Gwen mendongak yang tadinya menatap ponsel, lalu mengikuti arah pandang Rafael.
Akan tetapi tepat saat itu, sebuah mobil Van berhenti di samping mereka, menghalangi pandangan Gwen yang ingin melihat orang yang sempat ditunjuk oleh anaknya.
Dan ketika mobil Van telah melaju, Gwen tak melihat siapa pun di seberang jalan sana. Dia pun menghela nafas serta menarik Rafael agar tidak mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil.
“Tidak ada Daddy, Sayang.”
*
*
*
Satu bulan kemudian.
Edgar mencoret-coret koran di bagian kolom lowongan kerja, menandai perkerjaan mana yang cocok untuk pria tanpa memerlukan banyak persyaratan, lalu mengacak rambutnya frustrasi.
Sudah satu bulan berlalu tapi Edgar masih menjadi pengangguran dan menumpang hidup bersama Lisa. Dia merasa menjadi laki-laki yang payah di depan gadis yang dia cintai.
Edgar merebahkan diri di karpet, kepalanya bertumpu pada dua lengan yang terlipat, dan dia menatap jam dinding yang menggantung di ruang tamu.
“Pria macam apa aku ini. Menumpang hidup pada seorang gadis muda, tanpa aku bisa berbuat apa-apa?” gumam Edgar pada dirinya sendiri.
Dia menghela nafas, berpikir sejenak. Beberapa menit berlalu, Edgar seketika bangkit duduk sebab otaknya telah tercetus ide.
“Setidaknya, jika aku tidak bisa mendapatkan pekerjaan, aku bisa membantu meringankan pekerjaan Lisa.”
Edgar pun beranjak ke dapur. Satu jam lagi adalah jam istirahat Lisa. Dia berencana akan memasak dan mengantarkan makan siang untuk Lisa supaya gadis itu tidak perlu membeli makanan sembarangan.
Edgar tersenyum akan ide di kepalanya, membayangkan reaksi Lisa jika dia datang ke tempat kerjanya sambil mengantarkan makanan.
Cetlek... cetlek... cetlek...
“Kenapa kompor ini tidak mau menyala?”
Berkali-kali Edgar memutar tuas kompor namun api tak kunjung menyala. Lalu Edgar mengendus-endus sebab indra penciumannya menangkap bau yang menyengat.
*
*
*
Di waktu yang sama Camilla menghela nafas panjang serta berdecak pelan saat dirinya melihat kalender. Wanita tua itu telah lebih dari satu bulan berada di Indonesia untuk mencari cucunya yang bernama Gustav. Namun, hasilnya tetap nihil.
Hari demi hari Camilla semakin dibuat gelisah akan kondisi cucu sekaligus pemimpin perusahaan Alastar Corp.
Jemari Camilla mengusap potret foto pria bermanik mata hijau yang sangat tampan dan juga sangat mirip mendiang kakeknya.
“Gus, di mana kamu? Grandma sangat khawatir. Pulanglah! Grandma, Gordon, Gwen dan juga Rafael sangat merindukanmu,” ucap Camilla berangan jika pria yang di dalam foto itu dapat mendengar ucapannya.
Detik berikutnya, Camila menarik bingkai foto ke dalam pelukannya, dan sebulir air mata melintas di pipi yang telah mengeriput.
Kemudian Gordon masuk ke ruangan yang membuat Camilla mendongak sekaligus menyeka air matanya. Gordon menghampiri Camilla dengan menampilkan wajah yang menegang.
Dan Camilla menangkap ketegangan yang tersirat di dalam pancaran mata Gordon. Menjadikan Camilla menegakkan punggungnya dan merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Gordon, apa kamu sudah menemukan keberadaan Gustav?” tanya Camilla dengan nada gelisah.
Gordon menganggukkan kepala perlahan. Camilla ingin sekali tersenyum mendengar kabar baik itu. Namun, raut wajah Gordon yang muram menjadikan Camilla justru memicingkan mata.
“Ada apa? Gustav ditemukan dalam keadaan selamat kan?” cecar Camilla yang tidak sabar menunggu penjelasan dari Gordon.
“Begini, Grandma. Please, Grandma jangan syok dulu!”
“Kenapa kamu bilang seperti itu? Apa terjadi sesuatu pada Gustav?” Camilla dengan dada yang naik turun karena tak perasaannya tidak tenang.
“Aku mendapat laporan jika polisi menemukan mayat seorang pria dalam keadaan terbakar, Grandma. Dan mayat pria itu memiliki ciri-ciri fisik yang mirip dengan Gustav.”
Seketika Camilla mengatupkan mulutnya, air mata tak dapat dibendung lagi, dan akhirnya dia tumpahkan semua kesedihannya.
Camilla menunduk sekali lagi memandang potret Gustav sambil terus memanggil nama cucu kesayangannya itu.
“Tapi, Grandma. Mayat itu mengalami bekas luka bakar yang sangat parah di sekujur tubuh. Jadi polisi belum dapat mengidentifikasi apakah benar dia Gustav atau bukan,” tutur Gordon mencoba menenangkan neneknya.
“Grandma ingin melihat langsung mayat itu,” ucap Camilla tegas.
Gordon mengangguk. “Baik, Grandma. Aku akan menemani Grandma ke rumah sakit.”
Camilla dan Gordon pun pergi ke rumah sakit. Mereka belum memberitahu Gwen, sebab ibu satu anak itu masih sibuk dengan urusan pekerjaan.
Lima belas menit Camilla dan Gordon sampai di rumah sakit yang langsung di sambut oleh sang pemilik sekaligus kolega dari Gustav bernama, Henri.
Henri dan seorang polisi menuntun Camilla dan Gordon menuju ruang mayat. Di ruangan remang itu, Henri menghentikan langkah tepat di samping mayat yang seluruh tubuhnya tertutup kain putih.
Henri perlahan membuka kain putih itu untuk memperlihatkan wajah si mayat yang sangat mengenaskan dengan sekujur tubuh dipenuhi luka bakar.
Dan bagian wajah adalah yang paling parah. Sehingga baik Camilla maupun Gordon tak dapat mengenali.
Menyadari Camilla yang terlihat gemetar, seketika Gordon merangkul dan mengusap lembut bahu neneknya.
“Aku yakin dia bukan Gustav,” kata Camilla tegas.
“Kondisi pria ini benar-benar hangus sehingga kami sedikit sulit mengenalinya.”
Camilla menggeleng cepat.
“Aku yakin dia bukan Gustav,” ucap Camilla sekali lagi. “Dia mungkin pria lain yang kebetulan mirip seperti cucuku.”
Henri menganggukkan kepala dengan mantap. Dia juga berharap jika mayat itu bukanlah Gustav.
“Kami akan melakukan tes DNA yang hasilnya akan kami serahkan kepada pihak polisi.”
Henri menarik kembali kain putih sampai menutupi kepala si mayat. Lalu mereka menyudahi pertemuan dan keluar dari ruangan.
Saat itu, Camilla dan Gordon berpisah, sebab Camilla ingin berbicara sebentar dengan Henri di ruang kerjanya. Sementara Gordon memilih mengangkat telepon sambil berjalan menelusuri lorong rumah sakit.
Bersamaan dengan Edgar yang juga datang dari arah berlawanan. Dia tersenyum semringah, menunduk menatap kantong berisi dua kotak makan yang akan dia berikan pada Lisa.
Baik Edgar dan Gordon tidak begitu memperhatikan jalan, sampai bahu mereka berdua saling bertubrukan dan membuat ponsel Gordon terhempas jatuh membentur lantai. Begitu pula kantong yang dibawa Edgar.
“Hai, kalau jalan lihat-lihat!” bentak Gordon memberikan tatapan tajam pada pria yang telah menabraknya dan kini sedang menunduk memungut kantong.
“M-maaf, Tuan. Saya tidak sengaja,” ucap Edgar yang berinisiatif mengambilkan ponsel milik Gordon.
Kemudian Edgar mendongak sambil menyerahkan ponsel. Seketika itu, wajah Gordon memucat, pupil matanya melebar kala melihat pria di depannya sangat mirip dengan saudara sepupunya yang sedang dicari-cari.
Gordon meneliti wajah dan penampilan Edgar dengan dahi yang mengerut.
Pria ini kenapa mirip sekali dengan Gustav? Tapi kenapa dia tampak tidak mengenaliku?
“Ini hp nya, Tuan. Saya minta maaf,” perkataan Edgar membuyarkan lamunan Gordon.
Dia segera menerima ponselnya, memasukkan ke dalam saku jas. Dia memandang pakaian Edgar yang sangat sederhana dan pastinya bukan pakaian yang menjadi selera dari seorang Gustav.
Ah, mungkin hanya sebuah kebetulan, pria ini mirip dengan Gustav. Dia bahkan sama sekali tidak mengenaliku.
Edgar menundukkan kepala, mengucapkan permisi, dan berlalu pergi meninggalkan Gordon yang masih melirik punggung Edgar dengan banyak tanda tanya di benaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Hulapao
emang kalo orang deket itu sekali lihat udah tau kalo itu bukan keluarganya
2022-10-15
1
Nana
bunga lagi kak
2022-09-20
0
Nana
wkwk gordon 😂
2022-09-20
1