16. Waspada

Edgar terus melangkahkan kaki untuk menemui Lisa. Gadis itu sedang menerima telepon saat Edgar meletakan kantong di meja resepsionis.

Setelah Lisa menutup telepon, dia tersenyum sekaligus terkejut melihat Edgar datang ke rumah sakit. Manik matanya langsung tertuju pada kantong dan melirik isinya.

“Apa ini?”

“Makan siangmu,” kata Edgar menumpukan lengan di meja. “Lebih tepatnya makan siang kita berdua.”

Lisa tak dapat menyembunyikan senyum yang merekah di bibirnya. Lantas dia melirik jam yang tertera di layar komputer, lalu kembali menatap Edgar.

“Jam istirahatku lima belas menit lagi dan aku juga masih ada pekerjaan yang belum selesai,” tutur Lisa.

Edgar mengangguk. Jari telunjuknya mengarah ke taman yang ada di halaman luar rumah sakit.

“Aku akan tunggu kamu di sana.”

Setelah masuk jam istirahat, Lisa menghampiri Edgar yang duduk di bangku taman. Pria itu mendongak dan menatap Lisa begitu dalam yang membuat Lisa diam seribu bahasa.

“Kenapa diam saja?” Edgar menepuk bangku di sampingnya. “Duduk sini!”

Lisa menurut. Dia duduk dan mulai membuka dua kotak makan yang isinya sama. Nasi, tumis brokoli dan tempe goreng. Menu yang sederhana. Namun, sangat lezat di lidah Lisa.

Terlebih dia memakannya bersama Edgar.

Beberapa kali Lisa melirik pria yang baru beberapa bulan hidup bersamanya. Di dalam diri Lisa, ada perasaan ingin memiliki Edgar sepenuhnya.

Akan tetapi Lisa tak mau berharap lebih. Bila ternyata Edgar telah memiliki istri, Lisa akan memilih mundur dan menganggap tak pernah mengenal Edgar.

Ayah Lisa tak mengajarinya untuk menjadi wanita perebut suami orang. Lisa membuang nafas kasar, mencoba menguatkan diri, dan tetap akan mengikuti nasehat sang ayah.

“Kenapa malah melamun? Apa makanannya tidak enak?” Edgar bertanya yang membuat lamunan Lisa buyar.

“Enak kok. Aku... aku hanya sedang lelah karena pekerjaan,” jawab Lisa berbohong.

“Aku tidak tahu kamu bisa memasak,” imbuh Lisa mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

“Aku berusaha mempraktikkan yang biasa kamu lakukan jika sedang memasak.”

Tanpa Lisa dan Edgar sadari, mereka sedang diawasi oleh Gordon yang berdiri tak jauh di belakang. Tatapan Gordon hanya terfokus pada Edgar. Dia masih penasaran akan pria yang menabraknya tadi.

Dengan hati-hati Gordon melangkahkan kaki mendekat tanpa menimbulkan suara. Dia ingin mendengar percakapan Edgar dengan Lisa, serta memastikan apakah pria itu betul Gustav atau bukan.

“Tadi aku tak sengaja menabrak pria yang memiliki warna mata sama sepertiku,” ungkap Edgar setelah meneguk minumannya.

Lisa melirik Edgar sambil mengunyah makanan. Setelah makanan itu meluncur ke dalam perut, barulah Lisa menjawab.

“Oh ya? Seperti apa ciri-cirinya?”

Edgar menautkan alisnya, berusaha mengingat perawakan pria yang tadi dia tabrak.

“Sebenarnya aku tidak terlalu memperhatikan badannya. Tapi yang jelas dia kurus.”

Edgar melempar pandangan pada Lisa dan menatap gadis itu dengan intens. Mulut Lisa yang menganga siap melahap makanannya pun terpaku kala Edgar menatapnya.

“Kenapa?”

“Kamu pernah bilang, jika sangat jarang ada orang yang memiliki warna mata hijau. Apa mungkin pria tadi memiliki ikatan keluarga denganku?”

Lisa menurunkan tangannya. Dia memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong.

“Bagaimana reaksi pria itu saat pertama kali melihatmu?” tanya Lisa tiba-tiba.

“Dia kaget,” jawab Edgar singkat yang membuat Lisa menaikkan alisnya

“Apa dia tampak mengenalimu?”

Diam sejenak, lalu Edgar melahap makanannya dan mengangkat bahu.

“Entahlah. Tapi aku rasa dia kaget karena aku menabraknya.”

Di tempatnya berdiri Gordon menajamkan indra pendengarannya. Dia merapatkan diri ke sebuah pohon palem serta memicingkan mata.

“Lisa, kamu tahu, aku sering bermimpi dihajar oleh dua orang pria tak dikenal,” sambung Edgar.

Lisa menegakkan punggungnya tampak tersentak akan ucapan Edgar. Dia telan cepat makanan yang ada di mulutnya.

“Mungkin saja mimpimu itu gambaran dari kejadian nyata dan itulah kenapa kamu bisa babak belur dan amnesia. Apa kamu ingat wajah orang yang ada di dalam mimpimu?”

Dia memejamkan mata berusaha mengingat mimpi buruk yang akhir-akhir ini menghantui tidurnya. Namun, seketika kepalanya serasa tertusuk oleh sebilah pisau.

Edgar menahan diri untuk tidak mengaduh tapi rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Lalu Edgar merasakan jemari lentik menyentuh keningnya.

Edgar membuka mata dan wajah Lisa dengan raut khawatir terpampang jelas di penglihatannya.

Tangan Lisa bergerak membelai pelipis Edgar yang terasa hangat dan membuat rasa sakit di kepala Edgar perlahan memudar.

Edgar berdecak kecewa dan menggelengkan kepala pelan-pelan. Dia kecewa pada dirinya sendiri yang tak dapat mengingat wajah orang yang ada di dalam mimpinya.

“Jangan dipaksa!” ucap Lisa lembut.

“Aku yakin dia memang Gustav. Tapi sepertinya dia mengalami... hilang ingatan,” Gordon menggumam pada dirinya sendiri. Dia tampak berpikir sejenak.

Kemudian Gordon memilih memakai kacamata hitam, berbalik badan dan segera pergi menemui Camilla.

Sementara Edgar dan Lisa telah menghabiskan makan siang mereka berdua. Edgar menyodorkan botol minum yang langsung diterima dan diteguk oleh Lisa.

Setelah Lisa membereskan kotak makan, dia bangkit berdiri. Jam istirahat masih tersisa beberapa menit lagi tapi dia memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya.

Begitu pula Edgar yang akan langsung pulang ke kontrakan.

“Edgar,” panggil Lisa di saat mereka hendak berpisah.

Edgar menoleh, memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, menunggu Lisa yang terlihat ingin menyampaikan sesuatu.

“Edgar, aku hanya ingin memperingatkanmu untuk selalu waspada dengan orang yang ada di sekitarmu,” kata Lisa memasang wajah serius.

“Apa aku harus waspada padamu juga?” Edgar bertanya sambil tertawa menganggap ucapan Lisa sebagai candaan belaka.

“Aku serius, Edgar. Kamu ditemukan dalam kondisi babak belur dan sekarat. Itu artinya, ada pihak yang menginginkan kematianmu.”

Tawa yang terulas di bibir Edgar pudar seketika. Dia menatap lekat Lisa dan menyadari jika ucapan gadis itu ada benarnya juga.

Edgar menarik nafas panjang. Mengira-ngira siapakah dirinya dan apa yang pernah dia perbuat sampai ada orang yang ingin dia mati.

Namun, ingatan Edgar akan masa lalunya bagaikan terkutung di dalam sebuah ruangan yang terkunci rapat.

“Ingat, Edgar! Selalu perhatikan orang yang ada di dekatmu! Sekalipun ada orang yang mengaku mengenalmu, tetap waspada selama ingatanmu belum pulih. Karena kamu tidak tahu orang itu bisa saja teman atau mungkin musuh.”

Edgar menganggukkan kepala dengan mantap. Lalu tangan Edgar terulur untuk mengusap puncak kepala Lisa.

“Terima kasih atas sarannya. Mulai saat ini, aku akan mewaspadai setiap orang di sekitarku.”

Sekilas Lisa tersenyum. “Ya sudah. Pulanglah. Aku akan pulang cepat hari ini.”

Lisa dan Edgar mengakhiri pertemuan mereka. Keduanya berpisah. Lisa masuk kembali ke dalam rumah sakit, sedangkan Edgar melangkahkan kaki menuju gerbang depan.

Di ambang pintu, Lisa menoleh ke belakang menatap punggung Edgar yang menjauh. Perasaan Lisa mendadak menjadi tidak tenang.

Meskipun begitu, Lisa hanya menghela nafas berusaha menampik rasa gundah yang singgah di hatinya.

Terpopuler

Comments

Hulapao

Hulapao

benerr mimpi itu kadang kejadian yg kita lupakan

2022-10-15

1

tria sulistia

tria sulistia

makasih kak semua bunga nya aku terima 😊🤗 semangat juga buat kak nana

2022-09-20

0

Nana

Nana

dua bunga utk kakak

2022-09-20

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!