7. Pembunuh?

Pagi hari, Lisa menghampiri Juna yang memasang karung berisi jagung ke atas sepeda tua.

“Ayah, hari ini biar aku dan Edgar saja yang menjual jagung ke pasar.”

Juna menoleh cepat pada putri semata wayangnya, tersenyum, dan mengangguk menyetujui. Selesai mengikat karung jagung, Juna mundur memberikan ruang untuk Edgar yang akan mengayuh sepeda.

“Hati-hati, rantai sepedanya sering kali putus,” kata Juna memperingatkan saat Lisa duduk di jok belakang.

“Iya, Ayah. Kita pasti akan hati-hati.”

Edgar pun mulai mengayuh sepeda di sepanjang jalan desa yang berbatu.

Desa tempat tinggal Lisa cukup terbilang tertinggal dengan desa-desa seberang.

Jalanan masih berbatu, bukan aspal.

Jarak satu rumah dengan rumah warga yang lain agak berjauhan. Namun, pemandangan indah perbukitan dan juga udara yang masih bersih menjadi nilai tambah dari desa itu.

Satu jam kemudian, Lisa dan Edgar sudah ada di pasar menawarkan jagung pada seorang pedagang sayur. Edgar hanya bisa melirik Lisa dan si pedagang saat keduanya melakukan penawaran yang cukup sengit.

Hingga akhirnya, setelah perdebatan yang cukup panjang, mereka sepakat dengan harga yang ditawarkan Lisa. Gadis itu tersenyum semringah ketika menerima beberapa lembar uang, dan menghitungnya ulang.

“Kita pakai sebagian uang ini untuk membeli bajumu,” terang Lisa melirik penampilan Edgar yang selama ini memakai baju Juna.

“Tapi aku tidak bisa membelikanmu baju baru, karena uangnya tidak akan cukup untuk kebutuhan yang lain. Jadi kita akan ke toko baju bekas saja.”

Edgar mengangkat kedua bahunya. Menurutnya tidak masalah dia memakai baju bekas, asalkan bersih.

Mereka memilih baju-baju yang tergantung di sebuah toko. Lalu Lisa menarik satu kemeja flanel bermotif kotak yang tampak masih bagus.

Lisa menempelkan kemeja itu ke tubuh Edgar, dan ternyata sangat pas di tubuh kekar itu. Selanjutnya Lisa juga memilihkan celana, yang membuat Edgar merasa seperti bocah kecil yang membeli baju dengan ibunya.

Keluar dari toko baju bekas, mereka berjalan berencana membeli pakan ayam. Namun, langkah kaki Lisa terhenti saat melewati toko perhiasan.

Edgar yang sejak tadi mengekori Lisa pun mendadak ikut berhenti dan nyaris saja menabrak tubuh Lisa. Dia mengikuti arah pandang Lisa yang terpusat pada sebuah kalung di dalam etalase toko.

Dari tatapan mata, Edgar tahu jika Lisa sangat menginginkan kalung itu.

“Itu kalung pemberian mendiang ibumu?”

Lisa menganggukkan kepala sebagai jawaban. Lantas Edgar mencondongkan tubuhnya ke depan, menyipitkan mata, dan mengetuk pelan kaca etalase.

“Hai, kalung, buat dirimu tidak laku. Kau tidak boleh dibeli oleh orang lain. Suatu hari nanti, jika sudah punya uang, aku akan datang dan membelimu.”

Lisa terkekeh pelan akan tingkah Edgar yang berbicara pada kalung seolah itu adalah makhluk hidup. Dia segera menarik lengan Edgar, karena pegawai toko menatap sinis mereka berdua yang berpakaian kumal.

Setelah semua kebutuhan terbeli, mereka kembali mengayuh sepeda. Sepanjang perjalanan, Edgar mempercepat laju sepeda yang membuat Lisa melingkarkan lengan di pinggang Edgar.

Dan entah kenapa jantung dua manusia itu sama-sama berdegup kencang. Lisa dan Edgar pun terheran akan perasaan aneh yang bersemayam di dalam diri mereka masing-masing.

Sesampai di rumah, Lisa menaruh barang belanjaannya ke atas meja, memanggil sang ayah, namun, tak ada sahutan.

“Di mana ayahmu?” tanya Edgar yang selesai berkeliling rumah tapi tidak kunjung menemukan Juna.

“Mungkin sudah pergi ke ladang,” Lisa menjawab sambil mengeluarkan satu per satu barang belanjaan.

“Kalau begitu aku akan menyusul ayahmu.”

“Edgar, tunggu!” teriakan Lisa menghentikan ayunan kaki Edgar.

Pria itu memutar badan menatap Lisa yang tersenyum simpul padanya.

“Katakan pada ayah jika makan siang akan siap setengah jam lagi!”

Edgar mengangguk mantap, lalu melanjutkan berjalan ke luar rumah. Sementara di tempatnya berdiri, Lisa menatap punggung Edgar yang menjauh.

Lisa mengakui dirinya telah mulai menyukai Edgar, dan menampik masa lalu pria itu yang masih menjadi sebuah misteri.

Tak lama, pintu diketuk dan Lisa pun berjalan menyambut dua pria tamu yang datang ke rumahnya. Seketika Lisa dibuat gugup begitu melihat dua tamu itu memakai seragam polisi.

Dia menelan saliva, merasakan firasat yang buruk, lalu dia menarik nafas berusaha menutupi ketakutannya.

“Selamat siang, Nona,” sapa salah satu polisi.

“S-siang,” jawab Lisa gugup.

“Kami dari kepolisian. Kami kemari untuk mencari seorang pria dengan ciri-ciri badan tinggi tegap, rambut hitam, hidung mancung, dan bola mata berwarna hijau. Apakah Nona pernah melihat pria yang kami sebutkan ciri-cirinya?”

Lisa menggenggam ujung kaosnya, untuk meredamkan tubuhnya yang gemetar, perasaannya semakin tidak enak saat polisi menyebut ciri-ciri Edgar.

“Nona, tolong kerja samanya dan jawab pertanyaan dari kami!” kata polisi sedikit membentak.

“Saya melihatnya, Pak. Tapi ada apa dengan pria itu? kenapa Pak Polisi mencari dia?”

“Nona, perlu kami beritahu, pria itu sangat berbahaya. Dia pembunuh berantai yang sedang dikejar oleh interpol.”

Deg.

Jantung Lisa seakan berhenti mendengar penuturan dari polisi. Seketika pikirannya langsung tertuju pada sang ayah.

“Apa? Pembunuh? Tidak mungkin.”

*

*

*

Di tengah ladang, Juna mencangkul di bawah terik matahari. Meskipun dia telah memakai caping, namun, udara panas membuat peluh sebesar biji jagung meluncur di pelipisnya.

Kemarau panjang membuat tanah menjadi kering dan keras saat dicangkul.

Juna terus mencangkul tanpa menyadari dari arah belakang ada seorang pria berjalan mengendap menghampirinya. Pria itu menyambar sebuah sekop yang tergeletak bersamaan dengan peralatan yang dibawa Juna dari rumah.

Kemudian, saat pria itu berada tepat di belakang Juna, dia mengayunkan sekop dan langsung menghantam kepala pria paruh baya itu.

Juna menjerit kesakitan sambil memegangi bagian belakang kepalanya, memutar badan dan membelalakkan mata begitu melihat si pelaku.

“Kau? Kenapa kau lakukan ini padaku?”

Pria itu tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Juna. Malah memukulkan lagi sekop dengan sangat kuat ke kepala Juna yang kini mengucurkan darah segar.

Juna berteriak dengan suara yang menyayat hati.

Detik berikutnya dia tumbang dan terbaring di atas tanah.

Terpopuler

Comments

Rossemarry

Rossemarry

Makin bagus kak😍
suka banget 🥳

salam dari
"my lovely bodyguard" & "Double Identity" 😍🥰

2022-10-16

1

Hulapao

Hulapao

romantis bgt mereka berdua

2022-09-27

1

Nana

Nana

dua bunga utk kaka

2022-09-12

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!