Lisa terus berlari melintasi ladang milik warga. Lengan Lisa tergores dahan pohon yang mencuat. Namun, dia tak peduli akan luka di tubuhnya.
Yang dia pedulikan hanya lah lari sejauh mungkin dari kejaran Roy.
“Lisa, kamu tidak bisa lari dariku.”
Suara Roy masih terdengar di telinga Lisa. Pertanda pria itu masih mengejarnya.
Nafas Lisa terengah sambil menahan agar tak banyak darah yang mengucur dari lukanya, dia berlari sampai tak menyadari telah masuk ke dalam hutan.
Tiba-tiba Lisa tersandung batu yang membuatnya jatuh terjerembap. Namun, segera dia bangkit kembali, dan dengan sisa tenaga yang masih ada dia menyeret langkah terus menembus di antara pepohonan dan semak.
Lisa tak kuasa lagi berlari. Dia memutuskan untuk bersembunyi di balik batang pohon besar.
Di sana Lisa berjongkok, menahan nafas, dan menoleh ke belakang. Dilihatnya Roy yang tengah mengedarkan pandangan mencari keberadaan Lisa.
“Lisa, di mana kamu, Cantik? Sekalipun kamu sembunyi, aku dapat mendengar suara detak jantungmu,” Roy berteriak sambil menoleh ke sekeliling.
“Lisa!” raung Roy lebih keras.
Di tempat persembunyiannya, Lisa hanya bisa berdiam diri, memejamkan mata, dan berdoa dalam hati agar Roy tak dapat menemukannya.
Sejenak hening. Lisa tak mendengar lagi teriakan Roy maupun suara derap langkah pria kejam itu.
Lalu tiba-tiba, mulut Lisa dibekap oleh seseorang di belakangnya. Lisa berusaha memberontak. Pasti orang yang membekapnya adalah Roy. Siapa lagi?
Namun, semakin Lisa berusaha melepaskan diri, tangan itu juga semakin merapatkan tubuh Lisa ke dalam pelukan.
“Tenanglah. Ini aku,” bisik suara yang tak asing bagi Lisa.
Gadis itu pun menoleh ke belakang, dan betapa kagetnya dia saat melihat Edgar yang membekap mulut. Bukan Roy.
“Edgar, kamu...”
Edgar menganggukkan kepala dengan jari telunjuk yang diletakan di bibir. Memberi isyarat agar Lisa diam.
“Dia masih ada di sini,” bisik Edgar di depan telinga Lisa.
Mereka berdua mengintip dan melihat Roy yang berjalan berkeliling menyibak semak untuk mencari keberadaan Lisa.
“Aku yakin, dia masih belum jauh,” gumam Roy dengan nada kesal.
Tubuh Edgar dan Lisa sama-sama menegang saat Roy perlahan berjalan ke arah mereka. Lalu Edgar tampak tersentak, dan kembali berbisik pada Lisa.
“Aku punya ide, tapi sebaiknya kamu tunggu di sini saja.”
“Apa yang ingin kamu lakukan, Edgar?”
Edgar tak menyahut. Dia berdiri dan berlari ke arah lain.
“Roy, aku di sini,” teriakan Edgar berhasil membuat Roy memalingkan wajah dengan mata yang membelalak.
“Kamu masih hidup, rupanya.”
“Kamu menginginkan aku mati, hah? Sini, kejar aku!”
Edgar berlari yang langsung disusul oleh Roy. Sementara Lisa yang masih gemetar dan lemas memilih menuruti perintah dari Edgar untuk menunggu di tempatnya bersembunyi.
Di tempat lain, Edgar tersenyum puas saat Roy termakan pancingannya. Dia menoleh ke belakang yang mana pria itu tengah mencoba menangkapnya.
Bertahan hidup selama seminggu di hutan membuat Edgar hafal akan letak pasir hisap yang berada di tengah hutan. Persisnya beberapa meter lagi di depannya.
Edgar melompat dengan langkah lebar. Dia berhasil melewati pasir hisap, namun dia terjatuh dan sesaat berguling di tanah yang keras.
“Aargghh”
Roy memekik saat dirinya terperosok ke dalam pasir. Tangannya mencoba menyambar apa saja yang ada di sekitarnya.
Tubuh Roy perlahan terbenam, menyisakan kepala hingga ke bagian dada. Dia semakin panik dan mengulurkan tangan ke arah Edgar dengan tatapan memelas.
“Edgar, bantu aku!”
“Jangan, Edgar!” teriak Lisa yang tiba-tiba sudah berhasil menyusul mereka.
Lisa berdiri di samping Edgar, memandang Roy yang beberapa menit lagi akan ditenggelamkan oleh pasir hisap.
Bibir Lisa melengkungkan senyuman ketika melihat raut ketakutan di wajah Roy.
Sungguh sebuah pemandangan yang jarang terjadi. Mengingat pria itu sering kali memasang wajah galak.
“Lisa, aku mohon, tolonglah aku!”
“Sekarang kamu memohon, setelah apa yang telah kamu lakukan padaku.”
“Apa maksudmu, Lisa? Aku tidak mengerti,” ujar Roy berpura-pura agar Lisa merasa iba.
Namun, seorang Lisa tidak bisa ditipu hanya dengan raut wajah memelas. Dia justru mengambil sebilah batang kayu yang tergeletak tak jauh darinya.
Lalu dengan menggunakan batang kayu, Lisa menekan dada Roy supaya pria itu semakin tenggelam ke dalam pasir.
“Katakan yang sebenarnya! Atau aku akan tenggelamkan kamu di sini,” seru Lisa mengancam penuh amarah.
Edgar sendiri mundur beberapa langkah karena takut, juga tak menyangka akan sikap Lisa yang sangat tega menyiksa Roy. Meski menurut Edgar, si rentenir memang pantas mendapatkannya.
“B-baiklah. Aku mengaku memang aku lah yang memfitnah Edgar. Aku menyewa dua orang polisi untuk mengatakan padamu bahwa Edgar adalah seorang pembunuh.”
“Dan apa kamu juga yang membunuh ayahku?”
“Lisa,” Roy menelan ludah. Bibirnya serasa kelu untuk berbicara.
“Cepat jawab!” Lisa berteriak sambil menoyor kepala Roy menggunakan batang kayu.
“Aku memukul ayahmu saat dia ada di ladang sesaat sebelum Edgar datang. Tapi Lisa, aku melakukan ini agar bisa mendapatkanmu.”
Lisa berteriak histeris, tak menyangka sang ayah dibunuh oleh Roy, dan bodohnya dia sempat termakan oleh tipu muslihat si pria buaya darat itu.
“Dasar bede***.”
Lisa memukul kepala Roy secara bertubi-tubi, membuat kepala Roy berdarah, dan semakin terperosok hingga kini kepalanya saja yang menyembul di atas hamparan pasir.
“Lisa, hentikan!”
Edgar menahan tangan Lisa dari arah belakang. Namun, Lisa tak mau mendengarkan, dia masih saja mengayunkan pukulan menggunakan batang kayu.
“Biarkan saja. Dia memang harus diberi pelajaran.”
“Lisa.”
Terdengar suara samar dari kejauhan memanggil Lisa. Disusul oleh suara yang lain. Suara itu semakin lama semakin jelas.
Lisa tersentak saat menyadari salah satu pemilik suara itu adalah Pak Doni. Tetangga yang paling dekat dengan rumahnya sekaligus teman Juna.
“Lisa,” teriak Doni begitu bola matanya melihat Lisa dan Edgar.
Ada rasa lega dalam diri Doni karena mendapati Lisa masih dalam keadaan selamat.
Pria paruh baya itu bersama beberapa warga berlari mendekat, dan mereka tersentak saat melihat Roy yang nyaris tenggelam ke dalam pasir hisap.
“Pak Doni, dia yang telah membunuh ayah,” ucap Lisa dengan suara serak dan penuh akan kepiluan.
Doni hanya menganggukkan kepala. Dia mengajak para warga untuk mengeluarkan tubuh Roy, dan membawanya untuk segera diadili.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Hulapao
syukurlah ada edgar
2022-10-05
1
Nana
dua bunga utk kakak , smgt kak 😍
2022-09-15
1
Nana
mampus kau roy! gedek aku!! arghh
2022-09-15
1