3. Ganti Rugi

Lisa memberengut, melipat tangan di depan dada, dan memicingkan mata meneliti raut si pria asing yang sejak tadi masih terlihat kebingungan.

Sedangkan Juna hanya menghela napas lega, mendapati pria yang dia tolong telah siuman. Meski ingatannya hilang.

Satu jam sudah Lisa mengintrogasi si pria. Menanyakan perihal nama maupun keluarganya. Namun, hasilnya nihil.

Pria asing itu selalu menggelengkan kepala tak tahu setiap Lisa bertanya.

"Coba ingat betul-betul namamu siapa?" Sekali lagi Lisa membentak yang langsung dilerai Juna.

"Lisa, percuma! Kau tidak dengar penjelasan dokter tadi."

Lisa menghela napas panjang, dan menghentakkan kaki karena kesal. Niat untuk minta ganti rugi, sepertinya hanya akan menjadi angan belaka.

Nama saja dia tidak ingat. Apalagi keluarganya.

"Bagaimana kalau kita memberi nama baru saja? Supaya kita tidak repot memanggilmu," Juna memberi usulan.

Pria asing itu hanya mengangguk pasrah.

"Kira-kira kita beri nama siapa?"

"Aku beri nama dia Edgar," kata Lisa tiba-tiba.

Juna menaikan alisnya. "Edgar? Inspirasi dari mana, Lisa?"

Lisa menatap pria yang kini diberi nama Edgar.

"Nama yang bagus, ‘kan? Tapi jangan ge-er, Edgar adalah nama simpanse yang pernah aku lihat di pasar malam."

Juna terkekeh. Dia melirik pada pria yang memiliki manik mata berwarna hijau botol.

"Kau suka nama itu?"

Edgar membuka mulut ingin protes, namun, Lisa menyela lebih dulu.

"Mau tidak mau, kau harus pakai nama itu, dan satu lagi, kau harus segera mengganti uang kami."

"Lisa, jangan bahas masalah itu sekarang! Yang penting, dia sembuh dulu," tegur Juna.

Rasa saling tidak suka tergambar jelas pada kesan pertama Edgar dan Lisa.

Beberapa hari berlalu sampailah pada hari di mana Edgar diperbolehkan pulang. Dia dibawa ke tempat tinggal Lisa dan Juna. Sebuah rumah sederhana di desa pinggir hutan serta terpencil dari rumah-rumah warga yang lain

Perjalanan yang jauh dari rumah sakit ke rumah, membuat Edgar ingin beristirahat duduk di sofa yang busanya sudah cebol. Akan tetapi, Lisa berdehem keras sambil melipat tangan layaknya bos.

Edgar berusaha tak memperdulikan Lisa, dia menghempaskan punggung ke sandaran sofa, dan memejamkan mata.

"Hai, enak sekali kamu berleha-leha," ucap Lisa ketus.

Edgar membuka mata, "Apa ada masalah?"

"Dengar ya? Aku dan ayahku sudah mengorbankan banyak uang untukmu. Karena kamu tak dapat mengganti rugi berupa uang, kamu harus ganti rugi menggunakan tenagamu."

"Dengan cara apa?"

Lisa membuka jendela, memperlihatkan tumpukan kayu bakar yang ada di luar rumah.

"Masukan kayu-kayu itu ke rumah!"

"Aku masih sakit. Kenapa disuruh-suruh?" Edgar memprotes, dan memejamkan mata lagi.

Lisa menggeram kesal, lalu menggulingkan tubuh Edgar dari sofa, sehingga pria itu terjatuh ke lantai.

Dengan terpaksa Edgar menuruti perintah Lisa. Dia mengambil beberapa kayu kering, dan memasukkannya ke dalam rumah melalui pintu belakang.

Tak sengaja Edgar melihat ada kandang ayam tepat di pekarangan belakang rumah. Dia mendengus pelan, begitu indra penciumannya menangkap bau dari kandang ayam.

Pintu belakang terhubung langsung dengan dapur. Edgar meletakan kayu bakar di samping tungku.

Sejenak dia mengedarkan pandangan menyapu sekeliling ruangan. Dinding dan atap dapur menghitam akibat terkena asap pembakaran dan ada rak piring yang sudah rusak di salah satu sudut.

Setelah memasukan kayu bakar, tugas Edgar tak berhenti sampai situ. Dia diharuskan membantu Lisa memanen ubi jalar.

Di saat Edgar fokus dengan pekerjaannya, diam-diam Lisa memperhatikan Edgar serta meneliti wajahnya.

Pria dengan hidung mancung, rahang tegas, dan bibir yang tipis. Sungguh patahan wajah yang sempurna.

Namun, yang paling menjadi daya tarik Lisa adalah manik mata Edgar yang berwarna hijau botol. Sangat jarang ada orang memiliki bola mata seperti itu.

Merasa diperhatikan, Edgar melempar pandangan pada Lisa yang mendadak salah tingkah dan menunduk.

Malam hari, mereka bertiga makan hanya dengan ubi rebus hasil panen tadi siang. Tak ada yang protes kecuali Edgar.

Meskipun dia amnesia dan tak tahu bagaimana kehidupan sebelumnya, tapi dia tak mau memakan ubi rebus.

"Bagaimana aku cepat sembuh jika hanya makan ubi rebus? Apa kalian tidak punya bahan makanan yang lain?"

Sejenak Lisa melirik Juna, lalu kembali menatap Edgar dengan tatapan seolah ingin melakban mulutnya.

"Apa sebelumnya kamu itu tak diajarkan bersyukur? Sudah untung masih ada ubi. Biasanya kita tidak makan malam sama sekali."

"Aku bukannya tidak bersyukur tapi aku tidak selera makan ubi rebus," debat Edgar tak mau kalah.

Tiba-tiba saja Juna menyodorkan satu ubi ukuran sedang ke arah Edgar.

"Coba dulu! Kelihatannya memang tidak menggugah selera tapi setelah dimakan kau pasti ketagihan," suara berat Juna terkesan lembut, tanpa ada rasa marah.

Dari pada tidak makan sama sekali, akhirnya Edgar mengambil ubi di tangan Juna. Ada sedikit kebimbangan tersirat di wajah Edgar saat hendak menatap ubi itu.

"Ubi jalar memiliki kandungan beta karoten yang baik untuk kesehatan mata. Selain itu, antioksidan dan serat juga membantu sistem pencernaan agar lebih sehat serta mencegah terjadinya sembelit," Lisa berceloteh dengan rasa bangga.

Pelan-pelan Edgar menggigit ubi yang rasanya manis dan juga lembut di mulut. Tangannya bergerak mengambil satu ubi lagi.

"Nah, ‘kan? Nambah lagi," Lisa tertawa mengejek Edgar.

"Aku kelaparan, tahu!" sanggah Edgar, kemudian melahap lagi ubi rebus.

"Sebenarnya aku terpaksa makan makanan seperti ini."

Lisa berdecih sambil membuang muka. "Pria tidak tahu terima kasih. Kalau bukan karena kita, kau mungkin sudah menjadi bangkai di hutan."

"Lisa, jangan bertengkar saat makan! Habiskan makananmu setelah itu masuk kamar! Besok pagi kau harus menjual ubi ke pasar, ‘kan?"

Seketika Lisa berdiri dengan raut wajah menahan rasa kesal. Dengan langkah di jejak-jejakan, dia berjalan ke kamar lalu membanting pintu.

Selepas meminta maaf atas sikap Lisa, Juna pun masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat menghilangkan rasa penat setelah seharian bekerja di ladang.

Tinggal Edgar sendirian di ruang tamu. Terdengar suara berdecit saat dia berbaring di sofa yang reot itu.

Dan jangan tanyakan apakah Edgar nyaman tidur di sana. Edgar lebih baik tidur di lantai dari pada harus tidur di sofa.

Dua jam berlalu, tapi Edgar tak kunjung tidur. Tinggal di rumah Lisa satu hari saja sungguh dia tak sanggup.

Apalagi harus melewati berhari-hari sampai ingatannya sembuh. Yang Edgar sendiri tak tahu kapan itu.

Kemudian, Edgar terlonjak bangun terduduk begitu benaknya muncul sebuah ide untuk kabur dari rumah Lisa.

Tanpa menimbulkan suara, Edgar keluar melalui pintu depan yang memang tidak terkunci sebab telah rusak. Sesaat dia ragu akan niatnya.

Namun, dia bayangan wajah Lisa merasuki pikiran Edgar membuatnya memantapkan diri mengayunkan kaki pergi dari sana.

"Terima kasih sudah menolongku. Tapi, aku tidak bisa tinggal di sini bersama kalian."

Edgar yang tak tahu arah justru melangkahkan kaki menuju hutan. Panik dan takut terpancar jelas dari sorot matanya begitu dia berjalan di antara pepohonan.

Edgar membalikkan badan, bayangan rumah Lisa sudah tak terlihat lagi, dia telah melangkah jauh dan tak ada jalan kembali.

Tepat saat itu, Edgar mendengar suara menggeram yang membuat tubuhnya bergidik merinding. Dia mengedarkan pandangan mencari sosok yang menggeram itu.

Di kegelapan malam, sepasang mata menyala di balik semak. Sosok itu keluar dari tempat persembunyiannya.

Sinar rembulan yang menyembul dari balik awan menampilkan wujud asli dari hewan berkaki empat dengan moncong yang memperlihatkan gigi-gigi tajam.

"S-serigala!"

Terpopuler

Comments

Kod Driyah

Kod Driyah

lisa km jngan jahat jd anak gadis

2022-10-19

0

Hulapao

Hulapao

yaampun simpanse 🤣
btw emang ada ya, simpanse di pasar malem?

2022-09-23

1

Nana

Nana

vote untuk kakak 😍

2022-09-09

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!