Bab 6

"Dimana dia sekarang?" tanya Naeva cepat.

"Di ruang pakaian, M'mselle!"

"Sedang apa dia di sana?" Naeva bergegas menuju ruang pakaian dengan hati cemas. Sepertinya ia harus mempersiapkan alasan agar tak perlu meninggalkan kastilnya dan menolak ikut dengan laki-laki itu.

"Dia sedang mencoba memakai bajunya sendiri."

"Bajunya? Dari mana dia mendapatkannya?" Naeva berhenti dengan wajah heran.

"Mère mencucinya tadi malam. Dan laki-laki itu langsung mengambilnya kembali begitu melihat baju itu tergantung di luar."

Naeva menepuk jidatnya sendiri. Ya Tuhan, kenapa ia sampai lupa meminta Marc atau Adam menyingkirkan baju itu?

Langkah kaki kecilnya kembali berderap ke arah kamar pakaian dengan jantung berdetak kencang.

Begitu sampai di pintu, mata coklat terangnya yang indah seketika membesar. Menatap sosok gagah memakai pakaian bangsawan berdiri membelakanginya.

Sosok Casanova kejam yang akan membawanya pergi sebagai gundik seakan menjelma di hadapannya.

Naeva merasa kakinya goyah. Tangannya segera berpegangan pada tepi pintu.

"Richard ...." panggilnya dengan suara bergetar.

Abellard berbalik.

Wajahnya datar dan tanpa ekspresi seperti semalam dan tadi pagi. Rambutnya yang berwarna coklat terang tersisir rapi dan menawan.

"Ada di mana baju-bajuku yang lain?" tanya laki-laki itu.

Naeva terdiam mendengarnya.

Apa sebenarnya ingatan laki-laki ini belum kembali?

"Ba-baju anda?" Naeva tergagap.

Abellard menatap gadis itu bingung.

"Anda? Kenapa kau memanggilku seformal itu? Bukankah dengan sepupu bisa memakai panggilan yang akrab?"

Naeva seketika menghembuskan nafas yang tertahan sejak tadi dengan lega. Syukurlah, laki-laki itu belum mengingat apapun.

"Ya, aku ... aku salah ucap. Bajumu ada di lemari mu sendiri."

"Kurasa ini sedikit lembab dan bau amis." Abellard mengerutkan hidungnya. "Aku akan menggantinya dengan yang lain." Langkah kaki panjang Abellard melangkah ke arahnya, tepatnya ke arah pintu.

Kelopak mata Naeva yang berbulu lentik mengerjap-ngerjap gugup saat menatap wajah tampan bak wajah seorang pangeran dalam dongeng milik Abellard yang semakin mendekat. Jantungnya tiba-tiba berdebar tanpa ia ketahui sebabnya.

"Tu-tunggu!" cegat nya. "Aku akan mengambilkan baju itu kemari. Kau tunggu di sini saja," pintanya.

Baju-baju Abellard yang baru saja dibelinya belum tersimpan di lemari. Laki-laki itu bisa bingung melihat bajunya masih di dalam kantung belanjaan.

"Baiklah," Abellard memperhatikan tingkah gugup Naeva dengan kening mengernyit bingung. Kenapa sepupunya itu tampak gugup setelah pulang dari pasar? Apa terjadi sesuatu?

Tak berapa lama, Naeva kembali. Ia menyerahkan sepasang baju sederhana pada Abellard.

Kening Abellard kembali mengernyit.

Perlahan tangannya bergerak untuk menyentuh pakaian yang disodorkan Naeva. Jemarinya seolah sedang meresapi serat kain dari pakaian itu.

"Ini bajuku?"

"Ya, ini bajumu."

"Kenapa berbeda dengan yang kupakai saat ini?" tangan Abellard berpindah pada pakaian yang membalut tubuhnya, " yang ini halus," sambungnya pelan.

Naeva menelan salivanya dengan susah payah.

"I-itu sebenarnya bukan bajumu. Itu baju almarhum ayahku. Ayahku seorang bangsawan, apa kau lupa?" Naeva mencoba mengarang alasan.

"Ayahmu?" Abellard terdiam sesaat. "Kenapa ukurannya bisa pas denganku? Aku bahkan merasa sangat akrab dengan baju ini," desah Abellard, seperti bergumam pada dirinya sendiri.

"Sudahlah, jangan terlalu banyak berfikir. Kau belum sembuh, jangan paksa otakmu mengingat yang berat-berat. Gantilah baju itu sekarang lalu berikan padaku, aku akan menyimpannya kembali."

Abellard mengangguk, masih dengan wajah bingung. Sementara Naeva cepat-cepat meninggalkannya agar laki-laki itu tak bertanya lagi.

Tapi usaha Naeva untuk menghindar sepertinya sama sekali tak berhasil, laki-laki itu kembali bertanya-tanya tentang segala hal setelah berganti pakaian.

"Kenapa aku bisa tinggal bersama keluargamu?" Abellard menguntitnya.

Naeva tak langsung menjawab karena ia harus memikirkan setiap jawaban yang masuk akal.

"Apa aku tak lagi memiliki orang tua?" tanya Abellard sekali lagi.

Gadis itu menghela nafas berat sembari menoleh. "Ya, kau anak tunggal yang telah yatim piatu. Kau juga sepupuku satu-satunya. Makanya ayahku mengajak mu tinggal bersama."

"Lantas, kenapa saat aku sadar pelayan itu mengatakan kalau dia akan mengantarkan aku pulang?"

Raut Naeva seketika memucat. Ia segera memalingkan muka.

"Kau salah dengar. Marc mengatakan bahwa kami telah menemukanmu dan membawamu pulang. Tapi kau malah mengatakan tidak mengingat apa-apa."

Abellard terdiam, keningnya tampak mengernyit dalam.

"Ya, sepertinya ... memang begitu. Mungkin karena semalam kepalaku masih sakit sekali."

Naeva segera melangkah ke belakang. Rasanya ruang duduk yang luas itu tiba-tiba terasa panas karena pertanyaan dan tatapan mendominasi dari laki-laki itu.Mata Abellard yang berwarna biru tua itu selalu terlihat tegas dan tajam. Menyiratkan kekuasaan dan kepribadian yang kuat.

Namun laki-laki itu ternyata masih mengikuti langkah Naeva.

"Apa hanya mereka pelayan di rumah kita?" tunjuknya pada Adam dan Emma.

"Mereka sudah kita anggap keluarga," ralat Naeva singkat.

"Kenapa tidak mempekerjakan banyak pelayan?" Abellard sepertinya tak terlalu peduli dengan kata keluarga yang diucapkan Naeva.

Gadis itu kembali menghela nafas. Sepertinya Abellard hanya melupakan identitasnya. Sementara segala kehidupan bangsawan nya yang mewah dulu tetap terpeta, karena telah ia jalani sejak lahir ke dunia.

Naeva akhirnya berbalik menghadapnya. Lalu menatap wajah tampan yang terlihat polos karena tidak tahu apa-apa itu dengan tatapan kesal. Apalagi mengingat kata-kata pria mabuk di pasar tadi, bahwa Abellard sengaja mengalahkan ayahnya yang sedang mabuk, dan mengambil kesempatan untuk memenangkan taruhan yang berupa dirinya.

"Kau punya tangan?"

Abellard menatap bingung ke arah kedua tangannya.

"Ya, tentu saja."

"Kalau kita memiliki tangan dan sanggup mengerjakan semua sendiri, kenapa harus mengandalkan orang lain?"

Abellard terdiam. Wajahnya seperti anak kecil yang baru saja mengetahui hal baru.

Naeva memasuki dapur dan menghampiri meja batu yang memanjang di sisi dinding, dimana sayuran-sayuran seperti kubis dan wortel diletakkan Emma.

"Anda tak perlu membantu saya di dapur hari ini, M'mselle. Anda terlalu lelah dari pasar," cegah Emma begitu melihat nona mudanya mengambil sayuran itu.

Naeva tersenyum. "Bukan aku yang akan mengerjakannya, Emma. Kita telah punya tenaga baru mulai hari ini," jawabnya.

"Maksud anda?" Wanita tua berambut pendek dengan warna putih karena uban bercampur pirang itu tak mengerti.

"Richard, dia yang akan mengerjakannya."

Naeva mengisi sayuran itu ke dalam nampan kayu dan membawanya ke hadapan Abellard dengan bibir menyunggingkan senyuman puas. Laki-laki ini memang harus diajari hidup yang benar. Bukannya menjadi predator berkuasa yang suka bersikap semena-mena.

"Ini, tolong potong-potong sekarang. Kita akan menyiapkan makan siang."

Abellard langsung berdiri dengan mata menyorot tajam. Jiwa penguasanya bertindak refleks saat menerima perintah.

"Kenapa?" tantang Naeva. "Ada yang salah?"

Perlahan sorot mata itu melemah, lalu mengerjap-ngerjap sesaat.

"Ti-tidak... Aku hanya tak tahu caranya."

"Aku akan mengajarimu. Kita akan mengerjakannya berdua."

Perlahan Abellard meraih pisau dapur di dalam nampan dan duduk di hadapan Naeva.

Gadis itu memperagakan caranya. Lalu diikuti secara canggung oleh laki-laki bangsawan ternama itu. Naeva memperhatikannya dengan bibir tersenyum. Kalau tak salah, laki-laki ini baru saja mendapatkan gelar Comte setelah ayahnya wafat sebulan lalu. (Comte adalah gelar untuk bangsawan yang sejajar kedudukannya dengan Earl/Prince, namun Comte merupakan gelar bagi bangsawan di luar kerajaan)

Naeva merasa dirinya pasti akan mendapatkan hukuman berat andai orang lain melihatnya memerintah seorang Comte melakukan pekerjaan dapur.

Terpopuler

Comments

Bzaa

Bzaa

wkkwkwk mumpung amnesia, di kerjain aja

2023-11-19

0

Rose_Ni

Rose_Ni

mumpung hilang ingatan dipuas-puasin dulu nyuruh ini itu

2022-10-18

1

Susilawati Rela

Susilawati Rela

naeva keren baru dia yg bisa memerintah seorang Conte memotong sayuran...🤭🤭🤭

2022-10-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!