguk. Bibirnya tersenyum dengan mata menatap Naeva bangga. Nona-nya memang sangat membanggakan baginya. Ia akan lebih bangga mengatakan dirinya pelayan Nona Naeva daripada kepercayaan seorang raja sekalipun.

Gadis itu banyak mewarisi sifat ibunya, penyayang, berani dan pintar. Namun kepeduliannya terhadap sesama dan juga suka menolong didapatnya dari sang ayah.

Naeva kemudian mengajak bocah itu mengantarkannya pada pedagang roti pemilik Penny yang dicuri.

"Tapi kau harus berjanji tak akan kembali mencuri setelah ini," tegasnya sembari menggamit lengan si bocah erat agar tidak kabur sebelum masalah selesai.

"Ya, aku tak akan mencuri setelah mendapatkan pekerjaan," jawab bocah itu berusaha meyakinkan.

Naeva melihat kedai roti yang mereka tuju sedang banyak pelanggannya. Sementara tukang roti sibuk mengadon tepung. Pantas saja bocah ini berhasil membawa lari sekantung kecil koin.

"Bonjour, Monsieur," sapa Naeva sopan.

"Bonjour, Mademoiselle, silahkan menunggu antrian," jawabnya tanpa menoleh.

Laki-laki bertubuh tinggi yang sedang mengaduk tepung itu mengira Naeva pelanggan.

"Saya sebenarnya bukan ingin membeli roti. Saya tau anda sedang sibuk, tapi saya terpaksa meminta waktu anda sejenak untuk membicarakan Penny anda yang hilang."

Tukang roti itu mengangkat wajahnya dan menatap Naeva bingung.

"Penny saya hilang?"

"Ya. Bocah ini mengatakan bahwa Penny ini milik anda!" Naeva memperlihatkan kantung Penny di tangannya.

Tatapan tukang roti berpindah pada si bocah. Lalu raut wajahnya berubah bengis.

"Jadi kau mencuri uangku?" bentaknya sembari mendekat.

Bocah tanggung itu sontak melangkah mundur ketakutan.

"Bukan!" sela Naeva cepat.

"Apa maksud anda bukan, M'mselle? Anda tidak mengenal anak ini. Dia pencuri kecil yang selalu merugikan! Dia bahkan pernah membawa lari rotiku beberapa kali."

"Itu karena dia kelaparan," sergah Naeva.

"Dan sekarang dia mencuri Penny ku!" teriak laki-laki tinggi itu marah.

Kegaduhan yang ditonton pelanggan roti itu ternyata juga mengundang perhatian beberapa orang Prajurit. Prajurit yang masuk ke gerai minuman beberapa saat lalu.

Naeva merasa tak boleh berlama-lama dan harus menyelesaikan masalah itu secepatnya.

"Sudah saya bilang, dia bukan lagi pencuri. Uang ini memang dibawa lari pencuri, tapi anak ini membawanya kembali untuk anda. Saya melihatnya!" ujar Naeva. Ia begitu mengatur kata-katanya, agar tak perlu berbohong dengan mengatakan si bocah tak mencuri Penny itu, namun kata-katanya juga sekaligus harus bisa membuat tukang roti berpikir memang bukan si bocah pelakunya.

Tukang roti terdiam. Ia menatap wajah kumel bocah itu tajam.

"Apa itu benar?"

Bocah itu mengangguk pelan.

"Baiklah kalau begitu. Aku tak akan menyalahkan mu lagi. Tapi aku juga tak akan berterimakasih, karena pertolongan mu ini untuk menebus roti yang telah kau curi."

"Anda bisa mempekerjakannya agar dia tak perlu lagi mencuri demi menghindari kelaparan," sambung Naeva. Sesuai perjanjiannya untuk membantu bocah itu mendapatkan pekerjaan.

Tukang roti itu terdiam dengan raut ragu. Namun sebelum ia menolak, pelanggan yang lain tampak saling bersahutan memberi dukungan.

"Ya, pekerjakan saja, kasihan sekali anak-anak yang terpaksa mencuri demi makan."

Tukang roti menghela nafasnya, lalu berkata dengan nada pasrah.

"Baiklah, aku akan mempekerjakan bocah ini. Tapi kalau sampai ia mencuri di sini lagi, aku akan mengusirnya dari sini!"

Naeva mengangguk puas.

Lalu bergegas mengajak Marc pergi, sebelum Prajurit masuk dan melihat mereka.

***

"Mademoiselle!" Teriakan panik Anne langsung menyambut Naeva setibanya di Kastil Wisteria, nama kastil tua mereka yang dicetuskan oleh ibunya dahulu. Nama itu diberi karena selalu ada bunga Wisteria ungu yang tumbuh subur di sekitar kastil.

Sementara itu, Marc sedang melepaskan kuda yang menarik kereta mereka tadi ke dalam istal.

"Ada apa?" tanya Naeva khawatir.

"Monsieur Richard! Monsieur Richard telah mengingat semuanya!" seru Anne dengan mata melotot.

Tubuh Naeva seketika menegang kaku.

Ingatan Abellard telah kembali?

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

nah lhooooo..... gimana jdiny ini

2023-11-19

0

Deetje Fenny Ratumbanua New

Deetje Fenny Ratumbanua New

aduuuhhh thioirrr busakah tidak pakai kata2 bahasa prancis pakai aja bahasa indonesia lebih enak bacanya dongggg siiiippp tetap semangat

2023-03-01

0

Susilawati Rela

Susilawati Rela

haaaah....iyalah???

2022-10-15

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!