“Lisa aku lapar,” ucap Edgar sambil berbaring di lantai menatap langit-langit.
Tak ada sahutan, maka Edgar pun menengok ke arah kamar Lisa dan mengulangi perkataannya dengan nada yang lebih keras.
Di kontrakan itu hanya ada satu kamar yang tempati oleh Lisa. Sedangkan Edgar sendiri tidur beralaskan karpet di ruangan yang seharusnya menjadi ruang tamu.
Pintu kamar perlahan terbuka menampilkan Lisa dengan rambut mencuat ciri khas baru bangun tidur. Dan bukannya ke dapur untuk memasak, Lisa malah ikut berbaring di samping Edgar.
“Kamu pikir aku juga tidak lapar?”
Lisa memejamkan mata merasakan perutnya yang keroncongan sebab mereka tak memiliki makanan. Uang pun sudah hampir habis. Sementara Lisa belum menerima gaji karena belum tanggal gajian.
Kruyuuukk.
Terdengar suara perut keroncongan yang protes minta diisi. Seketika Esgar dan Lisa saling pandang.
“Itu suara perutmu?” tanya Edgar.
“Bukan. Perutmu mungkin,” bantah Lisa.
Yang padahal benar jika itu suara perutnya. Lisa menekan perut menggunakan dua tangan. Setidaknya sedikit meringankan rasa perih.
Melihat Lisa yang kelaparan, membuat Edgar tak mau diam saja. Dia segera bangkit berdiri dan memakai jaket bututnya.
“Kamu mau ke mana?”
“Ayo, ikut!”
Lisa tak mau banyak bertanya sebab dia harus menghemat tenaga. Dia menurut saja ketika Edgar mengajaknya keluar dari gang kontrakan setelah sebelumnya dia menyambar jaket, mencuci muka dan mengikat rambut.
Sepuluh menit Edgar dan Lisa berjalan kaki, tiba-tiba Edgar menarik lengan Lisa untuk masuk ke sebuah acara pesta pernikahan.
Lisa yang berjalan agak terseret melebarkan bola matanya. Dia heran sekaligus terkejut saat Edgar menariknya masuk ke sebuah pesta.
“Edgar, kamu mau apa kemari?”
“Makan gratis,” jawab Edgar enteng.
Menjadikan manik mata Lisa semakin membola. Dalam hati dia mengutuki ide Edgar yang gila itu.
Lisa mengedarkan pandangan ke sekeliling. Di mana orang-orang menatapnya dengan sorot mata yang aneh. Lisa menebak pasti karena pakaian yang dia kenakan yang sangat sederhana untuk di pakai ke sebuah acara pesta.
“Hai, Bro, selamat atas pernikahanmu ya?” kata Edgar memeluk pengantin pria yang menampakkan wajah mengerut.
“Kamu kenal dia?” bisik Lisa setelah mereka berdua turun dari pelaminan.
“Tidak. Sudahlah, ayo cepat makan sebelum mereka tahu kita bukan tamu undangan.”
Edgar segera menarik Lisa menuju meja prasmanan. Sementara itu, sepasang pengantin masih menatap Lisa dan Edgar.
“Sayang, kamu kenal mereka?” tanya sang mempelai wanita.
“Tidak. Mungkin mereka temanmu, Sayang.”
Pengantin wanita menggelengkan kepala, membuat si pengantin pria membelalakkan mata lalu menyuruh orang untuk mengusir dua orang aneh yang sedang mencomot makanan sesuka hati.
“Ehem.”
Suara deheman menjadikan Lisa dan Edgar memutar badan ke belakang, menghadap ke seorang pria berkumis baplang.
Dalam hati Lisa sudah merasa waswas. Dia melirik Edgar yang juga berwajah pucat.
Matilah kita.
“Apa kalian bawa undangan ke pesta ini?”
“Kebetulan undangannya ke tinggalan di rumah,” jawab Edgar yang tentu saja adalah sebuah kebohongan besar.
“Kamu bohong. Kalian tidak diundang ke pesta ini. Kami tidak mengenal siapa kalian,” ujar pengantin wanita yang kini sudah turun dari pelaminan dan mendekati Edgar.
Semua perhatian orang-orang yang ada di acara pesta kini terfokus pada Edgar dan Lisa.
“Memangnya kamu tidak ingat aku? Aku Lisa, teman SMA mu dulu,” kata Lisa yang mencoba membela Edgar.
Namun, tampaknya sandiwara yang dibuat Lisa tercium oleh pengantin wanita yang sekarang menerbitkan seringai dan melipat tangan di depan dada.
"Cih mana mungkin aku memiliki teman seperti mu."
Begitu pula pengantin pria yang maju ke depan dan memandang Lisa dan Edgar bagaikan kotoran yang menempel di ujung sepatunya.
“Katakan saja! Kalian datang hanya untuk makan gratis kan?”
Mendadak ada dua orang yang menarik paksa piring di tangan Edgar dan Lisa.
“Kita tidak makan gratis. Kita hanya ingin...” ucapan Edgar menggantung di udara.
“Ingin apa?” sentak pengantin perempuan.
“Ingin kabuuurrr.”
Secepat kilat Edgar meraih tangan Lisa, berlari sekencangnya menerobos kerumunan orang, dan terus mengayunkan kaki hingga menapaki jalanan beraspal.
Setelah dirasa cukup aman, mereka berhenti. Keduanya tersengal kehabisan nafas namun begitu tawa pecah di bibir mereka mengingat kejadian yang baru saja mereka alami.
Namun, tawa mereka tak bertahan lama karena tubuh mereka yang sangat lemas. Mereka menghempaskan diri di bangku trotoar jalan.
Kemudian, Edgar melihat di seberang jalan seorang pemuda yang memainkan biola. Jelas pemuda itu adalah seorang pengamen dan diacuhkan oleh orang yang berlalu lalang di depannya.
Edgar menghampiri pengamen itu. Tampak mereka mengobrol sebentar, lalu Edgar kembali pada Lisa dengan senyum yang mengembang di bibir.
“Lisa, kamu bisa berdansa kan?”
“Dansa?”
Wajah Lisa mengerut heran akan maksud pertanyaan Edgar. Namun, Edgar terlihat tak peduli jawaban Lisa. Dia tetap menarik gadis itu untuk berdiri di samping pengamen tadi.
Edgar melingkarkan tangan di pinggang Lisa, sedangkan satu tangan yang lain bertautan dengan tangan gadis yang kini dilanda kegugupan karena jarak mereka berdua begitu dekat.
Lalu Edgar menganggukkan kepala memberi isyarat pada si pengamen yang langsung memainkan biolanya.
“Aw, kamu menginjak kakiku,” ringis Edgar.
“Edgar, aku tidak bisa.”
“Ikuti saja gerakanku!”
Kemudian, Edgar dan Lisa perlahan berdansa dengan diiringi alunan biola. Membuat orang-orang yang semula tak peduli pada mereka, kini satu per satu mulai mendekat.
Mereka menonton Lisa dan Edgar yang berdansa dengan irama yang semakin cepat. Tak sedikit dari mereka menaruh uang ke sebuah kaleng yang telah disediakan.
Hingga permainan biola berhenti dan diakhiri dengan suara riuh tepuk tangan para penonton. Edgar dan Lisa masih belum melepaskan pelukan mereka.
Kedua insan itu saling menatap lekat, tak peduli akan suara tepuk tangan yang semakin tenggelam.
“Sesuai perjanjian, hasil mengamen kita bagi dua,” kata si pemuda membuat Lisa dan Edgar saling mengurai pelukan.
Setelah mengucapkan terima kasih, Lisa dan Edgar menghitung uang receh yang ternyata lumayan untuk mereka membeli makan malam.
Dan di sinilah mereka berada. Di sebuah kedai mi ayam. Mata Lisa dan Edgar berbinar saat dua mangkok mi disajikan di depan mereka.
“Ayo makan.”
“Ayo.”
Detik berikutnya...
Dug.
Awh.
Lisa dan Edgar serempak menunduk hingga dahi mereka berbenturan. Mereka sama-sama memegangi dahi yang terasa sakit, lalu menertawakan tingkah mereka sendiri.
Edgar menatap Lisa yang masih tertawa. Dia mengulas senyum tipis di bibirnya, merasa bahagia di samping Lisa meski mereka dalam kondisi yang sangat sederhana.
“Kamu tidak apa-apa?” Edgar mengusap kening Lisa yang berhasil membuat jantung gadis itu berdetak tak karuan.
Pemandangan Lisa dan Edgar yang makan di kedai mi ayam pinggir jalan tak luput dari penglihatan seorang bocah laki-laki yang duduk di dalam sebuah mobil mewah.
Bocah itu menyembulkan kepalanya keluar dari jendela mobil untuk dapat lebih jelas melihat Edgar. Lalu mengalihkan pandangannya pada sang ibu yang duduk di sampingnya sambil memainkan ponsel.
Kebetulan mobil yang ditumpangi bocah itu sedang berhenti di lampu merah.
“Mom, itu Daddy,” kata Rafael menunjuk ke arah Edgar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Hulapao
emang ya identik ke kondangan buat makan gratis 🤣
2022-10-15
1
Nana
bunga utk kakak
2022-09-20
1
Nana
aduhhhh
2022-09-20
1