Perasaan Lisa campur aduk saat menuntun dua polisi menuju ladang ayahnya. Dia menggigit bibir bawahnya berharap pembunuh yang dimaksud sang polisi bukanlah Edgar.
Akan tetapi Lisa harus menelan mentah harapan itu sebab begitu berada di ladang, dia mendapati Edgar berdiri di samping tubuh Juna yang bersimbah darah.
Lisa memekik, berlari, dan berlutut di samping tubuh Juna. Isak tangis tak dapat dibendung saat dia tidak merasakan denyut nadi dari ayahnya.
“Ayah, bangun, Ayah!” seru Lisa penuh pilu.
Gadis dengan rambut bergelombang itu mendongak memperlihatkan mata sembabnya yang menyorot tajam pada Edgar. Lantas dia pun berdiri dan memukul dada bidang Edgar yang tidak memberikan efek apa pun pada pria itu.
“Apa salah ayahku? Mengapa kau lakukan ini? Apa tidak cukup kau membuatku menderita, hah?” cecar Lisa seraya mendorong kuat tubuh Edgar yang mundur beberapa langkah.
“Lisa, dengarkan aku! Kau salah paham. Bukan aku yang melakukannya.”
“Kalau bukan kamu siapa lagi, Edgar. Atau siapa pun namamu, aku sudah tahu kalau kau seorang penjahat,” Lisa meraung dengan suara serak serta tak dapat menghentikan tetesan air matanya.
Dua polisi yang sejak tadi mengikuti Lisa segera bergerak memborgol tangan Edgar. Meskipun pria bermata hijau itu memberontak, tapi dua orang berseragam polisi juga tak kalah kuat mencekal Edgar.
“Sekarang kamu tak bisa lari lagi. Kamu akan mendapat hukuman penjara seumur hidup.”
“Tapi bukan saya yang melakukannya. Lisa, aku mohon percaya padaku,” Edgar memelas saat kedua lengannya ditarik polisi.
Akan tetapi Lisa lebih memilih menutup kedua telinganya, menangis, serta menggelengkan kepala tak dapat menerima kenyataan pahit jika sekarang dia telah kehilangan sang ayah.
Tak akan ada lagi nasehat bijak dari Juna. Tak akan ada lagi orang yang akan melindungi dan mendampingi Lisa. Sebab sekarang dia hidup sebatang kara.
Dan yang lebih menyakitkan bagi Lisa adalah Edgar lah pria yang keji membunuh Juna. Padahal Lisa beserta Juna telah menyelamatkannya dari maut.
Padahal Lisa telah sedikit menaruh hati pada pria yang dia beri nama Edgar itu.
“Ayah,” Lisa kembali berlutut di samping tubuh kaku Juna. Dia meletakan kepala Juna yang bersimbah darah ke pangkuannya.
“Ayah, bangun. Jangan tinggalkan aku!”
Satu bulir bening mengalir melintasi pipi Lisa yang mulus dan jatuh menetes ke pipi Juna.
“Ayah, jangan pergi! Ayah bilang ingin melihat aku jadi dokter kan?” Lisa bergumam pada tubuh kaku di pangkuannya.
Edgar berhasil membebaskan diri dari cengkeraman polisi, berlari dan ikut berlutut di samping Lisa.
“Lisa, percaya padaku! Aku bukan seorang pembunuh. Ini tidak seperti yang kau lihat.”
“Jelaskan itu nanti di kantor,” kata salah satu polisi meraih bahu Edgar.
Satu rekan polisi membantu menyeret paksa tubuh Edgar yang menampilkan raut kecewa, sebab tak dapat meyakinkan Lisa.
Dengan langkah yang berat, Edgar terpaksa berjalan diapit oleh dua polisi yang berada di sisi kanan dan kirinya.
Sekali lagi dia menoleh ke belakang melihat di tengah ladang sana Lisa terus menangis sambil terus memanggil ayahnya.
Edgar dipaksa masuk ke sebuah mobil hitam. Satu detik dia menghempaskan tubuhnya ke kursi belakang, seseorang langsung menutupi wajahnya dengan kain hitam.
“Apa-apaan ini? Apa seperti ini cara polisi memperlakukan tahanan?” cecar Edgar yang suaranya sedikit teredam oleh kain.
Dua polisi itu hanya terkekeh, tak menyahut pertanyaan Edgar, dan lebih memilih melajukan mobil ke tempat tujuan mereka.
Dikarenakan kepala Edgar ditutup kain hitam, membuat dia tak dapat melihat mobil yang ditumpanginya itu pergi ke arah mana.
Tangannya diborgol, begitu juga tubuhnya yang diikat kuat menggunakan tali. Menjadikan Edgar tak dapat berkutik, dan hanya bisa merasakan mobil melaju selama hampir setengah jam.
Kemudian Edgar merasakan jika mobil berhenti. Lalu dua pria itu memaksa Edgar turun tanpa melepaskan kain penutup kepala.
“Kalian membawaku ke mana?”
“Ikut saja, tak perlu banyak tanya.”
Mereka mendorong Edgar untuk berjalan beberapa langkah. Lalu menurunkan bahu Edgar untuk duduk di sebuah kursi kayu.
Kain penutup dilepas oleh seseorang dan Edgar langsung menyipitkan mata akibat kilauan lampu sorot yang tepat menerpa wajahnya.
Dia mengerjap agar matanya dapat membiasakan diri dengan suasana yang terang itu.
Setelah mengedarkan pandangan, Edgar menyadari dirinya dibawa ke sebuah ruangan tertutup dengan diterangi lampu sorot yang hanya mengenai dirinya.
“Di mana ini?”
Dua pria berseragam polisi berdiam diri di belakang Edgar.
“Hai, jawab! Di mana ini?” raung Edgar penuh amarah. Instingnya mengatakan bahwa tempat itu bukanlah kantor polisi.
Tepat saat itu, seorang pria muncul dari balik bayangan hitam di sudut ruangan sambil tergelak. Dua bola mata Edgar membulat sempurna saat melihat Roy ada di hadapannya.
“Jadi, ini pria yang berlagak sok pahlawan di depan Lisa?” tanya Roy mencemooh.
“Kau!” desis Edgar melayangkan tatapan tajam.
Kemudian, dua pria berseragam polisi bergerak ke samping Roy. Mereka menggertakkan jemari sambil menatap Edgar layaknya sebuah mainan yang siap untuk dihajar.
“Mereka sebenarnya polisi gadungan, iya kan?”
“Pertanyaan yang tak perlu dijawab.”
Roy memberikan isyarat pada dua pria di sampingnya yang langsung dimengerti dan mereka pun mulai meninju wajah Edgar.
“Jangan berhenti sampai pria ini mati. Kalian mengerti?”
Dua pria itu serempak menganggukkan kepala dengan mantap. “ Baik, Bos.”
Bugh.
Satu pukulan mengenai pipi Edgar yang tak bisa membalas karena kedua tangannya diborgol.
Seketika rasa sakit menghantam kepala Edgar. Dia merasa tak asing dengan suasana seperti ini. Dipukuli oleh dua pria di sebuah ruangan gelap.
Edgar mengerang menahan sakit yang tak tertahankan. Bukan hanya sakit dari pukulan, tapi rasa yang sangat menusuk dari dalam kepalanya.
“Pengecut, hanya bisa melawan saat tanganku diborgol,” Edgar meraung seraya mengayunkan kakinya yang bebas dan menendang benda berharga milik salah satu polisi gadungan.
Tangan dan tubuh Edgar memang terikat. Namun, selagi dia masih bisa menggerakkan kakinya kenapa tidak.
Secepat mungkin, Edgar juga menendang wajah polisi gadungan yang satu lagi hingga darah keluar dari hidungnya. Roy yang naik pitam menyambar sebilah golok, lalu mengayunkan ke arah Edgar.
Akan tetapi, Edgar dengan sangat cepat sengaja memosisikan kedua tangannya, membuat tebasan golok mengenai borgol yang langsung terputus seketika.
“Sial,” umpat Roy menyadari pria yang menjadi lawannya begitu cerdik.
Sambil berlari, Edgar berusaha melepas dan menyingkirkan tali yang mengikat tubuhnya. Dia menerjang sebuah pintu kayu, lalu mendapati dirinya berada di sebuah pondok yang hanya dikelilingi pepohonan sejauh mata memandang.
“Jangan lari kau! Kau tak akan bisa merebut Lisa dariku.”
Teriakan Roy di belakang, menjadikan Edgar segera berlari tak peduli arah yang dia ambil.
“Kejar pria breng*** itu!”
Edgar berlari secepat dia bisa sambil tangannya menyibak dahan dan daun yang menghalangi jalannya.
Sementara Roy dan kedua polisi gadungan mengejar beberapa meter di belakangnya.
Kedua kaki Edgar mendadak berhenti kala dirinya berada di tepi jurang yang di bawah sana mengalir sebuah sungai dengan aliran air yang begitu deras.
Edgar menoleh ke belakang dan melihat Roy bersama komplotannya berlari semakin dekat.
Tanpa pikir panjang, Edgar menarik nafas panjang, lalu melompat dari atas tebing.
“Sial, kita kehilangan jejak dia,” desis Roy ketika sampai di tepi jurang.
Kedua mata Roy menelisik keberadaan Edgar di bawah sana. Namun, tak ada apa pun kecuali air sungai yang mengalir.
“Pria itu tidak mungkin bertahan hidup. Air sungai itu sangat deras, Bos.”
“Benar, Bos. Dia pasti mati tenggelam,” rekan polisi gadungan menimpali.
Meyakinkan Roy agar berhenti mencari Edgar.
“Aku harap begitu. Sebaiknya aku fokus pada rencanaku selanjutnya.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Rossemarry
"my lovely bodyguard" mampir😘
Semangat kak🥳
jangan ke lupa mampir juga🙈
2022-10-23
0
Nana
dua bunga untuk kaka, smgt kak 😍
2022-09-13
1
Nana
aduh kasihan edgar smga juan sadar. lisa juga mdh benar percaya
2022-09-13
1