Bab 18

Terpaksa Iskhandar pergi karena tak ingin buat keributan dan mengganggu orang di sana, terlebih kepada Aluna yang ia yakini ada sesuatu yang telah terjadi kepada istrinya itu. Dengan gontai ia berjalan, menyurusi tepi jalan dengan jiwa yang hampa.

Karena penasaran apa yang terjadi pada istrinya ia pun langsung pergi ke kamar istrinya. Karena tak mungkin akibat malam itu membuat istrinya kehilangan ingatannya apa lagi lupa kepadanya. Iskhandar masuk ke ruangan sempit nan pengap itu. Mengedarkan pandangan di sana, mulutnya menganga saat melihat banyaknya foto dirinya yang menempel di dinding. Ia menghampiri dinding, lalu mengambil selembar kertas yang menempel di sana. Ia juga melihat kertas tentang tugas istrinya yang sengaja di pajang di dinding.

Sebuah ungkapan dari lubuk hati yang paling dalam ditulia oleh istrinya. Aluna mencurahkan semua perasaannya kepada suaminya, tak hanya di situ Iskhandar mengobrak-abrik ruangan itu hanya demi mencari tahu tentang istrinya. Ia membuka tas besar yang ada di sudut ruangan, dan di sana ia menemukan botol obat. Membaca kegunaan obat itu, tapi tertulis dengan bahasa asing sehingga ia tak tahu apa arti tulisan itu.

Yang diingatnya obat itu hanya vitamin karena dulu istrinya pernah berkata. Ia juga teringat saat obat itu pernah tumpah dan berhamburan di lantai. "Sebenarnya obat apa ini?" tanyanya sendiri. Menelisik botol obat itu berulang kali.

Karena ingin lebih jelas, ia segera pergi ke rumah sakit hanya untuk menanyakan obat itu kepada dokter.

***

Tibalah ia di rumah sakit, dan sekarang tengah berada di ruangan bersama dokter.

"Alzheimer," ucap dokter.

"Alzheimer? Penyakit apa itu, Dok?" tanya Iskhandar setibanya di rumah sakit.

"Melumpuhkan otak, penyakit ini memang langka. Perlahan akan menghapus memori, tapi lambat laun akan lupa dengan semua yang telah terjadi. Bahkan ini sangat mematikan," jelas dokter.

Iskhandar menggelengkan kepala. "Tidak! Ini tidak mungkin, Dokter. Dokter jangan menakut-nakutiku," ucap Iskhandar.

"Untuk apa saya menakuti Anda? Karena saya mengalaminya, istrinya saya meninggal karena penyakit ini," terang dokter.

Yang lebih sakit bagi Iskhandar, ia tidak tahu penyakit istrinya sendiri. Kenapa istrinya menyembunyikan ini darinya? Tanpa ia tahu alasan Aluna melakukannya, ia hanya ingin cinta yang tulus dari suaminya. Tanpa melihat kekurangannya apa lagi dicintai hanya karena rasa kasihan. Aluna gadis yang kuat, ia berani mengambil resiko. Menikah dengan laki-laki yang sama sekali tak mencintainya, jangankan untuk mencinta saling kenal pun tidak.

Setelah mendengar penjelasan dari dokter, Iskhandar pun pamit. Ia memberanikan diri untuk kembali menemui istrinya. Ia berdiri di bawah pohon dekat gerbang rumah Aluna. Melihat ke arah kaca jendela yang terbuka lebar, letaknya berada di lantai dua.

Sedangkan di dalam, Aluna pun melihat Iskhandar di bawah sana. Hanya ia yang melihat, padahal di sana ada Bella. Aluna merasa bingung, kenapa pria itu datang lagi? Bukankah sudah diusir oleh ayahnya? Karena ingin tahu jawabannya Aluna pun bertanya kepada Bella.

"Siapa sebenarnya laki-laki itu?" tanya Aluna tanpa melepaskan pandangannya ke luar.

Bella yang tidak mengerti pun menghampiri lebih dekat. "Laki-laki siapa yang dimaksud, Kakak?" tanya Bella.

"Dia, yang ada di bawah sana." Tunjuk Aluna.

Dan di bawah sana, Iskhandar pun melihat istrinya tengah menunjuknya. Tanpa ia dengar apa yang mereka bicarakan, ia tak dapat menahan air matanya. Iskhandar menangis dan menyesali perbuatannya. Aluna yang selama ini ceria menghadapinya ternyata lemah. Di balik wajahnya yang ceria ternyata menyembunyikan luka.

Iskhandar menunduk, tak ingin istrinya melihat tangisannya. Ia ikut terluka setelah mengetahui apa yang terjadi kepada gadis yang mencintainya selama ini. Ia sering memaki dan memarahi istrinya, yang ia kira uang bisa mengubah semuanya.

Bella pun akhirnya tahu siapa yang datang. Tapi ia masih menutup rapat soal kakak iparnya. Ia benci kepada lelaki tak berhati itu. Kalau pun tidak ada cinta, sebaiknya ungkapkan dengan kata, bukan dengan perlakuan yang tak mengenakan apa lagi sampai mengusir kakaknya.

"Dia bukan siapa-siapa, Kakak jangan pikirkan dia," jawab Bella. "Sebaiknya Kakak istirahat." Bella meraih tubuh kakaknya dan mengajaknya untuk segera istirahat. Sebentar lagi hari mulai redup.

Dan Iskhandar tak langsung pergi setelah istrinya menghilang dari pandangan. Ia termenung di bawah pohon, dirinya telah melukai istrinya. Ia begitu jahat, padahal selama ini Aluna selalu bersikap baik padanya. Ia sangat menyesal. Beberapa saat, ia pun mulai pergi dan meninggalkan tempat itu

***

Setibanya di rumah, Iskhandar masih mencari tahu, sejak kapan istrinya memiliki riwayat pelupa itu? Ia pun akhirnya pergi ke dapur, berharap ia dapat menemukan jawaban di sana. Ia arahkan pandangan, namun tak ada jejak yang dapat membantu jawabannya.

Lalu melihat pada rak bumbu, di toples itu terdapat sebuah tulisan. Lalu ia mengambilnya, dan melihat pada benda yang lain. Semua ada tulisan namanya, sebegitu parahnya kelupaan istrinya?

Dan ia juga teringat, akan buatan kopi yang selalu salah. Ternyata ini penyebabnya. Tubuh Iskhandar melemas, kembali mengingat kekejaman mulutnya yang sering memarahi istrinya. Tubuhnya ambruk dan bersandar di meja kompor, menelusupkan wajah dikedua lutut. Iskhandar menangis sesegukkan.

"Aarrggghhhh ....," teriaknya. Menangis pun percuma, penyesalannya tak akan mengubah semuanya. Aluna telah lupa kepadanya.

"Ya, Tuhan ... Ampuni aku," lirih Iskhandar. Ia mencoba menguatkan hati meski hatinya ikut hancur bersama penyesalannya. Dengan sekuat tenaga ia bangkit dari tempatnya, ia tak boleh rapuh istrinya membutuhkannya. Aluna mencintainya, ia tak boleh nyerah. Ia ingin istrinya mengingatnya meski keluarganya telah membencinya, setidaknya ia menyesali perbuatannya dan akan meminta maaf.

Maaf telah membuat istrinya menderita selama pernikahannya. Ia memperlakukan Aluna dengan buruk. Akhrinya ia pergi ke kamar sempit itu. Menyentuh tikar yang selama ini menjadi tempat istrinya beristirahat. Hatinya semakin sakit, ia begitu kejam membiarkan Aluna hidup menderita.

Iskhandar merebahkan tubuhnya di sana, merasakan hawa dingin di tubuhnya dari lantai. Ia kembali menangis membayangkan istrinya tidur setiap hari di sini. Tapi istrinya tak pernah mengeluh sedikit pun, ia tetap menjalani kodrat sebagai istri yang menyayangi suaminya.

Membayangkan raut wajah ceria istrinya, tak menyangka ternyata istrinya sangat kuat dan tegar. "Aku yang salah, maafkan aku Aluna," lirihnya sembari mendekap kedua lutut.

Iskhandar tidur bagaikan anak kecil di sana, meski tidak mengantuk ia tetap mencoba menutup mata, ia juga harus istirahat karena ada dua wanita yang harus ia jaga. Tak peduli dengan sikap mertua yang kini sudah membencainya. Aluna masih istrinya, wanita itu masih tanggung jawabnya, semoga ia tak terlambat untuk merubah sikap yang selama ini telah berbuat jahat kepada Aluna.

Terpopuler

Comments

Sri Fauziahanwar

Sri Fauziahanwar

next

2022-09-25

0

Puja Kesuma

Puja Kesuma

bagus klo kamu menyadari kesalahanmu...gk ada terlambat buat menebus smua kesalahanmu..kau berjuang kami dukung...

2022-09-24

1

💕KyNaRa❣️PUTRI💞

💕KyNaRa❣️PUTRI💞

rasaaiiinnnn emg enak 😁😁😁😄😄😁😄😄😄😄😄kasiiannnn

2022-09-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!