Bab 10

Setelah seharian bekerja, kini saatnya Iskhandar pulang dari pekerjaan yang melelahkan itu. Aluna sendiri sudah pulang sejak tadi, karena pusing masih melanda dan akhirnya ia memilih pulang sendirian. Dan sekarang Iskhandar sudah siap dengan motor bututnya, bahkan teman-teman yang lain pun sudah menaiki mobil rombongan. Hanya ia yang memakai kendaraan sendiri.

"Iskhandar, ayo kita pulang," ajak Ahsam temannya.

"Iya, kalian duluan saja," jawabnya. Iskhandar lebih dulu menyalakan sebatang rokok, sambil berkemudi ia menghisap rokoknya. Ia bersantai saat mengendarai motor bututnya itu.

Namun tiba-tiba ... Segerombolan orang mencegatnya bahkan langsung membawanya saat ia menepikan motornya.

"Siapa kalian? Kalian mau apa? Aku orang miskin, tidak ada yang berharga dari diriku," ucapnya sedikit berontak. Ia dimasukkan ke dalam mobil dan salah satu dari mereka membawa motor butut miliknya.

Tiba di dalam mobil, Iskhandar mengenali salah satu orang di sana. Ia masih ingat saat dirinya dibawa ke rumah Aluna. Akhirnya kini Iskhandar tahu siapa yang menyuruh mereka. "Sial, apa yang mereka inginkan dariku?" batinnya.

Tibalah Ishkandar di sebuah rumah besar, namun bukan rumah mertuanya. Mohan duduk membelakangi arah pintu sehingga menantunya tak secara langsung melihat dirinya. Tapi Iskhandar yakin kalau yang ada di balik kursi itu adalah mertuanya. Lalu kursi itu berputar menghadapnya, dan benar saja bahwa orang itu adalah mertua dari Iskhandar.

Mohan berdiri sambil menatap tajam menantunya. Perlahan ia mendekat lalu berkata. "Saya tidak suka kamu memperlakukan putriku dengan semena-mena. Aluna tidak terbiasa hidup susah, apa lagi sampai dibentak. Saya saja sebagai Ayahnya tak pernah melakukan itu padanya, sedangkan kamu berani sekali!" ucap Mohan.

"Apa yang membuatmu melakukan itu pada putriku? Apa selama tinggal di sana putriku menyusahkanmu? Kenapa kamu begitu tega melakukannya, hah?" Mohan mencengkram kerah baju Iskhandar, dan beberapa saat ia menghempaskannya sampai menantunya itu hampir tersungkur.

"Berani sekali lagi kamu menyakiti putriku, kamu akan terima akibatnya. Bahkan saya akan menarik kembali uang ku yang sudah kuberikan pada pihak yang akan menggusur tempat tinggalmu!" ancam Mohan.

Iskhandar tak menjawab, ia menahan amarah hanya mengepalkan tangan di samping pahanya. Mana berani ia melawan seorang Mohan, pria itu cukup berkuasa sehingga ia hanya diam saja tak berkutik.

"Jangan diam saja!" cetus Mohan lagi.

Iskhandar menunduk, andai bukan warga sebagai taruhannya mungkin ia sudah pasti melawan. Bahkan pernikahan ini ia tak menginginkannya sama sekali. Mohan sendiri yang memintanya untuk menjadi menantunya. Dan sayangnya ia tak dapat membalikkan fakta karena jika uang sudah berbicara maka ia tak bisa berbuat apa-apa.

"Maafkan aku, Tuan. Aku janji tidak akan melakukannya lagi, tapi saya minta jangan sampai digusur tempat tinggal kami. Hanya rumah kumuh itu yang kami miliki," ucap Iskhandar. Meski ia marah ia mencoba menahannya.

"Saya mau ini yang terakhir saya dengar kamu menyakiti putriku, saya tidak akan segan-segan meratakan tempat tinggalmu dengan tanah!"

Iskhandar mengerti dan meyakinkan mertuanya bahwa ini tidak akan terulang. Setelah itu, Mohan melepaskan menantunya yang ia rasa pria itu cukup mengerti tentang dirinya. Bukan tidak sayang pada putrinya ia juga tak ingin melihat putrinya patah hati

***

Iskhandar mengendarai motornya dengan sangat kencang. Di hadapan Mohan ia mati kutu, ia tak mungkin melawan karena sama saja ia bunuh diri. Banyak warga yang akan lebih sengsara dari ini jika Mohan menarik kembali uangnya. Secepat kilat ia sampai di rumahnya.

Brakk ....

Pintu terbuka lebar karena Iskhandar membukanya dengan cara menendangnya. Aluna yang tengah memegang botol obat pun sangat terkejut akan kedatangan suaminya. Botol obat itu terlepas dari genggaman, sehingga obat-obatan itu berhamburan di atas lantai.

Aluna menatap obat itu dengan nanar, tak ada obat yang bisa diselamatkan. Semua obat itu menjadi kotor. Iskhandar tidak peduli dengan obat-obatan itu, ia marah karena istrinya telah mengatakan kepada ayahnya tentang rumah tangganya. Bahkan sikap yang sering ditunjukkan kepada Aluna pun ayahnya sudah tahu semuanya.

"Aku sudah bilang padamu jangan katakan apa pun tentang rumah tangga kita. Belum cukup kamu buat hidupku jadi menambah beban, hah? Aku itu orang miskin, Aluna. Memiliki istri itu aku sebetulnya tidak siap tambah beban hidupku yang pas-pasan!" bentaknya pada Aluna.

Aluna tertunduk sambil menatap obatnya. Susah payah ia mendapatkan obat itu. Terlebih ia tak mengerti apa yang diucapkan suaminya.

"Apa saja yang kamu katakan kepada orang tuamu, hah?"

Kini, Aluna mendongakkan wajah untuk melihat suaminya. "Aku tidak mengatakan apa-apa kepada orang tuaku, sungguh!" belanya.

"Bohong! Mulai saat ini kamu tidak boleh pergi tanpa izin dariku!" sentaknya.

"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa suamiku marah?" batinnya. Padahal hari tadi sikap suaminya marah seperti biasa yang sering ia terima. Tapi kali ini Iskhandar sangat murka. Ada api kemarahan di mata suaminya.

"Kamu senang jika tempat tinggalku digusur? Apa kedatanganmu kemarin mengadukan semua sikapku padamu? Kamu ingin balas dendam padaku begitu?!"

"Ti-tidak, aku tidak mengatakan apa pun kepada mereka," jelas Aluna. Jangankan untuk mengadu, bertemu dengan orang tuanya pun tidak. Bahkan ia tak mengatakan apa pun kepada adiknya itu, lalu dari mana orang tuanya tahu? pikirnya.

"Berani sekali lagi kamu mengadu, akan ku usir kamu dari sini!" sentak Iskhandar lagi.

Aluna sangat ketakutan melihat kemarahan suaminya. Dan Iskhandar semakin merasa terhina oleh Mohan karena semua selalu dilibatkan dengan uang.

"Jangan mentang-mentang aku orang miskin kalian bisa melakukan apa pun dengan uang kalian," cetus Iskhandar lagi. Setelah mengatakan itu ia segera pergi ke kamarnya dengan sengaja ia menginjak obat yang berserakan di lantai.

Aluna memungut obat-obatan itu, terpaksa ia membuangnya karena obat itu sudah kotor dan tak layak minum. Kejadian ini membuatnya tak berani kembali menemui adiknya. Ia harus mematuhi apa kata suaminya. Jika berdiam diri bisa membuat suaminya tak marah padanya, maka ia akan diam di rumah sampai sisa umurnya habis.

Setelah obat itu terkumpul, Aluna membuangnya. "Maafkan Kakak, Bella. Kakak tidak bisa menjaga obat itu," lirihnya.

***

Aluna meringkuk di kamar kecil miliknya, ia mencoba untuk tidur. Semoga kejadian ini bisa membuatnya lupa, kejadian ini membuatnya terasa sangat sesak. Malam ini ia kembali tidur berselimut kain tipis dan itu tak bisa menghangatkan tubuhnya yang beku, karena cuaca hari ini cukup dingin.

Aluna berharap esok akan baik-baik saja dan suaminya kembali bersikap seperti biasa. Meski suaminya selalu bersikap kasar tak membuatnya menyulutkan rasa cintanya. Ia bertahan sampai sisa umurnya. Rasa cinta itu tak akan hilang karena semua ia lakukan dari ketulusan dalam hati.

Terpopuler

Comments

Ketawang

Ketawang

Cinta buta sampe menyakiti bahkan membunuh dirimu sendiri Aluna😡

2024-10-08

0

lovely

lovely

bukan bahagia mau koid malah sengsara buta cinta

2023-03-02

1

dikala senja

dikala senja

kasihan aluna demi cinta ooh cinta buta membawa sengsara

2022-09-24

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!