Di sebuah mansion bergaya eropa dengan halaman seluas lapangan bola, seorang wanita berusia delapan puluh tahun berjalan menuruni tangga.
Meski di usianya yang senja tapi wanita itu masih sangat lincah berjalan dalam balutan pakaian mahal.
Pancaran mata wanita itu tak dapat di jelaskan. Gelisah, marah, khawatir, dan juga sedih bersatu di dalam diri wanita tua kaya raya itu.
“Nyonya Camilla,” sapa kepala pelayan di mansion itu sambil membungkukkan badan.
“Di mana Gordon?”
“Tuan Gordon masih ada di kamarnya, Nyonya.”
“Suruh dia menghadap padaku!” titah Camilla yang kemudian duduk di sofa beludru dengan sandaran tinggi.
Tak lama, kepala pelayan kembali bersama pria berperawakan kurus dan bola mata berwarna hijau.
Pria itu bernama Gordon, cucu dari Camilla. Dia merapikan setelan jasnya sebelum akhirnya duduk di hadapan sang nenek.
“Ada apa, Grandma?”
“Gordon, aku sudah lama tidak mendapat kabar dari Gustav dan hari ini aku mendapat laporan jika Gustav telah menghilang selama satu bulan saat dia meninjau proyek di Indonesia.”
Seketika Gordon membelalakkan mata. Tampak tak percaya jika saudara sepupunya menghilang.
“Menghilang bagaimana maksudnya, Grandma?”
“Ya, dia hilang tanpa jejak. Polisi telah menyelidiki kasusnya dan terakhir dia terekam CCTV di sebuah restoran di jam makan siang. Lalu Gustav tidak kembali lagi ke hotel.”
Camilla memijat pangkal hidungnya. Pertanda dia sedang dalam keadaan yang tidak baik. Melihat itu, Gordon mengulurkan tangan untuk mengusap telapak tangan Camilla.
“Grandma, biar aku yang menangani kasus ini. Aku akan ke Indonesia untuk mencari keberadaan Gustav.”
“Dan juga aku. Aku juga akan terbang ke Indonesia besok pagi,” ucap Camilla tegas.
Gordon pun menghela nafas.
“Grandma, kondisi kesehatan Grandma sedang memburuk. Biar aku saja.”
“Tidak, Gordon. Aku juga akan pergi. Bagaimana bisa aku berdiam diri sementara Gustav, cucuku, hilang entah ke mana?”
Pembicaraan nenek dan cucunya itu ternyata dilihat oleh seorang wanita berambut pendek. Dia menggigit bibir bawah dengan kedua netra yang telah mengembun.
Dia serasa kehilangan pijakan saat mendengar Gustav menghilang.
Lantas dia berjalan menghampiri Camilla yang langsung menoleh padanya. Dia tak kuasa menahan tangis, lalu bersimpuh di depan Camilla.
“Grandma, apa itu benar? Gustav menghilang?”
Camilla mengusap rambut wanita itu sambil menyorot tatapan sendu.
“Gwen, kita berdoa supaya Gustav segera ditemukan dalam keadaan baik-baik saja.”
Gwen mendongakkan kepala membalas tatapan Camilla bersamaan dengan jatuhnya satu bulir bening melintasi pipi.
“Aku juga akan ikut. Rafael sangat merindukan Gustav, Grandma.”
Mendengar nama Rafael disebutkan, membuat Camilla teringat akan cicitnya yang berusia lima tahun. Lantas Camilla pun menganggukkan kepala menyetujui Gwen dan anaknya ikut pergi ke Indonesia, tanah kelahiran Camilla.
“Kau benar, Gwen. Kasihan Rafael.”
*
*
*
Pagi hari, Lisa menyiapkan beberapa keperluan dan bekal untuk Edgar yang akan pergi meninggalkan desa. Dia memasukkan semuanya ke dalam tas ransel milik Juna.
Lalu menyerahkan pada Edgar dengan wajah tertunduk dan lesu.
“Aku pasti akan selalu memberikanmu kabar. Tunggu saja surat dariku.”
Lisa memaksakan diri untuk tersenyum. Dia gadis miskin yang tidak memiliki benda elektronik bernama telepon ataupun ponsel. Jika pun ada, sangat sulit mendapatkan signal di desa.
Sehingga pasti akan sulit bertukar kabar dengan Edgar.
“Ada sedikit uang untuk kamu gunakan selama beberapa minggu tinggal di kota, selagi kamu masih mencari pekerjaan.”
Bibir Edgar mengulas senyum. Dia tidak tahu lagi dengan cara apa membalas kebaikan Lisa.
Setelah berpamitan, Edgar menaiki delman Doni yang akan mengantarnya sampai ke stasiun kereta api.
Dalam waktu tiga jam, Edgar telah sampai di kota. Keramaian akan lalu lalang kendaraan dan orang-orang, membuat Edgar sedikit kebingungan.
Edgar memutuskan mencari tempat tinggal terlebih dahulu. Namun, sudah ada empat kontrakan yang didatangi Edgar semuanya mematok harga sewa yang mahal.
Siang menjelang sore, Edgar sadar dirinya belum makan. Dia pun mengeluarkan bekal dari dalam tas yang hanya berupa ubi rebus.
Tepat saat itu, ada dua wanita berjalan melewati Edgar yang duduk di sebuah taman. Salah satu wanita memberikan uang dan berlalu pergi.
“Kenapa kamu kasih dia uang? Padahal dia kan masih tampak kuat?” teman si wanita bertanya.
“Biarkan saja. Aku kasih padanya. Sayang sekali ya, wajah tampan tapi jadi pengemis.”
“Iya, sayang sekali.”
Edgar yang mendengar percakapan itu, merasa tidak terima dianggap sebagai pengemis. Dia ingin mengembalikan uang pada si wanita itu, tapi sesaat pikirannya berubah.
Edgar lebih memilih pikirannya yang rasional bahwa dia butuh uang. Jadi, dia masukan saja uang ke dalam saku dan lanjut menyantap ubi rebus.
Tak lama, seorang pria memakai jaket kulit, dengan lengan penuh tato dan hidung yang ditindik menghampiri Edgar, lalu mengulurkan tangan.
Edgar menaruh ubi rebus di telapak si pria. Karena dia berpikir pria itu meminta ubi rebus.
Namun detik berikutnya, si pria bertato itu melempar ubi rebus dan menggeram marah.
“Aku tidak minta ubi rebus. Aku preman yang menguasai daerah ini dan semua pengemis harus memberikan setoran uang padaku,” gertak si preman.
Meskipun begitu, Edgar tidak menunjukan rasa takut. Bahkan dengan santainya dia meneguk minuman dari botol yang dia bawa.
“Pertama, aku bukan pengemis, dan kedua, wanita tadi memberikan aku selembar uang ini saja,” kata Edgar santai sambil mengeluarkan uang pemberian dari wanita yang mengiranya pengemis.
Si preman berdecih, mengambil uang di tangan Edgar dengan sorot mata tak percaya.
“Mana mungkin hanya ini. Jangan bohong! Serahkan semua hasil mengemismu atau aku ambil secara paksa.”
“Tidak. Sudah aku katakan aku bukan pengemis,” Edgar berdiri dan membalas tatapan tajam dari si preman.
“Ah, aku tahu pasti di dalam tas itu kan?” si preman melirik tas yang digenggam Edgar, lalu secepat mungkin menyambar tas itu.
Edgar tidak siap akan tindakan si preman, sehingga tas itu akhirnya berpindah tangan, dan si preman pun segera kabur.
Tak ingin berdiam diri karena uang yang diberikan Lisa ada di dalam tas, membuat Edgar berlari mengejar si preman.
Tangan Edgar berhasil meraih ujung tas ransel, lalu detik berikutnya terjadilah tarik-menarik tas antara Edgar dan si preman.
“Lepaskan ini tasku!” seru Edgar menguatkan cengkeraman tangannya.
Si preman tidak menyahut tapi melayangkan tendangan ke perut Edgar begitu keras hingga pria itu membungkuk kesakitan. Tak berhenti sampai di situ, si preman juga memanggil preman lain yang rupanya ada di sekitar mereka.
Ada lima orang mengelilingi Edgar dan mereka semua serempak memberikan Edgar pukulan bertubi-tubi.
Edgar tak dapat melawan, sebab mendadak kepalanya kembali berdenyut sakit. Dia merasa de javu, seolah kejadian seperti ini pernah terjadi padanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Hulapao
simulasi jadi pengemis nib edgar 🤣
2022-10-07
1
Nana
bunga utk kakak 💪 smgt kak
2022-09-18
1
Nana
haaaaa? ya uda nikah kah 😭😭
2022-09-18
1