11. Opsi Ketiga

Sudah dua minggu Lisa melewatkan hari tanpa adanya Juna. Rumah terasa sepi dan dingin. Begitu pula ladang yang mulai tak terurus.

Sering kali Edgar mendapati Lisa melamun sendirian di dalam kamarnya. Dia pun dapat merasakan kesedihan yang dialami Lisa.

Secara tidak langsung, Juna terbunuh juga karena kehadirannya di kehidupan Lisa dan membuat Roy cemburu.

Edgar dan Lisa kini tengah mencabuti tanaman cabai yang sudah kering karena musim kemarau berkepanjangan.

“Tahun ini musim kemarau yang paling buruk,” gumam Lisa menatap ladang milik ayahnya yang luasnya tidak seberapa.

Tidak adanya hujan membuat tanah kering, tanaman mati dan petani rugi karena gagal panen.

Lisa menarik nafas panjang, memberengut, sebab tahun ini dia telah rugi besar.

Tepat saat itu, ada tiga warga desa, dua perempuan dan satu laki-laki. Kebetulan mereka berjalan melewati ladang dan melihat Lisa bersama Edgar.

“Eh, lihat! Lisa seperti tidak tahu malu saja, tinggal satu rumah dengan pria asing,” bisik salah satu warga.

“Iya, benar. Apalagi sekarang mereka hanya berdua di rumah. Jangan-jangan mereka sudah...”

“Shhtt. Jangan di sini kalau mau gibah! Terdengar sama orangnya tuh.”

Ketiga warga itu serempak menoleh ke arah Lisa dan Edgar yang juga sedang melirik mereka. Si pria berdeham, memaksakan tersenyum, dan berlalu pergi.

“Semua warga membicarakan kita,” ucap Edgar menatap punggung ketiga warga tadi yang perlahan menjauh.

“Abaikan saja. Mereka tidak mengerti kondisi kita,” jawab Lisa acuh.

“Dan sebaiknya kita pulang.”

Edgar menurut. Dia mengikuti Lisa yang berjalan beriringan menuju rumah tanpa membawa hasil dari ladang.

Sesampainya di halaman rumah, sudah ada laki-laki memakai kacamata kotak yang menunggu mereka di depan pintu.

Pria itu tersenyum melihat kepulangan Lisa dan Edgar. Jelas sekali jika dia sedang menunggu mereka berdua.

Sementara Edgar hanya mengerutkan dahi, mencondongkan tubuh dan berbisik pada Lisa.

“Siapa dia?”

“Pak Erlangga. Beliau kepala desa sini.”

Edgar menundukkan kepala tepat saat dirinya berhenti di hadapan Erlangga.

“Pak Erlangga, lama menunggu kami ya? Silahkan masuk,” kata Lisa memutar kunci rumah serta mempersilahkan masuk sang kepala desa.

“Jadi ini pria yang bernama Edgar. Kebetulan ada yang ingin saya sampaikan kepala kalian berdua,” tutur Erlangga setelah mereka duduk di sofa ruang tamu.

Sesaat Lisa dan Edgar saling tatap, lalu kembali berpaling pada Erlangga.

“Setelah kepergian ayahmu, sekarang kamu hanya tinggal berdua dengan Edgar, dan kalian berdua mulai menjadi bahan gunjingan oleh para warga desa.”

“Saya tahu, Pak Erlangga,” Lisa meremas ujung bajunya. Kini dia tahu maksud dari kedatangan sang kepala desa ke rumahnya.

Erlangga tersenyum sekilas, menatap Lisa dan Edgar secara bergantian.

“Kalau begitu, saya ingin kalian untuk menikah saja. Bagaimana?”

“Menikah?” Edgar tampak tersentak, seketika menegakkan punggung, serta membulatkan bola mata.

Edgar terlihat tidak percaya akan permintaan dari Erlangga. Sedangkan Lisa menunjukkan raut wajah biasa saja sebab dia telah dapat menebak.

“Jadi kita dipaksa untuk menikah?” Edgar bertanya.

Melihat Edgar yang terkesiap, Erlangga buru-buru menambahkan.

“Saya tidak akan memaksa melainkan ingin memberi pilihan.”

“Apa pilihannya?” kali ini Lisa yang bertanya dengan dahi menggerut.

“Pilihannya Edgar boleh tinggal di desa ini asalkan kalian berdua menikah agar tak menjadi perbincangan warga dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.”

Erlangga diam sejenak. Dia kembali menatap Lisa dan Edgar, meneliti raut wajah mereka yang menanti Erlangga meneruskan kalimatnya.

“Tapi jika kalian tidak mau menikah, saya memberi pilihan ke dua yaitu, Edgar harus meninggalkan desa ini.”

Lisa menoleh pada Edgar yang duduk di sampingnya. Pria itu diam seribu bahasa, tampak menimbang-nimbang keputusan yang akan dia ambil.

Lalu Lisa kembali memandang Erlangga.

“Kami meminta waktu untuk membicarakan keputusan kami, Pak Erlangga.”

Sang kepala desa mengangguk.

“Ya, saya memakluminya. Ini memang memerlukan pertimbangan yang matang. Maka dari itu, saya akan memberi kalian waktu dua hari.”

Lalu Erlangga berdiri dari duduknya. Dia berpamitan karena kedatangannya hanya untuk menyampaikan perihal itu saja.

Tersisa Lisa dan Edgar yang masih duduk di tempat semula.

Lisa diam menunggu keputusan dari Edgar. Dia pasrah sebab kini sudah tak memiliki tujuan hidup lagi.

Andai saja Juna masih hidup, Lisa pasti akan meminta nasehat dari ayahnya. Namun, sekarang penasihat terbaik dalam hidup Lisa telah tiada.

Edgar menelan saliva sebelum dia berbicara. Benaknya tengah menyusun kata-kata yang akan keluar dari mulutnya.

“Menurutmu, apakah kita harus menikah?”

Lisa membuang muka agar Edgar tak melihat pipinya yang bersemu semerah buah tomat.

“Aku setuju apa pun keputusanmu.”

“Aku ini seorang yang menderita amnesia, tidak seharusnya kita menikah kan?”

Dahi Lisa mengerut lalu menoleh cepat pada Edgar yang menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.

“Apa maksudmu?”

Edgar berpaling pada Lisa. Pandangan mereka bertemu dan beberapa saat berlalu mereka terdiam saling tatap.

“Bagaimana jika sebenarnya aku sudah memiliki istri?”

Perkataan Edgar membuat Lisa tersadar. Dia meneliti wajah pria yang ada di depannya.

Lisa tidak tahu pasti umur Edgar tapi dia memperkirakan Edgar berusia 28 sampai 30 tahun. Umur yang matang bagi seorang pria untuk membangun sebuah rumah tangga.

“Ya, kamu benar. Mungkin saja saat ini di belahan bumi lain, ada seorang wanita yang tengah mencarimu,” sahut Lisa sambil mengalihkan pandangan ke luar jendela.

“Jadi, kamu akan memilih opsi kedua? Pergi dari desa ini?”

Leher Lisa seolah tercekat sesuatu. Jika saat pertama kali menemukan Edgar, ingin sekali Lisa mengusir pria yang telah menumpang di rumahnya.

Namun, sekarang Lisa merasa hatinya diremukkan dari dalam jika Edgar memilih untuk pergi.

“Entahlah. Aku sudah nyaman tinggal di desa ini dan kalau pun pergi, aku tidak tahu harus ke mana. Tapi yang lebih membuatku ingin tetap berada di sini karena...”

Edgar menarik nafas panjang. Dia pun merasa lidahnya berubah menjadi kaku untuk melanjutkan ucapannya.

Edgar menatap tajam Lisa dan setelah beberapa detik memantapkan diri, dia pun berkata dengan jujur.

“Karena aku telah jatuh cinta padamu, Lisa.”

Lisa terkesiap, melempar pandangan pada Edgar untuk melihat keseriusan pria itu.

Tak ada keraguan tersirat di wajah Edgar yang rupawan membuat Lisa sedikit merekahkan senyum malu-malu. Lisa membuka mulut untuk menyatakan perasaan yang sama namun, Edgar lebih dulu menambahkan ucapannya.

“T-tapi aku tahu ini salah. Sebelum aku mengenal diriku sendiri, seharusnya aku tidak mengatakan ini.”

Lisa kembali menutup rapat mulutnya. Dia menganggukkan kepala memaklumi keadaan Edgar yang serba salah.

Ingin memulai lembaran baru, takut jika seandainya ada wanita yang sangat berarti di masa lalu. Tapi di sisi lain, dia tidak bisa kembali ke masa lalu karena ingatannya hilang.

Lisa juga tak ingin jika dia menjadi orang ketiga dalam sebuah hubungan.

“Jadi opsi mana yang akan kamu akan pilih?” tanya Lisa menaikkan alisnya.

“Aku akan memilih opsi ketiga. Aku akan pergi untuk mengetahui identitasku yang sebenarnya.”

Edgar dapat melihat gurat kekecewaan di wajah Lisa. Lantas dia menggenggam jemari Lisa untuk sedikit memberikan keyakinan.

Tanpa Lisa berkata, Edgar tahu gadis itu juga memiliki perasaan yang sama dengannya.

Mereka saling mencintai, tapi masalahnya Edgar amnesia. Dia hanya ingin memastikan jika dia belum menikah agar tak ada pihak yang tersakiti.

Tangan Edgar bergerak mengusap lembut rambut Lisa.

“Tapi kamu tenang saja. Jika ternyata aku belum berkeluarga, aku pasti kembali untuk meminangmu.”

Terpopuler

Comments

Hulapao

Hulapao

aduhh emang kalo di kampung itu banyak orang gibah

2022-10-07

1

Maryani

Maryani

semoga Edgar belum berkeluarga& sembuh dr amnesia... terus kawin deh sm Lisa 😀😀😀😀

2022-09-16

2

Nana

Nana

poinku habis kak, kak kasi vote ya 😍

2022-09-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!