Bab 7

Sampai tibalah saatnya Iskhandar pulang. Hari ini ia pulang telat tak biasanya ia seperti ini. Pria itu harus mengantar gadis yang bersamanya tadi siang. Pukul 9 malam ia baru tiba di rumah. Ia memarkirkan motornya di samping rumah susun, tak ada yang akan mengambil motor bututnya. Ia segera menaiki anak tangga sedikit berlari kecil.

Sesampainya di sana, ia melihat istrinya tengah tidur di atas meja yang sudah rapuh itu. Ia melewati tubuh kecil itu begitu saja, tidak peduli dengan istrinya.

Iskhandar tak membangunkan istrinya, ia malah langsung pergi ke dapur untuk mengambil minum karena haus, saat meminum minumannya ia melihat tempat bekal yang terletak di samping kompor. Ia yakin kalau istrinya tadi siang menemuinya.

"Kenapa dia tidak memberikan makanan itu padaku? Apa jangan-jangan dia melihatku bersama Syerly tadi? Ah, aku tidak peduli dia mau lihat atau tidak itu bukan urusannya," ucapnya.

Lalu ia kembali dan posisi Aluna masih tertidur dengan kepala yang bertumpu di kedua tangan di atas meja. Wajahnya ditelusupkan. Dan Iskhandar pun akhirnya duduk untuk membangunkan istrinya.

"Bangun, kenapa tidur di sini?" tanya Iskhandar.

Aluna pun langsung terbangung padahal ia sangat terkejut. "Suamiku sudah pulang," ucapnya. "Aku siapkan makan dulu, ini pasti sudah sangat dingin biar aku panaskan." Aluna beranjak dan bergegas membawa makanan kembali ke dapur untuk di panaskan. Dan ia melihat bekal tadi siang, melihat tempat makan itu membuatnya kembali mengingat kejadian yang di mana suaminya tengah makan bersama dengan Syerly.

Namun dengan cepat Aluna menyelesaikannya dan langsung kembali membawa makanan itu dan meletakkannya di atas meja. Iskhandar menunggu istrinya membahas masalah tadi siang. Tapi sayangnya Aluna tak membahas masalah itu. Gadis itu tidak ingin bertengkar suaminya apa lagi sudah larut, ia takut penghuni sebelah mendengar perdebatan yang selalu dilontarkan oleh suaminya dan akhirnya ia memilih untuk diam. Padahal Iskhandar menunggu momen itu agar ia bisa kembali mengeluarkan kemarahannya pada istrinya itu.

"Makanlah," ucap Aluna. "Aku sudah makan tadi, maaf tidak menunggumu karena sudah sangat lapar," sambungnya sambil tersenyum. Saat dadanya sedang sesak pun ia masih menunjukkan senyum termanisnya. Menjadi istri berbakti karena tidak ada lagi waktu banyak untuknya menunjukkan betapa ia mecintai suaminya dengan tulus.

Suaminya tak menjawab, mau makan lebih dulu atau tidak ia tidak peduli. Pria itu pun akhirnya makan sendiri. Aluna hanya melihat suaminya memakan hasil makanannya tanpa protes, itu pun sudah membuatnya bahagia. Tapi sebetulnya ia lebih suka suaminya mengoceh dari pada diam seperti ini. Ocehan suaminya ia anggap sebagai bentuk perhatiannya kepadanya.

"Maafkan aku," ucap Aluna tiba-tiba.

"Maaf untuk apa?" Meski berucap tak membuat Iskhandar menghentikan aktivitasnya, ia terus mengunyah makanannya.

"Soal tadi siang." Aluna menjeda ucapannya sebentar karena suaminya langsung berhenti makan dan menatapnya. Ia pun kembali menatap suaminya sampai tatapan mereka bertemu beberapa saat.

"Memangnya kenapa dengan tadi siang?" Tanya Iskhandar dan langsung kembali melanjutkan aktivitasnya. "Ayo bahas masalah tadi, aku yakin kalau kamu melihatku dengan Syerly," batinnya.

"Emmm, a-aku ..." Aluna kesulitan untuk bicara, pasalnya ia tak pandai berbohong. Aluna hanya mengadu-adukan jari telunjuknya sambil berpikir untuk mencari alasan agar suaminya tidak marah padanya. "Maaf tidak mengantarkan makan siang untukmu, aku benar-benar minta maaf. Kepalaku tadi sakit, tapi aku sudah menyiapkan bekal untukmu. Sungguh kepalaku sakit," jelasnya beralasan.

"Aku tidak peduli," jawabnya dengan ketus.

"Suamiku tidak marah 'kan?" tanya Aluna kemudian.

"Untuk apa aku marah? Aku sudah bilang urus saja rumah dan jangan pedulikan aku, tanpamu mengantarkan makan pun aku masih bisa makan." Jawaban Iskhandar membuat Aluna mengelus dada.

"Sabar-sabar," batin Aluna.

Jawaban itu sangat membuat hati Aluna tertusuk, ia tahu kenapa suaminya berkata demikian. Tapi bisakah ucapan suaminya itu tak mengarah pada kejadian tadi siang yang di mana ia tak mengantarkan bekal dan ada penggantinya dari wanita lain. Bisakah sedikit saja membuat hatinya berbunga?

"Syukurlah kalau suamiku tidak marah, aku hanya mencoba menjelaskan kenapa aku tidak meng-."

"Sudahlah, tidak usah membahas itu. Aku sudah selesai makan, kamu cepat bereskan aku mau tidur, aku cape," punkas suaminya. Lalu Iskhandar beranjak meninggalkan Aluna sendirian.

Aluna melihat kepergian suaminya, perlahan tubuh gagah itu menghilang dari pandangan. Ia membereskan meja itu, menyimpan makanan sisa suaminya dan meletakkan di dalam nakas kecil yang terletak di dapur. Makanan itu bisa dihangatkan besok pagi untuk sarapannya sendiri. Dan sebetulnya ia sendiri pun belum makan, perutnya mendadak kenyang karena mengingat kejadian tadi siang.

Tak bisa dipungkiri, rasa cemburu itu ada karena ia sangat mencintai suaminya. Meski sikap suaminya seperti itu tak membuatnya ingin membalasnya. Ia hanya ingin menggunakan kesempatan hidup sebaik mungkin. Jika ia sudah tidak ada di dunia ini mungkin tak akan bisa lagi mengalami kejadian-kejadian bersama suaminya.

Seusai membereskan semuanya, ia pun pergi ke kamar sempit dan pengap itu. Sebelum tidur ia selalu meminum obat yang masih tersisa. Ia mengambil kotak obat yang selalu ia simpan di dalam tas besar miliknya. Saat dilihat, obat itu sudah habis tak meninggalkan satu pun.

"Ya, sudah habis. Bagaimana ini?" pikirnya. "Aku tidak mungkin meminta uang pada suamiku," ucapnya kebingungan. Ia ingat betul apa kata suamiya, harus berhemat untuk menggunakan uang. Apa lagi kalau suaminya tahu ia penyakitan, terlihat sehat saja suaminya tidak menyukainya apa lagi sakit seperti ini? Bisa-bisa ia diusir karena takut merepotkannya.

Terpaksa malam ini Aluna tidak meminum obat, padahal obat itu bisa memperlambat penyakitnya yang bisa melumpuhkan sel-sel otaknya. Hanya menggantungkan obat untuk hidup, terkadang ia masih tetap lupa dan membuat kesalahan meski sudah rutin meminum obat. Apa lagi tidak mengkonsumsi obat? Mungkin dalam satu minggu ke depan ia benar-benar bisa lupa dengan segalanya.

"Aku tidak boleh terlambat minum obat, aku harus tetap meminumnya. Untuk malam ini saja aku tidak minum obat, besok aku harus menemui adikku dan minta tolong padanya." Hanya Bella yang bisa ia andalkan, ia juga tidak mungkin meminta uang pada orang tuanya, ia tak ingin suaminya terlihat jelek di pandangan kedua orang tuanya.

Ia tak ingin orang tuanya ikut campur dalam rumah tangganya karena ini keinginannya hidup bersama Iskhandar, hidup dengan orang yang tak mencintainya ya ini resikonya.

"Sebaiknya aku tidur dan besok harus bangun pagi-pagi karena harus menemui Bella." Aluna mengambil selimut tipis dan mulai merebahkan tubuhnya. Melihat langit-langit kamar itu dan perlahan matanya terpejam karena memang sudah sangat mengantuk.

Terpopuler

Comments

Patrick Khan

Patrick Khan

sedih baca nya🥺

2024-02-21

0

Puja Kesuma

Puja Kesuma

bodoh kali kau aluna...lbh baik kau urus dirimu sendiri drpd hrs kau urus suami kyk iskandar...kaunpulang aja ke rymah ortumu dan kau urus perceraian dgn iskandar biar dia nyesel

2022-09-18

5

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!