18. Pulang

Gustav menghentikan taksi, masuk ke dalamnya dan memberitahukan pada sang sopir sebuah alamat yang merupakan tempat tinggal neneknya. Rumah yang selalu ditinggali jika keluarga besar menetap di Indonesia.

Gustav yakin saat ini keluarganya pasti tengah kelimpungan mencari dirinya. Sebab telah berbulan-bulan dia tidak memberi kabar.

Dan Gustav yakin berita tentang menghilangnya sang pewaris dari keluarga Green sudah terdengar sampai di telinga Camilla.

Maka dari itu, Gustav ingin pulang ke rumah Camilla dan memberitahu pada semua orang bahwa dia telah kembali dalam keadaan selamat.

Gustav memijat pangkal hidungnya teringat pria yang ditabraknya saat di rumah sakit adalah Gordon, saudara sepupunya.

Taksi yang ditumpangi Gustav turun di depan rumah mewah bercat serba putih dengan gerbang yang terbuat dari kayu. Tampak dua penjaga terkejut melihat seorang pria yang turun dari taksi.

Serempak mereka membungkukkan badan memberi hormat saat Gustav berdiri di hadapan mereka. Tetapi wajah kedua penjaga mengerut menyadari tuan muda mereka memakai kaos dan celana panjang lusuh.

“Apa Grandma ada di rumah?”

“Ya, Tuan. Nyonya Camilla baru saja sampai dari rumah sakit,” jawab seorang penjaga.

Lalu Gustav melangkah melewati penjaga tanpa berkata apapun lagi. Dia melintasi halaman dan masuk ke dalam rumah.

Sesaat Gustav mengedarkan pandangan ke sekeliling. Rumah itu tampak sepi bagaikan tak berpenghuni. Membuat Gustav mengayunkan kaki ke ruang tengah.

“Gus?”

Sebuah suara berat yang berasal dari belakang punggung Gustav. Lantas dia pun membalikkan badan untuk menatap orang itu.

“Gordon.”

Manik mata Gordon melebar saat menyadari pria yang di hadapannya benar Gustav. Terlihat wajah Gordon yang tercengang dan tak dapat dijelaskan.

Gustav satu langkah maju mendekati Gordon, mengayunkan tangan untuk memberi pukulan kecil di bahu saudara sepupunya.

“Kenapa kamu tidak mengenaliku saat kita bertemu di rumah sakit, hah?”

Gordon gelagapan, tapi sesegera mungkin menarik nafas untuk menetralkan perasaan yang campur aduk.

“Aku pikir pria tadi bukan kamu,” sahut Gordon menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Gustav mengangguk, memaklumi alasan Gordon. Semua orang juga pasti tak akan menyangka jika selama beberapa bulan ini pewaris dari keluarga Green hidup dalam keterbatasan.

“Di mana Grandma?”

Belum sempat Gordon menjawab, Camilla telah muncul dari balik pintu sebuah ruangan. Senyum langsung berkembang di bibir Camilla begitu melihat Gustav pulang ke rumah.

Camilla berjalan setengah berlari dan menghamburkan pelukan pada sang cucu. Dia bahkan menghujani wajah Gustav dengan kecupan.

“Grandma, aku bukan anak kecil lagi,” protes Gustav yang sering kali diperlakukan seperti seorang bocah oleh sang nenek.

Camilla tak mau mendengarkan. Dia juga tahu jika Gustav paling tidak suka disentuh oleh orang lain.

Akan tetapi perasaan bahagia bercampur haru akan kembalinya Gustav, menguasai diri Camilla yang membuatnya ingin sekali mencubit pipi sang cucu kesayangan.

“Apa yang terjadi denganmu, Gus?” tanya Camilla.

“Aku dihajar oleh dua orang pria yang membuat aku mengalami amnesia, Grandma,” terang Gustav dengan nada santai.

Tapi bagi Camilla yang mendengarkan, langsung membelalakkan mata.

“Kamu sampai hilang ingatan? Siapa yang telah berani menghajarmu, hah? Mereka punya masalah apa denganmu?” Camilla mencecar pertanyaan sambil menampilkan wajah yang tegang dan amarah yang berapi-api.

Gustav hanya menghela nafas dan mengangkat bahu.

“Aku juga tidak tahu apa yang membuat mereka menghajarku, Grandma. Tapi Grandma tidak perlu khawatir. Aku sudah mengetahui nama mereka dan polisi pasti dapat segera menangkapnya.”

Gustav meletakan kedua tangan di bahu Camilla. Meyakinkan agar sang nenek tidak perlu panik yang berlebihan.

Mudah bagi seorang Gustav Green untuk menangkap dua orang yang telah membuatnya hampir meregang nyawa. Terlebih dia telah mengantongi nama serta ingat bagaimana ciri-ciri fisik dua pria itu.

Ehm.

Suara deheman dari seorang wanita membuat Gustav menoleh. Dia sana berdiri seorang wanita berambut pendek yang bersandar ke dinding dengan kedua tangan terlipat.

“Kamu lupa tentangku ya?” tanya Gwen.

“Tentu saja tidak, Gwen. Bagaimana mungkin aku lupa?”

Gustav merekahkan senyuman sekaligus berjalan mendekati Gwen dan memeluk erat wanita itu. Cukup lama mereka berpelukan hingga akhirnya keduanya saling melepaskan.

“Di mana Rafael?”

“Dia sedang di les piano di ruang musik.”

Gustav mengangguk, dan memutuskan tidak akan mengganggu Rafael yang sedang belajar piano. Lagi pula akan ada banyak waktu untuk menemui bocah lima tahun itu.

Setelah semua orang melepas kerinduan, Gustav meraih telepon yang terdapat di meja ruang tengah. Dia menghubungi rumah sakit tempat Lisa bekerja.

Sambil menunggu telepon diangkat, Gustav melirik jam yang tergantung di dinding. Saat ini Gustav yakin Lisa belum pulang ke kontrakan.

“Halo, dengan Royal Hospital ada yang bisa dibantu?”

Sebisa mungkin Gustav menahan untuk tidak tertawa begitu mendengar suara Lisa yang begitu lembut dan seksi saat berbicara sebagai pegawai resepsionis.

“Halo?” Di seberang sana Lisa kembali bertanya sebab tak mendengar sahutan.

“Lisa, ini aku.”

Lisa menautkan alis. Dia mengenali jika suara yang meneleponnya adalah suara Edgar.

“Edgar? Kau kah itu?”

“Iya. Lisa, ingatanku sudah pulih. Sekarang aku ingat siapa diriku,” ucap Gustav terdengar sangat bahagia.

“Sungguh?” tanya Lisa tampak tak percaya.

Sebab baru beberapa jam yang lalu mereka makan berdua dan Edgar merasakan sakit kepala saat mencoba mengingat jati dirinya.

Tapi aneh jika Edgar langsung menelepon lalu mengatakan ingatannya sudah pulih, kalau bukan karena telah terjadi sesuatu.

“Pulang kerja nanti bisakah kamu datang ke alamat tempat tinggalku,” pinta Gustav membuat Lisa tersentak dari lamunan.

“Oh, baiklah. Akan aku tulis alamatnya agar tidak lupa.”

Tangan Lisa bergerak menyambar secarik kertas dan bolpoin. Lalu menuliskan alamat rumah yang disebutkan oleh Gustav.

Selepas telepon ditutup, Gustav melangkah menuju kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.

Mengingat Lisa tak memiliki ponsel, Gustav memutuskan untuk menunggu Lisa di halaman depan. Dia tak sabar menemui Lisa sambil harap-harap cemas takut jika gadis itu malah salah alamat.

*

*

*

Pulang bekerja Lisa langsung memesan taksi, lalu memberitahu alamat rumah yang akan dia tuju pada sang sopir.

Ternyata alamat yang diberikan oleh Gustav merupakan rumah yang sangat mewah hingga membuat Lisa takjub saat pertama kali melihatnya.

Lisa mengecek sekali lagi tulisan yang tertera di kertas, dan memang benar itu alamatnya. Lisa meminta sopir taksi untuk tetap menunggunya selagi dia masuk ke dalam rumah besar itu.

Lisa turun dari taksi, berjalan ke gerbang kayu yang sedikit terbuka tanpa adanya penjaga.

“Kenapa rumah sebesar ini tidak ada yang jaga?” gumam Lisa saat dia hendak melangkah melewati gerbang.

Kemudian manik mata Lisa menangkap sosok Edgar yang berdiri di halaman depan dengan posisi membelakangi dirinya.

Lisa meneliti pria itu. Meski penampilannya sedikit berbeda, tapi Lisa yakin seratus persen bahwa dia adalah Edgar.

Bersamaan dengan Lisa yang akan mendekat, saat itu juga seorang bocah laki-laki berlari dari arah rumah dengan raut wajah yang sangat bahagia.

Sambil mengayunkan kaki ke arah Edgar, bocah itu berteriak, “Daaaddyyy.”

“Daddy?”

Terpopuler

Comments

Nana

Nana

patah hati si lisa 😭😭 penasaran aku ni

2022-09-22

3

Nana

Nana

lisa gimana 😥

2022-09-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!