Pagi hari.
Sebelum berangkat bekerja ia selalu menyempatkan diri untuk ke rumah istrinya, meski hanya diam di luar dan melihat istrinya di sana sudah membuatnya tersenyum. Ia ingin istrinya kembali mengingatnya seperti dulu.
Hampir setiap hari ia melakukan aktivitas itu di pagi hari. Dan hari ini sudah satu minggu lamanya ia tak tinggal bersama dengan Aluna. Istrinya itu sering termenung di balkon, menjemur tubuhnya pagi itu. Tak setiap hari Aluna tahu keberadaan suaminya di bawah pohon sana. Terkadang, Iskhandar menyembunyikan diri karena selalu diusir oleh penjaga rumah itu dan juga ayah mertuanya.
Tapi kali ini tatapan mereka bertemu, dan sayangnya Aluna masih tak mengenali siapa suaminya. Ia tak berani bertanya dan kenapa selalu ada di bawah sana. Meski Aluna sering bertanya kepada orang tuanya siapa yang selalu berdiri di depan rumahnya. Tak ada yang memberitahu siapa Iskhandar. Lama mereka saling tatap, tapi Iskhandar harus bekerja dan harus pergi dari sana. Akhirnya ia pun menghilang.
Iskhandar sering terlambat bekerja, dan kali ini ia kena omel oleh sang bos. Kerjaannya jadi kacau, pikirannya bercabang antara istri dan adiknya yang masih di rumah sakit jiwa.
"Kalau sudah tidak mau bekerja bilang, jangan menambah pekerjaan!" maki mandor. Iskhandar salah mencampur adukan dengan bahan lain.
"Maaf," ucap Iskhandar, ia menunduk mengakui kesalahan. Keadaannya benar-benar kacau.
"Maaf, maaf ... Apa kata maaf akan mengubah kesalahanmu?! Gajimu saya potong untuk mengganti kerugian!" sentaknya lagi.
"Tolong, jangan dipotong. Saya harus membeli obat untuk adik-ku," terang Iskhandar.
"Sudah sering kamu buat kesalahan, dan saya yang jadi kena marah oleh bos," ujar mandor lagi. Sudah sana pulang, cari saja kerjaan lain," usir mandor.
Ahsam dan yang lainnya melihat kejadian. Ahsam menghampiri yang ia tahu pikiran temannya kacau adalah kembalinya Syerly ke rumah sakit jiwa, ditambah lagi dengan kepergian Aluna. Ahsam menepuk bahu Iskhandar.
"Jangan dimasukin ke hati ya, kamu tau sendiri mandor baru itu. Tenangkan hatimu," ucap Ahsam.
***
Iskhandar pun akhirny pulang, di jalan ia terus memikirkan bagaimana caranya istrinya mengenalinya? Ia tak peduli dengan sikap Mohan padanya, karena itu semua memang salahnya. Tibalah ia di rumah, ia langsung pergi ke kamar istrinya. Selama kepergian Aluna ia tidur di ruangan pengap itu, memeluk foto pernikahannya karena tak begitu ia tak dapat tidur. Rasa bersalah terus menghantui.
Ia pun kembali mengobrak-abrik tas milik istrinya, hingga akhirnya ia menemukan sebuah kalung berbentuk hati itu. Ia membukanya, dan lagi-lagi ia menitikkan air mata. Mengingat drama saat Aluna meminta dibelikan kalung itu. Iskhandar menciumi kalung itu sembari menangis.
Kini ia dapat ide, mungkin dengan kalung itu istrinya akan mengingat siapa dirinya. Tanpa lelah, ia kembali keluar rumah. Mengendarai motor bututnya ia segera pergi ke rumah Aluna. Hari sudah mulai sore. Saat tiba di sana kebetulan Aluna tengah berada di taman, gadis itu tengah menunggu kepulangan sang ayah bekerja.
Hingga Iskhandar sampai secara bersamaan dengan Mohan. Dan Aluna pun melihat Iskhandar di sana. Mohan menatap tajam ke arah menantunya, lalu Aluna menghampiri ayahnya. Sesekali ia menoleh ke arah Iskhandar.
"Aluna," panggil suaminya.
Tapi langsung di hadang oleh Mohan, ia tak akan membiarkan putrinya kembali bersama Iskhandar. Pria itu langsung memperlihatkan sebuah kalung. Tapi sayang, Mohan langsung mengajak putrinya masuk. Pergi begitu saja tanpa menghiraukan teriakan Iskhandar yang terus memanggil nama istrinya.
Tubuh Iskhandar ambruk di depan pintu gerbang, dan Aluna menahan langkahnya sambil bertanya kepada ayahnya. "Kenapa dia terus memanggilku? Dia ingin memperlihatkan sesuatu padaku, Ayah," ucap Aluna.
"Ayah bilang dia bukan siapa-siapa, dia hanya orang gila yang mengaku-ngaku mengenalmu," jelas sang ayah.
Setelah kejadian ini membuat Mohan memperketat penjagaan, semua penjaga dikerahkan. Jika ada Iskhandar harus langsung diusir tanpa ampun Dan setelah itu, Aluna tak lagi melihat Iskhandar berkeliaran di depan rumah.
Hingga satu bulan pun berlalu.
Pagi itu Aluna merasakan pusing juga mual di bagian perut. Bella yang melihat langsung memanggil kedua orang tuanya, takut kondisi sang kakak semakin parah. Dokter pun datang saat itu juga, dan memeriksa Aluna.
"Bagaimana kondisi putriku?" tanya Mohan.
"Kondisinya seperti biasa, tapi selamat, putri Anda positif," jawab dokter. "Mual dan pusing karena diakibatkan ada janin yang tumbuh di rahimnya," terang dokter lagi.
Semua yang ada di sana tertegun dengan penuturan dokter.
"Positif? Berarti Kak Luna hamil?" tanya Bella.
Aluna yang mendengar pun terkejut, kenapa dirinya bisa hamil? Siapa yang telah menghamilinya? Saat itu juga ia langsung beranjak dan langsung bersujud di kaki sang ayah.
"Ayah, maafkan aku. Aku telah mencoreng nama baikmu, aku berdosa tapi aku tidak tau siapa yang telah menghamiliku." Seingatnya ia belum menikah, tapi kenapa bisa seperti ini? Siapa yang telah menghamilinya? Kenapa ia bisa tidak ingat akan kejadian ini?
Tangis Bella dan ibunya pecah, mereka sangat prihatin kepada Aluna. Aluna masih bersimpuh di kaki sang ayah. Tak bisa membiarkan itu, Mohan meraih tubuh anaknya. Lalu mendekapnya. Ia pun tak tega membiarkan anaknya seperti ini.
"Kamu tidak berdosa, kamu sudah menikah," batin Mohan. Andai sikap Iskhandar tidak melukai anaknya, tentu ia akan mengatakan semuanya. Ia tak ingin anaknya kembali karena tak ingin laki-laki itu melihat hanya karena kasihan.
"Maafkan aku, Ayah," ucap Aluna lagi. Lalu ia melepaskan diri dan menghampiri ibunya. "Ibu, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mencoreng nama baik kalian. Kalian memaafkan-ku 'kan?" lirihnya.
Tak ada yang berani mengatakan semuanya, mereka berharap Aluna mengingatnya sendiri.
"Kak, anak itu anugrah. Kakak jangan merasa berdosa, dia keponakanku," timpal Bella. Lalu Bella memeluk kakaknya mereka menangis bersama. Tak kuasa melihat itu, Mohan pun akhirya pergi dan membuat Aluna salah paham, ia mengira ayahnya marah padanya karena kehamilannya itu
"Lihat-lah, Bella. Ayah membenciku," lirih Aluna.
"Tidak, Kak. Ayah tidak marah, mungkin hanya mencari angin segar," jawab Bella.
"Ayah pergi tak menghiraukanku." Aluna menangis tersedu-sedu. "Kenapa aku tak bisa mengingat semuanya? Siapa ayah dari anak yang aku kandung?"
Harapan Aluna semoga ayahnya tidak marah, lalu ia terus mencoba mengingat siapa laki-laki yang telah menghamilinya? Diingatannya malah nampak wajah Iskhandar "Kenapa pria itu yang muncul dalam pikiranku?" batinnya. "Siapa dia sebenarnya? Apa dia ayah dari anak yang ku kandung? Tapi kenapa tidak ada seorang pun yang mengatakannya padaku?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
Puja Kesuma
coba ingat aluna... kau udah menikah aluna coba berusaha ingat
2022-09-25
0