Bab 8

Pagi hari, tepatnya tengah sarapan. Aluna dan Iskhandar tak saling menyapa, karena lelaki itu akan diam jika istrinya tak mengajaknya berbicara. Sesekali Aluna mencuri pandang, ia ragu untuk meminta izin. Ia akan menemui adiknya, tapi ia bingung harus dengan alasan seperti apa. Ia tak mungkin mengatakan bahwa ia akan meminjam uang kepada keluarganya.

Sejenak, Aluna menarik napas dalam-dalam. Mempersiapkan diri untuk meminta izin. Apa lagi, dulu suaminya pernah berkata bahwa ia tak ingin keluarga istrinya ikut campur urusan rumah tangganya, kalau sampai suaminya tahu akan tujuannya bisa-bisa Iskhandar marah apa lagi mengenai masalah uang. Sejak awal ia tahu kalau suaminya sangat sensitif jika mengenai dirinya yang tak berpunya, mengapa ia lakukan itu karena ia tak ingin membahas masalah keuangan rumah tangganya.

Iskhandar melirik istrinya, seperti ada sesuatu yang ingin diucapkan gadis itu padanya. Tanpa basa-basi ia langsung saja bertanya. "Ada apa? Kenapa kamu terlihat gelisah?"

Aluna langsung menoleh dan menjawab. "Boleh kah aku pergi sebentar?"

"Kemana?"

"Ke rumah, ada beberapa barang yang tertinggal. Aku harus mengambilnya," jawab Aluna.

"Pergi saja, memangnya ada yang melarang? Cukup satu yang tidak boleh kamu katakan, aku tidak suka jika kamu membahas masalah kita di rumah ini." Iskhandar hanya ingin hidup tenang, menikah dengan Aluna membuatnya merasa memiliki masalah, apa lagi dengan pernikahan yang sama sekali tidak diinginkan olehnya. Kalau bukan karena menolong warga yang tinggal di rumah susun itu ia tak akan menikahi gadis yang dari awal bertemu sudah membuat masalah dengannya.

Wajah Aluna berbinar, ia tersenyum sumringah. "Terima kasih, aku janji akan pulang sebelum kamu tiba di rumah."

***

Aluna menemui adiknya di tempat kerja, sebuah butik yang dikelola oleh adiknya itu. Sebetulnya butik itu awalnya milik Aluna, karena sering sakit-sakitan membuat ayahnya tak mengizinkannya lagi untuk bekerja. Semua karyawan menyapa saat dirinya tiba. Dan seorang karyawan di sana berteriak memanggil Bella.

"Bella ... Kakakmu datang." Karyawan itu adalah asisten Bella, mengapa berteriak karena mereka memang sudah cukup dekat.

"Kak," panggil Bella. Sang adik menghampiri dan menghamburkan tubuhnya untuk memeluk. Bella melihat sang kakak dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Kakak apa kabar? Kenapa jarang menghubungi kami? Kakak baik-baik saja 'kan? Kakak bahagia 'kan?" pertanyaan itu membuat Aluna tersenyum getir.

"Tentu Kakak bahagia, makanya sampai lupa menghubungi kalian. Maafkan Kakak," jawabnya.

"Ayok, kita ngobrol di dalam," ajaknya pada sang kakak. "Lusia, kamu handle dulu semua pelanggan," teriaknya pada sang asisten. Kebetulan di butik sedang ramai.

Bella menuntun sang kakak ke ruangan, betapa rindunya ia kepada saudaranya itu. "Sungguh, aku sangat merindukanmu," ucap Bella yang kini sudah terduduk berhadapan dengan Aluna. "Ada yang bisa aku bantu?" tanynya kemudian.

"Kamu pasti sibuk maaf sudah menganggu, kedatanganku kemari sebenarnya mau minta tolong," ucap Aluna.

"Apa? Apa yang harus aku lakukan?"

"Tidak ada yang harus kamu lakukan, aku hanya mau meminjam uang." Rasanya Aluna malu, disaat ia sudah berkeluarga masih merepotkan keluarganya.

Sejenak, Bella terdiam dan menatap wajah sang kakak lekat-lekat. "Ada masalah?"

Aluna menggelengkan kepala sabagai jawaban.

"Obatku habis, dan suamiku belum gajian. Aku hanya meminjamnya, setelah suamiku ada uang aku akan segera menggantinya." Aluna tak mungkin mengatakan bahwa suaminya hanya memberi uang untuk keperluan dapur saja, ia tak ingin buat adiknya khawatir.

"Kakak tidak bohong padaku 'kan? Tidak ada yang Kakak sembunyikan dariku?" Bella tidak yakin akan rumah tangga kakaknya yang bahagia.

"Tidak, semuanya baik-baik saja. Kakak bahagia, Bella," elak Aluna.

Bella pun mengambil sebuah amplop dari dalam laci lalu memberikan amplop berisi sejumlah uang itu kepada kakaknya. "Stok obat bila perlu, aku tidak mau Kakak terlambat minum obat. Kakak harus tetap sehat, hanya kamu saudaraku satu-satunya." Bella memeluk Aluna dengan sangat erat, ia menahan air matanya yang akan keluar.

"Terima kasih, aku janji akan menggantinya."

"Itu uangmu, tidak perlu diganti."

"Terima kasih, jangan katakan masalah ini pada ayah. Aku tidak mau dia khawatir."

Bella mengangguk. Dan Aluna pun pamit karena harus segera ke apotik untuk menebus obat.

***

Di sebrang jalan berhadapan dengan apotik tersebut. Aluna melihat keberadaan suaminya di sana. Lagi-lagi suaminya bersama gadis kemarin, mereka terlihat sangat dekat bahkan Iskhandar terlihat perhatian. Berada di apotik tentu mereka tengah membeli obat. Aluna pikir obat itu pasti untuk kekasihnya.

Dadanya terasa sesak sekali. Tanpa permisi air matanya terjatuh begitu saja, untuk yang pertama kalinya ia menitikkan air mata. Beberapa saat, Iskhandar dan gadis itu sudah berlalu meninggalkan apotik. Setelahnya ia pun segera ke apotik tersebut. Ia memberikan botol kosong kepada karyawan di sana. Tanpa karyawan bertanya obat apa itu mereka sudah tahu.

"Terima kasih," ucap Aluna setelah menerima obat itu.

Kini ia pun pulang berjalan kaki, karena letak apotik tidak terlalu jauh dengan rumah susun yang di tempati olehnya. Hampir satu jam lebih ia dalam perjalanan.

"Di mana rumahku? Kenapa aku tidak menemukan rumahku?" Tiba-tiba Aluna lupa jalan pulang, ia terus bolak-balik pada jalan yang sama. Pandangannya terus berputar melihat sekeliling jalan. Baru saja ia melewati jalan itu, tapi kenapa ia sudah berada di sana lagi?

"Kanan apa kiri?" Aluna menunjuk jalan pertigaan, ia bingung harus masuk ke jalan yang mana? Keduanya sudah dicoba namun hasilnya nihil, tetap saja ia kembali di titik pertigaan itu. Aluna menyentuh kepalanya yang terasa berat, ia berharap masih kuat untuk melanjutkan perjalanan.

Bahkan hari sudah mulai gelap, ia tak boleh terlambat ia harus cepat kembali ke rumah sebelum suaminya. Dan akhirnya, ia menemukan titik terang. Ia mengenali salah satu pengguna jalan, dan ia pun mengikuti orang itu. Terkadang, memorinya sebagian terhapus. Beruntungnya ia dapat mengenali salah satu penghuni rumah susun yang sering ia lihat saat pagi hari.

Aluna bernapas lega, akhirnya ia sampai di rumah suaminya. Ia cepat-cepat masuk, tapi sayang Iskhandar lebih dulu sampai dan ia tengah bersedekap tangan di dada.

"Kalau tidak mau tinggal di rumah ini pergi saja dan jangan kembali," cetus Iskhandar. "Rumah ini tak senyaman rumahmu, jika masih betah di rumah mewahmu kenapa harus pulang?"

"Maaf, aku terlambat. Aku tidak bermaksud-."

"Berapa kali aku mendengar kata maaf darimu? Tetap saja kamu sering melakukan kesalahan!"

"Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."

"Terus saja berjanji sampai janji itu kamu ingkari sendiri." Iskhandar pergi meninggalkan istrinya yang masih mematung di ambang pintu.

Aluna merema* kantong kresek yang ia pegang, lalu berjalan masuk perlahan.

Terpopuler

Comments

Puja Kesuma

Puja Kesuma

😭😭😭aku ingat dl ayahku jg seperti aluna pergi lupa jalan pulang..bolak balik gang nyariin rumah..akhirnya 3 hr menghilang baru di temukan..aku gk tau klo itu penyakit kirain pikun aja... sabar ya aluna... kau tinggalkan aja iskandar jgn kau makin tersiksa hidup.dgn laki laki egois itu

2022-09-18

3

Heni_Rosma

Heni_Rosma

nyesek... baca nyaa...
aluna jadi bodoh karena cinta...
lebih baik di cintai dari pada mencintai...

2022-09-18

2

heni diana

heni diana

Nyesek bngth sich thor... Semog aluna bisa sembuh.. Berthan lah kalo kmu mash ingin berjuang untuk mndapatkn hati suami mu... Tpi jika sudah terlalu sakit pergilah cari kebahagianmu

2022-09-18

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!