Bugh ...
Pintu tertutup dengan sangat keras. Aluna terkejut saat suaminya menutup pintu dengan membantingnya. Aluna menyentuh dada yang terasa sesak, tapi ia lanjutkan membawa tas besar menuju kamar yang terletak dengan dapur. Saat membuka kuncinya pun terasa sulit karena saking tak pernah dibuka ruangan itu.
Saat pintu berhasil terbuka, debu langsung berterbengan menerpa di penciumannya dan Aluna langsung terbatuk-batuk. Ia meletakkan tas besar miliknya di lantai yang berdebu, lalu mengambil sapu dan kain pel. Ruangan itu sangat sempit bahkan tidak ada jendelanya. Ruangan itu bagaikan gudang, banyak alat-alat kerja suaminya di sana. Dengan hati yang sabar ia membersihkan ruangan itu sampai bersih, rasa ikhlas membuatnya tidak apa-apa. Meski rasa tangis sudah diujung mata, ia tetap mencoba menahannya agar tidak keluar.
"Ini pilihanmu, Na. Ini takdir yang harus kamu jalani, tubuh yang kuat ya biar aku bisa merasakan indahnya hidup suatu saat bersama suamiku." Hanya kata semangat yang ia ucapkan.
Ruangan itu kini sudah bersih, bibirnya tertahan saat akan menangis. Ia ubah bibir itu menjadi seulas senyuman, lalu membawa tas besarnya untuk lebih ke dalam ruangan. Lalu ia hendak kembali ke kamar suaminya untuk mengambil tikar, tapi ternyata tikar itu sudah ada di depan pintu kamar suaminya, ia pun mengambilnya. Aluna melihat pintu itu dengan nanar dan berdiri sejenak di sana, dan kembali ke kamar karena hari ini cukup lelah.
Ia mengamparkan tikar itu setibanya di ruangan sempit untuk menjadi alas tidurnya. Perbandingan yang sangat jauh, bahkan tempat tidurnya jauh lebih buruk dari kamar seorang pembantu sekali pun. Ia sadar akan kesalahannya, tak seharusnya ia mempertanyakan struk belanjaan itu, ia tak akan lagi mengulanginya. Ia hanya ingin suaminya tahu bahwa ia sangat tulus. Ia tak boleh memnacing kemarahan suaminya.
Malam semakin larut, ia baru bisa mengistirahatkan tubuhnya pada jam 11 malam. Aluna mengelus tikar dengan tatapan nanar, tempat tidurnya yang sangat memprihatinkan. "Aku akan sabar sampai kebahagiaan itu tiba, suamiku." Aluna pun memejamkan mata sambil meringkuk bak anak kucing yang tertidur. Ia menggunakan kain tipis untuk menghangatkan tubuhnya. Ia hanya berharap penyakitnya tidak dengan cepat menggerogotinya.
Keesokkan paginya.
Aluna kembali ke rutinitasnya, ia melihat jadwal pekerjaan terlebih dulu. Hampir setiap hari ia melihat selembar kertas yang diberikan dari suaminya. Bahkan ia menempelkan kertas itu di dinding agar tidak pernah lupa. Membaca deretan pekerjaannya.
"Aku cuci muka dulu sebelum buat kopi," ucap Aluna sembari mengikat rambutnya setelah terbangun dari tidurnya.
***
Sarapan dan kopi sudah tersedia di meja makan. Tak lama, Iskhandar pun tiba di dapur. Ia melihat istrinya tengah mengelap meja kompor, lalu melihat meja sudah tersedia roti bakar dan secangkir kopi. Pria itu pun duduk lalu meraih cangkir kopi, meniup cangkir itu karena kopi masih menimbulkan asap yang mengepul.
Seketika, Iskhandar menyemburkan kopi yang sudah masuk ke dalam mulut. Aluna yang melihat langsung menghampiri. "Kopinya masih panas, hati-hati saat meminumnya, suamiku," ucap Aluna. "Suamiku tidak apa-apa 'kan?" Aluna nampak khawatir.
Iskhandar beranjak dan tidak menjawab. Namun detik berikutnya ia menyuruh istrinya untuk meminum kopi itu. "Kamu pikir aku menyemburkan kopi itu karena panas, hah? Kamu coba saja kopinya dan kamu rasakan sendiri!"
Aluna meraih cangkir kopi itu dan mulai meminumnya, belum tertelan saja ia sudah memuntahkan kopi itu. "Asin," ucapnya.
Iskhandar hanya mengela napas dengan berat, rasanya ia ingin marah pagi itu. Lama-lama bisa darah tinggi jika ia terus marah-marah. Akhirnya ia pergi tanpa sarapan pagi itu. Mood-nya hancur karena Aluna, entah kenapa bawaanya saat melihat istrinya itu rasanya ingin marah. Mungkin karena kekuasaan ayah Aluna membuatnya merasa menjadi orang yang segala sesuatunya bisa diselesaikan dengan uang. Martabatnya bisa dihargai dengan sejumlah uang.
Aluna mengejar suaminya sampai depan pintu. "Suamiku, aku akan mengantarkan makan siang untukmu," teriak Aluna dari ambang pintu. Suaminya tak menoleh sedikit pun, ia pergi bersama motor bututnya. Aluna tetap berada di ambang pintu sampai suaminya tidak terlihat ia baru kembali masuk ke dalam.
***
"Aluna, kamu itu ceroboh sekali," ia merutuki diri sendiri saat di dapur. "Suami mana pun akan marah kalau sikapmu seperti ini, jadilah istri yang baik," omelnya lagi sambil menyiapkan bahan makanan untuk di masak.
Untuk kali ini harus menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum jam istirahat suaminya tiba. Aluna sudah seperti pembantu di rumah itu, setiap hari ia disibukkan dengan pekerjaan rumah tangga. Apa lagi ia harus membersihkan ruangan lain yang kini menjadi tempat tidurnya. Meski ruangan itu sempit tetap saja menambahk pekerjaannya di sana.
Kucuran keringat membasahi area wajahnya bahkan di bagian punggung pun pakaiannya terlihat basah. Sampai pada akhirnya aktivitasnya itu selesai, setelah itu ia baru membersihkan diri. Setelah menyiapkan bekal untuk suaminya, ia juga melihat jam yang sudah mendekati jam istirahat, buru-buru ia memasukkan makanan ke dalam wadah.
Aluna juga berjalan kaki menuju tempat kerja suaminya. Sesekali ia melihat bekal yang ia tenteng. Ia terus tersenyum dan merasa bahagia karena akan mengantarkan makanan untuk suaminya. Ia yakin saat suaminya memakan makanan yang ia masak hari ini tidak akan marah karena masakan yang ia buat hari ini cukup enak hari ini.
Birbirnya terua tersenyum, akhirnya ia pun tiba di tempat kerja suaminya, ia melihat beberapa pekerja sudah sebagian ada yang makan. Waktu ia tiba sangat pas, ia tidak terlambat walau berjalan kaki menuju sana. Sesampainya di sana, ia sangat terkejut saat melihat suaminya tengah makan berdua bersama seorang gadis. Ia menajamkan mata saat melihat gadis itu, sampai akhirnya ia mengenali gadis itu.
"Apa mungkin dia kekasihnya?" Gadis yang bersama Iskhandar adalah gadis yang ada di dalam foto itu. Aluna bisa menahan rasa sakit dari sikap dan cacian yang diberikan oleh suaminya. Tapi melihat mereka berdua rasanya sakit sekali. Bagai tertusuk ribuan jarum. "Aku istrinya, aku tidak boleh nyerah. Aku yakin suamiku akan mencintaiku."
Disaat hatinya terluka, ia masih menyemangati dirinya. Mengiming-imingi bahwa kelak ia akan bahagia dan suaminya aka mencintainya. Aluna berjalan dengan gontai, ia tak menghampiri suaminya ia malah memilih untuk pulang. Menganggapnya tidak melihat apa pun yang tarjadi barusan. Perlahan, Aluna mundur dan membalikkan tubuhnya. Dalam perjalanan pulang ia terus terbayang bagaimana wajah suaminya yang ceria bersama gadis itu. Tatapannya berbeda saat menatapnya.
Beda dengan wajah yang ditunjukkan kepadanya. "Ayolah, Aluna ... Jangan sampai kamu menangis hanya karena ini," ucapnya sambil berjalan menuju pulang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
lovely
c Aluna Kya too seolah di buang g diperhatikan ma ortunya plgi suaminy dah kismin sombong
2023-03-02
0
dikala senja
iih jht bngt suaminya aluna hrsnya trs trng klw emang udah punya kekasih atau istri jngn diam aja
2022-09-24
0
Sri Ningsih
aku mampir thor..
thorr mau tanya kira² brpa lama naskah cerita kita yg ikut lomba ini lulus review
2022-09-18
0