9. Hutang

Sore itu, rumah Lisa didatangi oleh banyak warga yang menghadiri pemakaman Juna. Sejak menemukan ayahnya yang telah tak bernyawa, hidup Lisa seakan runtuh.

Gadis itu menampilkan wajah yang muram, diam seribu bahasa, namun tak ada air mata yang keluar.

Para warga menemani Lisa mengantarkan Juna ke tempat peristirahatan terakhir, sambil bergantian memberi ucapan bela sungkawa.

Hingga upacara pemakaman selesai, satu per satu warga pergi dan menyisakan Lisa yang tetap berlutut di samping makam Juna.

“Ayah, aku takut hidup sendirian. Aku sudah tidak punya siapa-siapa. Kenapa Ayah pergi?” Lisa berkata dengan nada serak.

“Kamu tidak sendirian, Lisa, masih ada aku.”

Ucapan dari seseorang membuat Lisa mendongakkan kepala dan segera berdiri. Lisa menatap pria di depannya dengan pandangan penuh waspada.

“Mau apa kamu, Roy?”

Satu kaki Lisa mundur, bersiap kabur jika sewaktu-waktu Roy melakukan aksi bejatnya ketika terakhir kali mereka bertemu.

Namun, Roy kali ini tampak biasa saja. Dia melirik sekilas pada makam Juna yang masih bertaburan bunga-bunga segar.

“Aku kemari untuk menagih hutang ayahmu.”

“Hutang?” ulang Lisa menyipitkan mata.

“Ayahku tidak pernah meminjam uang kepadamu.”

Roy hanya tergelak sesaat, lalu menyerahkan sebuah surat yang langsung diterima dan dibaca oleh gadis pemilik rambut gelombang itu.

Seketika manik mata Lisa membola saat membaca surat yang merupakan perjanjian hutang Juna dan Roy. Di kertas itu tertulis jika Juna tak dapat membayar hutangnya, maka Lisa harus menikah dengan Roy.

Lisa meremas kertas di tangannya hingga membentuk sebuah bola, lalu melemparkannya pada si rentenir desa yang kini menerbitkan sebuah seringai.

“Ayah tidak mungkin menjual aku pada pria sepertimu,” Lisa meraung sambil melempar kertas.

“Lisa, ayahmu tak punya pilihan lain. Saat itu, dia bilang sedang membutuhkan uang banyak untuk membayar administrasi rumah sakit.”

Tubuh Lisa terpaku mendengar penuturan Roy. Dia ingat jika uang tabungan dan hasil menjual kalung tidak cukup untuk membiayai operasi Edgar.

Mungkinkah Ayah meminjam uang pada Roy untuk menutupi biaya yang masih kurang? Lisa bertanya dalam hati.

Kedua tangan Lisa terkepal kuat, rautnya menunjukkan bahwa dia benar-benar marah sekaligus benci pada pria tak dikenal yang telah dia sesali telah menolongnya.

“Lisa, minggu depan adalah hari pernikahan kita. Persiapkan dirimu sebaik mungkin.”

“Aku menolak. Aku tidak mau menikah denganmu.”

“Kamu tidak bisa menolak, atau kamu mau aku mengobrak-abrik makam ayah dan ibumu,” ucap Roy penuh ancaman.

“Aku akan membayar semua hutang ayahku.”

Roy tergelak, mengibas satu tangan seolah ada nyamuk di depan wajahnya.

“Kamu mau membayar dengan apa, Lisa. Uang untuk kebutuhan hidup saja kamu tidak punya. Dan satu lagi, nominal yang tertulis di surat itu belum termasuk bunga. Kamu paham?”

Roy berbalik dan melangkahkan kaki meninggalkan Lisa seorang diri yang berdiri mematung masih belum dapat menerima kenyataan.

Lisa membuang muka. Benaknya dipenuhi oleh Edgar yang telah berhasil membuat hidupnya berantakan.

“Sampai kapan pun aku tidak akan menikah denganmu, Roy,” Lisa berteriak yang menjadikan Roy menghentikan ayunan kakinya.

Pria dengan alis tebal itu menoleh, dengan langkah yang besar, dia kembali menghampiri Lisa.

Mendadak mencengkeram kuat lengan Lisa sambil menyorotkan tatapan tajam.

“Kalau begitu, bagaimana kalau aku mencicipimu di sini? Tepat di depan makam ayah dan ibumu,” Roy berkata dengan nada sungguh-sungguh.

Lisa menelan saliva, sekujur tubuhnya meremang, dan kedua tangannya menahan tubuh Roy yang ingin mencoba mencumbunya.

Namun, tentu saja tenaga Roy lebih kuat dari Lisa. Gadis itu mulai ketakutan, terlintas di benak Lisa akan bayangan kejadian terakhir kali Roy menyobek roknya.

Lisa mengedarkan pandangan, berharap ada seseorang yang dapat dimintai pertolongan. Namun, sejauh mata memandang hanya ada mereka berdua di pemakaman itu.

“B-baiklah. Aku bersedia,” terpaksa Lisa mengucapkan kalimat itu dari bibirnya.

Setidaknya untuk saat ini menjadikan Roy mengurungkan niatnya. Roy tersenyum puas sembari mundur beberapa langkah.

“Bagus. Ingat, Lisa. Jangan mencoba kabur dariku! Karena aku dapat menemukanmu, sekalipun kamu bersembunyi di lubang semut.”

*

*

*

Satu minggu kemudian.

Lisa duduk termenung di atas delman yang membawanya menuju kediaman Roy. Tempat pesta pernikahan akan dilangsungkan.

Pagi hari yang masih diselimuti kabut, Lisa sudah dijemput oleh Doni, tetangga sekaligus teman Juna.

Sepanjang jalan, baik Lisa dan Doni saling terdiam. Hanya terdengar suara ketukan sepatu kuda yang beradu di jalan berbatu.

“Aku masih tak percaya, Juna meninggalkan kita begitu cepat,” ucap Doni berusaha membuka topik pembicaraan. Meski detik berikutnya, Doni menyesal telah salah memilih topik.

Lisa diam tak menyahut. Bahkan tatapannya perlahan kosong.

“Ayahmu itu orang baik. Pasti dia tenang di alam sana, Lisa.”

Sesaat Doni melirik Lisa yang duduk di kursi belakang delman.

“Aku masih ingat betul saat Juna hendak menjual kalungmu, dia menemukan sebuah tas yang berisi banyak uang. Meskipun dia orang tak punya, tapi aku salut akan kejujurannya.”

Doni dapat mendengar Lisa menarik nafas panjang, dan dia melanjutkan ceritanya.

“Juna mengembalikan tas itu pada pemiliknya. Lalu dia diberi uang yang sangat banyak oleh si pemilik tas. Kamu tahu berapa nominalnya, Lisa? Sepuluh juta.”

Seketika Lisa tersentak, menegakkan punggung, dan matanya membola. Dia menjadi tertarik dengan cerita sahabat ayahnya itu.

Pasalnya, Lisa tak pernah mendengar Juna bercerita mendapatkan uang sepuluh juta dari seseorang.

Pikiran Lisa langsung menyimpulkan jika uang itulah yang dipakai untuk menambah biaya operasi Edgar.

“Apa itu benar, Pak Doni? Ayah mendapat uang sepuluh juta?”

Doni menganggukkan kepala sambil terus menatap ke depan.

“Aku sendiri yang menemai ayahmu ke pasar menjual kalung milik mendiang ibumu.”

Tangan Lisa terkepal kuat. Dia yakin Roy sudah berbohong agar dia mau menikah dengan si rentenir bengis itu.

Tepat saat itu, delman yang ditumpangi Lisa berhenti di depan rumah Roy. Belum banyak tamu yang datang, karena memang pesta akan dimulai setelah Lisa didandani.

Roy berjalan keluar dari rumah menyambut delman, dan mengulurkan tangan bermaksud membantu Lisa turun.

“Lisa, ayo, kamu perlu dirias terlebih dahulu. Semua orang sudah menunggumu.”

Lisa beranjak dari duduknya. Namun bukan untuk menerima uluran tangan Roy.

Melainkan loncat dari delman dan secepat kilat mencolok dua bola mata Roy menggunakan jemarinya.

Tentu saja pria beralis tebal itu terkejut sekaligus mengerang perih, dan mundur beberapa langkah.

“Dasar penipu. Aku tidak sudi menikah denganmu.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Lisa segera berlari secepat mungkin meninggalkan kediaman Roy.

“Lisa, mau ke mana kamu?” Sambil menahan rasa perih di matanya, Roy berusaha mengejar Lisa.

Doni yang melihat kejadian itu, mengeratkan tangan yang menggenggam tali kendali kuda. Tentu saja dia tak akan tinggal diam putri dari sahabatnya dalam bahaya.

Terpopuler

Comments

Hulapao

Hulapao

wahhh kasian bangett Lisa :(((

2022-10-04

1

Nana

Nana

roy bejat! ayo kabur lisaaaa

2022-09-14

0

Nana

Nana

😥 kasihan juna

2022-09-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!