Edgar menaiki bis kota untuk dapat pulang ke kontrakan. Kebetulan di dalam bus itu, tak banyak penumpang dan Edgar memilih duduk di dekat jendela sambil memandang pemandangan sepanjang jalan.
Entah kenapa peringatan Lisa tadi mengusik benaknya dan membuat dia bertanya-tanya akan jati dirinya.
Kemudian, Edgar mendengar suara bisik-bisik yang bersumber dari arah belakang. Menjadikan dia menoleh dan mendapati ada dua orang pria memakai topi.
Edgar kembali memilih melempar pandangan ke luar jendela. Namun, lagi-lagi dia mendengar kedua pria di belakangnya saling berbisik.
Edgar teringat akan pesan dari Lisa untuk selalu waspada pada setiap orang di sekitarnya. Sehingga dia mencoba melirik dua pria itu secara diam-diam.
“Kali ini jangan bertindak gegabah atau bos akan marah besar.”
“Baik.”
Percakapan itu yang dapat Edgar dengar sekaligus membuat dia menegakkan punggung.
Sekali lagi Edgar menoleh, bertepatan dengan dua pria itu yang juga memandangnya. Menjadikan pandangan mereka bertemu, lalu mendadak kepala Edgar diserang oleh rasa sakit yang berdenyut.
Lama-kelamaan rasa sakit di kepala Edgar berubah menjadi sakit yang tak tertahankan seperti ditusuk sebilah pisau saat dia melihat wajah pria itu.
Edgar menggigit bibir bawah serta mengusap kening, berusaha untuk tidak mengerang kesakitan.
“Ada apa ini? Kenapa wajah dua pria di belakang seperti tidak asing bagiku?” Edgar mencecar pertanyaan pada dirinya sendiri.
Kemudian, kondektur bis yang melihat Edgar membungkukkan badan serta terlihat sedang menahan sakit pun berjalan mendekat.
“Hai, anak muda, apa kamu baik-baik saja?” tanya si kondektur yang telah rambutnya telah dipenuhi uban.
Untuk menjawab saja Edgar terasa tak mampu, kepalanya benar-benar sakit seperti ingin pecah. Dia hanya dapat menggelengkan kepala sebagai jawaban.
Tapi tentu saja kondektur bis tidak percaya. Sebab Edgar mengerang kesakitan sambil meremas rambutnya sendiri.
Bagaikan potongan film yang diputar cepat, Edgar melihat kilasan bayangan saat dirinya dihajar di ruangan gelap.
Saat ini tangan Edgar bergemetar dan peluh telah membasahi kening dan satu bulir keringay meluncur tanpa hambatan ke bawah dagu.
Seketika dua pria di belakang Edgar berdiri. Salah satunya menepuk pundak si kondektur bis.
“Dia teman kami, Pak. Tidak apa-apa. Dia hanya sedikit sakit kepala.”
“Ya, lebih baik turunkan saja kami di sini,” ucap orang satunya lagi.
“Jangan!” pekik Edgar tiba-tiba.
Dia mendongakkan kepala, menatap tajam pada dua orang yang telah mengaku sebagai temannya itu, lalu dengan gemetar, dia bangkit berdiri.
Sekarang Edgar ingat siapa dua pria yang sejak tadi mengintainya. Jari telunjuk Edgar mengarah pada dua pria itu secara bergantian.
“Mereka bukan temanku, Pak. Tapi mereka adalah penculik,” seru Edgar dengan suara yang lantang dan membuat perhatian semua penumpang mengarah padanya.
“Namamu James,” Edgar menunjuk pria bertubuh gempal, lalu mengarah ke pria yang satu lagi. “Dan kamu, Billy.”
“Dia ingat kita, James,” bisik Billy yang ketakutan dan langsung diinjak kakinya oleh James.
“Diam!” desis James.
Gelagat James dan Billy justru membuat semua orang mengerutkan alis dan percaya akan ucapan Edgar bahwa mereka berdua adalah penculik.
Para pria yang ada di dalam bis itu pun bergerak untuk menangkap James dan Billy yang kini keduanya tampak kalang kabut.
Namun, James bergerak cepat dengan merebut seorang bocah perempuan dari gendongan ibunya. Lalu mengeluarkan sebuah belati dari saku celana.
James mengarahkan pisau ke segela penjuru yang membuat semua orang diam membeku.
“Jangan ada yang mendekat atau anak ini akan aku tusuk!” seru James mengancam semua orang.
Bocah perempuan di gendongan James menangis begitu pula sang ibu yang sudah menekuk lutut meminta permohonan agar anaknya dilepaskan.
“Hentikan bisnya!” teriak Billy memerintah sang sopir bis.
Mau tak mau sopir bis menuruti perintah Billy. Dia takut jika dua orang penumpang itu melakukan tindak kejahatan pada seorang bocah kecil.
Suasana di dalam bis berubah tegang. Semuanya diam tak ada yang mengeluarkan suara kecuali tangisan dari si bocah yang terus memanggil ibunya.
James dan Billy berjalan ke arah pintu dengan terus menyeret bocah perempuan dan mengacungkan belati.
“Pengecut, jangan kabur kalian!” teriak Edgar yang maju satu langkah.
Namun, pergerakan Edgar ditahan oleh kondektur bis.
“Jangan! Mereka membawa belati dan bisa melukai gadis kecil itu.”
Edgar hanya menggeram kesal saat James dan Billy keluar dari bis.
“Aku mohon jangan bawa anakku! Jangan bawa anakku!” rengek si ibu yang menangis dan mengulurkan tangan.
James dan Billy yang telah menapaki trotoar, menurunkan bocah perempuan, lalu berlari secepat mungkin.
Edgar dan beberapa penumpang lain turun untuk mengejar dua James dan Billy. Sedangkan si ibu langsung menghamburkan pelukan pada sang anak.
Dia hujani pipi sang anak dengan kecupan dan mendekapnya erat.
Sementara Edgar harus menahan kekesalan karena dia kehilangan jejak James dan Billy karena dua pria itu berlari sangat cepat di sebuah perempatan jalan.
Edgar mengepalkan tangan kuat-kuat memperlihatkan otot lengannya yang mengeras.
“Mungkin kalian bisa lolos hari ini,” gumam Edgar yang kemudian mendengus kesal.
“Kalian telah salah memilih lawan seorang Gustav Green.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Hulapao
aduhhh kasian anak kecilnya jadi sandra
2022-10-15
1
Nana
bunga untk kakak
2022-09-22
0
Nana
wah siapa tuh? 🤔 apa mereka yang nyaktin edgar? atau suruhan Gordon
2022-09-22
1