"Aluna ...!!!" teriak Iskhandar dengan lantang.
Pagi itu Aluna membuat kopi untuk suaminya, dan sang istri tengah membereskan tempat tidur bekas tidur semalam. Aluna terpaksa membereskan kamar menjadi dua kali lipat karena mereka tidur dalam tempat yang berbeda.
"Ya, sayang," jawab Aluna setibanya di dapur.
"Sayang! Aku tidak sudi dipanggil sayang," cetus Iskhandar.
"Lalu aku harus panggil apa?"
Suaminya tak menjawab, pria itu fokus pada kopi buatan istrinya. "Apa kamu tidak bisa buat kopi? Ini kemanisan, kamu buat aku diabet? Bisa kerja tidak sih? Oh, aku lupa kamu 'kan seorang putri mana bisa jadi ibu rumah tangga," celetuknya.
"Tapi aku sudah sesuai takaran, mana mungkin kemanisan? Aku buat yang baru kalau begitu." Aluna hendak memanaskan air di kompor.
"Tidak usah, buat mubazir saja. Aku bukan orang kaya yang semuanya tersedia dengan sendirinya. Kalau tidak becus mending kamu pulang dan duduk manis di rumah besarmu itu."
Seolah memiliki dendam pribadi, sehingga Iskhandar tak memandang Aluna sebagai istri. Kehidupannya yang pelik membuatnya tak percaya akan seorang istri yang mencintai suaminya. Dari pengalaman hidup, Iskhandar dilantarkan oleh ibunya. Juga ayahnya yang tak diurus oleh ibunya.
"Maafkan aku suamiku, aku tak bermaksud menghamburkan gula dan kopi itu. Aku hanya ..."
"Sudahlah, pagi ini buat mood-ku berantakan saja. Sebenarnya, tanpa kamu buatkan kopi pun tidak apa-apa. Aku terbiasa sendiri," cetus Iskhandar.
***
Hampir setiap hari Aluna mendapat makian dari suaminya. Tapi Aluna mencoba menerima sikap Iskhandar, karena memang benar, ia tak bisa apa-apa. Hidup bak seorang putri karena ia anak kesayangan ayahnya membuat Aluna tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah. Hingga malam hari, hujan deras disertai petir yang menyambar. Aluna gelisah, ia menarik selimut tipis dan tidur hanya beralaskan tikar di lantai.
Sesekali matanya terpejam saat mendengar suara petir menggelegar. Angin yang kencang membuatnya kedinginan. Aluna melongokan kepala melihat suaminya yang tidur di atas kasur, pria itu terlihat nyenyak bahkan tak terganggu dengan suara hujan yang deras disertai petir menggelegar.
Aluna kembali merebahkan tubuh, mencoba untuk tidur namun tetap tak bisa karena tempat tidurnya sangat dingin. Ia kedinginan dan hampir menggigil. Aluna beranjak, dan memberanikan diri naik ke atas tempat tidur. Suaminya masih terjaga dari tidurnya, sehingga Aluna berani karena ia yakin kalau suaminya tidak akan tahu bahwa ia tidur bersamanya. Hingga akhirnya, Aluna dapat memejamkan mata karena mendapat kehangatan dari kasur itu.
Saat pagi tiba, Aluna buru-buru terbangun. Ia tak boleh didahului oleh suaminya. Iskhandar pasti murka bila tahu dirinya tidur di sampingnya. Aluna menatap wajah tampan itu dengan seksama, bibirnya melengkung tangannya terulur ke arah pipi suaminya. Sadar akan hal itu, buru-buru ia menarik kembali tangannya yang hampir menyentuh kulit lelaki itu.
Iskhandar berkata, bahwa istrinya tal boleh menyentuhnya. Jika dalam jangka dekat istrinya tak bisa membuatnya jatuh cinta, maka siap atau tidak siap, Aluna harus keluar dari rumahnya. Untuk saat ini, Aluna menjaga sikap agar suaminya tahu bahwa ia sangat mencintai bahkan tanpa meminta imbalan. Bisa hidup bersama orang yang dicintainya pun ia sudah sangat bahagia.
Aluna kembali kerutinitas seperti biasa. Pagi hari, ia akan membuatkan kopi dan sarapan untuk suaminya. Berhubung kebutuhan dapur sudah tidak ada, maka ia hanya membuatkan sarapan seadanya. Aluna langsung berkutat di dapur, gadis itu belum mandi hingga penampilannya sedikit acak-acakan. Rambut terikat dengan asal, leher jenjang putih itu terlihat sangat sempurna.
Tiba-tiba suaminya datang, dan makanan sudah tersaji. Hanya ada roti sisa kemarin, ia pun membuat roti bakar pagi itu. Dan Iskhandar memberikan selembar kertas kepada Aluna.
"Ini tugas selama kamu tinggal di sini, kalau tidak sanggup sebaiknya bicara dari sekarang."
Aluna membaca deretan aktivitasnya selama tinggal bersama suaminya. Dari mulai mencuci baju, memasak, dan berbenah rumah. Ia hanya mengangguk-anggukan kepala karena cukup mengerti tugas seorang istri.
"Dan ini, pergunakan seperlunya." Iskhandar menyodorkan sebuah amplop cokelat yang berisikan uang. "Itu uang belanja satu minggu ke depan, aku rasa itu cukup. Jangan membeli barang yang tidak penting, uang itu hanya cukup untuk kebutuhan perut," jelas suaminya.
"Dan pagi ini seharusnya kamu ke pasar, beli kebutuhan dapur."
"Iya, suamiku. Aku akan menuruti apa pun perintahmu. Kamu sudah siap berangkat?" tanya Aluna.
"Iya, kenapa memangnya?"
"Tunggu sebentar aku siap-siap dulu." Aluna segera pergi ke kamar mandi.
"Hey, mau apa kamu?" tanya Iskhandar.
"Aku ikut," teriak Aluna. "Aku harus ke pasar dan aku belum tahu tempatnya," teriaknya lagi dari dalam kamar mandi.
***
Terpaksa, Iskhandar menunggu, bahkan ia sudah menunggu di depan rumah susun. Dengan motor bututnya yang selalu menemaninya bekerja kala tak bersama teman-temannya.
"Lama sekali. Aluna ... Cepat sedikit, nanti aku terlambat," teriak Iskhandari dari bawah pobon besar depan rumah susunnya.
"Iya, sebentar." Jawab Aluna sambil berlari, bahkan ia tengah memakai flat shoes-nya.
Aluna segera naik motor butut itu, dan melingkarkan tangan di perut suaminya.
"Lepaskan!" cetus Iskhandar.
Aluna tertegun dengan ucapan suaminya, lambat laun ia pun melepaskan cekalannya dari pinggang itu. Tapi tak mengapa, ia harap tidak jatuh dari motor suaminya itu. Itu pengalaman Aluna naik motor butut bahkan penopang belakangnya pun tidak terpasang. Takut pun ia beranikan diri, ia tak boleh terlihat manja.
Tibalah Aluna di pasar. Iskhandar menurunkan istrinya di sana, ia sendiri akan bekerja hari ini. Pertama kalinya ia akan terlambat bekerja. Siap-siap saja pagi ini kena omel oleh mandornya.
"Hati-hati suamiku." Aluna melambaikan tangan, tapi suaminya tak menoleh sedikit pun kepadanya.
***
Aluna memilih sayuran segar di pasar, ia bingung apa yang harus dibeli karena ia tidak tahu makanan apa yang disukai suaminya.
"Aku rasa dia pasti suka ini." Aluna memilah wortel segar untuk dijadikan acar.
Dan ia pun membeli satu bungkus roti dan selai. Setelah dirasa cukup, ia pun segera kembali pulang. Sebetulnya ia ingin membeli bahan makanan lebih banyak, tapi kondisi keuangan yang tidak memungkinkan membuatnya mengurungkan niatnya. Uang yang diberi dari suaminya harus cukup satu minggu.
Untuk menghemat uang, Aluna pun pulang dengan berjalan kaki. Jarak yang ditempuh lumayan jauh, tapi demi suaminya ia rela. Dengan begini ia membantu mengurangi pengeluaran. Terik panas matahari pun tak dirasa, yang ia pikirkan bagaimana caranya uang ini cukup satu minggu? Ia tak boleh mengecewakan suaminya, ia akan membuktikan bahwa ia seorang istri yang serba bisa.
"Semangat Aluna, semangat ...," ucapnya sendiri sambil melewati pasar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
Ketawang
woyyyyy iskhandar... dg mnikahi Aluna scra otomtis kamu bisa merubah taraf hidupmu,knp suka bgt hidup menderita... kurang apa,istri cantik,baik,kaya raya🤑🤣
2024-10-08
0
paty
keterlaluan iskandar, ntar lo nyesal klu tau penyakit istri lo
2023-01-05
2
Yati Rosmiyati
Iskandar ku tunggu penyesalan mu menyia nyiakan istrimu
2022-11-09
0