Ruang perpustakaan hening untuk beberapa saat. Camilla dan Gustav menghabiskan waktu dengan saling melayangkan tatapan tajam.
Lalu tautan pandangan itu terputus ketika Gustav membuang muka.
“Grandma tenang saja dan hentikan menjodohkan aku dengan wanita mana pun. Karena aku telah memilih wanitaku sendiri.”
“Jadi, kapan kamu akan memperkenalkannya pada Grandma?” tanya Camilla mengangkat kedua alis.
Gustav tidak menyahut perkataan neneknya dan memilih pergi meninggalkan ruangan. Dia tahu perlakukannya tidak sopan tapi itulah yang sering dilakukan Gustav jika sedang tidak mau diganggu.
Gustav mengepalkan tangan, menyadari hubungannya asmaranya dengan Lisa tidak direstui bahkan sebelum Gustav memperkenalkan Lisa pada Camilla.
Namun bukan Gustav namanya jika menyerah begitu saja. Dia bertekad untuk menjadikan Lisa diterima di keluarganya.
*
*
*
Sepuluh hari kemudian.
Lisa menatap kosong kertas-kertas di hadapannya di saat suasana rumah sakit sepi oleh pengunjung. Dia tak menyadari salah satu temannya bernama Rara sedang berjalan mengendap-endap di belakang.
“Dor.”
Seketika tubuh Lisa tersentak, lalu mengelus dadanya dan melirik kesal pada Rara yang kini tertawa lepas.
“Ish, Rara, kaget tahu.”
“Siapa suruh melamun. Cie, pasti lagi membayangkan wajah bebeb ya?” Rara terkekeh sambil mencolek dagu Lisa. Mencoba menggoda temannya itu.
Lisa hanya mengerutkan dahi dan mendengus.
“Bebeb siapa?”
“Bebeb yang waktu itu kirim makan siang,” sahut Rara lagi-lagi terkekeh.
Rara ingat betul saat sekitar sepuluh hari yang lalu ada pria tampan datang membawa makanan untuk Lisa dan berakhir dengan keduanya makan bersama di taman rumah sakit.
Dan Lisa hanya bisa berdecak. Sejak tahu Edgar memiliki istri dia mencoba melupakan pria itu. Tapi nyatanya melupakan Edgar tak semudah membalikkan tempe goreng. Apalagi ucapan Rara malah semakin membuat Lisa rindu.
“Dia bebeb kamu kan, Sa?” tanya Rara sambil senyum-senyum menyikut Lisa.
“Dia sudah berkeluarga,” kata Lisa singkat dan tak bersemangat.
Rara hanya ber oh pelan. Tak ingin melanjutkan menggoda Lisa. Takut jika semakin membuat teman kerjanya itu semakin galau.
Kemudian, telepon berdering yang diangkat langsung oleh Lisa. Si penelepon ternyata Henri, kepala rumah sakit itu sendiri yang meminta Lisa masuk ke ruangannya.
Sepanjang melangkahkan kaki menuju ruangan direktur, benak Lisa bertanya-tanya ada apa gerangan hingga sampai membuatnya dipanggil.
Dengan jantung berdegup kencang, Lisa mengetuk pintu dan langsung terdengar sahutan dari dalam ruangan untuk memintanya masuk.
Lisa mengedarkan pandangan. Di ruangan yang luas itu, Henri rupanya tidak sendiri. Dia duduk bersama seorang pria yang duduk membelakangi Lisa.
“Lisa, silahkan duduk di sini!” Henri menunjuk kursi yang menghadap langsung ke arah pria yang tampak tidak asing bagi Lisa.
Begitu Lisa duduk, dia dapat melihat dengan jelas wajah profesor Handoko yang merupakan dekan di tempat dia kuliah dulu.
Lisa menunduk memberi salam pada profesor Handoko, lalu melirik Henri dengan tatapan keheranan.
“Profesor Handoko ini adalah temanku, Lisa. Dia ingin berbicara secara langsung denganmu,” ungkap Henri yang dapat membaca raut wajah Lisa.
“Ada apa profesor menemui saya?”
“Jadi, begini Lisa. Aku dan Henri memutuskan untuk memberikan beasiswa sehingga kamu dapat melanjutkan kuliahmu lagi.”
Detik berikutnya, Lisa mendongak menatap Henri dan Handoko secara pergantian tampak tak percaya akan apa yang baru saja dia dengar.
Senyum mengembang di bibir Lisa. Dia bahkan tak dapat menahan diri untuk tidak terkekeh pelan.
“Benarkah? Aku akan lanjut kuliah lagi?”
Handoko menjawab dengan sebuah anggukan kepala dan senyum di bibirnya.
“Kamu bisa belajar seperti sedia kala tanpa mempermasalahkan uang kuliah dan setiap bulan kamu juga akan mendapat uang tunjangan,” jelas Handoko menatap Lisa yang melongo saking tidak percayanya.
“Lalu, bagaimana dengan pekerjaanku?” Lisa menoleh pada Henri.
“Aku pribadi sepenuhnya mendukungmu jika kamu ingin melanjutkan kuliah, Lisa. Dan aku harap suatu hari nanti kamu bisa bekerja kembali sebagai salah satu dokter terbaik di rumah sakit ini.”
Dukungan dari direktur rumah sakit membuat Lisa senang sekaligus terharu, tanpa bisa dia bendung lagi netranya telah menggenang.
Tak menyangka keajaiban datang dari arah yang tak di sangka-sangka. Harapan untuk mulai mengejar mimpinya kini terbuka lebar, dan Lisa tak akan membiarkan kesempatan itu pergi.
“Kamu bisa mulai kuliah lusa dan ini juga untukmu,” Handoko meletakan sebuah paper bag besar di atas meja lalu mendorongnya ke arah Lisa.
Lisa mengintip isi dalam paper bag itu yang tampaknya ada dua buah kardus. Besar dan kecil. Manik mata Lisa membola sempurna saat menyadari bahwa itu adalah laptop dan ponsel baru.
“Laptop dan ponsel itu nantinya akan membantumu semakin mudah mengerjakan tugas kuliah,” tutur Handoko.
Setelah pembicaraan mengenai beasiswa yang didapatkan Lisa selesai, Lisa keluar dari ruangan direktur dengan menganggap bahwa dia sedang bermimpi.
Segera Lisa berjalan setengah berlari mencari Rara untuk menceritakan apa yang baru saja dia alami.
Sementara di dalam ruangan, Henri dan Handoko saling melirik.
“Jadi, aku atau kau yang akan melapor ke Tuan Gustav?” tanya Handoko yang sudah bersiap mengeluarkan ponselnya.
“Kau saja. Aku sangat malu pada Tuan Gustav karena tak menyadari salah satu karyawanku tinggal bersama Tuan Gustav selama beliau amnesia.”
Mendengar itu, Handoko langsung menekan nomor telepon dengan nama Tuan Gustav.
*
*
*
Di ruangan kerja yang lain, Gustav duduk di kursi kebesarannya sebagai CEO Alastar Corp. Dia menerima telepon dari koleganya yang juga seorang dekan di sebuah kampus ternama.
“Dia sudah menerima beasiswa, laptop dan juga ponsel yang aku berikan?” tanya Gustav memastikan sekali lagi.
Tepat saat itu, Jeri asisten pribadi Gustav masuk ke dalam ruangan. Dia berdiri menunggu tuannya menutup telepon.
“Jeri, apa saja jadwalku hari ini?” Gustav bertanya setelah selesai berbicara dengan Handoko.
Dengan sigap, Jeri melihat catatannya. Lalu mulai membacakan jadwal Gustav yang sangat padat hari ini.
“Lalu pukul satu siang Tuan Mario akan menemui Anda terkait penandatanganan kontrak kerja sama...”
“Tunggu!” mendadak Gustav menyela sambil menyipitkan mata.
“Tuan Mario?” ulang Gustav.
Jeri yang tahu bahwa tuannya pernah mengalami amnesia pun mengangguk dan membaca profil lengkap seorang pengusaha bernama Mario. Takut jika Tuan Gustav lupa akan kerja sama yang sebentar lagi perlu dia setujui.
“Ya.. ya.. aku ingat siapa Mario. Dia punya anak perempuan bernama Martha, bukan? Dia kuliah di kampus yang sama dengan Lisa?” Gustav memejamkan mata serta memijat pangkal hidungnya.
“Ya benar, Tuan. Nona Martha juga seorang selebgram,” kata Jeri menambahkan.
Sebuah seringai terulas di bibir Gustav bersamaan dengan sebuah ide yang muncul di benaknya. Menjadikan Jeri bingung kenapa Gustav bertingkah seperti itu.
“Ini akan menjadi permainan yang seru.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Kod Driyah
lanjut
2022-10-19
0
Nana
semangat kak
2022-09-23
0
Nana
aminn
2022-09-23
1