2. Bertambah Parah

Empat hari telah berlalu, Lisa telah menjahit luka di kepala si pria asing, dan mengganti perban setiap hari. Luka itulah yang paling parah dan paling Lisa perhatikan.

Meskipun memar yang ada di sekujur badan telah memudar. Namun, si pria asing tak kunjung sadarkan diri.

Di rumah itu, hanya ada dua kamar. Kamar Lisa dan kamar Juna. Sehingga terpaksa, mereka membaringkan si pria asing di sofa ruang tamu.

Selama empat hari itu pula, Juna dan Lisa tak dapat mengangkut air bersama-sama. Karena mereka harus bergantian menjaga si pria asing, takut sewaktu-waktu bangun.

Lisa menatap penuh gundah ke luar jendela. Membiarkan sang ayah mengangkut air malam hari sendirian berjalan kaki menuju hutan, membuat Lisa gelisah.

Dia tidak dapat tidur sebelum memastikan ayahnya pulang ke rumah dengan selamat.

"Semua ini gara-gara kau, Pria Asing," gerutu Lisa pada tubuh yang terlelap di atas sofa tua, seakan pria itu dapat mendengar.

"Segera bangun! Dan enyah dari rumahku. Merepotkan saja."

Lisa menghela napas, menyadari dirinya seperti telah gila berbicara pada orang yang pingsan.

Sambil menunggu kepulangan Juna, Lisa memutuskan untuk membaca koran. Siapa tahu ada berita orang hilang atau berita buronan polisi yang kabur.

Lisa sangat penasaran akan identitas pria yang dia tolong. Akan tetapi, di koran hari ini dan beberapa hari lalu tak ada satu pun berita yang menjadi petunjuk pria asing itu.

Ketukan pintu membuat Lisa terlonjak senang. Pertanda bahwa sang ayah telah pulang.

Lisa bergegas membuka pintu, dan benar saja, Juna sudah berdiri di depan pintu dengan dua kompan besar berisi air.

"Kau belum tidur, Nak?" tanya Juna saat menyeret kompan ke dalam rumah.

"Aku menunggu Ayah."

Juna melirik sekilas pada tubuh si Pria Asing yang kini memakai salah satu baju miliknya.

"Kenapa kau tidak memberi dia selimut?"

"Dia tidak mengeluh kedinginan, Ayah," sahut Lisa enteng. Sebenarnya dia malas untuk menyelimuti pria itu.

"Mana ada orang pingsan dapat bicara mengeluh kedinginan. Kita yang harus berinisiatif, Lisa. Ambilkan selimut Ayah!"

Tak mau membantah, Lisa menuruti perintah Juna. Mengambil selimut dan membentangkannya menutupi tubuh pria itu.

Dan tepat saat itu, tangan Lisa tak sengaja menyentuh lehernya yang terasa sangat panas. Sekali lagi Lisa memastikan dengan meletakan punggung tangan di dahi pria itu.

"Ayah, tubuhnya panas sekali," seru Lisa panik.

Juna bergegas berlari mendekat, ikut mengecek suhu tubuh pria malang itu menggunakan termometer tua milik mendiang istrinya dulu.

"Astaga, dia demam tinggi."

Lisa membuka perban secara perlahan. Dia yakin telah mengganti perban setiap hari, dan merawat luka di kepala dengan sangat hati-hati.

Namun, saat perban terbuka terlihat nanah yang keluar dari luka di kepala sebelah kiri. Pertanda lukanya mengalami infeksi.

"Ayah, dia harus dibawa ke rumah sakit," ucap Lisa. Panik dan bimbang bercampur menjadi satu.

Berbeda dari Lisa, Juna justru lekas berdiri, berkata dengan suara yang mantap, "Kau tunggu di sini! Ayah akan meminjam delman milik Pak Doni."

***

Perlu waktu dua jam untuk dapat sampai ke rumah sakit menggunakan delman. Meskipun Juna sebisa mungkin mempercepat laju kendaraan tradisional itu.

Si Pria Asing langsung mendapatkan penanganan dari dokter begitu sampai di rumah sakit.

Selain luka yang terinfeksi, diketahui juga bahwa ada pendarahan di dalam otak yang membuat pria itu harus segera dioperasi.

Lisa dan Juna dibuat kalang kabut melihat rincian biaya yang harus mereka siapkan agar tindakan operasi segera dilakukan. Maka mereka pun meminta keringanan sampai esok pagi.

"Ayah, bagaimana ini? Untuk makan saja kita tidak punya uang, apalagi membayar biaya rumah sakit," celoteh Lisa saat mereka berada di lorong rumah sakit.

Juna terdiam dengan dahi mengerut. Memikirkan cara agar dia mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat.

"Atau kita kabur saja, Yah?" celetuk Lisa yang tiba-tiba terlintas ide untuk meninggalkan pria asing di rumah sakit.

"Lisa, kita yang menemukan pria itu. Artinya kitalah yang harus bertanggung jawab dan mengusahakan agar dia sembuh," tutur Juna penuh wibawa.

"Tapi, Ayah, kita orang kurang mampu."

"Ayah punya sedikit tabungan. Sementara kita pakai uang itu dulu, sisanya kita pikirkan nanti."

Lisa melempar pandangan pada sang ayah. Meneliti raut wajah yang sama sekali tidak ada keraguan di dalamnya.

Tak mau melihat ayahnya berjuang sendiri, Lisa pun melepas kalung emas dengan liontin berbentuk hati dari lehernya.

Dia memandang sesaat kalung pemberian terakhir mendiang ibunya. Kalung yang paling berharga melebihi batu berlian terbesar di dunia sekalipun.

Kemudian dengan berat hati, Lisa menyerahkan kalung itu pada Juna.

"Ayah, gadaikan kalung ini juga. Aku tak tahu nilainya berapa tapi semoga bisa membantu Ayah."

Juna menerbitkan senyuman di bibirnya saat menerima kalung itu. Bersamaan dengan kedua matanya yang mengembun.

"Ayah bangga denganmu, Nak."

Detik berikutnya anak dan ayah itu saling berpelukan.

***

Keesokan paginya, setelah operasi selesai dilakukan. Pria itu masih dalam pengaruh obat bius.

Lisa yakin jika uang tabungan dan hasil gadai kalungnya masih belum menutupi biaya operasi. Namun, saat dia menanyakan pada Juna, pria paruh baya itu tak menyahut.

"Ada rezeki yang datang tak disangka-sangka, Nak. Sudah jangan terlalu dipikirkan!"

Begitulah jawaban Juna saat Lisa bertanya.

Tak lama, Lisa melihat tangan si Pria Asing sedikit bergerak, diikuti kelopak matanya yang perlahan membuka. Membuat Lisa seketika berdiri dan tersentak senang.

Lisa segera memanggil dokter untuk memeriksa kondisi pria itu. Sambil menunggu, dia berjingkrak riang sudah tak sabar untuk meminta ganti rugi atas uang yang telah dipakai membiayai administrasi rumah sakit.

"Apakah kalian keluarga dari pasien?" Dokter wanita bertanya setelah memeriksa si pria asing.

Lisa menggelengkan kepala. "Bukan."

"Teman dekat pasien?"

"Bukan juga, Dok. Dia hanya pria asing yang kami pun tidak tahu namanya."

"Begini, saya harus menjelaskan pada Anda, jika pasien mengalami amnesia atau hilang ingatan."

"Apa, Dok?" Lisa tersentak, melirik pada pria yang berbaring di atas brankar dengan sorot mata seperti orang linglung.

Pandangan mata mereka bertemu, dan si Pria Asing bertanya, "Siapa aku? Kenapa aku di sini?"

Terpopuler

Comments

Nurmayanti 🌽🍇

Nurmayanti 🌽🍇

masih menyimak alur cerita y bagus

2022-10-02

2

Hulapao

Hulapao

pura² pingsan kalo gitu mah 🤣

2022-09-23

1

Rossemarry

Rossemarry

lanjut terus kak🥳 salam dari "My Lovely Bodyguard"🥰

2022-09-17

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!