Bab 2

Keesokan paginya.

Pagi-pagi buta, Aluna sudah stand bye di tempat kemarin. Ia sudah ada di bawah pohon besar di depan rumah susun pria itu. Ia sudah siap untuk mengenal pria itu lebih dekat lagi. Cukup lama Aluna berada di bawah pohon itu, karena ia terlalu pagi pergi ke sana saking semangatnya.

Hari mulai terang. Beberapa orang muncul, wajah-wajahnya sudah tidak asing bagi Aluna. Mereka pekerja jalan yang bekerja bersama laki-laki itu kemarin. Orang-orang itu berteriak dari bawah ke arah pintu yang di tempati pemuda kemarin.

"Iskhandar," teriaknya. "Iskhandar, apa kau belum bangun?" teriaknya lagi.

"Oh, namanya Iskhandar," gumam Aluna sambil manggut-manggut di bawah pohon.

Muncul-lah sosok Iskhandar itu, sepertinya pria itu baru terbangun. Aluna yang melihat sangat terpesona. Rambut acak-acakan khas bangun tidur membuat pria itu terlihat seksi.

"Ya, tunggu sebentar. Aku mandi dulu," sahut Iskhandar sambil menggaruk kepala.

Beberapa menit kemudian, sosok Iskhandar muncul. Pria itu semakin tampan di mata Aluna, ia semakin terpikat saja oleh pemuda itu. Ini kali pertama Aluna merasakan jantungnya berdebar saat melihat seorang pria. Tak bisa mengelak bahwa ia sangat memuji Iskhandar. Bisa ditafsir, lelaki itu berusia 28 tahun, dan Aluna sendiri berusia 23 tahun.

Iskhandar dan teman-temannya siap berangkat. Aluna dengan sigap, siap mengikutinya kembali. Ia pikir, bahwa mereka akan bekerja di tempat kemarin. Tapi nyata bukan, Aluna mengikuti dari belakang mobil pick-up besar itu. Ia sendiri mengendarai mobilnya. Sampai-lah mereka di sebuah bangunan yang belum selesai. Bangunan itu masih kerangka, pasir, batu bata masih bertebaran di sana.

Pria itu pekerja keras sehingga Aluna yakin bahwa Iskhandar layak untuk diperjuangkan. Pemuda jaman sekarang sudah jarang mau bekerja kasar seperti ini. Aluna semakin larut dalam cinta Iskhandar. Dan gadis itu sudah turun dari mobilnya, lalu ikut menelusuri bangunan kerangka itu. Para pekerja sudah ada sebagian yang bekerja. Aluna mencari sosok Iskhandar, tapi tak kunjung ketemu. Hingga akhirnya, matanya menangkap siluet, ia yakin kalau bayangan itu sosok Iskhandar. Tersorot oleh sinar sang surya pagi itu, tubuh tinggi nan gagah.

Iskhandar tengah mengganti pakaian dengan setelah kerjanya. Lalu, ia pun keluar dari tempatnya. Iskhandar terkejut saat melihat Aluna.

"Kau!" kata Iskhandar dengan tatapan tidak suka. "Sedang apa kau di sini? Ini tempat bukan untuk bermain, pergi-lah. Jangan mengganggu!" Iskhandar bisa menebak apa tujuan gadis itu. Ia masih ingat kejadian kemarin.

"Aku tidak akan menganggu, aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat," ucap Aluna. Lalu, gadis itu mengulurkan tangan mulusnya ke arah Iskhandar. "Namaku, Aluna. Namamu siapa?" tanya Aluna pura -pura tidak tahu.

Iskhandar melihat tangan putih mulus itu, ia dapat menebak bahwa gadis itu pasti orang kaya. "Pergilah dan jangan mengganggu yang sedang bekerja, kami di sini mencari sesuap nasi,' ucap Iskhandar.

Aluna mundur beberapa langkah sambil menarik tangannya kembali, ia memberi ruang untuk pria itu. Iskhandar melewati tubuh Aluna. Dan bekerja-lah Iskhandar hari itu. Aluna tidak menganggu, ia hanya menemaninya. Dengan sabar ia akan menunggu sampai pria itu mau berkenalan dengannya. "Aku tidak akan menyerah, bila disuruh menyebrang lautan pun aku sanggup," katanya, seraya melamun melihat Iskhandar yang sedang bekerja.

Tanpa terasa jam istirahat pekerja pun tiba. Aluna menyodorkan sebotol minuman, ia tak menyerah walau kemarin sempat diabaikan. "Kenapa tidak menerima minuman dariku?" tanya Aluna. "Ini hanya air mineral."

"Iskhandar, sini gabung?" ajak temannya. "Kita bawa makanan lebih." Iskhandar pun meninggalkan Aluna sendiri, gadis itu mengerucutkan bibir karena sedikit kesal.

Beberapa jam kemudian.

Iskhandar selesai dengan pekerjaannya. Dan Alun masih ada di sana. Ia tak akan pulang sampai pria itu selesai. Tak lama dari situ, para pekerja yang lain sudah berkumpul dan sudah siap untuk pulang, termasuk dengan Iskhandar. Dan mereka semua sudah naik ke mobil untuk segera pulang. Mau tidak mau, Aluna pun pulang dengan jiwa yang hampa.

***

Di kediaman Aluna.

Seperti biasa, pada jam 8 malam mereka akan berkumpul di ruang makan. Aluna memiliki seorang adik perempuan yang usianya tidak jauh darinya, namanya Bella. Kedua orang tuanya pun menikmati makan malam itu, tapi tidak dengan Aluna. Gadis itu hanya mengaduk-aduk makanannya sambil melamun dan tersenyum sendiri.

Ayah Aluna melihatnya, tidak biasanya anak gadisnya seperti itu.

"Siapa pemuda itu?" tanya sang ayah.

Aluna menyadari akan pertanyaan ayahnya, ia pun menoleh sambil menggelengkan kepala. Mencoba menutupi apa yang terjadi pada dirinya.

"Kamu tidak mau mengenalkannya pada kami?" tanya ayah Aluna lagi.

"Pemuda siapa, Ayah?" tanya Aluna balik.

"Tidak seperti biasanya anak Ayah seperti ini, umurmu sudah cukup matang untuk memiliki seorang kekasih," kata ayah.

Lalu, Aluna pun menceritakan Iskhandar kepada ayahnya.

"Apa pekerjaannya?" tanya ayah.

Aluna terdiam sesaat karena Iskhandar hanya pemuda biasa, jika disandingkan dengannya perbedaan itu sangat jauh. "Arsitek," jawab Aluna. "Tapi aku mencintainya, Ayah restui kami ya?" kata Aluna.

Arsitek, dalam bayang ayah Aluna adalah arsitek yang biasa membangun bangunan megah. Tapi nyatanya bukan setelah anaknya menceritakan semuanya padanya ia menyimpulkan bahwa pria itu adalah pemuda biasa. Ayahnya sangat marah saat mendengarnya, ia tidak rela putrinya menikah dengan seorang pemuda yang kerjanya serabutan. Yang ia inginkan, anaknya berdampingan dengan pemuda yang sederajat dengan keluarganya. Susah payah ia besarkan dan ia sekolahkan tapi berujung hidup menderita.

"Ku mohon, Ayah. Aku sangat mencintainya," lirih Aluna sedih karena melihat kemarahan ayahnya yang tak merestuinya.

Ayah bangkit dari duduknya dan langsung pergi, mood-nya hancur saat putrinya ternyata mencintai pemuda kampung. Aluna hendak mengejar, namun sang ibu mencegahnya. Kalau ayahnya sudah berkata demikian maka tidak akan ada perubahan. Tapi Aluna tetap menyusul ayahnya dan sang ayah tengah naik tangga.

"Aku mencintainya, Ayah," teriak Aluna. Ia melihat dari bawah tangga dengan tatapan sedih. Beberapa saat, gadis itu menyentuh kepalanya yang terasa sakit dan berat. Pandangannya mulai gelap, dan akhirnya Aluna jatuh pingsan.

"Kakak," teriak Bella. Ibu dan adiknya berlari menghampiri Aluna. Ayah yang berniat pergi pun kembali menuruni anak tangga karena melihat putrinya tergeletak di lantai. Ayah berlutut lalu meraih tubuh anaknya dan segera membawanya pergi rumah sakit.

Terpopuler

Comments

Kenzi Kenzi

Kenzi Kenzi

ayah,...acc in ajah.kemauan ananda...demi sakitnya yg dilema.....oke,.....

2022-09-15

3

Puja Kesuma

Puja Kesuma

aluna pantang menyerah... semangat aluna😁😁

2022-09-15

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!