Matahari yang mulanya menyembul di ufuk timur perlahan bergerak naik memancarkan sinar hangat. Bertepatan dengan Edgar yang selesai menyapu halaman, datanglah Juna yang membawa satu kompan besar berisi air.
Edgar merasa dirinya berhutang nyawa pada Juna dan Lisa. Terlebih merek telah dua kali menyelamatkannya. Sehingga kini dia akan membalas kebaikan mereka dengan cara apa pun.
Edgar berinisiatif membantu Juna membawakan kompan itu ke dalam rumah. Namun, Lisa berteriak menahannya.
“Kau jangan bawa kompan itu!”
“Tidak masalah. Aku bisa menyeret ke dalam rumah,” kata Esgar bersikeras.
Lisa menggelengkan kepala, “Kau jangan melakukan aktivitas fisik yang berat! Kau masih dalam masa pemulihan pasca operasi.”
Mendengar hal itu, Juna mengulas senyuman. Dari kacamata Juna, Lisa dan Edgar sudah menampakkan keakraban.
Tak ingin Edgar merasa tersanjung, Lisa buru-buru menambahkan, “Kalau terjadi sesuatu padamu, kita juga yang akan repot.”
“Lalu aku harus melakukan apa? Katamu aku harus ganti rugi uang kalian menggunakan tenagaku.”
“Kamu beri makan ayam saja. Pakan ayamnya ada di belakang rumah.”
Edgar tak membantah. Dia langsung melangkahkan kaki ke kandang ayam dan menuruti perintah dari Lisa.
Sedangkan Juna akan ke pasar menjual ubi jalar yang kemarin dipanen oleh Lisa dan Edgar. Tak berselang lama, datang seorang wanita gemuk yang berjalan agak tergesa-gesa.
Wanita gemuk bernama Ema itu terengah karena memang untuk sampai ke rumah Lisa, dia harus melewati ladang para penduduk desa.
“Kapan jalan di desa kita akan diperbaiki? Tadi aku sempat tergelincir batu,” keluh Ema di sela-sela dirinya yang tengah mengatur nafas.
“Bu Ema ada apa? Kita masuk dulu ke dalam.”
“Tidak, Lisa. Aku sedang buru-buru. Aku ingin membeli seekor ayam, tapi aku minta ayamnya sudah dipotong dan dibersihkan. Nanti langsung antar ke rumahku.”
Senyum di bibir Lisa merekah sempurna kala mendengar penuturan Ema yang ingin membeli ayam padanya. Dia pun menganggukkan kepala, menyanggupi permintaan Ema itu.
Selepas kepergian Ema, Lisa berlari menuju belakang rumah di mana ada Edgar sedang menaburkan pakan yang menjadi rebutan ayam-ayam.
“Edgar ada kabar bagus. Ada orang ingin membeli ayam.”
Edgar hanya menoleh pada Lisa yang kini sedang menatap ayamnya satu per satu. Pandangan Lisa meneliti setiap ayam sambil mengetuk-ketukan jari telunjuk ke dagunya.
Tampak Lisa tengah berpikir keras, kemudian dia menunjuk satu ayam betina yang lumayan gemuk.
“Kau tangkap ayam itu! Sementara aku akan mengambil pisau di dapur.”
Detik berikutnya, Lisa menghambur masuk ke dalam rumah tanpa sempat mendengarkan Edgar yang ingin protes.
Sesaat Edgar bimbang. Dia amnesia. Nama aslinya saja dia tidak tahu, apalagi memiliki pengalaman menangkap ayam.
Edgar menarik nafas sejenak. Lalu dia berjalan diam-diam di belakang ayam, kedua tangannya dia rentangkan siap menangkap ayam yang dimaksud oleh Lisa.
Hup.
Edgar menangkap udara kosong, sebab ayam itu kabur. Tak mau menyerah, Edgar pun melancarkan percobaan kedua. Tapi sayangnya gagal lagi.
Hingga lama-kelamaan Edgar frustrasi dan menjadi tidak sabar. Dia berlari mengejar-ngejar ayam yang justru membuat ayam-ayam lain berkokok gaduh.
“Edgar, sudah kau tangkap ay...”
Begitu kembali dari rumah, tubuh Lisa mematung di tempat melihat Edgar yang kewalahan menangkap satu ayam. Satu tangannya menggenggam pisau dan satu tangan lagi menangkup mulut menahan tawa.
Gelak tawa pun pecah dari mulut Lisa ketika melihat Edgar dipatuk ayam di bagian bokong dan kini berbalik dia yang dikejar ayam.
Di tengah perseteruannya dengan ayam, Edgar melirik Lisa yang sedang tertawa. Gadis belia itu tertawa lepas seolah hidupnya tak ada beban sama sekali.
Dan itu cukup membuat Edgar terpaku menatap Lisa. Sampai-sampai dia lupa jika ada ayam yang nangkring di puncak kepalanya dan menjatuhkan kotoran di sana.
Seketika Edgar merasa tubuhnya berdering aneh dan jantungnya berdegup lebih cepat saat Lisa menghampiri dengan sisa tawa yang masih ada di bibirnya.
“Menangkap satu ayam saja sampai heboh begitu.” Lisa mengibaskan tangan untuk mengusir ayam di kepala Edgar.
“Bersihkan dulu kepalamu, lalu bantu aku menyembelih ayam!”
Edgar tak banyak bicara. Dia segera membasuh rambut dengan air mengalir, memakai sampo agar baunya hilang, lalu mengeringkannya menggunakan handuk.
Kemudian, dia kembali lagi ke belakang rumah tepatnya di samping Lisa yang menggenggam satu kantong pakan ayam.
“Lihat ini! Cara mudah menangkap ayam.”
Lisa menaburkan pakan ke tanah dan dalam hitungan detik semua ayam berkerubung di depannya saling merebutkan makanan.
Lisa berjongkok, dengan cepat dia sambar leher ayam betina yang akan dijual. Ayam itu berkokok sekaligus mengepakkan sayap memberontak minta dilepaskan.
Lisa mendongak menatap Edgar sambil mengulas senyum penuh kemenangan.
“Mudah bukan? Sekarang bantu pegang kaki dan sayapnya.”
“Seperti ini?” Edgar bertanya saat dia ragu-ragu menggenggam ayam.
“Pegang yang kuat!”
Edgar mengeratkan cengkeramannya. Tangan kiri Lisa mencekal bagian kepala ayam, sedangkan tangan kanannya menggenggam pisau siap menyembelih leher ayam.
Namun, Lisa tak kunjung menyembelih. Raut wajahnya menunjukkan keraguan dan juga kesedihan.
“Kenapa kau tampak sedih begitu?” tanya Edgar dengan nada sedikit kesal karena menunggu lama.
“Kamu tahu, dia ayam yang sudah aku rawat sejak dia masih berwujud telur.” Lisa menatap lekat nan sendu pada ayam di tangan mereka berdua.
Edgar hanya berdecak dan memutar bola mata malas, “Seharusnya kau senang. Setelah dia mati kau akan dapat uang kan?”
Seketika bola mata Lisa membulat sempurna, lalu melempar pandangan pada Edgar.
“Hai, meskipun aku gadis perhitungan tapi bagaimana pun juga aku masih punya hati nurani, tahu,” bentak Lisa geram.
Edgar menyadari ada sesuatu yang berbeda dari dalam dirinya. Jika kemarin dia akan balik mendebat saat Lisa membentaknya, kini Edgar terdiam kembali melirik gadis di depannya.
Satu hal baru yang Edgar tahu tentang Lisa. Dia adalah perempuan yang berhati lembut dibalik sikap galaknya. Bahkan untuk menyembelih ayam saja dia merasa tidak tega.
*
*
*
Malam hari, menu makan malam sedikit lebih istimewa dari kemarin. Kini di meja makan tersaji nasi dengan tempe goreng sebagai lauknya.
Edgar, Lisa dan Juna duduk di kursi meja makan berukuran kecil. Mereka makan tanpa ada yang membuka obrolan.
Masing-masing dari mereka sungguh menikmati makan malam yang menjadi pengisi tenaga setelah terkuras seharian.
Juna menjadi orang pertama yang menyudahi makan malamnya. Dia meneguk air putih, dan berdiri.
“Malam ini Ayah ada urusan di rumah kepala desa. Lisa, kamu jaga diri baik-baik.”
Juna melempar pandangan pada Edgar, menebuk bahu pria itu, sekaligus tersenyum.
“Kau juga, Edgar. Istirahat yang cukup.”
Setelah Juna pergi, Edgar juga meninggalkan meja makan berniat ke kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
Tersisa Lisa yang memilih membaca buku di sofa ruang tamu. Lalu suara ketukan pintu, membuat Lisa terheran akan tamu yang datang di saat larut malam.
Lisa membuka pintu. Namun, begitu melihat pria di depannya, segera dia berusaha menutupnya lagi.
“Mau apa kamu, Roy? Ayahku sedang tidak ada di rumah,” seru Lisa dengan suara bergetar karena ketakutan.
Roy menyunggingkan seringai sambil menahan sekuat tenaga agar pintu tak tertutup. Pria dengan alis tebal itu tertawa.
“Juna tidak ada di rumah? Bagus. Berarti hanya ada kita berdua di sini.”
Roy mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendobrak pintu yang akhirnya terbuka lebar dan membuat Lisa terjungkal di lantai.
Roy berlutut, meneliti setiap lekuk tubuh Lisa dari bawah hingga ke atas dengan tatapan lapar. Ingin rasanya dia menyibak rok panjang lusuh yang digunakan gadis cantik itu.
Tubuh Lisa bergemetar. Roy mencegah Lisa bangun, dan dia tak dapat berkutik sebab dirinya telah berada di bawah kungkungan pria yang telah memiliki tiga orang istri.
“Wanita secantik dirimu tidak pantas memakai pakaian yang kalau di rumahku sudah dijadikan serbet.”
Tangan Roy menggenggam ujung rok, tapi Lisa juga sama kuat menahan tangan Roy agar tak meneruskan perbuatannya.
“Singkirkan tanganmu dari pakaianku!” geram Lisa.
Cuih.
Lisa meludah tepat di wajah Roy yang justru membuat amarah Roy tersulut, lalu membalas dengan cara merobek rok yang dipakai Lisa.
Bret!
“Aarrgghh.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Hulapao
yaampun edgar ditolak ayam 🤣
2022-09-27
0
Nana
waduh edgarrrrr di mana dikauuuu
2022-09-11
1
Nana
hahha ngakak 🤣🤣
2022-09-11
1