19. Uncle Not Daddy

Lisa mundur satu langkah, menyembunyikan dirinya di balik gerbang, dan melihat dengan manik matanya bocah laki-laki kini memeluk pinggang Edgar.

“Daddy, i miss you. Daddy pergi ke mana saja.”

Edgar tersenyum, mengusap puncak kepala Rafael, lalu berjongkok untuk menyejajarkan pandangannya.

“Daddy ada urusan pekerjaan,” jawab Edgar singkat. Dia tak mungkin memberitahu pada Rafael jika dirinya menghilang karena amnesia.

“Tapi kenapa lama sekali, Dad?”

Percakapan Rafael dan Edgar tak luput dari penglihatan Lisa. Nafas gadis itu tercekat, serta merasakan sakit yang tiba-tiba saja menusuk dadanya.

Sesaat kemudian, Lisa juga melihat seorang wanita cantik berambut pendek berjalan menghampiri Edgar dan Rafael dengan senyum yang membuatnya tampak sangat anggun.

“Rafael, ayo ke rumah. Sudah waktunya mandi sore.”

“Tapi Mom...” rengek Rafael mengentakkan kaki.

Di tempatnya berdiri Lisa tersenyum dengan kedua bola mata mengembun. Hingga pemandangan tiga orang yang ada di halaman depan tampak kabur.

Lisa menarik nafas dalam serta secepat mungkin menyeka air mata yang jatuh meluncur ke rahang.

Ternyata Edgar sudah memiliki istri dan anak. Apa-apaan aku ini? Mencintai suami orang lain? Mereka tampak bahagia. Bahkan istrinya Edgar sangat cantik.

Batin Lisa di dalam hati dengan tatapan yang tak pernah lepas dari tiga orang yang sedang bercengkerama dan diselingi canda tawa.

Tak ingin merusak kebahagiaan keluarga kecil itu, Lisa diam-diam memilih kembali ke dalam taksi. Sang sopir pun mengerutkan dahi sebab belum ada lima menit si penumpang keluar tapi kini masuk kembali.

“Cepat jalan, Pak!” pinta Lisa sambil melirik gerbang. Dia tidak mau Edgar menyadari keberadaan dirinya.

Lalu taksi yang ditumpangi Lisa pun melaju. Untuk terakhir kalinya, Lisa melirik ke belakang menatap rumah besar yang selama ini merupakan tempat tinggal Edgar.

Mulai detik ini, aku harus melupakan Edgar. Dia sudah beristri dan memiliki anak. Lagi pula Edgar hanya pria yang baru masuk ke kehidupanku. Pasti mudah untuk melupakannya.

Lisa terus bermonolog dengan kepala tertunduk. Meyakinkan dirinya sendiri jika dia akan sanggup mengubur perasaannya terhadap Edgar.

Sekilas Lisa terkekeh pada dirinya sendiri. Menyadari dia bahkan tidak tahu nama asli dari seorang Edgar, pria yang pernah dia dan ayahnya selamatkan.

Sementara itu, masih di halaman depan rumah, Gwen terus membujuk Rafael yang tidak mau mandi. Bocah lima tahun itu malah semakin mengeratkan pelukannya pada Gustav.

“Rafael, ini sudah waktunya mandi. Badanmu lengket, Sayang.”

“Tapi aku mau main sama Daddy.”

Gwen berdecak sembari berkacak pinggang.

“Rafael, panggil uncle! Not daddy,” kata Gwen menggelengkan kepala.

Sudah berapa kali dia mengajari Rafael untuk memanggil Gustav paman. Namun, tetap saja anak semata wayangnya itu selalu menyebut Gustav dengan panggilan daddy.

Melihat Rafael yang mengerucutkan bibir, membuat Gustav mengusap punggung keponakannya sekaligus melirik Gwen.

“Sudahlah, Gwen. Memangnya apa salahnya jika Rafael lebih suka memanggilku daddy? Ketimbang pria brengsek itu.”

“Gustav,” pekik Gwen dengan mata melotot seperti mau lepas dari tempatnya.

“Kenapa? Apa kamu masih mencintainya?” cecar Gustav sambil menunjukkan sikap menantang.

Gwen diam sesaat, lalu menunduk menatap sang putra yang telah dia lahirkan tanpa adanya sosok ayah. Begitu mendapat tatapan tajam dari Gwen, menjadikan Rafael ketakutan dan berlari ke dalam rumah.

Tinggal tersisa Gwen dan Gustav di halaman depan yang saling melayangkan lirikan tajam.

“Aku sudah tidak mencintai Lukas tapi tidak sepantasnya kamu berkata kasar di depan Rafael,” desis Gwen penuh amarah.

“Lalu kata apa yang pantas untuk pria yang pergi dengan wanita lain di saat istri sahnya tengah mengandung?” tanya Gustav yang juga meledak tersulut emosi.

“Cukup, Gus! Harusnya kita berbahagia karena kamu kembali, bukannya malah bersitegang seperti ini.”

Gwen menghela nafas untuk menetralkan emosinya, berbalik badan dan melangkah masuk ke dalam rumah. Namun, sebelum Gwen benar-benar masuk, dia kembali menatap Gustav.

“Kenapa kamu berdiri terus di sana?” tanya Gwen setengah berteriak.

Kali ini Gustav yang berkacak pinggang serta memalingkan muka.

“Aku sedang menunggu seseorang,” jawab Gustav singkat. Tanpa menyadari jika orang yang ditunggu sebenarnya telah pergi beberapa saat yang lalu.

Gwen tidak mau menanggapi lebih lanjut. Ada banyak urusan yang sedang menantinya. Sehingga dia melanjutkan berjalan masuk ke dalam rumah.

Setelah menghilangnya Gwen di balik pintu, muncul penjaga yang muncul entah dari mana.

“Dari mana saja kau?” tanya Gustav menatap tajam sang penjaga.

“Tadi saya sakit perut, Tuan.” Si penjaga terkekeh. Namun berhenti seketika saat Gustav terus menyorotinya dengan tatapan mengintimidasi.

Gustav melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, berdecak kesal dan mulai merasa tak tenang karena Lisa tak kunjung datang.

Kemudian penjaga tadi baru teringat akan pesan yang perlu dia sampaikan pada Tuan Gustav. Dia menepuk jidatnya merutuki otaknya yang sering kali lupa.

“Tuan Gustav.”

Gustav melempar pandangan ke penjaga yang menyengir memperlihatkan gigi seperti kuda.

“Apa?” kata Gustav ketus dan berhasil membuat penjaga tersentak.

“Nyonya Camilla meminta Anda untuk menemuinya di perpustakaan.”

Sesaat Gustav gamang. Memilih menemui neneknya atau tetap menunggu sampai Lisa datang.

Lalu Gustav menghela nafas dan menggerakkan tangan menyuruh si penjaga mendekat.

“Tunggu di sini! Jangan pergi ke mana-mana! Jika ada gadis muda mencari seorang pria bernama Edgar, segera hubungi aku!” titah Gustav.

Si penjaga menganggukkan kepala. Setelah itu, Gustav masuk ke dalam rumah, lebih tepatnya ke ruang perpustakaan.

Begitu membuka pintu, Camilla langsung melempar pandangan pada Gustav. Wanita tua itu melepas kacamata yang selalu dia pakai ketika membaca.

Sedangkan Gustav menghempaskan diri di hadapan Camilla. Pandangannya menurun melihat berkas dan juga foto-foto wanita cantik. Yang mana Gustav langsung tahu tujuan Camilla memanggilnya.

Camilla menjejerkan foto-foto itu yang memperlihatkan potret wanita cantik yang berbeda-beda. Namun, Gustav tidak tertarik dan malah membuang muka.

“Apa ini soal perjodohan lagi?” tanya Gustav yang terdengar begitu dingin.

“Ya, menurutmu mana dari wanita-wanita ini yang ingin kamu kenal?”

“Tidak ada.”

“Gustav, kamu harus mulai memikirkan masa depanmu. Sebelum meninggal, aku ingin melihatmu menikah.”

“Bisakah Grandma belajar dari pernikahan Gwen dan Lukas? Mereka menikah karena dijodohkan dan berakhir dengan perceraian,” kata Gustav yang sedikit kesal setiap Camilla membahas masalah perjodohan dirinya dengan beberapa wanita yang sama sekali tidak Gustav kenal.

“Tapi Grandma yakin perjodohanmu tidak akan berakhir sama seperti Gwen dan Lukas,” ucap Camilla penuh percaya diri.

Menjadikan Gustav menarik salah satu ujung bibirnya, berdecak, serta memutar bola matanya malas.

“Aku tidak mau dijodohkan. Lagi pula aku sudah memiliki gadis yang akan dijadikan calon istri.”

Mendengar penuturan Gustav, membuat Camilla tertegun, mencondongkan badan, dan menyipitkan mata. Pertanda Camilla sangat penasaran akan sosok gadis yang dimaksud oleh cucunya.

Manik mata Camilla menelisik raut wajah Gustav. Dia sedang menilai apakah Gustav berbohong atau benar berkata jujur.

“Kamu yakin? Wanita seperti apa?”

“Nanti juga Grandma akan tahu,” jawab Gustav santai.

“Tapi kamu tahu seperti apa selera Grandma, kan? Grandma ingin kamu menikah dengan wanita yang sepadan dengan keluarga kita.”

Deg.

Gustav berusaha menelan salivanya. Dia melempar pandangan pada Camilla dan menatap wajah keriput yang masih terdapat sisa-sisa kecantikan di masa mudanya.

Camilla menumpukan kedua siku di atas meja dengan dagu yang menopang di salah satu telapak tangan. Lalu bibirnya menerbitkan senyum seringai.

“Grandma tidak akan merestui hubunganmu jika kamu menikah dengan wanita yang derajatnya lebih rendah dari keluarga kita.”

Terpopuler

Comments

Anonymous

Anonymous

Keren

2022-09-23

1

tria sulistia

tria sulistia

makasih kak nana

2022-09-22

0

Nana

Nana

iklan utk ya kak 😍 smgt

2022-09-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!